Harry's Love Story

Harry's Love Story
The Story Begin Again



Happy Reading


***


"Pergilah..." ucap Bibi Debs saat kami sedang memandikan dua kuda milik kami. Aku menceritakan padanya apa yang terjadi soal penerbit tersebut.


Aku menggosok tubuh kuda, "Entahlah, bibi...."


"Kaukan hanya menetap sementara di sana, bukan untuk selamanya..."


Aku menarik napas dan melempar brus kuda tersebut ke dalam ember. Aku duduk di atas kursi kayu kecil.


"Mungkin hanya memakan dua minggu, bukan?"


"Mungkin kurang dari itu. Ayo bangun, kita bawa kudanya ke bawah matahari..."


Aku bangkit berdiri dan kami berdua menarik masing-masing tali kuda. Kami keluar dari lumbung dan kami segera merasakan cahaya matahari yang terasa nyaman di kulitku karena beberapa bagian tubuhku basah saat memandikan kuda. Kedua kuda kami yang berwarna hitam dan putih itu segera meringkik penuh kesenangan.


"Kau suka, uhmm?" ucapku pada kuda hitam yang kupegang itu seraya mengelus-elus kulitnya yang basah.


Dan kuda hitam itu meringkik senang lagi.


Lalu kami berhenti di padang rumput di dekat pohon. Kami mengikat tali kuda di tiang pagar kayu kecil. Aku dan bibi berjalan ke arah pohon dan segera duduk berteduh di sana. Aku melepas boot karetku begitu pun dengan bibi lalu menumpahkan air yang masuk kedalam boots kami. Setelahnya, aku menatap suasana pertanian ini.


Di sebelah kananku ada ladang jagung kami yang cukup luas.Di sebelah kiri rumah dan lumbung kami. Lalu di hamparan padang rumput dan tidak jauh di depanku ada aliran sungai kecil yang mengalir. Aku juga bisa melihat pegunungan. Ah... betapa aku menyukai tempat ini.


"Aku terlahir di pertanian..." ucapku.


"Setengah dari umurmu kau berada di kota..."


Dia benar.


"Apa yang kau takutkan, Emilya?"


Aku menatap bibiku yang menatap jauh ke padang rumput. Matanya seolah melihat sesuatu yang indah di sana. Aku menyayangi wanita paruh baya ini, melebihi apa pun. Saat-saat terberatku, dia selalu datang ke dalam kamarku di malam hari untuk menenangkanku yang terkadang menangis histeris dalam tidur.


Dia wanita biajksana, ramah, dan kuat. Aku tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya Bibi Debs setelah kehilangan suaminya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Namun, dia menghadapi kesepian dan kehilangannya dengan tangguh.


Aku menggigit bibir bawahku, hendak menahan air mataku yang hendak turun. Aku bergeser ke arah bibi dan menaruh kepalaku di atas pahanya. Aku menatap ke arah depan, melihat hamparan rumput. Angin sejuk berhembus dan entah kenapa rasanya aku ingin menangis.


"Aku menyayangimu, Bi..." bisikku dan bibi mengelus rambutku dengan lembut.


"Menangislah..." ucap bibiku, "Tidak baik untukmu menahan tangisan. Bukan, begitu?"


Lalu aku menangis, membiarkan air mataku mengalir tanpa isakan. Aku merasakan perasaan aneh dalam diriku, seolah percampuran dari kesedihan, kebahagian, kekecewaan, dan perasaan yang lain yang bercampur menjadi satu.


"Kau tidak perlu takut.. Aku yakin tidak semuanya pengalamanmu selama di New York adalah pengalaman buruk.."


Yah... Tidak semua, tapi kebanyakan adalah pengalaman yang buruk


"Seriuskan apa yang kau inginkan..."


"Jadi, aku pergi saja?"


"Tanya dirimu saja..."


Dan aku hanya menatap kuda kami yang merumput. Desiran angin memberikan rasa sejuk yang menenangkan di tubuhku. Aku memejamkan mataku, merasakan air mataku jatuh lagi. Tenang.. Suasana hatiku yang tadinya terasa aneh dan tidak karuan perlahan tenang.


***


"Kau akan pergi?" ucap Will saat aku sedang membereskan barang yang akan kubawa ke New York. Yah... Pada akhirnya aku ke sana selama dua minggu. Aku sudah membeli tiketku dan akan berangkat lusa.


Aku menoleh ke arah Will yang duduk di sampingku, "Aku hanya pergi dua minggu..." aku mengelus kepalanya.


