
Happy Reading
***
"Penghangat ruangan di kamar kami,201 sepertinya tidak berfungsi. Apakah kalian bisa memeriksanya?" ucap Hailey pada seorang perawat wanita di meja resepsionist.
"Saya akan menyuruh seseorang untuk segera memperbaikinya.... Maaf membuat anda tidak nyaman..."
Hailey tersenyum kecil, "Terimakasih.. Permisi..."
Hailey memutar tubuhnya dan hendak berjalan kembali ke kamar, tapi di berhenti sejenak saat melihat keramaian muncul dari pintu masuk. Hailey menatap para perawat dan dokter mendorong sebuah hospital bed(ranjang rumah sakit). Beberapa orang menepi memberi jalan bagi mereka dan saat mereka melewati Hailey, betapa terkejutnya dia melihat Emilya ikut mendorong hospital bed itu.
Wajahnya kacau dan di beberapa daerah wajahnya ada darah. Hailey menutup mulutnya dan segera berjalan mengikuti mereka menuju UGD. Dia berjalan perlahan saat melihat Emilya yang menangis di samping korban itu. Dia segera menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak muntah. Itu Max dan keadaanya benar-benar kacau.
"Max..." tangis Em.
"Sepertinya ada beberapa tulang rusuknya patah..." Dokter mulai menganalisis keadaan Max seraya memegang bagian rusuknya, "Kemungkinan adanya kemungkinan gegar otak..." Dokter membuka salah satu bola mata Max seraya mengarahkan senter kecilnya dan kemudian melakukan hal yang sama ke mata yang satunya.
"Tolong dia, kumohon!"teriak Emilya.
Dokter mengangguk ke arah perawatnya, "Bawa dia ke ruang operasi..." Lalu hospital bad itu kembali di dorong dengan cepat oleh perawat. Emilya mengikutinya lagi dan tidak menyadari kehadiran Hailey. Saat mereka melewati Hailey, Hailey segera menahan lengan Emilya hingga Emilya berhenti. Emila menoleh dengan heran ke arah Hailey.
"Em.." bisik Hailey dan segera Emilya datang ke pelukan Hailey. Emilya menangis sejadi-jadinya dan Hailey hanya mengelus badannya. Hailey tidak berusaha mengatakan 'semua akan baik-baik saja' karena melihat keadaan Max yang bersimbah darah itu benar-benar membuat siapapun berpikir bahwa dia tidak akan selamat.
"Itu Max.. Max...." hisak Emilya.
Dan Hailey tidak berkata apa pun.
***
Jam dua pagi dan operasi itu belum selesai juga. Hailey behenti di lorong rumah sakit dan menatap Emilya yang duduk di kursi tunggu seraya menatap ruangan operasi yang tertutup itu. Hailey menarik napas dan berjalan lagi ke arahnya lalu duduk di sampingnya.
"Kau tidak istirahat?" tanya Hailey dan Emilya hanya menggeleng.
"Pihak polisi tadi datang untuk meminta kesaksiaanmu. Namun aku menyuruh mereka menunggu sampai besok. Lalu, orangtua Max sudah di hubungi dan kemungkinan mereka akan tiba di sini subuh..."
"Dia berlari ke arahku dengan senyum lebar saat itu hingga mobil itu melempar badannya terguling di aspal... Itu tepat di mataku dan kupikir hal itu akan terus terbayang di otakku. Andai dia tidak melihatku, hal ini mungkin tidak terjadi, bukan?"
"Em..."
"Ini salahku..." Emilya menunduk seraya tangan kanannya menumpu kepalanya, "Dia pria baik, Hail.. Aku menyakitinya. Aku memiliki banyak kesalahan padanya. Seharusnya aku yang di posisinya dan bukan dia..."
Hailey segera menarik tubuh Emilya dan memeluknya. Dia menepuk-nepuk badan Emilya dengan lembut.
"Aku tidak bisa menilai keadaan saat ini, Em.. Namun, di hidup yang kacau-calau ini, orang baiklah yang paling tersakiti.." Dengan begitu, Emilya menangis lagi.
****
Emilya POV
"Operasi yang kami lakukan sudah berhasil. Ada beberapa fungsi tubuhnya yang memerlukan waktu untuk segera pulih. Untungnya, kami tidak menemukan kerusakan parah di bagian kepalanya yang bisa menimbulkan cacat permanen...." jelas Dokter pada orangtua Max dan aku mendengarnya dari balik dinding, tidak berusaha menunjukkan diriku. Aku ingat bahwa hubunganku dan Max tidaklah direstui oleh orangtua Max.
