Harry's Love Story

Harry's Love Story
The Day



Happy Reading


***


Emilya POV


Aku menarik napas saat menatap bayanganku di cermin yang mengenakan gaun putih panjang. Lehernya berbentuk V yang memamerkan tulang belikatku, lalu memanjang mengikuti lekukan tubuhku, dan meleber anggun di kakiku dengan sedikit ujung panjang di belakangnya. Lengan lace gaun itu panjang, menutupi kulitku dengan sempurna.


Rambutku di gulung sederhana dengan susuk cantik pemberian Bibi padaku. Aku mengenakan anting dan kalung putih tipis yang mempercantik penampilanku. Oh my.. Tidak bisa kupungkiri, aku benar-benar cantik. Astaga.. Kupikir aku akan menangis saat ini juga.


"Emilya..." Barbara, Ibu Harry menyentuh pundakku denagn lembut. Aku menoleh padanya.


"Barbara..." suaraku bergetar.


Dia segera menggeleng lembut, "Jangan menangis, sayang..." dia menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya, "Aku sangat senang kau bisa hadir di keluarga kami, Emilya.." ucapnya lembut.


"Oh my..." aku melipat bibirku, "Terimakasih juga sudah menerimaku, Barbara..."


Dia mengecup pipiku sekilas, "Dia sudah menunggu di altar..." bisiknya lalu berjalan pergi dari ruangan itu.


Lalu Cassie dan Hailey muncul dengan gaun biru mereka yang senada dan mereka berdua memegang masing-masing buket bunga mawar putih. Ah.. Will juga. Dia mengenakan jas yang begitu pas untuknya dan dia memegang keranjang kelopak bunga mawar putih.


Ah.. My best woman dan Flower Boy.


"You look stunning, Em..." bisik Will.


"You too..." balasku dan aku mendnegar musik di nyalakan, pertanda Harry sudah berjalan menuju altar pernikaahn.


Aku menahan napasku. Aku gugup. Benar-benar gugup.


"It's okay, Em..." bisik Hailey yang tersenyum lembut padaku dan aku bisa melihat sosok ibu dan kakak padanya.


"Ini saatnya..." Dr.Murphy masuk ke dalam ruangan dan berjalan ke arahku. Dia yang akan mengantarkanku ke altar pernikahan dan aku benar-benar bersyukur akan itu.


"Dr. Murphy..." ucapku gugup saat Dr.Murphy mengandeng tanganku.


"Semua akan baik-baik saja, nak..." ucapnya lembut padaku.


Aku melihat Will sudah berjalan keluar dari ruangan seraya melempar bunga, diikuti Cassie dan Hailey.


"Kau siap?" tanya Dr.Murphy


"Yah..." bisikku dan akhirnya kami berjalan keluar. Musik canon, perpaduan piano dan cello terdengar. Begitu lembut, membuatku ingin menangis saat ini juga. Semua tamu berdiri dan meantapku dengan senyuman manis. Aku melihat Bibi Debs menangis kecil.


Will menebarkan bunga di sepanjang jalan. Semerbak wewangi tercium mengisi indra penciumanku. Lagu itu semakin intens dan aku mempererat tanganku pada tangan Dr.Murphy saat melihat Harry ada di sana. Begitu tampan dalam balutan jas.


Dia tersenyum padaku dan kupikir dia meneteskan air mata. Kami berdua tidak melepaskan tatapan kami satu sama lain. Semakin dekat. Itu semakin dekat hingga akhirnya kami sampai. Harry tersenyum manis padaku dan matanya berbinar. Dia mengarahkan tangan kanannya padaku.


Dr. Murphy melepas gandengan tangannya padaku dan Harry memeluknya sekilas. Lalu dia mengecup pipiku dan menatapku lembut. Aku tersenyum pada Dr. Murphy sebelum akhirnya dia pergi.


"My Lady..." bisik Harry seraya memberi tangan kanannya padaku.


"My man..." bisikku seraya menerima tangan Harry dengan lembut.


Harry mengangkat kain lace putih yang menutupi wajahku dengan kedua tangannya dan kami bertatapan. Begitu intens. Dia menangis. Astaga... Betapa.. Betapa beruntungnya aku. Sekian banyaknya wanita di dunia ini, dia memilihku. Dia menggenggam kedua tanganku.


"Di saat yang berbahagia ini, di hadapan keluarga, teman, dan Tuhan di beri kesempatan untuk mempersatukan Harry dan Emilya dalam ikatan suci..." Pemimpin Pernikahan yang berdiri di tengah kami mulai berbicara.


"Harry Julio Smith... Apakah kau menerima Emilya Elizabeth Teatons sebagai isteri dan pendampingmu dalam keadaan senang atau sedih, sakit atau sehat, sulit atau mudah, dan di setiap keadaan yang kalian lalui dalam rumah tangga pernikahan?"


"Yes, I am..." bisik Harry, "Aku menerima Emilya Teatons sebagai isteri dan pendampingku dalam senang atau sedih, sakit atau sehat, sulit atau mudah, dan akan selalu ada untuknya dalam masa-masa terbahagia dan tersulit pun dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya dan akan berjanji akan selalu ada untuknya.."


