Harry's Love Story

Harry's Love Story
Sampai Jumpa



Happy Reading


***


Harry POV


"Hay, Em..." ucapku penuh lega setelah mendengar suaranya. Aku senang akhirnya dia menerima panggilanku.


Aku menjauhkan ponsel dari telinga, lalu menarik napas dan membuangnya perlahan. Aku berdehem sekali untuk mempermantap suaraku.


"Bisakah kita bicara beso-- Maksudku, kapan pun kau bisa.. Tidak harus besok.. Tapi bukan berarti bulan depan--"


"Harry.. Bisakah kau menghubungiku besok pagi saja? Aku sedikit sibuk sekarang..." potiong Emilya dari seberang.


Harapan. Masih ada Harapan. Dia tidak langsung menolakku.


"Baiklah..."


"Bye, Harry..."


Sebelum aku menjawab, panggilan sudah terputus. Aku menatap layar ponselku. Percakapan kami tidak penuh tiga menit, tapi itu mengangkat setengah beban di dadaku. Aku sebenarnya tidak boleh terlalu berharap, tapi mengetahui Emilya menerima panggilan dan memperbolehkanku menghubunginya besok pagi adalah sebuah harapan besar untukku.


Aku akan memperbaiki kesalahan yang telah kulakukan dan menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud menyakitinya secara fisik dan batin. Segera kilasan balik semua ucapan dan perbuatan yang kulakukan pada Emilya terbayang di kepalaku. Bekas lukanya. Matanya yang kesakitan.... Sial. Itu kesalahan yang sangat besar.


Namun, dia juga bermain gelap di belakangku. Dia mencium Bastian. Tentu saja itu membuatku marah. Namun, aku yakin bahwa Emilya memiliki penjelasan di balik semua itu. Aku bangkit berdiri dari dudukku di tempat tidur lalu berjalan ke arah kaca yang menampilkan seluruh pemandangan New York.


Aku menatap gemerlap kota New York. Dulu, setiap aku menatap ini aku selalu membayangkan Kenny. Apa yang dia lakukan? Di mana dia? Dengan siapa? Namun, sekarang... Aku menarik napas dan menaruh tanganku di dada, merasakan jantungku berpacu kuat.


Aku memirkan Emilya..


***


Julia POV


"Halo... Layanan 911, ada yang bisa kami bantu?"


"Ada kecelakaan di Perumahan Barbara Street Evenue 19..." ucapku santai.


"Kecelakaan? Bisa anda jelaskan kecelakaan apa?"


Aku memutar mata dengan kesal. Layanan masyarakat memang selalu menyebalkan.


"Kecelakaan tabrak lari. Dia berdarah sangat banyak. Wanita. Lalu..." aku menaruh telunjukku di hidung Emilya, "Aku tidak tau dia masih bernapas atau tidak karena tidak ada udara keluar dari hidungnya.... Sekarang, bisakah kau mengurus wanita ini?"


"Baik, Nona... Jika laporan yang anda berikan salah, kami akan melacak dan---"


"Yahhh, terserah...." potongku dan segera memutuskan panggilan. Aku berjalan mondar-mandir dengan sesekali melangkahi tubuh Emilya sambil memikirkan apa yang terjadi antara Emilya dan Harry. Jelas ada sesuatu yang terjadi saat dia menelponku tadi, tapi aku tidak apa.


Aku kembali memeriksa ponsel Emilya dan merasakan kekecewaan luar biasa saat menemukan ponsel itu masih bersih. Ini ponsel lama atau baru? Kenapa begitu kosong? Hanya ada nomor Hailey dan Harry. Tidak ada foto, pesan, catatan, atau apa pun. Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan kessal dan secara tiba-tiba aku tergelincir oleh darah Emilya.


"Fvck!" umpatku keras saat pantatku terbentur duluan ke aspal, diikuti kepalaku. Aku segera bangkit duduk seraya mengelus kepalaku yang terbentur keras, "Ah Sial. Kau mau mati saja masih menyebalkan.."