"Jadi kapan dia akan bangun?" tanya Ayah Max.
"Untuk itu kami tidak memastikannya. Kita hanya bisa berharap bahwa Max memiliki keinginan kuat dari dalam diri untuk pulih..."
"Oh.. Astaga.." bisik Ibu Max dengan putus asa.
"Kami akan memberikan yang terbaik untuk kepulihan anak anda. Jika kalian memerlukan sesuatu atau ada tanda-tanda pergerakan dari Max, kalian bisa menekan tombol merah di samping ranjangnya..." ucap Dokter, "Kalau begitu, saya permisi.."
Dengan itu aku segera berjalan meninggalkan tempat itu. Aku merasakan kelelahan luar biasa di tubuhku. Bajuku kotor berlumuran darah Max yang sudah menghitam. Sekarang sudah pukul enam pagi dan keadaan rumah sakit sudah ramai. Aku masuk ke dalam lift bersama beberapa orang dan menuju lantai delapan.
Aku keluar dari lift dan berjalan ke arah kamar tempat ibuku di rawat. Aku sudah menaruh tanganku di handle pintu, tapi aku berhenti sejenak. Apa yang harus kukatakan saat di sana? Aku kacau dan.. Tiba-tiba pintu terbuka dan aku segera terkejut melihat Will ada di sana.
"Em?" ucapnya.
Aku berdehem sekali dan segera tersenyum padanya, "Will..."
Will segera manarik tanganku untuk masuk ke dalam kamar yang memiliki lima ranjang kosong. Ibuku berada di ranjang di sudut. Aku melihat Hailey sedang duduk di samping Ibuku. Aku ingin dulu tempat ini penuh dengan pasien, tapi yang tersisa hanya ibuku. Sebagian ada yang meninggal dan sebagian lainnya berhasil melawan penyakitnya. Aku tidak tau Ibuku akan menajdi bagian dari mana nantinya.
"Sarapan?" tanya Hail seraya menunjukkan kantung makanan dan aku mengangguk kecil lalu duduk di sebelahnya. Aku membuka kantung makanan itu dan melihat ada sandwich di sana. Aku mengambil sepotong dan segera mengunyahnya.
Will yang duduk di depanku terus menatapku.
"Kau tidak sekolah?" tanyaku.
Dia mengangguk kuat, "Ini pertama kalinya aku melihatmu di sini.." ucapnya dan aku tersenyum canggung.
"Aku wanita sibuk.." ucapku, "Apa Ibu belum bangun?"
"Biasanya dia bangun jam sembilan pagi..." Jawab Hail.
"Siapa yang mengatar Will ke sekolah nanti?"
"Aku pergi sendiri..." Will tersenyum lebar, bangga dengan pencapaiannya.
"Benarkah?" aku melihat Hailey.
"Yah... Aku memesan taxi untuknya..."
"Bukankah terlalu berbahaya untuk anak seusianya?" tanyaku lagi.
Hailey hanya tersenyum canggung, "Tidak ada yang melihat Ibu. Ibu terkadang mengamuk jika bangun dan tidak menemukan siapa pun di sini.."
Aku mengangguk paham seraya menatap Ibu yang masih tertidur.
"Bagaimana keadaannya?"
"Seperti biasa... Tidak ada perkembangan..."
Aku mengambil sebotol air mineral dan segera meneguknya, "Aku akan mengantar Will seraya menuju kantor polisi."
"Kau tidaak apa? Maksudku kau pasti kelelahan.."
"Tidak.. Aku okay.."
"Bagaimana keadaan Max?"
Aku melipat bibirku menajdi garis keras, menahan diri untuk menangis. Ah.. Setiap mengingat kecelakaan itu, membuat rasa bersalah dalam diriku semakin membesar, "Operasinya berjalan lancar, tapi dokter tidak tau kapan dia akan siuman.." aku berdehem sekali, "Dia akan baik-baik saja...."
Aku tersenyum lebar, "Ayo kita berangkat sekarang..." ucapku pada Will.
Aku dan Will segera keluar dari kamar. Aku menyandang tas Will yang berat di punggungku dan tangan kananku memegang tangan kirinya.
"Apa tas-mu seberat ini?"
Will menatapku, "Yah..."
"Astaga... Sekolah macam apa itu. Kau bisa tidak tumbuh tinggi jika membawa barang seberat ini..."
"Tapi Em, kenapa bajumu kotor? Mom juga tidak tidur denganku semalam.. Ada yang terjadi?"
"Temanku kecelakaan dan kebetulan keluarganya tidak di kota ini..."
