
Happy Reading
***
Emilya POV
"Max..." bisikku. Segera aku menghentikan tangisku dan menghapus air mataku. Aku maju selangkah ke arah Max dan dia segera mundur.
Sial. Sial. Di mana aku menaruh otakku hingga aku mengatakan dan melakukan hal bodoh.
"Max...." ucapku lagi dan maju beberapa langkah sebelum Harry memegangi tangan kananku.
"Sial... Emilya?!" Itu pertama kalinya aku mendengar Max mengumpat dan dia benar-benar marah besar, "Jadi benar yah?"
Aku memutar tanganku agar Harry melepas tanganku, "Lepaskan aku..." bisikku, tapi dia memegangku terlampau kuat dan dia tidak berusaha melonggarkannya. Mataku beralih ke Max, "Max... Ini bukan seperti yang kau pikirkan..." ucapku dengan suara bergetar. Sial, dia pasti mengira aku berselingkuh dengan Harry.
"Tidak seperti yang ku pikirkan? Kau menjual badanmu untuknya..."
Jantungku seolah berhenti berdesir dan aku segera meronta-ronata agar Harry melepas tanganku. Dari mana dia tahu itu?!
"Lepaskan aku... Lepaskan!!" teraikku, "Max... Max.. Kumohon... Dengar penjelasanku dulu...."
Max menatapku dengan mata melotot. Hidungnya kempas-kempis. Wajahnya memerah. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Max..." ucapku dengan nada bergetar. Aku menangis. Hatiku hancur. Benar-benar hancur.
"Lepaskan dia, sialan..." ucap Max dengan nada datar yang penuh amarah. mataku beralih ke arah Harry yang sejak tadi diam. Wajahnya datar dan tidak terbaca. Tangannya tetap kokoh memegang tanganku dan dia semakin mengeratkan genggamannya di tanganku.
"Lepaskan aku, Harry... Kumohon.." ucapku.
"Tidak..."
"Apa?!" Max meninggikan suaranya dan segera dia maju ke arah kami, memberi pukulan keras di wajah Harry. Tangan Harry terlepas dari tanganku dan segera aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Harry jatuh tersungkur di lantai dan sudut bibirnya berdarah. Dia menyeka darah di sudut bibirnya dan tertawa kecil.
"Sialan..." bisiknya, "Kau memukulku?" Harry bangkit berdiri dan ada senyum tipis di sana.
"Kau masih bisa tertawa, sialan?!" Max maju dan hendak melayangkan tinju yang lain, tapi aku segera menahan tangannya.
"Max.. Stop.. Stop..." isakku. Aku tidak sanggup melihat Max melakukan kekerasan. Selama aku mengenalnya, Max adalah pria tenang yang penyabar dan berkepala dingin. Dia tidak pernah tersulut amarah. Aku tidak pernah melihat dia semarah ini dan itu benar-benar membuatku takut.
"Kau membelanya?" ucap Max dengan nada tidak percaya, "Sialan, Em!! Aku mempercayaimu dan ini yang kudapatkan?!" dia segera menepis tanganku keras. Harry segera tertawa keras. Tawa penuh cemohan.
"Dia jelas membelaku karena dia menyukai..." ucap Harry dengan nada santai berlebihan yang terdengar sangat menyebalkan.
"APA?!" Max maju lagi dan mengangkat kerah baju Harry. Wajah mereka sejajar dan begitu dekat.
"Kau tidak mendengarku? Dia berkata bahwa dia menyukaiku dan dia punyaku...." Harry segera menepis tangan Max dan ucapannya benar-benar membuatku terkejut. Sial. Kenapa dia mengatakan hal bodoh seperti itu. Astaga. Yah.. yah, aku tau bahwa aku mengatakan itu tadi, tapi aku mengatakannya karena aku sedang kacau. Suasana hatiku sedang buruk karena ucapannya. Sialan.
