Harry's Love Story

Harry's Love Story
The Purpose 2 (21++)



Happy Reading


If you under 19th, please be wise readers. It's so vulgar btw...


TOLONG YANG 19THN KE BAWAH. TIDAK DIANJURKAN UNTUK KALIAN. JIKA TERPAKSA MEMBACA, JADILAH PEMBACA YANG BIJAK DAN TIDAK MELAPORKAN KARYA SAYA. TRIMS.


****


Harry POV


Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku segera membereskan mejaku lalu berdiri mengenakan mantelku. Aku berjalan keluar dari ruanganku dan ke dua sekretarisku segera berdiri menyambut kedatanganku.


"Aku akan pulang. Kirimkan dokumen yang perlu ku baca melalui emailku saja..." ucapku pada sekretaris satu.


"Yes, sir.."


"Thank you."


Aku segera berjalan dan memasuki lift. Aku bersiul penuh bahagia. Ah.. Menyenangkan. Membahagiakan. Emilya mengirimi pesan untuk menjemputnya di hotelnya nanti. Dia akan menginap di tempatku. Oh my... Entah kenapa aku di penuhi energi besar di dalam tubuhku. Aku keluar dari lift dan berjalan di basement menuju mobilku.


Aku memasuki mobilku dan segera menuju hotel tempat Emilya menginap. Aku menghabiskan sekitar dua puluh menit menuju ke sana dan saat aku hampir sampai, aku mengiriminya pesan bahwa aku sudah sampai. Aku memberhentikan mobilku di parkiran dekat hotel W seraya menunggu Emilya datang.


Tidak menunggu lama, Emilya datang yang berjalan ke arah mobilku. Dia mengenakan celana jeans, mantel coklat sepahanya, syal, dan sepatu sneakers. Ah. Dia selalu cantik dalam pakaian apa pun. Astaga. Aku benar-benar tergila-gila pada wanita ini.


Aku keluar dari mobil dan menyambutnya. Aku mengecup pipinnya.


"Hai..." saapanya.


"Hai.." ucapku seraya membukakan pintu padanya dan dia segera masuk. Aku mengelilingi mobilku dan segera masuk ke kursi penumpang.


"Bagaimana harimu?" tanyanya saat aku menyalakan mesin mobil.


"Hebat. Sangat hebat. Bagaimana denganmu?"


"Lancar dan hebat..."


Aku melajukan mobilku.


"Apa kau sudah makan?" tanyaku seraya melirik tangan kananya. Astaga. Demi apa pun. Dia memakai cincin yang kuberikan. Aku benar-benar bahagia.


"Belum, tapi aku belum lapar.. Kau lapar?"


"Tidak. Kau mau jika kita pergi makan malam dulu?" tanyaku.


"Uhm.. Kita makan di tempatmu saja."


"Baiklah..."


Aku melajukan mobilku melewati jalanan yang ramai dan aku tidak henti-hentinya mencuri pandang darinya.


"Kau selalu menatapku. Apa ada yang aneh?" tanya Emilya saat kami memasuki basement pent-house milikku.


"No.. Aku hanya ingin menatapmu, memastikan kau benar-benar nyata..."


Emilya tertawa kecil dan aku benar-benar suka tawanya itu. Begitu manis dan lembut. Aku dan Emilya keluar dari mobil dnan berjalan menuju lift. Aku menggenggam tangan kanannya dengan erat dan merasakan rasa dingin dari cincin Emilya.


Kami sudah berdiri di depan lift dan aku menempelkan jempolku. Pintu lift segera terbuka dan kami masuk. Aku tetap menggenggam tangan Emilya dengan erat seraya menatapnya yang memandang ke depan. Sial. Betapa aku tergila-gila padanya.


"Mau mandi bersama?" tanya Emilya seraya menatapku dengan matanya yang bulta dan jernih.


"Sial." umpatku bersamaan dengan pintu lift yang terbuka yang langsung menuju pent-house milikku. Aku segera mendorong Emilya keluar dari lift dan menciumnya dengan buas.


Aku melepas mantel Emilya dan dia melepas mantelku tanpa melepas ciuman. Aku melepas syalnya. Kemudian melepaskan ciuman saat kami mulai kehabisan napas. Aku menatapnya. Wajah dan lehernya sangat memerah. Sial. Dia nampak panas.


"Pakaianmu sangat banyak..." ucap Emilnya dan aku mengiyakannya.


Aku akhirnya melepas jas, kemeja, hingga celanaku. Meninggalkanku dalam boxerku. Aku tidak pernah melepaskan tatapanku dari Emilya selama aku melakukannya. Emilya menggigit bibir bawahnya.


"Kau tidak melepas pakaianmu?" tanyaku.


"Aku ingin kau yang melepasnnya..."


Sial. Bagaimana bisa mulutnya bisa semenggoda ini?