"Benarkah? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia pasti akan baik-baik saja..." kami sudah di luar rumah sakit sekarang dan aku segera melihat Taxi, "Taxi.." teriakku dan segera Taxi itu berhenti di depan kami. Kami segera masuk dan mengatakan tujuan kami.
Aku merangkul Will seraya menatap jalanan. Max. Apa aku akan seperti ini selanjutnya? Setiap mengingat jalanan akan mengingat Max? Aku berharap tidak. Aku masih ketakutan dan kengerian dalam diriku belum hilang. Namun, aku yakin bahwa waktu adalah obat dari semua luka kita.
****
Setelah mengantar Max ke sekolah, aku segera menuju kantor polisi. Aku menjelaskan apa yang kulihat malam itu pada polisi walau itu menimbulkan sedikit kengerian di dalam diriku. Aku sedang mengisi berkas dan tanganku berhenti saat berkas itu meminta nomor ponselku. Aku segera menaruh bolpenku dan merogoh sakut jaket, kemeja, dan saku celanaku. Sial.
Harry!
"Astaga.. Aku sepertinya kehilangan ponselku saat kecelakaan itu. Apa aku harus mengisi ini?"
"Harusnya iya. Siapa tahu kami masih butuh kesaksiaanmu."
"Aku akan segera membeli ponsel dan mengisi berkas ini nanti... Bisakah?"
Polisi gendut berkulit hitam itu menatapku, "Baiklah..." ucapnya dengan nada malas.
"Okay.. Aku harus pergi.."
Aku segera memakai topi jaketku seraya memasukkan tanganku ke dalam saku. Aku berjalan cepat di trotoar menuju kereta bawah tanah. Namun, langkahku terhenti saat melihat toko ponsel. Aku segera membeli sebuah ponsel dengan harga termurah dan tetap terasa mahal di kantongku. Aku tidak menyadari bahwa waktu sudah bergerak menuju siang dan aku hanya berlari cepat menuju kereta bawah tanah.
"Semoga harimu menyenangkan..." ucap Clara, suara komputer di kereta bawah tanah. Aku segera berlari seperti kesetanan menuju rumahku. Astaga. Semoga Harry mengerti dan tidak marah padaku. Aku masuk ke dalam rumah, membersihkan diriku, dan bersiap pergi menuju tempat kerjaku.
Aku sedang memakai sepatu dan berusaha mengingat-ingat nomor ponsel Harry. Astaga. Bagaimana caraku untuk menghubunginya? Aku tidak mungkin pergi ke kantornya, bukan? Aku sudah selesai memakai sepatuku dan hendak berdiri, tapi aku mendengar telepon pesawat di rumahku berdering. Itu tidak pernah berdering sebelumnya. Aku berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Telepon pesawat itu tetap berdering dan aku segera mengangkatnya.
"Em.. Kau kah itu?" suara Hail.
"Hail?"
"Aku tidak bisa menghubungi nomor ponselmu jadi aku menelponmu ke telepon pesawat rumah.."
"Ah.. Aku kehilangan ponselku semalam.. Ada apa?"
"Bisakah kau datang ke rumah sakit?"
Tubuhku segera menengang, "Kenapa?"
"Ini soal ibu..."
Sial..
****
Aku keluar dari ruangan dokter yang menangani Ibuku. Setelah kepergianku dengan Will tadi pagi, Hail memeriksa badan Ibuku yang tiba-tiba mendingin dan mimisan dengan darah yang sangat banyak. Setelah di periksa dan di scan, peradangan sel kanker itu ternyata merambat ke hatinya.
"Kita dapat melakukan operasi, tapi tidak untuk menyembuhkannya. Lebih seperti memperpanjang usianya beberapa tahun..." jelas Dokter saat itu saat menunjukkan hari rotgen tubuh Ibuku.
"Jika tidak dilakukan operasi, berapa sisa waktunya?"
"Tiga sampai enam bulan. Jika terjadi keajaiban, mungkin dia bisa bertahan delapan bulan atau satu tahun."
Aku berjalan dengan lesu menuju kamar Ibuku. Aku melihat Hailey sedang menyuapi Ibuku yang setengah berbaring.
"Ibu masih memakan tiga sendok. Ayo, satu sendok lagi.." ucap Hailey dan mataku bertatapan dengan Ibuku. Apa dia semanja ini?
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku akhirnya. Ini adalah perkataan pertama yang kuucapkan pada Ibuku setelah sekian lama. Aku berjalan dan duduk di sampingnya, "Apa yang kau inginkan, Bu?"
"Kau akhirnya bicara padaku, Emilya..." ucapnya lembut dan tersenyum kecil.
