
Happy Reading
****
Emilya POV
"Tidurlah..." ucapku seraya menguap keras. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan sedari tadi Harry menemaniku yang kesulitan tidur.
"Setelah kau...."
"Kau tidak lelah?" aku mengelus tangannya.
"Aku terbiasa tidur larut malam, Em...."
Aku tau dia kelelahan. Terlihat jelas dari kantung matanya. Bulu halus mulai tumbuh di dagu dan di atas bibirnya. Biasanya dia rutin bercukur. Namun, dia tidak pernahpergi pulang ke pent-house kami dan selalu setia ada di sini bersamaku.
"Apa lukamu sudah sembuh?"
"Aku hampir tidak merasakannya lagi..." Harry mengelus rambutku, begitu lembut dan menenangkan hingga mataku perlahan tertutup, "Good night, sweetheart..." bisik Harry seraya mencium dahiku.
Ini menenangkan... Sangat..
"Hei!"
Aku buru-buru membuka mataku saat mendengar teriakan dari luar kamar rawatku. Rasa ngantukku hilang begitu saja. Aku melihat Harry berdiri di dekat pintu.
"Harry?" tanyaku dan dia melihatku, "Ada apa?"
"Kedua bodyguard kita pergi saat melihat seseorang yang mencurigakan...."
Sesuatu yang mencurigakan?
"Sial..." Harry mengumpat saat mendengar bunyi gebukan di luar.
"Harry..." bisikku saat dia menekan handle pintu.
Dia menoleh ke arahku, "Aku akan mengunci pintu itu dari luar..."
"Jangan pergi..."
"Aku akan kembali..." Harry keluar dari dalam ruangan lalu aku mendengar suara pintu yang dikunci.
Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Bayi bayiku... Oh my. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk. Aku segera mengambil ponselku dan hendak menelpon Harry, tapi lampu tiba-tiba padam dan membuatku panik.
"Oh my..." aku segera menyalakan lampu pada ponselku. Aku mengambil posisi duduk dan tanganku mengambil gelas sebagai senjataku. Di luar begitu hening. Sangat hening.
Aku menghubungi Harry, tapi tidak ada jawaban. Aku menghubunginya lagi, tapi tetap tidak ada. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki. Sial. Aku segera mengarahkan lampu ponselku ke arah pintu dan satu tanganku yang lain menghubungi nomor ponsel Liam, tapi tidak ada.
Suara pintu yang dibuka membuat jantungku berdetak kencang.
"Harry?" panggilku dan aku semakin panik karena seseorang yang sedang membuka pintu itu tidak menjawab. Aku segera menghubungi nomor ponsel Cassie. Itu berdering. Oh my.. Kuharap dia belum tidur. Pintu terbuka dan detik itu juga ponselku terhubung dengan Cassie.
"Cassie!! Tolong!" teriakku saat mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam ruanganku. Aku tidak tahu dia ada di mana karena semua begitu gelap. Aku mengarahkan lampu ponselku yang seadanya ke seluruh ruangan, mencoba mencari dia ada di mana.
"Em? Emilya? Apa yang terjadi?" Cassie berteriak panik di seberang
"Tolong!!" aku berteriak kencang, "Harry! Liam!!"
Aku segera melempar gelasku ke sosok yang bergerak dalam kegelapan, tapi itu hanya mengenai lantai.
"Siapa di sana? Jangan mendekat?" mataku melihat ke sembarang arah, menebak-nebak dia ada di mana.
Dia semakin mendekat dan dengan sigap dia berlari ke arahku, merampas ponsel milikku dan aku berteriak kencang. Dia melempar ponsel itu ke lantai dengan kuat hingga mati. Aku berteriak lagi dan detik itu aku merasakan sakit luar biasa di perutku. Sial. Bekas lukaku.
"Ah..." aku meringis kesakitan dan rasa pusing menghantam kepalaku.
"Hello, Emilya..." ucap sosok yang tidak kukenal tersebut. Itu suara wanita. Suara yang tidak pernah kudengar.