Tidak menunggu beberapa lama, suara sirine ambulance datang. Cahaya lampu mobil menyoroti kami dan aku menutupi mata dengan lenganku. Perlahan ambulance itu berhenti di dekat kami, lalu terjadilah kesibukan menyelamatkan Emilya. Aku segera berdiri dan segera pergi dari tempat itu dengan langkah pincang, mencegah mereka bertanya-tanya padaku.


Aku masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar Emilya. Aku menekan handle dan melupakan kunci kamar. Ah... Kenapa aku tidak sekalian mengambil kunci dan dompetnya tadi? Astaga. Aku memutar otak dan mendapatkan ide.


Aku segera berjalan ke kamarku dan mengambil tongkat baseball. Aku berdiri di depan pintu kamar Emilya lalu mengambil posisi yang pas untuk memukul handle pintu yang sudah reyot. Yah. Kurasa aku hanya membutuhkan lima pukulan untuk menghancurkan pintu tua sialan ini.


Aku berteriak keras dan memukul handle pintu dengan keras dan...


"Hah... Kupikir aku butuh lima pukulan. Sekali saja ternyata cukup.." ucapku puas saat melihat pintu segera terbuka karena pegangan handlenya rusak dan lepas.


Aku melempar tongkat baseball itu ke lantai dan masuk ke dalam kamar Emilya. Aku menatap kamarnya yang rapi dan bersih. Sangat klinis... Okay, saatnya aku mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum Harry menghubungiku lagi.


****


Author POV


Dua orang perawat sibuk melayani pasien mereka yang terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Yang satu membersihkan darah di sekitar wajahnya dan satu lagi memeriksa kantung baju pasien itu. Perawat satu menemukan sebuah dompet dari saku aket pasien wanita itu dan segera membukanya.


"Emilya Elizabeth Teatons..." bacanya pelan saat melihat kartu tanda pengenalnya.


"Denyut nadinya hilang.. Hilang.." ucap perawat dua dengan panik dan segera keadaan UGD semakin ribut.


"Nyalakan AED(alat kejut jantung)!" ucap Dokter dan perawat satu segera membuka pakaian wanita itu, menampilkan dadanya.


Dokter menyentuh kedua sisi alat kejut sebelum akhirnya menaruh ke dada pasien bernama Emilya tersebut. Segera dada Emilya terangkat ke atas. Dokter melirik layar monitor AED yang masih menunjukkan garis lurus. Dia melakukan hal yang sama.


Dua kali.


Tiga kali.


Empat kali.


Dan nihil. Tidak ada yang terjadi.


"Pompa Oksigen.." ucap Dokter dan perawat segera memberinya ke tangan dokter tersebut. Dokter menaruh katup oksigen menutupi mulut dan hidung Emilya lalu mulai menekan-nekan botol kecil itu.


Dokter menjauhkan pompa oksigen dan segera menekan dada Emilya dalam hitungan yang berirama.


"1...2...3....4...5...6...7...8...9..10.." lalu memberi pompa oksigen lagi. Selama dia tidak bangun maka operasi tidak bisa dilanjutkan.


Dokter itu menghintungnya lagi dan keringat mulai membasahi wajahnya, "Bertahanlah nona..." ucap dokter itu.


****


Emilya POV


Semua gelap. Di sisiku gelap. Aku tidak tau aku berada di mana. Aku mengucek mataku dan saat aku kembali membuka mata, aku menatap cahaya terang. Di semua sisiku terang. Di mana? Kenapa tiba-tiba terang? Semua putih dan terang. Tidak berujung.


"Halo.." ucapku pelan dan suaraku bergema di seluruh tempat ini.


Aku melihat sekitar dan segera terkejut melihat tubuhku. Aku tidak memakai pakaian apa pun. Polos. Aku segera panik dan segera berlari ke mana pun untuk menemukan sesuatu untuk menutupi badanku. Namun, tempat ini seolah tidak berujung. Semua putih dan terang. Aku berhenti berlari dan menyadari bahwa hanya aku yang berada di sini.


"Halo! Ada orang? Siapa pun? Kumohon?!!"


