Harry's Love Story

Harry's Love Story
A New Story



Happy Reading


***


Harry POV


'Ayo pergi makan malam'


Aku membaca pesan singkat dari Zoya Clark. Seorang putri konglomerat yang memiliki perusahaan besar berbasis kecantikan dan dia cukup terkenal di kalangan selebritis. Satu lagi, dia juga lulusan sekolah kedokteran. Dia adalah dokter spesialis yang tidak dipertanyakan lagi kemampuannya dalam dunia medis. Muda, cantik, pintar, kaya, dan baik. Yah, dia cukup baik untuk orang sekelas dia.


'Okay.. Aku akan menjemputmu....' balasku.


Aku dan dia sudah berkencan selama empat bulan belakangan ini. Tentu saja karena perjodohan. Usiaku sudah menginjak 34 tahun dan aku hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh orangtuaku. Aku pun berpikir dia bukan pilihan yang buruk.


Dia lucu, menyenangkan, pandai bersosialisasi, dan cantik. Banyak orang mengatakan bahwa aku beruntung bisa berkencan dengannya dan aku juga berpikir begitu. Aku juga cukup menikmati waktuku dengannya. Aku menarik napas seraya menutup berkas di atas mejaku. Aku berdiri seraya mengenakan jasku. Lalu berjalan keluar.


"Aku pulang lebih awal hari ini..." ucapku pada sekretarisku.


"Yes, sir..."


Aku masuk ke dalam lift dan menatap pantulan diriku di sana. Aku merapikan dasi dan rambutku. Aku mengamati diriku sendiri untuk beberapa saat. Lalu, merasakan rasa aneh di sana. Aku tertawa kecil seraya membasahi bibirku yang tiba-tiba kering. Terkadang muncul perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan.


Aku segera keluar dari lift dan berjalan menuju mobilku. Lalu melajukannya di jalanan New York yang seperti biasa selalu macet. Aku ingin menyalakan musik milik Kenny, tapi aku mengurungkan niatku. Album terbarunya benar-benar sedih dan aku tidak butuh sesuatu hal seperti itu. Aku akhirnya menyalakan radio dan mendengar suara penyiar wanita.


"Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tingkat depresi di Amerika Serikat menududuki peringat ke-6 di seluruh dunia......"


Kenapa akhir-akhir selalu berita yang menyedihkan. Bukan berita seperti ini yang ingin kudengar. Aku melajukan mobilku saat lampu lalu lintas berganti. Aku hendak menggantikan saluran radio tersebut, tapi tanganku berhenti mendengar pertanyaan penyiar itu.


"Apakah anda bahagia sekarang?"


"Entahlah..." jawabku entah pada siapa.


"Menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai menjadi salah satu cara terapi anda untuk mengurangi tingkat depresi anda...."


"Dan itulah yang kulakukan sekarang..." bisikku saat melihat Zoya keluar dari gedung rumah sakit. Aku memarkirkan mobilku lalu menurunkan kaca jendelaku di bagian seberang, "Zou.." panggilku dan dia segera menunduk ke arah mobil. Dia tersenyum padaku lalu masuk ke dalam mobil.


"Kau datang lebih cepat dari pada yang kubayangkan. Jalanan tidak macet?"


Aku menoleh ke arahnya sekilas, "Macet, tapi aku memakai jalan tikus..." Lalu aku melajukan moobilku.


"Bagaimana harimu?"


Salah satu hal yang membuatku terkesan padanya adalah caranya memperlakukan orang lain. Dia selalu menanyakan hal ini padaku setiap hari, baik secara langsung atau tidak. Inilah hal yang membuatku berpikir bahwa dia adalah sosok yang baik.


"Lancar.." jawabku singkat, lalu aku menatap ekspresi wajahnya yang sedikit sedih. Mungkin karena jawabanku yang singkat, "Bagaimana denganmu, Zou?" aku menoleh sekilas padanya dan tersenyum padanya. Lalu dia tersenyum lagi padaku.


"Aku melakukan operasi besar hari ini dan cukup unik.. Jadi, aku memiliki pasien.....'


Lalu dia bercerita sepanjang perjalanan kami menuju restoran. Aku senang mendengar bagaimana cara dia bercerita. Lalu, setelah beberapa menit kami sampai di restoran tempat kami akan makan malam. Aku segera keluar dan membukakan pintu padanya.


"Thanks..." ucapnya dan kami berjalan masuk ke dalam restoran.


"Harry..." panggilnya dan aku berhenti. Aku menoleh ke belakang yang melihat dia tertinggal tiga langkah di belakangku.


"Yah?"


Lalu dia mengarahkan tangan kanannya padaku. Aku tersenyum kecil dan segera menggenggam tangannya yang lembut dan hangat. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada bahuku.


"Terimakasih.." bisiknya dan aku tidak tau untuk apa itu.


****


"Kau tidak mampir?" tanya Zoya setelah kami berdiri di depan apartemennya


"Mungkin lain kali..." ucapku lembut lalu aku bisa melihat sorot matanya yang kecewa walau bibirnya masih tersenyum.


"Baiklah..."