Aku melihat dalam kegelapan, benar-benar tidak tahu dia ada berada di mana.
"Harry!!" aku berteriak lagi seraya berusaha turun dari tempat tidur, tapi rasa sakit itu membuatku berhenti bergerak. Oh my...
"No one will hear you, my dear...." bisik suara wanita itu. Bisikannya terdengar sangat jahat. Begitu penuh dengan dendam.
"Ah..." aku kehilangan keseimbangan hingga aku terjatuh di lantai. Aku bisa merasakan sakit yang teramat menghantam perutku yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku memegang perutku. Sial.
Aku merangkak menuju pintu, tapi detik itu juga aku merasakan sebuah tusukan di pahaku. Aku menatap dalam gelap kemudian aku melihat kilatan bola mata. Aku mengarahkan tanganku ke depan, berusaha mencabut suntik yang tertanam di pahaku. Namun, aku bisa merasakan tubuhku semakin melemah dan kehilangan kekuatan.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyaku dengan suara serak dan parau. Detik itu, tubuhku jatuh berbaring di lantai dan aku akhirnya kehilangan kesadaranku.
****
Harry POV
Setelah aku mengunci pintu kamar Emilya, aku berjalan di lorong yang sepi. Aku berbicara pada Liam melalui talkie walkie dan dia mengatakan bahwa mereka melihat sosok yang mirip dengan Elena. Aku menoleh ke belakang untuk melihat pintu yang sudah tertutup rapat.
"Kalian di mana, Liam?" tanyaku dan dia menjawab mereka ada di lantai 13, masih mencari sosok yang mereka lihat tersebut. Aku berjalan ke lift dan masuk ke dalam. Aku menekan tombol lantai 13. Lift berjalan turun dan tiba-tiba lampu dalam lift padam diikuti dengan lift yang berhenti turun.
Sialan.
Aku menekan-nekan tombol buka, tapi tetap tidak terbuka. Emilya. Emilya.... Oh astaga. Tidak seharusnya aku meninggalkan dia sendirian. Aku merogoh saku jaketku dan merasakan kekesalan luar biasa saat aku mengetahui bahwa aku tidak membawa ponselku.
"Liam... Liam?" aku berbicara di talkie walkie.
"Yes, Sir..."
"Lupakan yang kalian kejar itu. Sekarang kembalilah ke kamar rawat Emilya... Tidak ada orang di sana."
"Bagaimana dengan Anda, Sir?"
"Aku terjebak di lift. Tidak perlu khawatrikan aku. Segeralah kembali ke kamar Emilya..."
"Yes, Sir.."
Aku menaruh talkie-walkieku ke saku jaketku lalu berjalan mondar-mandir dalam kegelapan. Sia-sia rasanya berteriak minta tolong. Aku hanya perlu menunggu hingga listrik berjalan lagi. Aku merasa gelisah. Jemariku bergetar. Ah.... Tidak seharusnya aku meninggalkan Emilya sendirian.
Aku meremas rambutku dengan kasar lalu memijit pelipisku. Jika terjadi sesuatu... Astaga. Aku menggeleng kepala. Aku tidak sanggup menghadapinya jika terjadi sesuatu padanya. Benar-benar tidak sanggup. Aku memejamkan mata dan terus berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.
Lima menit berlalu...
"Sir..." talkie walkieku berbunyi dan detik itu juga lampu menyala.
"Yah?"
"Mrs.Smith tidak ada di kamarnya...."
Breengsek.
****
Author POV
"Semoga waktunya sempat..." ucap Elmira pelan dengan napasnya yang memburu. Dia menatap Emilya yang tidak sadarkan diri dan segera tersenyum.
Akhirnya... Akhirnya terjadi juga saat-saat yang paling ditunggu oleh Elmira. Melihat Emilya berada dalam genggamannya dalam keadaaan tidak berdaya. Pintu lift terbuka dan segera menuju basement. Di dekat lift sudah terparkir mobil mereka dan ada Elena di sana, menunggu mereka.