"Apa?" ucap Max
"Max.. Kumohon.. Kumohon dengar penjelasanku.." aku maju menengahi mereka. Mataku menatap Max dan aku memegangi tangan kanannya dengan kedua tanganku, "Max... Kumohon dengarkan aku..." ucapku dengan nada memohon seraya mengelus tangannnya yang dalam genggamanku. Aku bisa merasakan cincin miliknya dalam genggamanku. Cincin kami.
Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan keras.
"Katakan dengan jujur, Em...."
Sial. Aku tidak suka nada kelelahan itu. Nada putus asa. Dia akan menyerah. Dia tidak akan memaafkanku.
"Apa kau wanita simpannannya?"
Aku terdiam. Aku tidak tau harus mengatakan apa.
"Lihat aku, Em..." bisiknya dengan nada hancur. Benar- benar hancur. Aku mengangkat kepalaku perlahan dan menatapnya.
"Katakan, Em..." ucapnya lagi dengan nada penekanan.
"Yah..." ucap Harry dari baling punggungku, "Dia punyaku dan dia mengatakan bahwa dia menyukaiku.. Sekarang bisakah kau pergi?"
Aku segera memutar badanku tanpa melepas tanganku dari Max. Aku melihat Harry yang berdiri di belakangku. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya, wajahnya penuh arogansi, dan dingin. Kenapa? Kenapa dia melakukan ini?
"Sialan, Em... Sial!!" Max segera melepaskan tanganku. Aku membalikkan badanku dan Max segera mundur seraya menatapku jijik. Aku maju dan dia mundur. Aku maju lagi dan Harry menahanku.
"Jangan maju lagi.." ucapnya dingin dan tanpa menoleh kepadaku. Dia hanya menatap Max dengan tatapan dingin.
"Apa yang kau lakukan?!" teriakku padaku dan aku menangis histeris.
"Sialan, Emilya.... Sialan...." Max melepas dan melempar cincin dari jemarinya tepat di kakiku. Dia segera membalikakn badannya dan berjalan menuju mobilnya.
"Lepas... Lepakan aku..Lepas.." aku berteriak dan meronta-ronta, tapi Harry semakin mengencangkan genggamannya pada lenganku.
"Dia sudah pergi..." ucapnya dingin dan aku segera menatapnya marah.
"Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu?" aku mulai memukul dada Harry dengan tanganku yang bebas, "Kenapa?!"
"Bukankah apa yang kukatakan itu benar?"
Aku segera berhenti dan membeku dengan ucapannya yang dingin dan tidak merasa bersalah.
"Tapi kau tidak akan membalas perasaanku, harry.... Tidak akan. Apa aku benar?"
Dia menarik napas dan menatapku.
"Lihat? Kau tidak bahkan tidak sanggup menjawabnya..." aku memutar tanganku dan Harry segera melepas tanganku, "Jadi kenapa kau melakukan hal tadi, Harry? Kenapa?" aku mundur beberapa langkah dan menyisir tanganku dengan satu tangan.
"Aku akan mengantarmu ke bandara..." ucap Harry dengan nada dingin dan itu membuatku benar-benar marah.
"Kau benar-benar manusia jahat yang penuh arogansi..." ucapku marah. Marah karena dia mengabaikan pertanyaanku. Marah karena ucapannya tadi. Semua sumber kemarahanku berasal dari dia.
"Jika kau tidak mau, aku bisa menyuruh seseorang mengantarmu ke bandara..."
Dia menatapku dingin, datar, dan tanpa ampun. Aku telah salah menilainya. Kupikir dia baik, tapi dia lebih buruk dari yang kubayangkan. Akhirnya, sifat aslinya keluar.
"Aku akan menggunakan taxi dan aku pergi dengan pesawat komersial."
Aku berjalan meninggalkan Harry.
"Jangan keras kepala... Masuklah ke dalam mobilku."
"Aku tidak mau!!!" teriakku tanpa memutar tubuhku padanya, "Aku tidak mau, Harry... Tidak mau!!!"
Dia mendengus...
"Jadi, apa kau ingin mengejar kekasihmu tadi?"