Aku terus berteriak dan berteriak, tapi tidak ada yang menyahut. Tidak ada orang dan aku tidak tau tempat sialan apa ini? Aku segera duduk di lantai yang putih juga seraya memeluk kakiku, menutupi tubuhku yang telanjang. Lalu mulai menangis.


"Jangan menangis..." aku segera berhenti menangis saat mendengar suara tegas wanita tua yang begitu ku kenal. Nenek! Aku segera mengangkat kepala dan menatap nenekku yang berdiri di sampingku, menatapku dengan tatapan tajam. Sial.. Dia sudah lama mati. Kenapa ada di sini?


"Nenek?" ucapku heran. Sebenarnya tempat macam apa ini?


"Berdirilah, dasar anak cengeng.."


Aku segera melap air mataku dan hendak berdiri, tapi mengurungkan niatku karena aku telanjang dan nenekku memakai gaun putih bersih.


"Aku telanjang..." bisikku pelan.


"Astaga.. hanya aku yang melihatmu di sini dan aku juga punya apa yang kau punya..." Nenekku mulai mengomel dan rasanya aku merasakan nostalgia saat mendengar suaranya.


Aku mengingat kenangan saat masih berusia enam tahun. Saat di rumah lama yang dulu, aku dan orangtuaku tinggal di rumah Nenek. Nenekku adalah sosok tua yang cerewet, tapi hangat. Pelukannya hangat. Wanginya nyaman dan dia mengajarkanku banyak hal.


Aku tersenyum kecil menatapnya dan segera bangkit, "Kau benar.. Buat apa aku malu..."


Nenekku mulai berjalan dan aku mengikutinya.


"Di mana kita?" tanyaku.


"Menurutmu?"


"Mimpi?" tebakku


Dia menoleh ke arahku dan segera memukul bokongku keras.


"Awww!!" ringisku pelan saat merasakan pukulan yang teramat keras itu di kulit bokongku, "Kenapa kau memukulku, Nek?"


"Pukulannya nyata, bukan?" ucapnya dan kembali berjalan.


Aku berjalan mengikutinya seraya mengelus pantatku. Lalu aku segera berhenti berjalan setelah menyadari sesuatu dan melihat nenekku yang tetap berjalan. Kemudian Nenekku berhenti berjalan dan memutar tubuhnya ke arahku.


"Kenapa berhenti? Ayo..."


Jika ini tidak mimpi, artinya...


"Aku sudah mati.." itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.


Lalu nenekku mengangguk kecil dan segera aku merasakan kengerian saat mengingat mobil yang menabrakku.


"Aku mati?" tanyaku lagi dengan nada penuh tidak percaya, "Mati?!"


"Astaga... Anak ini. Kematian tidak semengerikan itu. Ayo, cepat... Kita harus pergi.."


"Ke mana?"


"Kau harus menemui Yang Maha Kuasa..."


"Ya--Yang apa?!"


"Kau mendengarku dengan jelas, Nak... Kita harus pergi." Nenekku tersenyum menyakinkanku dan aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Aku kembali berjalan mengikuti Nenekku. Ini bukan seperti keinginanku, tapi aku berjalan begitu saja. Namun hati, tubuh, dan pikiranku bekerja sama membawaku berjalan mengikuti nenek, tapi terasa aneh.


"Di mana kita menjumpaiNya?" tanyaku, memecahkan keheningan.


"Dia ada di mana-mana , Nak. Dia yang akan menjumpaimu untuk penghamkiman terakhirmu..."


"Apakah aku akan di neraka?"


"Dialah yang akan menentukannya...."


Neraka atau surga bukanlah masalah untukku. Toh, aku bukanlah wanita baik. Aku punya banyak dosa dan kesalahan di seumur hidupku. Itu sudah cukup jelas di mana Dia akan menempatkanku


"Hailey sudah punya anak.." ucapku memulai cerita, "Ayah dan Ibu bercerai. Ayah pergi entah kemana. Ibu sakit-sakitan di rumah sakit. Kami sekarang tinggal di New York dan kami sudah menjual tanah pertanian milikmu. Lalu.. Hidup kami begitu susah..."