"Cepat buka pintunya..." ucap Elmira dan Elena segera patuh. Mereka mengangkat Emilya dengan mudah lalu membaringkannya di kursi penumpang. Setelahnya mereka berjalan masuk ke dalam mobil dengan Elmira duduk di kursi pengemudi. Elmira melajukan mobilnya, pergi menjauhi rumah sakit tersebut.
"Akhirnya.." ucap Elmira seraya melepas masker dan topinya, "Dia lebih ringan dari pada yang kubayangkan...."
Elena menatap Ibunya kemudian menoleh ke belakang untuk melihat Emilya.
"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan padanya, Mom?"
"Aku? Lebih tepatnya kita... Yah. Terserah. Kita lakukan apa pun untuk membayar semua sakit hati yang kita rasakan..."
Elena segera menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Jelas tidak senang dengan ide Ibunya. Yah.. yah. Dia benci Emilya dan ingin Emilya merasakan sakit yang mereka rasakan, tapi rasanya berlebihan jika harus melakukannya saat Emilya baru selesai melakukan operasi ceasar untuk melahirkan anaknya.
"Seharusnya kita membawa bayi mereka berdua..." ucap Elmira dan Elena menatap Ibunya penuh ketidakpercayaan.
"No.. Mom. Anak-anaknya tidak salah apa pun..."
"C'mon, Elena... Kenapa hatimu sangat rapuh dan lemah....."
"Kau akan membawanya ke apartemen kita?"
Elmira menggeleng.
"Kita akan pergi ke sungai Hudson..." ucap Ibunya dan Elena terkesiap.
"Mom! Jangan bilang kau ingin menenggelamkannya di sana..."
Elmira menoleh ke putrinya tersebut, "Tentu saja tidak. Terlebih, aku tidak ingin membuat dia mati secepat dan semudah itu...."
"Kau hendak membunuhnya?" ucap Elena penuh keterkejutan, "Kupikir kita hanya perlu sedikit menakut-nakuti dia..."
"Kau bercanda? Kita sudah memadamkan lampu secara ilegal, lalu mencuri istri dari konglomerat, dan banyak lagi.. Kau pikir setelah semua yang kita lakukan, kita hanya menakut-nakuti dia?"
Elena menatap Ibunya penuh ketidakpercayaan.
"Mom... Kupikir kita tidak perlu melangkah sejauh itu.." ucap Elena dengan suara khawatir. Sial. Elena pun masih memiliki hati, dia tidak mungkin tega membunuh. Terlebih dalam keadaan seperti Emilya.
"Aku tidak mau terlibat lagi, Mom..." ucap Elena, "Aku berhenti di sini...."
Elmira menatap Elena dengan kesal, "Jang---" suara sirine mobil polisi terdengar.
"Mobil sedan putih harap menepi. Ini perintah.!" itu terdengar dan dibunyikan menggunakan toa. Itu diucapkan lagi dan lagi.
"Shit!!!" umpat Elmira lalu dia menekan pedal gas sehingga mobil melaju semakin cepat.
"Kita harus berhenti, Mom...." ucap Elena.
"Diam!!"
Elena menatap ke belakang saat menyadari adanya pergerakan dari Emilya.
"Dia sadar..." ucap Elena pelan. Lalu dia melihat Ibunya, "Kita perlu berhenti, Mom!!"
"Diam!!"
Semua suara bercampur. Suara sirine mobil polisi. Deruan sungai hudson. Suara mesin mobil. Penuh ketengangan. Napas Elena melaju dengan cepat.
"Ah!!" Elena dan Elmira berteriak kencang saat merasakan sebuah peluru di tembakkan ke mobil mereka. Lalu di tembakkan lagi dan mengenai salah satu ban belakang mereka. Mobil perlahan kehilangan kendali.
"Kita perlu berhenti, Mom..."
