
Happy Reading
***
Aku masuk ke dalam apartemen, membuka sepatu, memakai sendal rumah, dan berlari kecil menuju kamar. Aku cukup tercekat melihat ranjang itu, sial.. Aku akan tidur di sana dengan pria yang baru kutemui tiga kali. Aku menyadarkan diriku dan segera memasukkan ranselku ke dalam lemari. Aku melepas jaketku dan menggantungnya di dalam lemari.
Aku sekarang memakai sweater abu-abuku dan celana jeansku yang kumal. Sejujurnya, inilah pergumulanku sejak kemarin. Apa yang harus kupakai? Apakah aku perlu memakai lingeria? Apakah aku harus tidur dengan gaya menggoda seraya menunggunya? Aku bahkan menonton film biru untuk mencari referensi dan tidak ada yang pas. Hah.. Aku bahkan tidak bisa tidur semalam karena terus memikirkan ini.
Segan rasanya aku meminjam lingeria milik Spencer. Hah, lagian siapa juga yang ingin berbagai pakaian dalam? Aku membeli beberapa set pakaian dalam dengan warna senada kemarin. Aku tidak ingin dia melihatku dalam balutan pakaian dalam lamaku yang sudah kumal. Sial, kuharap pilihanku kali ini tidak salah. Aku menaikkan sweaterku yang langsung memamerkan perutku yang kecil, lalu aku menaikkannya dan melihat bra re--
"Hai"
"Oh my!!!" aku terkejut saat mendengar suara Harry dan buru-buru menurunkan sweaterku. Aku memutar tubuhku seraya menaruh tangan kiriku di dada. Sial. Sial. Sial.
"Aku membuatmu terkejut?" dia bersandar di kusen pintu dengan kemeja navy lengkap dengan dasinya. Dia baru pulang dari kerja? Apa pekerjaannya? Aku menggeleng kepala. Wanita batinku menamparku dengan keras dan berteriak bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya.
"Kau hampir memberiku serangan jantung... Kenapa tidak mengetuk?" Hah.. Apa-apaan yang kukatakan itu. Dia bosnya dan dia pemilik rumah ini.
"Pintunya terbuka..." dia berjalan melangkah dengan telanjang kaki dan memberiku serangan jantung yang lain karena dia melepas kemejanya. Ini saatnya. Sial!! Seseorang beri aku saran! Apa aku perlu pura-pura pingsan?! Sial, itu akan terlihat aneh nanti.
Kedua tanganku meremas ujung sweaterku saat dia semakin dekat dan dia telanjang dada. Dia terlihat beda tadi dalam balutan kemeja karena setiap bertemu, aku hanya melihat dia dengan kaos dan sweater. Lalu sekarang semakin beda karena dia bertelanjang dada. Rambut hitamnya legamnya, tulang pipinya yang tinggi, lalu badannya yang dirawat sempurna. Astaga... Aku baru sadar betapa tampannya pria ini. Wajah dan tubuhnya begitu sempurna dan tidak cacat seolah dia diciptakan Tuahn dengan tersenyum. Kenapa aku begitu lama menyadarinya bahwa dia sangat tampan dan... Panas?
"Kau ingin melakukannya dalam cahaya temaram atau...." bisiknya saat dia sudah di depanku. Aku bisa mencium parfum musk, mint, kayu-kayuan yang kental dari tubuhnya. Wangi yang jantan dan mewah.
"Temaram...." bisikku dan aku yakin wajahku sudah sangat memerah saat ini. Dia maju lagi sehingga aku mundur. Aku mundur lagi hingga aku tidak bisa mundur lagi karena dinding. Dan.. Harry menekan saklar lampu yang di samping kepalaku sehingga lampu utama kamar ini mati. Meninggalkan lampu lain dengan cahaya lebih minim. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hampir menyentuh tubuhku. Ah.. Setinggi apa dia, aku hanya bisa melihat dadanya.
Dia menunduk ke arah telinga, "Pilihan yang bagus..." bisiknya dan aku segera menelan ludahku dengan paksa.
Harry mengangkat daguku kearahnya dan aku menurut. Dengan lembut, dia mencium bibirku dan aku menerimanya. Tidak ada paksaan di sana, dia begitu lembut. Dia membuka mulut dan aku membuka mulutku untuknya. Aku mengalungkan tanganku pada lehernya dan sedikit berjinjit untuk menyeimbangi tingginya. Lalu muncul rasa aneh di dadaku. Aku dan Max bahkan tidak pernah melakuakn hal ini, kami selalu berciuman dengan hati-hati.
Dia mengangkat tubuhku dan mengalungkan kakiku pada pinggulnya. Dia mengangkatku begitu mudah dan membaringkanku di tempat tidur. Napas kami terengah saat ciuman itu terlepas dan dalam gelap aku masih bisa melihat kilatan matanya.
Dia menarik sweaterku dan membuangnya ke lantai. Jantungku berdebar kuat dan semakin kuat saat dia perlahan turun ke bawah. Dia melepas kancing jeansku dan menarik perlahan jeansku turun. Tangannya yang lembut
menyusuri kulit kakiku seraya menurun celanaku. Aku merasakan setiap bulu berdiri. Aku melihat dia yang juga melihatku dengan intense. Napasku terengah dan meremas sprei di bawahku, menahan diri untuk tidak melenguh.
"Cantik..." bisiknya, lalu dia kembali mensejajarkan tubuhnya padaku, lalu mencium bibirku sekilas.
Aku merasakan jantungku semakin berdegup kencang saat harry melepas celana.
"Kau siap?" bisiknya.
Aku tidak tau harus menjawab apa. Namun, libidoku mengatakan bahwa aku siap... Siap merasakan rasa nikmat ini. Aku bisa merasakan selangkanganku yang sudah basah, tubuhku yang memanas, dan aku tau bahwa aku menginginkan ini.
"yah..."
"Jawaban yang bagus...."
Dan malam itu, aku memberikan seluruh tubuhku pada Harry.
****
"Untuk hari ini , cukup sampai ini sayang..." bisikan Harry dan begitu menenangkan. Aku bisa merasakan dia menyelimutiku lalu mengelu kulitku dengan jempolnya. Kulitku menempel pada kulitnya. Deru napas Harry, wanginya, dan kulitnya yang lengket. Itu terasa aneh, tapi nikmat. Perlahan, seiring mendengar deru napas Harry, aku jatuh dalam dunia mimpi.
***
MrsFox
EDIT
ISI ASLINYA SUDAH DI REVISI OLEH PIHAK MANGATOON.
Maaf tidak sesuai harapan anda.