Ucapnya lembut dengan tetap memandangku.


"Emilya Elizabet Teatons.. Apakah kau meneriman Harry Julio Smith sebagai suami dan pendampingmu dalam keadaan senang atau sedih, sakit atau sehat, sulit atau mudah, dan di setiap keadaan yang kalian lalui dalam rumah tangga pernikahan?"


"Yah.. Aku menerima Harry Smith sebagai pendampingku dan suamiku. Menerimanya sebagai priaku dan berjanji selalu ada untuknya dalam keadaan bahagia atau sedih, sulit atau mudah, miskin atau kaya, sakit atau sehat, dan dalam keadaan apa pun, aku akan selalu berada di sampingnya hingga akhir hayatku...." ucapku sungguh-sungguh. Inilah janjiku. Janji yang akan kutepati.


Cassie berjalan ke altar seraya membawa bantalan hitam tempat cincin kami berada. Harry mengambilnya dan memesangnya di jari manisku lalu aku melakukan hal yang sama. Setelahnya, Cassie pergi dan kembali ke tempatnya.


"Dengan ini, kalian sudah menjadi pasangan suami isteri..." ucap Pemimpin pernikahan lalu Harry melingkarkan tangan kanannya di pinggulku dan menarikku mendekat padanya lalu menciumku lembut. Aku membalas ciumannya dan tepukan riuh para tamu terdengar.


"My wife..." bisiknya setelah melepas ciuman itu.


"My husband....."



***


Harry POV


"Mrs. Smith.." ucapku pada Emilya yang berdiri membelakangiku.


"Kita harus pergi sekarang..."


"Ke mana? Pestanya masih berlanjut..."


"It's okay..." aku melingkarkan lenganku pada pinggulnya yang ramping, "Para tamu akan mengerti..."


"Okay..." ucapnya patuh dan membawanya berjalan, tapi dia berhenti lagi, "Kalau begitu, pertama kita harus permisi pada orangtuamu dan keluargaku..."


Aku menggeleng, "Aku sudah melakukannya. Ayo Mrs.Smith.."


Aku membawanya keluar dari gedung pernikahan dan aku segera menggendongnya di depan tubuhku.


"Wah.. Harry.." dia tertawa dan tawanya menular padaku. Aku membawanya masuk ke dalam mobil dan duduk bersamanya di kursi penumpang lalu supir membawa mobil itu melaju meninggalkan kediamanku.


"Kita ke mana?" tanyanya.


"Ke suatu tempat..."


"Namun, ini sudah malam..."


"Belum terlalu malam.."


Emilya bersandar padaku, "Kita pergi ke suatu tempat?"


"Yah.. Tempat yang sangat jauh..."


"Sejauh apa?"


"Kau akan tahu segera, Mrs.Teatons..."


Aku tersenyum padanya lalu mengelus perutnya


"Menurutmu, apakah dia bayi lelaki atau perempuan?" tanya Emilya seraya menaruh tangannya di atas tanganku.


"Tadi Ibu menebaknya perempuan..."


"Kenapa?"


"Karena calon bayi kita tidak menyusahkanmu selama pernikahan tadi..."


"Kau benar... Malam sebelum pernikahan aku khawatir jika aku muntah tiba-tiba, bahkan pingsan. Namun, aku merasa baik-baik saja hingga aku melupakan fakta bahwa aku sedang hamil..."


"Aku senang jika dia tidak menyusahkanmu, Em. Mau pria tau perempuan, aku akan mencintainya..." bisikku lalu Emilya menguap keras, "Tidurlah..." bisikku seraya mengecup pucuk kepalanya.


"Mmm..."


****


Emilya POV


 "Wake up, honey..." suara bisikan Harry mengiterupsiku dari tidurku. AKu mengucek mataku dan melihat sesuatu i luar mobil.


"Kita di mana?" tanyaku seraya menguap lagi.


"Bandara.."


"Bandara?" segera kesadaranku pulih, "Kita pergi ke mana?" ucapku seraya bangkit dari sandaranku di tubuh Harry.


"Eropa.."


"What the?!! Europe?!!"


"Yah.. Kau selalu berkata ingin pergi ke Eropa.. Ayo."


"Bajuku.. Aku bahkan tidak membawa apa pun.." aku mengingat bahwa aku tidak membawa dan menyiapkan apa pun karena aku tidak tahu rencana Harry akan seperti ini.


"It's okay.. Cassie sudah menyiapkannya untukmu..."


Aku tersenyum dan seraya tertawa senang lalu Harry menarikku keluar dari mobil. Aku menatap beberapa orang mengangkat barang dari bagasi mobil yang lain ke dalam jet Harry.


"My super rich husband..." ucapku dengan nada menggoda saat melihat semua kemewaahn ini.


"Dan kau bisa menikmati itu semua..." dia mengecup pipiku lalu menarik tanganku dengan lembut ke dalam pesawat.


Aku tertawaa senang, "Europa, here we come.." teriakku senang.


***


MrsFox


Apakah adegan mantap"nya perlu di ketik di eps berikuatnya? wkwk soalnya aku melihat cerita itu sudha banyak adegan itu soalnya.