
Happy Reading
****
Harry POV
Aku segera membuka mataku saat mendengar bisikan suara Emilya dalam mimpiku. Dia mengatakan bahwa dia mencintaiku. begitu nyata. Begitu mendebarkan. Aku menepuk-nepuk ranjang dan tidak menemukan apa pun. Aku segera menoleh ke arah sisi ranjang yang kosong.
"Em..." bisikku.
Kemudian aku bangkit dan melihat sekitar kamar yang gelap. Aku buru-buru menyalakan lampu dan tidak menemukan siapa pun di kamar itu. Aku segera bangkit berdiri dan sesuatu yang kutangkap pertama kali adalah sebuah cincin dan secarik kertas kecil di atas meja samping tempat tidur.
'Goodbye -ET-'
Hanya itu yang tertulis di sana dan itu adalah tulisan Emilya. Dia pergi ke mana? Dan demi apa pun, ini masih pukul dua pagi! Kapan dia pergi? Persetan. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Emilya, tapi aku tersambung ke suara operator. Sialan.
Aku segera berjalan keluar dari kamar seraya membayar kertas dan cincin itu. Kenapa begini? Aku tidak tahu harus apa sekarang. Ada apa? Kenapa jadi begini? Aku berlari kecil dan menuruni tangga dengan cepat. Aku berlari menuju pintu keluar, tapi aku menghentikan langkah kakiku saat melihat Emilya ada di sana. Berdiri membelakangiku, seraya menekan-nekan sesuatu di tombol password.
"Sial.." umpat Emilya, kesal karena password yang dia masukkan tetap salah.
Dia benar-benar ingin pergi.
"Kau pikir kau mau ke mana?"
****
Emilya POV
Sialan.
Sialan.
Kenapa di saat seperti selalu saja ada yang kurang. Kenapa?! Kenapa aku tidak memikirkan bagaimana caraku keluar dari sini, sedangkan aku tidak tau sandi tempat ini? Sial. padahal aku sudah menangis perpisahan dan kini aku dihadapkan dengan sandi sialan ini.
"Sial..." umpat geram, pelan, dan penuh amarah. Aku sudah mencoba tanggal lahir Harry, tanggal lahirku, hingga tanggal lahir Kenny. Namun, tidak ada yang benar.
"Kau pikir kau mau ke mana?"
Aku segera berteriak kencang, begitu kencang saat mendengar suara itu. Aku memutar tubuhku dan menatap penuh kengerian dengan sosok di depanku. Itu jelas Harry, tapi auranya begitu mengancam karena cahaya yang temaram.
"Oh my..." ucapku histeris.
Harry maju ke arahku dan aku segera mengalami panik.
"Harry... Bisakah kau menyalakan lampunya dulu?"
Sialan. Siluetnya benar-benar menyeramkan.
"Okay.." ucapnya datar, "Ayo. Kita perlu bicara..."
Harry berjalan dan aku mengikutinya di belakang. Dia menyalakan semua lampu kemudian dia membawaku ke ruang tamu. Dia duduk dan aku duduk di depannya. Aku menatap dia yang menunduk kemudian mataku melihat tangan kanannya yang memeegang cincin dan kertas yang aku tinggalkan di meja itu.
Sialan. Sekarang, bagaimana aku menjelaskannya sekarang?
"Kau ingin pergi ke mana?" tanyanya, tanpa melihatku. Suaranya marah, tapi ada nada penuh sakit hati.
Aku memutar otakku. Aku harus mengatakan apa?
"Emilya, kumohon.." dia menatapku dengan tatapan nanar, "Kumohon jawab aku..." suaranya begitu hancur.
Sial. Jangan bilang dia ingin menangis?
"Harry.." bisikku dan dia segera mengalihkan tatapannya dariku seraya mengusap sudut matanya.
"Aku ingin dan benar-benar ingin hubungan kita berhasil, Em..." bisiknya hancur dan itu benar-benar membuatku merasa bersalah.