"Aku berharap kau tidak pergi, Em..."


"Hey, dengar aku.. Kau sudah cukup dewasa sekarang dan ini giliranmu untuk menjaga Bibi dan Ibu-mu..."


Dia menatapku dengan bola matanya yang biru, begitu jernih.


"Bibi Debs, Paman Murphy, dan Bibi Murphy bisa menjaga Mom. Tidak bisakah aku ikut bersamamu?"


Aku merasa terharu dan bahagia. Betapa bersyukurnya aku memiliki Will.


"Terimakasih, Will. Namun, Ibu-mu lebih memerlukanmu dari pada aku..."


Matanya berkaca-kaca dan bibirnya dilipat cemberut. Oh, astaga... Aku segera menarik Will dalam pelukanku. Aku memeluk tubuh mungil Will.


"Aku tak ingin kau pergi..." hisaknya.


"Aku hanya pergi sebentar dan aku berjanji akan segera kembali..."


"Tidak bisakah aku ikut?"


"Aku pergi mengejar cita-citaku ke sana dan aku akan menghasilkan banyak uang. Jika aku memiliki banyak uang-"


"Aku tidak suka uang..." potong Will dengan hisakan khas anak-anak miliknya.


Aku tersenyum kecil seraya mengelus punggungnya.


"Dengan uang yang kuhasilkan, aku akan membawa Ibumu dan Bibi pergi mengelilingi dunia ini.."


"Aku hanya ingin kau pulang cepat, Em..." dia menarik tubuhnya dariku, "Berjanjilah padaku.." dia menyodrkan jari kelingkingnya padaku.


"Aku berjanji," ucapku seraya menautkan jari kelingkingku padanya.


***


Keesokan harinya aku pergi ke kota untuk membeli beberapa pasang jaket dan celana. Sekarang sedang musim gugur di New York dan aku harus membeli beberapa pasang baju tebal. Cuaca texas yang panas  setiap tahunnya membuatku tidak memerlukan pakaian tebal di sini.


Setelah selesai memilih dan saat merasa sudah cukup, aku membawa belanjaanku ke meja kasir.


"Berapa?" tanyaku kemudian penjaga kasar itu menghitung belanjaanku.


"$245,5"


Aku memberi tiga lembar uang $100.


"Terimakasih..." ucapnya dengan nada malas seraya memberiku dua kantong plastik berisi pakaian beserta kembalianku.


Aku keluar dari toko dan memasukkan pakaianku ke dalam truk. Kemudian aku berjalalan ke seberang jalan menuju toko kelontong untuk membeli camilan Will. Aku membuat pintu dan suara lonceng kecil segera terdengar. Aku melangkah masuk dan berjalan di antara rak, memilih camilan untuk Will.


Saat aku memilih-milih camilan yang 'cukup' sehat untuk Will di antara rak-rak, aku mendengar suara gemerincing khas sepatu booth cowboy. Aku menoleh ke arah kiri dan aku segera melihat Jackson muncul dari balik rak dengan sebotol besar susu di tangannya. Dia menoleh ke arahku dan tatapan kami bertemu.


"Wah.. Ms.Teatons..." ucap dengan suara gentle yang sopan seraya melepaskan topi cowboy=nya yang berwarna coklat. Lalu memakainya kembali. Yah, begitulah cara para cowboy memberi salamnya.


"Emilya, please..." ucapku ramah.


Dia tersenyum kecil, "Sedang berbelanja?"


Salah satu kekurangannya adalah cara dia membuka topik pembicaraan. Dia suka menanyakan yang sudah jelas dan semua wanita jelas tidak suka itu. Memangnya apa lagi yang kulakukan di toko kelontong? Berjudi? Memancing? Bertani?


"Seperti yang kau lihat..."


Dia berjalan ke arahku dan aku melanjutkan mencari camilan untuk Will. Dia juga ikut memilih sesuatu di rak.


"Kudengar-dengar kau akan pergi ke New York.."


Rahasia dan privasi sangat-sangat tidak di miliki kota kecil ini. Kurasa, informasi aku akan pergi ke New York sudah terdengar di setiap sudut kota kecil ini.


"Begitulah.." ucapku singkat, tapi dengan tetap menjaga nada ramahku.


"Aku harap kau memiliki perjalanan yang menyenangkan, Emilya..."


Aku melihat ke arahnya yang menatapku dengan senyum ramahnya.


"Terimakasih..."