Aku memutar badanku dan menggeleng kepala penuh ketidakpercayaan.
"Kau selalu tau bagaimana cara membuat orang marah, Harry...."
"Kau ingin aku antar atau orang lain yang mengantarmu?"
"Terserah... Terserah..." aku mengangkat tanganku dramatis dan berjalan menuju mobil Harry. Aku tidak akan pernah bisa melawannya. Tidak akan pernah. Dia jauh lebih keras kepala dariku. Berhati dingin, jahat, penuh arogansi, dan dia benar-benar pria jahat.
Dan sisa malam itu hanya kuhabiskan sendirian dalam perjalan menuju New York di dalam pesawat. Aku tidak bisa tidur dan yang kulakukan hanya menangis dalam diam. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa kuperbuat. Aku dan Max sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Tidak ada lagi cara untuk menyelamatkan hubungan kami. Tidak setelah dia membuang cincin itu.
Aku melihat cincin Max yang sempat kuambil tadi. Aku melihat ukiran inisial namaku dan namanya di sana. Max, pria baikku. Dia benar-benar pria baik yang sangat menghormatiku. Pria tersabar yang pernah kutemui. Pria teramah. Aku menangis dan menggenggam cincin itu dengan erat di dadaku.
"Max, I'm sorry.." hisakku dan aku benar-benar hancur. Hancur berkeping-keping karena dua pria dalam satu malam
****
"Semuanya $18,5 sen..." ucapku pada pelanggan yang baru membeli album terbaru. Sudah berlalu seminggu lebih sejak kejadian di Los Angeles dan aku belum berbicara dengan Harry. lalu dengan Max, dia benar-benar tidak membaca pesanku dan tidak mau mengangkat panggilan apa pun dariku. Kupikir, aku sudah iklas akan kehilangan Max.
Dan selama itu pula, beberapa artis mengeluarkan album mereka, termasuk Kenny Sharp. Oleh karena itu, toko kaset ini sangat ramai dengan pengunjung. Aku senang dengan kesibukan ini, membuatku berhenti berpikir tentang Harry dan Max.
"Terimakasih. Silakan berkunjung lagi..." aku tersenyum dan memberi kantong berisi kaset tersebut.
"Em, bisakah kau menolongku mengangkat stok kaset yang baru datang?" ucap Alice yang tiba-tiba muncul, "Aku tidak tahan mengangkat itu karena perutku sangat sakit. Bisakah kau menolongku?" aku melihat wajahnya yang pucat dan merasa iba. Dia selalu seperti ini setiap dia menstruasi.
"Okay.. Cobalah minum teh hangat. Itu akan membantu.." ucapku.
"Okay. Trims..."
Aku tersenyum kecil dan berjalan meninggalkan meja kasir. Aku mengikat apron biruku seraya berjalan menuju pintu luar. Aku melihat Dave, pekerja baru di sini sedang mengangkat kotak berisi kaset. Dia berambut pirang sebahu yang selalu di ikat dan dia benar-benar mirip dengan bos kami. Dia dapat bekerja di sini karena pemilik toko ini adalah pamannya. Padahal, aku ingat bahwa bos kami berkata bahwa dia hanya mengerjakan wanita.
"Oh.. Hai, Emilya.." ucapnya seraya menaruh kotak-kota kayu tersebut.
"Hai..."
"Aku sudah mengangkat semua persediaan dan ini hanya tinggal di susun saja..."
"Oh.. Okay...." ucapku canggung. Jujur, aku merasa canggung dan aneh saat di dekatnya.
"Rose sedang menyusun album di rak yang lainnya.." jelasnya seraya membuka tutup kotak-kotak tersebut.
Aku menggangguk dan tersenyum kecil, bingung harus membalas apa. Aku jongkok dan mulai menyusun kaset ke dalam rak.
"Uhm.. Emilya?"
"Yah?"