"Selamat malam, Zou.."


"Tunggu..." ucapnya, lalu dia melangkah maju ke arahku. Dia mengalungkan tangannya pada leherku dan menarik kepalaku mendekat ke arahku. Aku tidak menolak dan menerima ciumannya.


Lalu dia menjauh, "Good night, Harry..." bisiknya seraya menunduk pergi.


Aku memegang tangannya, mencegatnya pergi. Dia menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. Dia menyukaiku. Aku tau itu dan aku tidak ingin mengecewakannya. Sejujurnya, aku tidak ingin mengecewakan wanita mana pun lagi. Aku segera menariknya dan menciumnya lagi. Menciumnya dengan sepenuh hatiku.


****


Emilya POV


Ciuman.


Aku bermimpi tentang itu.  Hah.. Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi hal yang tidak senonoh, padahal aku tidak sedang dalam masa pubertas. Aku mendengar bunyi suara kokokan ayam jantan. Aku segera bangkit berdiri dan membereskan tempat tidurku.


"Aku rindu ciuman..." bisikku seraya melipat selimutku. Segera bayangan Jackson terlintas di pikiranku.


"Sial..." umpatku seraya tertawa kecil.


Dia tampan dan cukup kaya untuk daerah seperti ini. Dia juga punya tubuh yang bagus dan bibir yang menggoda, tapi... Tapi.. Hah.. Bagaimana aku menjelaskannya, yah? Ada rasa penolakan dan ragu dari lubuk hatiku yang terdalam. Padahal aku tahu, usiaku tidak muda dan ini adalah usia yang sudah cukup matang untuk memulai sebuah bahtera rumah.


Aku bisa saja menerimanya lalu menikah dengannya. Membangun rumah tangga dan memiliki anak bersamanya. Namun, aku tidak mau. Aku masih memiliki cita-cita dan mimpi yang ingin kuraih sebelum akhirnya aku menikah. Aku ingin menjadi seorang penulis. penulis sesungguhnya.


Aku sekarang bekerja sebagai pekerja lepas di sebuah penerbit kecil di kota ini. Aku menulis cerita pendek untuk sebuah koran harian dan aku dibayar setiap minggunya, tergantung banyaknya koran yang terjual dan banyak kata yang kuketik.


Hah.. Aku mengirimkan dua judul cerita yang masing-masing terdiri dari tiga sequel(tiga season) sekitar delapan bulan yang lalu pada suatu penerbit terkenal, tapi hingga hari ini aku belum mendapatkan email apa pun dari pihak penerbit itu. Aku bisa saja mengirim naskah novel itu pada penerbit lain, tapi aku belum mendapatkan email 'PENOLAKAN' sehingga aku masih berharap bisa di terima di sana.


Yah... Sejujurnya, itu salah satu penerbit bergengsi yang berpusat di New York dan tersebar hampir di seluruh daratan Amerika. Aku terlalu percaya diri dengan mengirim naskah itu pada penerbit tersebut, tapi apa salahnya berharap, bukan?


Aku mencuci wajahku dan mengganti bajuku dengan jumpsuit khas ala pertanian Amerika. Aku turun ke bawah dan melihat Hailey, Will, dan Bibi Debs ada di sana sedang makan.


"Good morning.." ucapku dan duduk bergabung dengan mereka, "Hai, Will.." aku mengecup pucuk kepala Will.


"Hai, Em..."


Telur, bacon, sosis, roti, susu, dan jus jeruk. Itu adalah sarapan kami hari ini.


"Dr.Murphy tadi menelpon..." aku menatap Bibi Debs, jelas dia berbicara padaku.


Selama masa pemulihanku, aku tidak memakai ponsel. Aku memakai telepon pesawat. Yah, untuk kesehatan jiwa dan ragaku maka aku harus menjauhi ponsel.


"Dia mendapat surat atas namamu..."


Surat? Satu-satunya orang yang berkirim surat denganku adalah Kenny, kami menjalin pertemanan walau kami hanya saling berkirim pesan. Aku pernah melakukan panggilan video dengannya menggunakan laptopku dan aku melihat bayi-bayinya yang benar-benar cantik dan manis.


"Apa dia menyebut daari siapa?" tanyaku.


"Dia menyuruhmu untuk melihatnya sendiri...'


Aku menggangguk, "Okay.. Boleh aku memakai mobil? Aku ingin pergi ke kota untuk menggunakan wifi..."


"Yah..."


Uhm.. Di rumah ini tidak ponsel maka tidak ada internet.


****


Aku turun dari truk hijau milik Bibiku setelah aku sampai di depan rumah Dr.Murphy. Aku menaiki tangga menuju terasnya dan segera mengetuk pintu kayu berwarna putih itu. Aku bisa mencium wangi kue yang enak dari luar, jelas Mrs.Murphy sedang memasak kue.


Lalu pintu terbuka, "Emilya..." ucap Dr.Murphy.


"Good Morning..." ucapku, "Bibi Debs mengatakan kalau aku punya surat atas namaku..."


"Ah.." dia memperbaiki posisi kacamatanya, 'Sepertinya bibimu salah mendengar, aku tidak memiliki suratnya..."