"Untukmu.." dia memberiku sebungkus keripik kentang. Aku menatapnya penuh keheranan, "Untuk hadiah perpisahan. Itu varian rasa yang paling kusuka, kuharap kau juga suka..."


"Ah.. Aku hanya pergi beberapa minggu saja..." aku menerima keripik itu dan memasukkan dalam keranjang belanjaanku, "Te.. Terima kasih atas keripiknya..." ucapku canggung. Apakah aku harus mengucapkan terimakasih saat dia hanya memberikan tanpa membayar? Sebenarnya tidak masalah dia tidak membayarnya, tapi bukankah terasa aneh?.


"Selamat malam, Ms.Teatons..."


"Selamat malam..." dan dia segera pergi. Aku melihat kepergiannya hingga tubuhnya hilang di balik rak.


Astaga.. Aku tidak habis pikir dia memberiku keripik kentang ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan segera memasukkan beberapa camilan ke dalam keranjangku. Lalu aku berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaanku.


"Berapa?" tanyaku seraya membuka dompetku.


"Sudah dibayar...."


Aku menatap kasir itu, "Siapa yang membayarnya?"


"Cowboy yang baru saja pergi tadi.."


"Tapi, tetap saja.. Aku akan membayar dan tolong berikan uang itu kembali padanya. Berapa totalnya?"


Aku bertanya dan si penjaga kasir itu hanya menatapku dengan tatapan pokernya.


"O-okay.." aku memasukkan kembali dompetku dan mengambil kantung berisi belanjaanku.


Aku berhenti di depan toko seraya melihat keberadaan Jackson, tapi tidak ada. Sungguh pria yang tidak terduga. Setelah memastikan dia tidak ada di sini lagi, aku berjalan menuju trukku dan menaruh belanjaanku di kursi. Aku menyalakan mobilku dan segera melajukannya.


Besok malam, di waktu yang sama aku tidak akan berada di sini lagi...


****


Aku berpelukan dengan bibiku, lalu dengan Will.


"Aku akan meridnukanmu..." bisiknya.


"It's okay, buddy...." ucapku seraya mengelus kepalanya, "Jadilah anak baik, okay?" ucapku setelah melepaskan pelukan.


"yah.." ucapnya. Aku mengecup pipinya sekilas kemudian aku berdiri.


Aku menatap Hailey. Kami sudah berbicara belakangan ini, tapi hanya sekadar 'Sudah makan?' 'Will di mana?' 'Bibi di mana?' dan pertanyaan canggung lainnya. Aku menatapnya yang hanya menunduk kecil, tidak berani menatapku.


"Untukmu..." ucapnya seraya memberiku tas kertas kecil.


"Apa ini..."


"Permintaan maaf. Semoga sukses dengan mimpimu..."


Aku menatapnya. Permintaan maaf?


"Okay.." ucapku datar, "Thank you.."


Aku menatap mereka bertiga, "Aku akan pergi.. Bye." ucapku seraya melambaikan tangan.


"Bye, Em.." teriak Will saat aku semakin menjauh dari mereka. Aku terus menatap ke arah mereka hingga akhirnya aku hilang di balik dinding. Jantungku berdegup kencang. Aku pergi dan semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang akan terjadi, bukan? Aku hanya mengurus novelku dan setelah itu pergi seolah tidak terjadi apa-apa.


****


Sebelum pukul dua belas siang, aku sudah sampai di bandara. Kini sudah pukul satu siang dan aku sudah sampai di hotel murah tempat aku menginap dua minggu ke depan. Aku masuk ke lobi hotel dan menuju meja resepsionist hotel tersebut.


"Selamat siang. Selamat datang di Hotel W New York, ada yang bisa kami bantu?" ucap resepsionist tersebut dengan nada datar.


Aku mengatakan sudah memesan hotel secara online dan ingin check-in. Dia memeriksa beberapa hal, kemudian dia menatapku.


"Selama dua minggu?" tanyanya.


"Yah.." aku mengangguk kecil dan merasa jengkel dengan ketidaksigapannya. Aku merasakan tangan dan wajahku yang terasa membeku. Uh... Entah karena sudah lama di Texas, tapi aku merasa bahwa musim gugur New York serasa seperti musim dingin. Aku tidak bisa membayangkan saat salju datang nanti. Entah sedingin apa lagi kota ini.


"Anda sudah melakukan pembayaran dan tolong tanda tangan di sini..."


Aku merasa enggan mengeluarkan tanganku dari saku jaket, tapi mau-tidak mau akhirnya aku melakukannya.


