Harry's Love Story

Harry's Love Story
He known



Happy Reading


***


Aku melihat anak kecil tadi kembali membawa nampan secangkir teh dan kotak gula untukku. Kupikir di main-main saat beratnya aku ingin minum apa. Maksudku, dia mungkin masih berumur 7 atau 10 tahun jadi agak tidak mungkin dia bisa membuat teh untukku. Dia menaruhnya dengan perlahan di atas meja kemudian duduk di atas kerpet dan menumpukan tangannya di atas meja ruang tamu. Aku sedang duduk di sofa dan dia ada di depanku.


"Trims.." ucapku seraya mengangkat gelas keramik yang cukup feminim itu, baunya enak. Aku menyesapnya dan cukup senang bahwa teh itu lumayan nikmat tanpa gula.


"Kau tidak menambahkan gula?"


"Aku tidak terlalu suka manis..." aku berdehem seraya menaruh gelasku, "Siapa namamu?"


"Sebastian William Teatons, aku biasa dipanggil Will..."


"Berapa umurmu?"


"8 tahun 3 tiga bulan 15 hari..." Entah kenapa aku merasakan deja-vu saat dia mengatakan itu. Uhm.. Aku ingat bahwa Emilya pernah memberitahu usianya dengan gaya seperti itu.


"Kau tampak sangat dewasa di umurmu yang seperti itu. Hubungan apa yang kau miliki dengan Emilya?"


"Dia adik Ibuku.."


Ah, ini keponakannya itu.


"Di mana Emilya?"


"Em sedang pergi berbelanja dan akan segera pulang. Dia menyuruhku menyeduhkan teh untukmu kalau kau datang.." Uhm, apa? Menyeduhkan teh untukku? Apa Emilya akan tahu bahwa aku akan datang? Bagaimana bisa?


Aku mengangguk paham walau sebenarnya aku ingin menanyakan segala hal yang di kepalaku, "Begitu yah, tapi kenapa kau memanggil Bibimu dengan namanya?"


"Em lebih suka jika kupanggil begitu dari pada kupanggil Bibi. Julia juga..."


Ah, Julia. Aku tau Julia adalah adik Emilya karena dia pernah menceritakannya padaku.


"Di mana Ibumu?"


"Sedang pergi..."


"Jadi kau sendirian di sini?"


Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Well, agak terasa aneh mengetahui bahwa anak kecil berusia delapan tahun ditinggalkan sendirian di rumah dan daerah ini tampak tidak aman.


"Apa kau biasa ditinggal sendiri?"


"Yah..." ucapnya dengan enteng.


Suara gonggongan anjing terdengar dan Will seolah menangkap sinyal,"Anjing-anjing itu sudah datang..." ucapnya dan dia segera berdiri dan berlari ke arah dapur. Aku ikut berdiri dan mengikuti ke mana dia pergi. Dia membuka kulkas dan mengambil semacam bungkus makanan. Dia berlari lagi menuju pintu belakang rumahnya.


Dan yang kulihat selanjutnya adalah dia duduk di atas tangga dan memberi makan Anjing. Aku berdiri di kusen pintu dan memperhatikan dia yang memberi makan anjing liar, aku tau itu anjing liar karena tidak punya kalung tanda kepemilikan di sana. Will nampaknya sangat menikmati kegiatan yang dia lakukan. Tidak ada rasa takut, hanya rasa gembira.


"Hei,nak... Apa kau suka anjing?" tanyaku dan dia menengadah padaku seraya mengangguk.


"Kenapa tidak pelihara anjing kalau begitu?"


"Emilya tidak memperbolehkannya..."


Aku berdehem dan duduk di sampingnya, "Kenapa?" Emilya tidak suka hewan-kah?


"Dia bilang tidak akan ada yang merawat anjing itu saat aku pergi sekolah nanti karena Mom dan Em sibuk bekerja. Kupikir dia benar dengan mengatakan itu."


"Memangnya di mana Ayahmu?"


"Aku tidak punya Ayah...'


Aku segera menelan ludah dan merasa bersalah. Sial, kenapa pertanyaan itu kutanyakan? Kadang aku tidak tau bagaimana berbicara dengan anak kecil karena aku jarang berurusan dan bertemu dengan anak kecil


Aku berdehem, "Setidaknya kau memiliki Ibu dan Bibi yang baik...."


Dia mengangguk, "Kau benar... Kau kekasih Emilya yah?" dia menoleh ke arahku dan menatapku lekat dengan bola matanya yang bagus dan jernih.


Aku menggaruk tekukku. Apa aku kekasih Emilya? Yah, secara kontrak dia memang kekasihk. Jadi bisa dikatakan bahwa dia kekasihku bukan?


"Bisa di biilang begitu. Kenapa kau bertanya?"


"Will?" suara Emilya terdengar dari dalam rumah dan membuat kami berdua menoleh ke belakang, tepat saat Emilya muncul dari baling pintu.