"Namun, kenapa kau pergi? Kenapa kau berusaha pergi?"
"Harry..." aku berdiri. Persetan. Persetan dengan Zoya.
Aku berjalan ke arahnya dan segera memeluk dia dari belakang dengan erat.
"I'm sorry...." bisikku dan detik itu aku mendengar hisakan tertahan.
Oh my... Lihat pria besarku ini. Dia menangis dan itu karena aku. Sialan. Aku merasa bahwa aku benar-benar jahat sekarang.
"Hubungan kita tidak akan berhasil jika kita tidak melakukan komunikasi, Em..."
"I know.." ucapku ragu, bingung harus memebalas apa.
"Kumohon.. Kumohon beritahu kenapa kau berusaha pergi..."
"Bisakah kita kembali duduk, Harry?"
Tanpa menunggu jawabannya, aku menarik tangannya kembali duduk di kursi. Aku menatap wajahnya. Matanya merah. Dia benar-benar menangis. Aku duduk di sampingnya kemudian mataku menatap tangan kanannya yang masih menggenggam kertas dan cincin itu.
"Maukah kau memasangnya untukku?" tanyaku seraya menatapnya penuh harap.
Harry segera mengambil tangan kiri dan memasangnya di jari manisku dalam diam. Dia tidak berusaha menatapku.
"Thank you.." bisikku kemudian bersandar di bahunya.
Aku menatap kosong ke depan, seolah membayangkan kejadian yang terjadi kemudian satu per satu kata keluar dari mulutku. Aku menceritakan pertemuanku dengan Zoya. Dari awal hingga akhir. Aku tidak membiarkan satu pun informasi terlewat.
Aku juga menceritakan rencanaku untuk pergi diam-diam dan pulang ke Texas untuk kebaikan kami berdua hingga akhirnya aku gagal karena aku tidak tahu sandi pent-housenya.
"192531.." ucap Harry saat aku menyelesaikan ceritaku.
"Itu tanggal lahirmu, Cassie, dan Ibu..."
Aku terharu hingga meneteskan air mataku. Aku menatapnya. Astaga. Kenapa aku begitu jahat padanya?
"Maafkan aku..." aku segera bergerak dan duduk di di pangkuannya dengan posisi mengangkangi. Aku memeluk lehernya dengan erat dan dia membalas pelukanku
"Maafkan aku...."
"Aku tidak marah. Hanya saja aku ketakutan.. Takut tidak bisa melihatmu lagi. Aku tidak sanggup untuk kehilanganmu lagi, Ken..."
Aku semakin memeluk Harry dengan erat.
"Terimakasih sudah menceritakannya, Em..." dia mengelus punggungku, "Kita akan bisa menyelesaikan masalah ini bersama..."
"I love you..." bisikku pelan, begitu pelan. Namun, itu tulus. Tulus dari lubuk hatiku.
"Terimakasih... Terimakasih sudah menungguku..."
***
MrsFox
Ini bukanlah skenario awal, tapi di duania nyata, pasangan yang utuh selalu melakukan komunikasi dan melalui komunikasi inilah masalah bisa diselesaikan baik dengan cepat maupaun lambat. Maaf segini karna aku ngetiknya udah agak malaman. So sad bgt, mungkin next chapternya bukan masalah(MUNGKIN) lagi tapi ke masa indah mereka berdua. Mungkin pernikahan, bulan madu, atau apalah. Dan cerita baruku akan segera hadir. Jujur agak sedih karna jalan cerita ini tidak semenegangkan BOY, semoga novel terbaruku cukup menegangkan(aku jamin sih iya) Kalian ada request sesuatu adegan/ alur cerita untuk next chapter dari novel ini? Mungkin dari sesi bulan madu, atau adegan cute, atau apalah intinya. Kalo ada, tinggal koment ajah yah. Wkwkw. Jangan lupa dukungannya. Lop yuh gais