"Jadi?"


"Seseorang menelponku kemarin dan menyuruhku sendiri untuk menjemput surat atas namamu..."


Ah.. Aku paham sekarang. Aku memang menggunakan nomor ponsel Dr.Murphy sebagai nomor cadanganku karena telepon pesawat di rumahku terkadang tidak ada yang menerima panggilan saat kami tidak ada di rumah. Bibi Debs memang sering seperti ini.


"Astaga... Baiklah. Terimakasih, Paman.."


"Apa kau ingin pergi sekarang? Isteriku memasak kue. Ayo mampir''


"Terimakasih, paman. Maafkan aku. Namun, aku sedikit sibuk sekarang... Mungkin lain kali."


"Kalau begitu kau bawa saja beberapa ke rumah.."


"Tidak perlu, Paman..." Astaga. Dia selalu seperti ini. Setiap aku, Will, Hailey, atau bibi datang ke sini, mereka selalu memberi kami sesuatu, "Tidak perlu repot-repot, paman..."


"Melinda.. " dia sudah memanggil isterinya artinya tidak ada kata penolakan lagi dariku.


****


Aku duduk di dekat jendela pada sebuah bar. Aku menaruh laptop dan surat yang baru saja aku ambil dari kantor pos. Tidak berapa lama kemudian, seorang pelayan berkulit hitam yang bertumbuh gempal datang ke mejaku. Dia tersenyum kecil padaku.


"Hai, Gloria.." ucapku ramah.


"Pesanan seperti biasa, bukan?"


"Yah..."


"Oh, girl... Kau duduk berjam-jam di sini dan hanya memesan limun.."


Aku memukul bokongnya yang besar. Dia sangat cerewet, tapi aku sangat menyukai Gloria.


"Aku akan memberimu diskon setengah harga untuk satu kilogram telur.."


Dia memutar mata, "Kau selalu berhasil menggodaku..."


"Terimakasih, Gloria.." ucapku setelah dai berjalan menjauh dari mejaku.


Aku menyalakan laptopku. Seraya menunggu laptopku menyala, aku melihat amlop coklat kecil tersebut. Aku tidak sempat melihat pengirimnya. Aku segera berhenti sejenak melihat nama pengirim di sana.


Penerbit X


Aku segera menutup mulutku dan tidak percaya melihat nama pengirim itu. Astaga... Astaga.. itu dari pihak penerbit itu. Aku tidak bisa menutup rasa gugupku. Apakah diterima? Atau aku akan di tolak? Aku membuka amplop dan mengambil secarik kertas dari dalam. Aku membuka lipatan kertas dan demi apa pun, jantungku berpacu kencang saat ini.


Aku membaca surat itu dengan cepat dan melihat dua judul bukuku di sebutkan di sana. Dan aku melihat satu-satunya tulisan yang bercetak tebal di sana. Aku menutup membuka mulutku penuh keterkejutan. Demi apa pun... Aku di..


DITERIMA


"Ah!" aku berteriak kencang seraya berdiir memukul meja, "Aku diterima..." bisikku penuh ketidakpercayaan.


"What the hell with you, girl?" ucap Gloria seraya menyajikan segelas limun di mejaku.


Aku menoleh padanya, "Aku di terima..." dan Gloria hanya menatapku dengan tatapan anehn.


"Aku diterima.." ulangku lagi dan beberapa orang yang ada di bar tersebut menatapku dengan tatapan penuh tanya.


"Aku di terima, Gloria...." kemudian aku memeluk tubuh gempal Gloria.


"Oh, girl..." ucapnya dan dia membalas pelukanku, "Aku tidak tau apa yang kau bicarakan, tapi selamat untukmu karena di terima..."


****


"Kami berharap bisa melihat anda di penerbit pusat kami di New York dalam waktu dekat ini, Ms.Tetaons untuk membahas buku Anda yang akan kami terbitkan. Kami berharap minggu ini kami sudah mendapat jawaban anda..."


Aku kembali mengingat suara wanita dari pihak penerbit yang kuhubungi setelah menerima surat itu. Itulah yang mereka katakan dan aku benar-benar terkejut kenapa harus seperti itu. Segera rasa bahagiaku yang begitu membuncah segera hilang.


Aku memukul-mukul kedua kakiku ke atas ranjang yang kutiduri dengan kesal. Kenapa? Kenapa aku harus repot-repot pergi ke sana? Ini sudah zaman era digital, semua bisa dilakukan secara online. Kenapa? Kenapa aku harus pergi ke satu-satunya tempat yang ingin kuhindari di dunia ini? Demi apa pun yang ada di dunia ini, aku benar-benar tidak ingin ke sana


"Kupikir, aku tidak akan pergi ke sana...."


Ucapku pada diriku sendiri


****


 MrsFox


Ini sekadar perkenalan new seasonnya wkwkw. Hope you enjoy it. Btw, di akun mangatoon/noveltoon kalian, apa cover novel yg ini udah berubah? Cuman mau nanya itu sih. Jangan lupa dukungan kalian para sodaraku. Lop yuhh