Aku segera mengangkat  tubuh Emilya dengan mudah dan menciumnya. Dia mengalungkan kakinya di pinggulku dan tangannya di leherku. Aku membuka sweaternya dan membawa dia ke dalam kamar mandi. Aku  menurunkan dia di lantai kamar mandi.


"Renda?" bisikku saat melihat bra hitam yang dia pakai.


"Aku tau kau menyukainya..."


Dia tersenyum kecil dan aku segera menundukkan tubuhku untuk membuka celananya. Aku menariknya perlahan dan melihat warna celana dalamnya senada dengan branya. Emilya mengangkat salah satu kakinya agar aku bisa melepaskan celananya.


Akhirnya dia hanya dalam balutan pakaian dalam. Aku mendekatkan wajahku ke miliknya dan membenamkan wajahku di sana. Aku menghirupnya seraya meremas bokongnya dan Emilya menggeram rendah. Aku menatapnya dari bawah yang juga menatapku.


"Aku suka wangimu..."


Aku berdiri lagi dan menyalakan shower. Air hangat segera datang. Aku menarik tubuh Emilya ke bawah Shower dan itu membasahi tubuh kami. Aku mengambil spons mandi yang sudah kuberi sabun. Lalu aku menggosok tubuh Emilya dengan itu.


Aku melepas branya lalu menggosok spon itu ke kedua payudaranya.


"Ah.." eluhnya dan aku benar-benar menyukainya. Itu suara terindah yang kudengar.


Aku menggosok bagian lainnya seraya mengecup tubuhnya. Aku menurunkan pakaian dalamnya dan menggosok perlahan bagian bawah Emilya. Aku berdiri kembali dan memberikan spon itu pada Emilya.


"Bersihkan aku.." ucapku dan dia menerima spons itu. Dia menggosok tubuhku perlahan. Sangat perlahan. Tangannya yang mungil meremas otot bisepku. Dia memajukan pinggulnya ke arahku dan menggeseknya ke milikku.


"Em.." geramku dengan suara peringatan.


"Ups...." ucapnya dengan suara jenaka, "Kau menyukainya, Mr.Smith?" ucapnya dengan suara menggoda.


Salah satu tangan Emilya masuk ke balik boxerku dan mengelus milikku. Mata kami bertatapan. Sial. Aku memejamkan mata saat salah satu tangannya menurunkan boxerku dan tangan yang satu tetap mengelusnya.


"Sial.." umpatku dengan suara tertahan.


"Apa itu menyenangkan?" tanyanya seraya perlahan turun ke bawah untuk menarik boxerku lepas.


Tanpa aba-aba, Emilya mengisi mulutnya dengan milikku dan segera rasa pening penuh kenikmatan. Emilya menggulumnya dengan mulut mungilnya dan mengisi bagian yang lain dengan tangannya. Aku berpegangan pada dinding.


"Em..." geramku, "AH.."


Tubuhku bergetar dan aku tau aku akan datang. Aku akan membiarkannya datang.


Itu semakin dekat..


Dan akhirnya itu datang.


"Emilya.." erangku saat akhirnya pelepasan itu datang.


Aku menatap dia yang juga menatapku. Dia menjilat bibirnya.


"Sialan, Em.." ucapku dan segera mengangkat tubuhnya. Emilya mengalungkan kakiknya di pinggulku dan aku mendorongnya ke dinding. Aku memasukkan milikku ke miliknya. Memenuhi dia secara paksa.


"AHk!" pekiknya.


"Aku akan sangat keras, sayang..."


Aku menghisap lehernya kemudian menghisap payudaranya. Manis. Benar-benar manis.


Aku mendorong ke arahnya. Terus.


"Ah.." erangku dengan suara tertahan


Aku mendorong lagi semakin dalam. Emilya menggoyang-goyangkan pinggulnya. Memutar pinggulnya. Memenuhi kami berdua ke dalam kenikmatan tiada tara. Aku menanamkan wajahku di lekukan lehernya. Sial. Tubuh kami licin karena sabun dan itu terasa menyenangkan.


"Harry!" pekiknya saat aku mendorong dengan keras dan paksa.


"Sedikit lagi!" geramku.


"Ahk!" dia berteriak kencang saat akhirnya pelepasan itu datang dan diikuti dengan pelepasanku.


Tubuh Emilya segera terjatuh dan bertopang di tubuhku. Dia memeluk tubuhku dan aku mengangkatnya menuju pancuran shower. Itu membasahi tubuh kami hingga sisa sabun di tubuh kami hilang.


"Itu hebat.." bisiknya saat aku membawa dia keluar dari kamar mandi. Aku menurunkannya dan melap tubuh kami masing-masing.


Emilya membelakangiku dan aku tidak henti-hentinya menatap bokongnya.