"Sekarang terserah pada Ibu. Apa yang kau inginkan? Pergi operasi dan memperpanjang usiamu atau kau keluar dari rumah sakit ini, menunggu saat akhirnya kau meninggal...."
"Em.. jangan terlalu kasar..." ucap Hail dan aku tidak mempedulikannya.
Ibuku menatapku dengan lekat dan tersenyum kecil.
"Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalian sebelum aku mati..." ucap Ibu akhirnya
"Pilihan bagus..." ucapku walau ada rasa perih di sana. Berarti hanya sekitar tiga sampai enam bulan saja. Mungkin kurang dari itu, mengingat sikap Ibuku yang tidak ingin berjuang melawan penyakitnya.
"Bu..." ucap Hailey memelas, "Tidak harus begini.. Emilya hanya bercanda dan--"
"Aku serius.." ucapku, "Jika itu pilihanmu, kita bisa mengurus kepulanganmu secepatnya..."
Ibuku tersenyum dan tiba-tiba menggenggam tanganku. Dia menggenggam tanganku dengan tangannya yang rapuh dan kecil. Entah kenapa, hatiku merasa sakit melihat ekspresi ibuku. Bagaimana bisa dia menua secepat ini. Padahal dulu dia wanita yang cantik dan energik.
"Aku senang akhirnya kau bicara padaku, nak.. Terimakasih untuk segalanya.."
****
Waktu berjalan cepat dan sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sedang berdiri di depan pintu kamar Max seraya melihat keadaaan di sana melalui kaca kecil di pintu itu. Aku melihat dia masih terbaring dengan segala selang penunjang kehidupannya. Orang tuanya bahkan masih di sana, setia menunggu Max.
Aku menarik napas dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Aku berjalan lesu dan merasa sakit hati karena tidak bisa melihat Max. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena orangtua jelas tidak akan senang dengan kehadiranku. Aku masuk ke dalam lift dan menuju lantai bawah, hendak pergi ke tempat Harry. Kuharap dia tidak marah. Aku keluar dari lift dan karena aku tidak memperhatikan langkahku, aku menabrak seseorang.
"Maafkan aku.. Apakah anda tidak apa-apa?" aku mengangkat kepala untuk melihat sosok yang kutabrak.
"Aku baik-baik saja, Emilya..."
"Ke--..." aku berdehem, "Kenny?" bisikku.
"Hai..." ucapnya ramah dan tersenyum ramah padaku. Kami bergerak menjauhi lift.
"Hai.." betapa terkejutnya aku menatap dia ada di sini, "Apa yang sedang anda lakukan di sini?" ucapku formal dan dia segera tertawa kecil. Dia tertawa pun begitu anggun.
"Jangan canggung begitu. Aku hanya mengambil vitamin dari dokterku. Bagaimaan denganmu?"
"Aku sedang menjenguk temanku..." Aneh rasanya jika aku mengatakan Ibuku di rawat di sini pada seorang yang hanya kutemui dua kali.
Dia mengangguk kecil, "Oh, begitu. Kuharap temanmu baik-baik saja. Aku akan sangat senang jika kita bisa meminum secangkir kopi atau teh saat ini, tapi suami dan anak-anakku sedang menunggu di mobil." dia merogoh sesuatu di tasnya, "Ini, kartu namaku. Kuharap kau menghubungiku agar kita bisa minum teh atau kopi..." aku menerima kartu nama yang berwarna putih itu.
"Baiklah.." ucapku bingung.
"Aku pergi yah... Sampai jumpa.."
"Bye..."
Aku menatap kepergian Kenny hingga hilang di balik pintu rumah sakit. Aku begitu terkejut bisa bertemu dengannya di rumah sakit ini. Aku menatap kartu namanya yang tampak begitu mewah, ah... Aku selalu terpana padanya. Dia begitu cantik dan... Aku segera menyadarkan diriku sendiri bahwa bukan waktunya untuk memikirkan itu. Aku segera memasukkan kartu itu ke dalam sakuku dan segera bergegas menuju tempat Harry.
****
Aku keluar dari lift yang segera tertuju ke pent-house milik Harry. Pintu lift tertutup dan betapa terkejutnya aku melihat Bastian, Harry, dan pengacara Harry ada di sana. Harry berdiri seraya ponsel di telinganya, kemejanya dilipat hingga siku, dan ekspresi wajahnya benar-benar tidak tertebak.
"Terimakasih. Dia sudah di sini.." ucap Harry dan segera menutup ponselnya.
"Hai..." bisikku dan segera menyesalinya karena tatapan penuh penialiaan dari Bastian.