"Apa kau ada wa--"
"Permisi.. Di mana aku bisa mendapatkan album Evermore milik Taylor Swift?" seorang pembeli tiba-tiba muncul dan memotong ucapan Dave. Aku menatap Dave dan pembeli itu bergantian.
"Oh.. Album itu ada di sebelah sana.." Dave berdiri dan segera pergi mengarahkan pembeli itu menuju rak yang lain. Aku menarik napas lega. Uh.. Aku lebih senang jaga jarak dengannya. Dia selalu berusaha berbicara denganku dan itu memuatku tidak nyaman.
Aku mengikat rambutku lebih ketat dan mulai menyusun kaset-kaset tersebut. Aku melap tanganku yang berkeringat ke apron lalu menyusun kaset itu lagi. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku mengikuti irama musik yang di putar di dalam toko. Ah.. Inilah salah satu yang kusukai saat bekerja di toko kaset ini, aku bisa mendengar musik seraya bekerja.
"Permisi... Di mana aku bisa mendapatkan album terbaru milik Kenny Sharp?"
Aku segera menghentikan aktivitasku saat mendengar suara Harry. Aku memutar badanku dan menengadah pada Harry yang berdiri di belakangku. Ada ekspresi terkejut di sana sebelum akhirnya mengubah wajahnya menjadi datar. Jantungku berdegup kencang. Aku menelan ludahku dengan susah payah dan segera berdiri.
Sial, dia bernar-benar tampan. Dia dan setelan jas serta coat panjang warna coklat. Dia memang selalu tampan
Dia berdehem lagi, "Di mana aku bisa mendapatkan album terbaru milik Kenny Sharp?" ucapnya dengan nada datar dan formal. Aku masih terikat kontrak dengannya dan aku ingat bahwa kami harus berpura-pura tidak saling mengenal saat bertemu di luar. Sial. Itu benar-benar menyakitiku.
"Di sana..." aku melap tanganku ke apron dan berjalan untuk memimpin langkah Harry menuju rak album milik Kenny Sharp. Aku tidak menyangka akan bertemu Harry di tempat ini dan dia mencari album milik Kenny Sharp. Dia benar-benar penggemar berat Kenny Sharp.
Kami sampai di rak khusus yang menampilkan wajah Kenny Sharp di setiap papan rak. Ada . Aku melihat hanya tersisa satu album lagi dan segera mengambilnya untuk Harry. Album milik Kenny Sharp benar-benar laku keras selama seminggu ini.
"Ini... Tersisa satu album lagi..." aku memberikan album itu, "Anda bisa membayarnya di sebelah sana..." ucapku menunjukkan kasir. Dia mengambil album itu.
"Trims..."
"Okay..." aku menggaruk belakang leherku dan Harry segera pergi meninggalkanku. Aku menarik napas. Sial. Entah kenapa dadaku terasa sesak dan sakit. Aku dan Harry hanya sebatas partner. Tidak lebih. Aku berjalan dan merasakan malu luar biasa. Ingatan saat aku menangis di depannya seraya mengatakan perasaanku benar-benar memalukan. Di tambah dia yang bersikap tidak mengenalku benar-benar membuatku malu.
Aku menarik napas dan berjalan menuju rak yang kutinggalkan tadi. Aku kembali menyusun kaset-kaset tersebut. Tidak berapa lama, Dave datang dan membantuku menyusun kaset tersebut. Dia mulai berbicara dan aku tidak mendengar apa pun yang dia ucapkan. Aku merasakan ponselku yang berada di kantong apronku bergetar, aku segera mengambilnya dan melihat ada nama Harry di sana. Jantungku berdegup kencang. Dia mengirimiku pesan. Aku menggigit bibir bawahku dan membuka pesan itu.
'Mari kita bicara, Em. Aku akan menunggumu di mobil mercendes hitam'
Aku segera membalikkan badanku dan segera berdiri melihat ke arah kaca etalase yang menampilkan jalanan di luar. Aku segera melihat Harry berdiri di samping mobilnya. Dia melihatku dan mengangguk sekali sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang dia maksud. Aku menarik napas dan menggenggam ponselku kuat. Aku memutar badanku dan aku segera memekik pelan.