"Kamar 1401, penjaga itu akan mengantarmu..."


"Tidak perlu.." aku mengambil kartu masuk kamar yang dia sodorkan, "Di lantai berapa?"


"25, Ms.."


Aku segera berlalu dari tempat itu dan masuk ke dalam lift. Uh.. Aku benar-benar ingin segera masuk dan berselimut dalam kamar. Makanan terakhir yang kumakan adalah sereal kemarin pagi saat di Texas dan hingga saat ini aku belum makan apa pun. Namun, aku tidak merasakan lapar sedikit pun, tapi perasaan mual. Mungkin efek dari jet-lag.


Aku keluar dari lift dan berjalan di lorong hotel untuk mencari kamarku. Saat menemukannya, aku menempelkan kartu pass dan segera pintu terbuka. Aku melihat kamar yang tidak terlalu luas, tapi memiliki satu ranjang ukuran besar, televisi, sofa, meja, dan kamar mandi dengan bath-up. Ah.. Kupikir ini benar-benar setimpal dengan jumlah uang yang kubayarkan.


Aku segera menaruh koperku asal, membuka sepatu, melepas jaket tebalku, dan segera melompat ke tempat tidur yang empuk. Aku mengambil remote penghangat ruangan dan televisi. Aku mengatur suhu kamar dan segera menyalakan televisi. Aku menonton acara murahan sementara tubuhku sedikit demi sedikit lebih hangat.


Aku melihat jam dinding dan sudah pukul tiga sore. Aku tidak tahu bahwa aku sudah berbaring selama ini. Aku bangkit dari tempat tidur dan tidak merasakan dingin lagi. Aku memakai sendal putih khas milik hotel dan berjalan ke arah jendela yang menampilkan penampakan New York.


Aku melihat ke bawah, jalanan sangat penuh dan macet. Cuaca mendung dan aku bisa melihat kabut tipis di langit-langit New York, polusi udara di kota ini benar-benar buruk. Gedung-gedung tinggi sepanjang mata memandang. Benar-benar pemandangan yang lumrah jika berada di kota sebesar New York.


Aku mengangkat kedua jemari tanganku yang gemetar, jelas aku butuh makanan. Aku memang tidak merasa lapar, tapi terasa mual dan sedikit pusing. Aku berjalan ke arah telepon pesawat hotel untuk memesan makanan, tapi aku mengurungkan niatku.


Aku menaruh kembali gagang telepon. Mungkin aku harus jalan-jalan sedikit untuk meregangkan tubuhku. Aku penasaran dengan perubahan kota ini selama aku pergi. Aku tidak lagi memakai jaket, tapi aku memakai hoodie di lapisi dengan mantel tebal. Aku memakai sepatu sneakersku.


Aku berjalan ke arah cermin dan melihat penampilanku. Aku melepas rambutku. Aku menggeleng. Tidak cocok. Akhirnya aku mengikat rambutku seperti yang biasa aku lakukan. Lalu aku memakai topi warna hitam. Setelah merasa 'okeh' dengan penampilanku, aku akhirnya bergerak keluar dari hotel.


Aku berjalan-jalan di sepanjang trotoar New York hampir satu jam dan kupikir tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Kecuali orang-orangnya mungkin, semakin pemarah dan menyebalkan. Kemudian aku mulai masuk ke toko makanan dan supermarket untuk membeli makanan, termasuk buah, makanan instant, dan minuman. Aku memegang dua kantung kertas coklat besar di kedua tanganku.


Jujur, aku sedikit kewalahan dan kupikir suhu semakin mendingin karena sudah beranjak malam. Aku bisa merasakan setiap sendiku yang bergetar dan meronta-ronta karena kelelahan. Tidak makan hampir dua hari di suhu ekstrem. Aku berdiri di tepi jalan dan menunggu sebuah taxi. Segera sebuah taxi kuning berhenti di depanku.


"Apakah anda ingin naik taxi, Nona?" tanya supir pria tersebut padaku melalui jendela.


"Yah..." ucapku, "Kau keberatan jika membuka pintunya untukku?"


Supir taxi tersebut membuka pintu kursi penumpang dari dalam dan aku segera masuk. Aku duduk di kursi penumpang dan menaruh belanjaanku di sampingku.


"Anda ingin ke mana, Nona?" ucapnya seraya menatapku melalui kaca spion.


"Hotel W New York..."


Dia mengangguk, seolah tau apa yang kumaksud, "Okay. Baiklah..."