"Hai?!" teriak Harry dan segera berjalan ke arahku. Wajahnya merah dan matanya melotot padaku. Dia menaruh kedua tangannya di kedua bahuku lalu menggoyang tubuhku, "Dari maan saja kau, hah?! Sialan, Em!! Ku pikir kau di curi atau sudah mati!"
Harry menggoyang tubuhku dengan kuat hingga aku merasakan pusing.
"Sudahlah, Harry.. Terpenting dia sudah di sini..." ucap Bastian yang masih duduk di sofa.
Harry segera melepas tangannya dariku dan segera menyisir rambut dengan jemarinya.
"Kau membuatku seperti orang gila sejak kemarin..." ucap Harry dengan nada datar.
"A.. Ada.." aku berdehem, menetralkan suaraku yang tiba-tiba bergetar hebat, "Ada hal yang terjadi secara tiba-tiba dan aku harus mengurusnya.." bisikku seraya menunduk, tidak berani menatap tatapan penuh tuduhan dari Bastian dan tatapan marah dari Harry serat tatapan datar dari pengacara Harry.
"Setidaknya kau bisa menghubungiku..."
"Aku kehilangan ponselku..." bisikku.
Lalu Harry menarik napas dan membuangnya dengan kasar.
"It's okay, Harry.. Semuanya sudah berakhir Dia sudah di sini dengan keadaan baik-baik saja." ucap pengacara Harry yang sudah berdiri, "Kupikir aku harus pulang sekarang..."
"Ah.. Terimakasih James.." Harry menepuk sekali pundak James, sang pengacara itu.
"Senang membantumu.. Selamat tinggal." dia mengangguk kecil padaku sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.
Aku melirik ke arah harry yang masih menatapku marah.
"Ah.. Sudahlah. Tidak ada gunanya aku marah padamu..." ucap Harry dan tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya dan menatap layarnya.
"Yah, Halo?.. Apa?..... Okey.. okey...." Harry melihat ke arahku sejenak, "Aku akan mengirim berkasnya..." Harry menjauhkan ponselnya dari telinganya, "Kau tunggu di sini.." ucapnya padaku sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga, "Yah, aku akan mengirimnya malam ini..."
Setelah Harry pergi, timbul keheningan antara aku dan Bastian. Mataku bertemu dengannya dan aku segera mengalihkan kepalaku. Tatapan itu, tatapan penuh penilaian yang begitu merendahkanku.
"Aku tidak menyangka Harry yang tenang akan bertingkah seperti orang gila.." ucap Bastian dan dia segera berdiri, "Dia hampir menghubungi polisi untuk mencari keberadaanmu...."
Aku hanya diam dan hendak pergi dari tempatku.
"Apa kau tidaak punya etika? Aku sedang bicara denganmu...'
Apa? Aku menatapnya marah. Apa yang barusan dia ucapkan? Dai berjalan ke arahku dan secara mengejutkan dia mendorong tubuhku ke arah dinding hingga kepalaku terbentur ke dinding. Aku merasakan pusing dan kesakitan di bagian belakang kepalaku.
"Apa yang kau lakukan?!" teraikku pada Bastian yang mengunci tubuhku.
Dia tersenyum licik seraya memiringkan kepalanya, "Menurutmu apa yang akan kulakukan, wanita licik?" dia mengendus rahangku dengan hidungnya dan aku segera meronta-ronta.
"Lepaskan... lepaskan aku.." teriakku dan segera Bastian memukul kepalku ke arah dinding dengan keras hingga aku mendengar bunyi melengking di telingaku. Aku merasakan pusing luar biasa. Pandanganku kabur dan yang kurasakan kemudian adalah bibirku disentuh oleh bibir dingin Bastian. Aku berusaha melawan, tapi rasanya aku tidak mampu. Aku ingin menangis, tapi tidak bisa. Tenagaku seolah habis karena hantaman itu. Aku dilecehkan.
"Apa yang kalian lakukan?" itu suara harry dan segera bibir Bastian menjauh dari bibirku. Aku menatap Harry yang berdiri di anak tangga. Menatap kami. Harry... Astaga.. Ini bukan seperti yang kau pikirkan?!
Bastian melap bibirnya dengan jari jempolnya, "Ah.. Dia mengatakan bahwa kontrak kalian akan selesai dan menawarkan dirinya untukku. Kupikir aku bisa mempertimbangkannya karena ciumannya cukup hebat.."
"Apa?"
****
MrsFox
Maaf bgt lama update karna suasana tahun baru jadi bawaanya mager :') Maaf yah we. Maaf bgt. Lop yuh gais. Happy New Year gais....