****


Emilya POV


Aku turun dari taksi seraya membawa kantung kertas belanjaanku yang penuh.di kedua tanganku. Perlahan, aku menaiki tangga menuju teras.


"Will...." aklu memanggil dan tidak ada sahutan, "Will?" Di mana dia?


Aku menaruh kantung belanjaanku dan mengambil kunci cadangan di saku celanaku. Aku masuk ke arah dapur dan menaruh belanjaanku di atas meja. Lalu, aku melepas mantelku dan berjalan ke arah pintu depan untuk mengganti sepatuku dengan sendal rumah. Saat aku selesai melakukannya, aku menyadari bawa ada sepatu yang tidak di kenal di sana. Sepatu Max?


"Will?" aku memanggilnya lagi seraya berjalan menuju pintu belakang seraya membukanya dan di sana aku melihat seseorang yang tidak terduga.


"Harry?" bisikku. Sial, bagaimana bisa dia ada di sini dan di waktu yang salah?


***


Dan di sinilah aku sedang memasak sarapan untukku, Will, dan juga Harry. Aku begitu terkejut akan kedatangannya hingga tidak bisa mengatakan apa pun padanya. Ditambah karena aku mengingat kejadian yang kurang mengenakkan terjadi kemarin. Mereka berdua sedang duduk di ruang tamu menonton acara TV murahan. Uhm, sejujurnya ruang tamu kami nampak menyedihkan karena disandingkan dengan Harry dan itu membuatku ciut.


Ponselku berdering dan aku melompat terkejut. Sial. Aku benar-benar akan mati muda. Aku melihat layar ponselku dan melihat nama Max di sana. Ah.. Aku melupakan yang satu ini. Apa dia akan datang?


"Em..."


"Halo, Max. Ada apa?"


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa datang ke rumahmu pagi ini. Aku memiliki urusan penting dengan temanku dan aku baru bisa datang nanti malam sebelum pulang ke Seattle."


Aku tersenyum lega sebelum akhirnya menyadari sesuatu.


"Kau pulang malam ini?" ucapku dengan nada kecewa yang tidak kubuat-buat.


"Aku berangkat jam 11 malam ini, Em... Aku juga ingin tinggal lebih lama, tapi aku memiliki kesibukan yang benar-benar tidak bisa kutunda..." Dia sama halnya denganku, ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku


Aku mengangguk kepala paham seraya menekan bibirku menjadi garis keras, "Okay. Aku mengerti. Sedih rasanya kau tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi..."


"Aku menyayangimu, Em.. Aku harap kita bisa bertemu lebih sering.."


"Uhm.. Aku juga menyayangimu dan jangan membebani dirimu. Aku baik-baik saja di sini dan selesaikan study-mu secepat mungkin lalu segera mencari pekerjaan di New York.."


"Yah, Em.. Aku benar-benar berusaha untuk itu..."


"Love you.."


"Love you, Em..."


Aku menutup ponselku dan menghembuskan napas dengan lega. Astaga. Aku tidak bisa membayangkan jika Max bertemu dengan Harry di tempat ini.


"Siapa?"


"Oh My!" aku memekik dengan keras dan terlampau keras. Aku melihat Harry berdiri di ujung dapur yang berbatasan dengan lorong rumah. Dia menatapku datar, terlampau datar. Dia tidak sekali pun pernah menatapku seperti itu. Kaki dan jemariku bergetar dengan hebat. Aku memejamkan mata, tanganku berpegangan pada meja, dan tangan yang satu di dadaku.


"Kau punya pacar?" ucapnya dengan nada menuduh dan itu benar-benar menyakitiku.


Aku menjilat bibirku, "Harry, bisakah kita membicarakan ini di tempat lain? Ada Will di sini..." ucapku memohon.


"Jawab pertanyaanku, Em. Kau punya pacar?" nada bicaranya penuh nada penekanan, matanya mengintimidasi, dan wajahnya yang datar benar-benar membuatku ketakutan. Aku bahkan berkeringat di musim dingin. Aku meremas-remas tanganku sendiri dan merasa pusing. Dia benar-benar tau cara menekan seseorang. Sial...


"Yah...." bisikku tanpa melihatnya, nadaku les, dan penuh rasa bersalah.


"Sial..." dia mengumpat dengan keras, marah, dan itu membuatku benar-benar terkejut. Sial. Dia benar-benar marah.


"Harry? Em?" suara Will terdengar diiringi bunyi deritan tangga kami yang mengerikan


Dia menarik napas dengan kencang dan membuangnya dengan kasar, "Kita lanjut pembicaraan ini nanti, Em. Setelah makan..."


****


MrsFox


Hey yoo gais, ada beberapa Bab yang aku edit untuk beberapa hari biar karya aku bisa di kontrak, soalnya beberapa bab penuh dengan adegan tidak senonoh wkwkw, jadi untuk beberapa eps kedepan gak ada adegan uwu yah sampe karya aku berhasil di kontrak dan lebih berfokus ke masalah yang akan segera muncul. Makasih gais. jangan lupa like, koment,  vote, dan love karena itu sangat berharga.