Aku duduk dalam diam seraya mendengar lagu dari musikku. Aku menyandarkan kepalaku ke jendela mobil, melihat orang yang berlalu lalang dengan bosan. Sejak tadi, mobil ini hanya berhasil melajukan mobilnya dengan kecematan 20 km/jam dan aku sudah muak.


Sial. Lalu lintas di kota ini benar-benar parah.


"Sekitar berapa blok lagi?" tanyaku pada supirnya.


"Hanya dua blok lagi..."


Hanya dua blok.


"Aku turun di sini..." aku membayar uang taxiku dan segera keluar dair taxi.


Hembusan angin yang benar-benar dingin menampar wajahku. Aku berjalan di sepanjang trotoar yang masih ramai oleh manusia dan sepanjang aku berjalan, mobil-mobil itu hanya bergerak beberapa meter. Warga New York lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam mobil.


Gigiku gemeletuk. Dingin. benar-benar dingin. Aku tidak memakai sarung tangan sehingga tanganku yang memegang kantung belanjaan benar-benar membeku. Kupikir aku sudah berjalan dua blok, tapi aku tidak menemukan hotel itu. Supir itu salah seharusnya tiga blok.


Aku berjalan di blok terakhir dan aku sudah bisa melihat plangkat hotel tersebut. Aku mempercepat langkahku dan seperti biasa, Emilya si kikuk... Aku kehilangan keseimbanganku karena langkah kakiku sendiri dan segera aku jatuh ke trotoar dengan lututku mendarat lebih dahulu.


"Sial..." ringisku kesakitan dan yang lebih sial lagi, satu kantung belanjaanku bocor dan menumpah isi di dalamnya.Buah jeruk dan apel milikku segera menggelinding di sekitarku.


Oh sial.


***


Harry POV


Aku menatap kosong ke depan. Sial. Aku sudah duduk lebih dari 30 menit di mobil ini dan kupikir aku hanya bergerak beberapa ratus meter saja.


"Hari ini lebih macet dari biasanya..." gumamku.


"Yes, sir..." ucap Liam, bodyguard pribadiku.


Lalu, perlahan mobil-mobil kembali melaju lagi sedikit demi sedikit. Aku membuka ponselku dan melihat tidak ada yang menarik. Aku ingin membuka email-ku, tapi segera kuurungkan niatku. Aku tidak akan membaca surat elektronik itu lagi.


Aku kesal dengan diriku sendiri, kenapa aku tidak pernah bosan membaca surat-surat itu? Aku kesal karena aku tidak mampu membuang dan menghapusnya. Kenapa aku selalu menyukai wanita yang salah? Kenapa aku tidak menyukai wanita seperti Lolita atau Zoya. Cantik, kaya, pintar, berbakat, dan yang terpenting mereka menyukaiku. Bukannya menyukai wanita seperti...


"Emilya..." bisikku saat aku melewati dia yang berjalan di trotoar. Aku segera menoleh ke belakang dan mendapati dia tersandung oleh sesuatu.


"Berhenti..." ucapku tanpa melepas pandangan dari dia yang terjatuh dengan lutut mendarat lebih dulu.


"Ya, Sir?"


"Hentikan mobilnya..." mobil segera berhenti.


"Anda ingin ke mana, sir?"


Aku mengabaikan pertanyaan Liam dan segera keluar untuk berlari ke arah Emilya yang menunduk memungut buah miliknya yang berserakan di sekitar trotoar. Aku berdiri tidak jauh dari dia dan menatapnya. Beberapa orang berlalu lalang, tapi tidak ada yang berusaha menolong.


Aku berjalan ke arahnya. Tidak berubah. Tidak cantik, tidak kaya,tidak pintar, ceroboh, dan masih kurus. Sebuah buah apel menggelinding ke kakiku dan aku segera mengambilnya. Aku berdiri tegap dengan apel di tangan kananku. Dia yang masih menundukkan tubuhnya untuk memutik buahnya segera berhenti. Kepalanya perlahan naik dari sepatu hingga ke wajahku. Dia terkejut. Jelas di terkejut. Kami saling bertatapan.


"Harry.."


"Emilya.."


Bisik kami masing-masing secara bersamaan.


***


MrsFox


Enjoyed it gais. Don't forget to vote, love, like, koment. Oh iyah, aku ganti cover karena berusaha naikin review, jujur agak sedih sih karena review atau pembaca novel ini gk pernah nambah, jadi aku pake strategi lain biar reviewnya meningkat dengan cara ganti cover. Makasih yang udah setia dari novel pertama. Lop yuh gaiss