"Ahk..." pekikku pelan saat menemukan Dave berdiri di belakangku. Aku bahkan menabrakkan kepalaku di dadanya hingga membuatku sedikit oleng ke belakang. Dia memegangi lengan kananku.
"Wah.. Aku tidak tau kau akan terkejut, Em... Maafkan aku.."
Aku menggoyang lenganku sedikit dan Dave melepaskan tangannya dariku. Aku berdehem dan mundur sedikit dari tubuhnya. Bau tubuhnya benar-benar tidak enak. Campuran antara parfum murahan dan asap rokok.
"Tidak apa.. Aku memang tipe yang mudah terkejut.." aku berjalan meninggalkannya menuju rak tadi dan dia mengekor di belakangku.
"Tadi itu siapa?" tanyanya saat dia berjongkok di sampingku. Aku melihat dia yang mengarahkan wajahnya begitu dekat denganku. Aku memundurkan kepalaku dan merasa aneh karena dia melihat Harry.
"Yang mana?" ucapku seraya menyusun kaset lagi. Aku sedikit bergeser darinya.
"Pria tadi.. Dia memperhatikanmu dari luar tadi saat menyusun kaset."
Aku membeku sejenak. Harry memperhatikanku?"
"Dia kekasihmu yah?"
Aku menoleh ke arahnya yang menatapku penasaran. Aku kesal dan merasa tidak nyaman di dekatnya. Dia berbicara seolah sudah dekat denganku dan pertanyaan benar-benar terlalu mengusik privasiku. Aku berdehem sekali dan merasakan kengerian saat dia menjilati bibirnya yang kering.
"Yah.. Dia pacarku.." ucapku akhirnya. Entah kenapa, radar ancaman menuntutku untuk mengatakannya. Seolah aku tidak akan aman jika mengatakan tidak pada Dave.
Dave mendengus, "Wah... benar-benar mengecewakan.." gumamnya pelan.
Aku melirik ke arah jam yang tergantung di dinding. Masih ada sekitar sejam lagi sebelum toko benar-benar tutup. Apa Harry akan menunggu selama itu? Aku berpikir untuk mengiriminya pesan, tapi kuurungkan niatku saat Dave masih berceloteh.
"Kau suka pria kaya yah?"
"Tidak..." jawabku dingin dan memberinya bahasa tubuh bahwa aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan apa pun dengannya.
"Aku tadi berencana mengajakmu makan malam bersama, tapi sudah keduluan sama pria kaya tadi..."
Aku tidak menjawabnya dan hanya tersenyum kecil.
"Aku ke kamar mandi dulu..." aku segera berdiri dan berjalan meninggalkannya. Entah kenapa, aku merasakan bahwa seseorang menatap dan mengawasiku. Aku menoleh ke belakang dan lansung menyesalinya karena mataku bertemu dengan Dave. Dia tersenyum dan menampilkan giginya yang menguning karena rokok. Aku segera berjalan cepat ke kamar mandi dan merasakan bahwa ada yang salah dengan pria ini.
****
MrsFox
SPOILER
Padahal aku gk pengen nambahin Dave sebagai antagonis :') biar ini cerita cepat kelarrr, tapi tanganku gatel ihhh pengen ngetik kek gini. Wkwkwkw. Menurutmu Dave bakal ngapain di eps berikutnya? Julia? Bastian? Ayah Emilya? Kenny Sharp? Zoya (new charakter). Mereka mungkin bakal jadi 'beberapa antagonis' di cerita ini. Mungkin yah... Ada Kenny Sharp juga, dan Scout bakal muncul juga kok walau hanya bentar. Max bakal muncul lagi kok. Jadi coba tebak, mereka bakal buat ulah apa?. hehe. Hope you like it gais walau ceritanya kurang greget.. Jangan lupa vote, love,like, koment. Lop yuh gais from the moon to world and back