"Boleh aku memakai kaosmu?" tanya Emilya seraya memutar tubuhnya ke arahku.


"Tentu.." aku melilitkan handuk di pinggulku dan Emilya bergerak ke kamar tanpa sehelai benang apa pun. Pinggulnya bergoyang dengan lembut dan aku tidak bisa tidak melihatnya.


"Kau punya hair-dryer?"


"Di kamar mandi.."


"Okay.." dia menatapku dengan tatapan yang dalam dan aku menatap tubuhnya yang sintal. Sial. Aku menuju ruang gantiku sementara dia menuju kamar mandi. Aku hanya memakai celana santai panjangku dan membawa kaos dan celana untuk Emilya.


Saat aku keluar dari ruang gantiku, aku melihat Emilya berdiri di depan cermin seraya mengeringkan rambutnya. Dia membelakangiku. Aku membuka mulutku, menatap tubuhnya yang indah. Mata kami bertemu di cermin dan dia menatapku lalu tersenyum miring.


"Bisakah kau memakai bajumu terlebih dahulu?" ucapku seraya duduk di ranjang.


"Aku terbiasa mengeringkan rambutku terlebih dahulu sebelum akhirnya memakai baju..."


Aku tertawa. Dia jelas menggodaku. jelas.. Dari caranya menggerakkan pinggulnya.


"Em.. Aku serius. Kau pakai bajumu sehingga kita bisa makan dengan tenang..."


Dia memutar tubuhnya kemudian bersandar di dinding. Payudaranya ditutupi oleh rambut cokelatnya yang panjang. Dia menatapku dan tersenyum miring.


"Kau ingin makan?" tanyanya.


"Yah. lebih tepatnya kita berdua akan makan..." tegasku


"Kau tidak yakin ingin memakan yang lain?" dia menggigit bibir bawahnya sebentar.


Aku tertawa.


"Kau lucu.. Ayo pakai bajumu..."


"Okay..." dia berjalan ke arahku dan aku tidak henti-hentinya menatap tuubhnya.


Dia menunduk dan dengan sengaja menyentuh bahuku dna bagian tubuhku yang lain.


"Ups.." ucapnya.


Sial. Aku menatap payudaranya.


Persetan.


"Kau yang menggodaku pertama, Ms.Teatons.." bisikku dan segera mendorong tubuh Emilya ke tempat tidur dengan wajahnya mengarah tempat tidur. Aku menurunkan celanaku kemudian menarik bokong Emilya ke arahku.


Aku menampar bokongnya dan Emilya terpekik kemudian tertawa.


"Aww..." pekik Emilya.


"Jangan tertawa, Em..." ancamku kemudian menampar lagi bokognya.


Aku segera memasukkan milikku dan Emilya segera terkesiap.


"Uh..." ucap Emila denagn nada terkesiap.


"Aku akan cepat, sayang..."


Aku menggulung rambutnya dalam genggamanku dan mulai mendoorng.


"Ah.." erang Emilya, "Harry!" pekiknya.


"Sebut namaku, my dear..." geramku dengan suara rendah.


"Ah! Harry!" aku mendorong semkain keras.


"Kau.milik.ku" ucapku dengan terpatah di setiap doronganku.


"Selamanya.Selalu." aku mendorong lagi dan lagi menuju pelepasan penuh kenikmatan.


****


Emilya POV


Aku sudah duduk seperti ini selama 30 menit seraya menatap Harry yang tidur pulas. Aku menahan diriku untuk tidak menangis. Aku menarik napas. Sial. Kenapa selalu seperti ini? Kenapa setiap kali aku memulai selalu ada masalah?


Aku melipat bibirku menjadi garis keras, menahan diri untuk tidak menangis. Aku menaruh cincin pemberian Harry bersama surat kecil untuk Harry. Aku mengecup bibirnya sekilas dan setetes air mataku jatuh ke kulit Harry dan dia sedikit mengingau.


"Uhhm..." ingau Harry.


 "I love you, Harry. Always.." bisikku dan segera bangkit berdiri. Aku berjalan keluar dari kamar kemudian berhenti di depan pintu. Aku memutar tubuhku untuk menatap siluet tubuh Harry yang tidur.


"Goodbye, my dearest Harry...."


Inilah yang harus kulakukan untuk memenuhi perjanjianku dengan Zoya. Melepas Harry untuk selamanya....


****


MrsFox


Okay. Semoga cukup menghibur walau akhirnya sedikit menyedihkan. Wkwk. Jangan lupa dukungan kalian yah gais. Mulai dair koment, like, love, and vote karena itu benar-benar mendukungku. Tunggu my next story. Juts for you. Lop yuh so much gais. Silakan bergabung ke grup chat aku untuk mengikuti pemberitahuan jika aku lama update atau apalah. Bye" gais. See you on the next chap!!!!!