"Tidak!! Jika aku mati maka dia juga harus mati..." ucap Elmira merujuk pada Emilya.
Sebuah mobil lain melaju dan bersejajaran dengan mobil tersebut. Elena menatap seseorang dari dalam mobil tersebut menodongkan senjata.
"Berhenti sekarang!! Ini perintah!! Berhenti!!" teriak pria yang menodongkan senjata tersebut.
"Persetan!!!" Elmira berteriak kencaang.
"Mom!! Berhenti!!"
Elmira berteriak kencang dan semakin menakan pedal gas lalu mengarahkan mobil menuju pembatas jalan.
"No!! No!!" teriak Elena seraya memegang setir, mengarahkan mobil tersebut menjauhi pembatas jalan.
"No!" teriakan lain terdengar dan tidak lain adalah teriakan Emilya.
"Sialan!!!" Elmira berteriak kencnag lalu mengarahkan setir itu melewati pembatas.
"AH!!" Elena dan Emilya berteriak kencang saat menyadari mobil itu jatuh ke arah sungai Hudson. Semua berjalan cepat. Tubuh mereka terdorong ke belakang dan huss.. Mobil tercebur ke dalam sungai Hudson yang dalam.
****
Harry POV
Aku berjalan cepat menuju lift setelah kami keluar dari ruang CCTV. Elena dan Ibunya. Sialan. Sudah kuduga itu mereka. Anak buahku dan polisi sudah bergerak setelah kami memberitahu nomor plat mobil mereka. Elena dan Ibunya belum pergi jauh dari tempat ini.
Aku dan anak buahku masuk ke lift dan turun menuju basement. Setelah keluar, kami bergegas menuju mobil dan melajukannya untuk mengejar mobil Elena. Aku duduk di samping pengemudi lalu mulai berbicara dengan Liam yang sudah bergerak terlebih dahulu melalui talkie-walkie.
"Kami sudah menemukan jejak mereka, Sir... Mereka ada di dekat Sungai Hudson.."
Mobil kami melaju cepat menuju tempat yang dikatakan Liam. Saat kami mendekat, aku bisa mendengar suara sirine dan suara perintah melalui toa. Semua bercampu dan meghasilkan keributan di jalan. Mobil kami ikut melaju kencang, berusaha mengejar sedan berwarna putih tersebut.
DORR
Suara tembakan terdengar, menambah keributan di tengah jalan. Tembakan lain di layangkan dan bunyi letusan terdengar. Sial. Letausan apa itu?
"Liam? Liam?" aku memanggil Liam melalui talkie-walkie, tapi tidak ada balasan.
Sial.
"Percepat mobilnya..." perintahku dan bodyguard tersebut menekan pedal gas semakin dalam.
Aku bisa melihat sedan putih itu sekarang. Di sudutkan oleh mobil lain. Sedan putih itu kehilangan kendali. Sial. Sedan putih itu jelas hendak menerobos pembatas jalan.
"No!!"teriakku.
Tidak. Tidak. Emilya!!
"Emilya!!!" Aku berteriak kencang saat melihat sedan putih akhirnya melaju melewati pembatas jalan, jatuh dari ketinggian dan meluncur ke dalam sungai yang dalam.
*****
MrsFox
Ingat kemarin aku bilang happy ending? Agaknya terlalu memaksakan jika Emilya bisa bertahan dalam keadaan baru selesai operasi, terus kecelakaan mobil yang jatuh ke dalam sungai Hudson(sungai besar New york). Aku sebisa mungkin mah realistis soalnye sungai hudson itu dalam gaisss .-. Anyway, aku lama update karena aku merasakan dilema saat mengetik ini. Hampir dua hari loh aku ganti" setiap adegan dalam cerita. Aku takut jatuhnya tidak nyambung dan mengesalkan. Gimana menurut kalian? Apakah ini baiknya happy or sad? Aku juga sedih, novel baru aku belum juga lolos review hingga hari ini.