"Aku tau semua itu.." ucap Nenekku.


"Kau tau dan kau tidak sedih atau merasa kasihan pada kami?"


Nenekku berhenti berjalan dan aku berhenti. Kemudian, dinding yang tak berujung itu kemudian terbuka menyerupai pintu. Aku tidak tau apa di baliknya. Lalu nenekku memutar tubuhnya ke arah dan tersenyum kecil.


"Ketika kau memasuki pintu ini, kau tidak akan merasakan emosi manusia lagi, Emilya dan begitulah aku sekarang. Tidak merasakan emosi...." ucapnya lembut.


Aku menutup mulutku karena terkejut menatap pintu yang terbuka itu, kemudian aku terkejut ketika aku tidak bisa merasakan udara yang keluar dari mulutku maupun hidungku. Aku tidak benapas? Aku benar-benar mati...


"Aku hanya bisa menemani sampai di sini, Emilya.."


 Aku kemudian berjalan ke arah pintu itu dan kemudian melihat sebuah anak tangga.


"Sampai jumpa, Emilya Teatons. Semoga kita bertemu lagi di kehidupan abadi ini.." ucap nenekku dan aku menatap tangga itu.


"Sampai jumpa, Nek..." bisikku.


***


Julia POV


Aku memakai pakaian Emilya dan menata rambutku seperti dia. Aku sudah mencari tahu semampuku, tapi aku tidak menemukan banyak hal. Aku berpikir semalaman dan menyadari bahwa tubuh Emilya lebam dan terluka karena Harry. Aku tidak menemukan surat tanah di sini, tapi aku menemukan sebuah salinan kontrak di email Emilya.


Itu kontrak yang mengikat Emilya dan Harry. Aku membaca semua dan merasa terkejut dengan peraturan yang sangat banyak. Aku berpikir bahwa Emilya telah melanggar salah satu aturan hingga membuat Harry marah. Ada beberapa kemungkinan teori yang bisa menimbulkan kemarahan Harry.


Satu. Harry tau hubungannya dengan Max karena baru-baru ini Max kecelakaan di New York.


Dua. Emilya bermain gelap dengan pria lain karena aku berpikir bahwa Emilya dan Max sudah putus sejak aku memberitahukan pada Max tentang Emilya dan Harry.


Ketiga.. Uhm.. Sebenarnya aku tidak punya teori ketiga.


Namun, kupikir hubungan Emilya dan Harry bukan sekadar kontrak ini. Aku yakin itu karena Harry pernah datang ke rumah ini. Harry menjemputnya dari tempat kerja. Dan yang paling membuatku terkejut adalah kenyataan bahwa Harry membawa Emilya ke sebuah pesta elite sebagai pasangannya. Pesta kaum elite New York


Jelas bukan hanya sekadar kontrak...


"Mereka saling mencintai..." bisikku pelan seraya tersenyum tipis dan melihat pantulan wajahku di cermin.


****


"Kau di pecat..." ucap seorang pria bertubuh besar setelah aku sampai di toko kaset, tempat Emilya bekerja. Sebenarnya aku boleh-boleh saja tidak datang, tapi Harry mengatakan akan menjemputku di tempat ini dan aku tahu bahwa Harry akan datang satu jam lebih awal sebelum waktu pulang. Aku sudah mengamatinya.


Lalu kembali ke raksasa sialan ini.


"Kenapa?" ucapku dengan nada malas, lalu menatap name-tag yang tertempel di apron si raksasa itu. Dave. Ah.. Aku sudah mengenal banyak pria bernama Dave di hidupku dan semua mereka adalah pria breengseek yang menyebalkan. Kupikir yang satu ini juga sama menyebalkannya dengan Dave-Dave di dunia ini.


"Kenapa?! Kenapa katamu?!! Kau menyerangku kemarin, dasar jaalaang sialan!" dia mengangkat tangannya, hendak memukulku, tapi aku tidak bergeming. Kalau di pukul tangan, aku sudah biasa. Jadi melihat yang beginian bukanlah masalah besar untukku.


Aku menatapnya yang berteriak keras padaku, lalu melihat dua wanita sialan yang melihat-lihat dari ujung. Tidak berusaha menolong aku.. Sebenarnya bukan aku, tapi Emilya. Ingat. Aku bukan Julia sekarang, tapi Emilya.


"Okay, baiklah. Aku di pecat... Sekarang, mana gajiku?" aku memajukan tangan kiriku, meminta gajiku.


"Hah?!! Sialan. Kau tidak punya otak, hah?! Kau masih berani meminta gaji setelah kau menyerangku?"


Aku memutar mata, "Hey, cewek... Gaji perjam di sini berapa?"


"$6.." jawab wanita pirang.


$6? Sialan... Kenapa pula Emilya repot-repot bekerja di sini jika gajinya hanya segitu. Delapan jam kerja lebih di hanya mendapatkan $48? Belum lagi biaya transportasi... Hah, lebih baik tidak bekerja seperti aku, tapi masih hidup.


"Astaga.. Baiklah. Baiklah... Aku pergi..." ucapku dan membalikkan badanku hendak pergi, tapi pria itu menahanku dengan memegang bahuku. Aku memutar tubuh padanya dan segera menepis tangannya.


"Urusan kita belum selesai, sialan..." bisiknya penuh ancaman, "Akan kubuat kau membayar perbuatanmu kemarin.."


Sialan... Kenapa Emilya punya banyak masalah? Hah.... Lama-lama aku bisa gila rasanya.


"Coba saja..." ucapku angkuh dan segera pergi. Lagi pula, aku sudah menghadapi puluhan orang gila di hidupku, dan si raksasa si besar itu bukanlah masalah besar untukku.


****


Harry POV


'Emilya... Maaf aku menelponmu lagi, tapi kau tidak lupa untuk nanti, bukan?' aku mengirim pesan pada Emilya.


Sepuluh menit kemudian, aku mendapat balasan


'Tidak...'


Aku mendengus kecil. Kecewa dengan balasan singkatnya setelah sepuluh menit.


'Aku akan menjemputmu nanti setelah kau pulang kerja...'


Aku menunggu pesannya seraya menatap layar monitor komputerku. Berusaha fokus kerja. Aku tidak bisa-bisanya berhenti menatap ponsel dan layar monitor secara bergantain. Setelah, lima menit...


'Aku sudah di pecat. Aku tidak bekerja di sana lagi...'


Ah... Dia tidak bekerja lagi artinya...


'Bisakah kita bertemu sekarang?'


Aku menunggu pesan itu dengan hati cemas. Ponselku bergetar dan aku segera mengambil ponselku dan menutup layarnya, tidak berani menatap balasannya. Sial... Kenapa semenegangkan ini? Aku menutup mataku dan mengintip sedikit layar ponselku yang perlahan ku buka.


Dan...


'Yah...'


Aku segera bangkit berdiri dan segera berberes untuk segera pulang. Aku tidak memiliki jadwal penting lagi untuk hari ini. Aku melangkahkan kaki penuh semangat . Astaga... Aku akan bertemu dengannya. Padahal aku baru melihatnya kemarin siang, tapi serasa sudah berlalu beratahun-tahun...


Inilah saatnya...


Memperbaiki keadaan dan menghapus kontrak.


****


Julia POV


Aku menatap pria yang turun dari sedan mewah itu. Dia tampan dan yang terpenting, dia kaya. Dia berjalan ke arahku yang berdiri di depan kafe seraya tersenyum kecil. Aku tidak membalas senyumnya, tapi menunjukkan wajah lemah khas Emilya.


"Emilya... hai.." ucapnya dengan mata berbinar.


Sialan.. Dia benar-benar suka Emilya. Lihat tatapannya itu.


"Hai, Harry...' ucapku pelan dengan senyum tipis


Ini dia. Mari kita mulai permainan ini.


****


Mrs Fox


Hey yo gais... Wkwkw. Hope you like it. Semoga kalian suka yah chapter ini. Jangan lupa like, koment, vote, dan love. Aku cinta kalian...