Harry's Love Story

Harry's Love Story
This is not the ending



Happy Reading


****


Emilya POV


"Kau yakin makan cereal?" tanya Harry untuk kesekian kalinya, "Dan bukan ini?" ucap Harry mengarah pada kentang tumbuk dan udang panggang miliknya. Saat bangun tadi, aku dan dia menemukan makanan yang telah tersaji di dalam lemari pendingin.


"Yah...." Entah kenapa selera makanku sedikit aneh akhir-akhir ini, mungkin karena kehamilanku.


"Selera makanmu berusaha setelah kehamilanmu..." ucap Harry dan aku mengiyakannya.


"Apa hanya ada kita di tempat ini?" tanyaku. Kami tengah makan siang menjelang sore di teras villa yang menghadap pantai.


"Tentu saja tidak. Menurutmu makanan ini datang dari mana? Di bagian belakang ada pemukiman warga yang mengurus villa ini dan pulau ini dekat juga dengan pulau lainnya .."


"Lainnya?" tanya seraya menyendokkan cerealku ke mulut.


"Di sekitar ini banyak pulau pribadi bertebaran..."


"Wah... Orang kaya menghabiskan uang ke hal seperti ini..."


Harry meminum jusnya kemudian berbaring miring ke arahku di kursi santai.


"Itu bisnis yang bagus. Bagaimana dengan novelmu?"


"Peluncurannya dua minggu lagi..."


"Kau bahkan tidak membiarkanku membacanya..." ucap Harry sedikit jengkel.


"Tunggu saja.... Lagian, aku berpikir bahwa genre romantis bukanlah kau..."


"Itu cerita romantis?"


Ah.. Nada menyelidik itu. Jauh dari lubuk hatiku, aku tidak ingin dia membaca novelku. Aku tidak percaya diri. Kupikir Harry memiliki kemampuan hebat dalam sastra, dia yang mengajariku menulis dengan pemilihan frasa yang bagus dan banyak hal lagi. Dia sangat berbakat dalam banyak hal.


"Menurutmu aku tidak cocok dengan genre seperti itu?"


"Cocok.. Kau nampak cocok dengan itu. Aku akan terkejut jika kau menulis cerita aksi..." ucapya dan aku tertawa kecil. Aksi? Itu bukanlah aku.


"Tentu saja tidak..."


"Okay.. Jika kau tidak ingin memberiku gambaran besar ceritamu, bagaimana akhir cerita itu?"


Aku menelan cereal terahirku dan mengeuk semua susu yang tersisa dari mangkok.


"Itu bergenre romantas-tragis..." ucapku seraya membayangkan cerita novelku, "Itu berlatar abad 18 dan gambaran besar cerita itu adalah tentang perselingkuhan..."


"Ah.. Pantas itu tragis. Akan aneh rasanya jika kau membuat cerita tentang perselingkuhan berakhir bahagia. Tidak realistis."


"Tidak realistis?" tanyaku. Aku ingin mendengar pendapatnya tentang perselingkuhan, "Bagaimana dengan kita Harry?"


"Apa maksudmu?"


Aku menggigit bibir bawahku, memikirkan kata-kata yang pas.


"Maksudku.. Kita juga memulai hubungan ini dengan adanya pihak berselingkuh. Apakah kita akan berakhir bahagia?"


Dia menatapku serius, terlihat berpikir keras.


"Ini realistis...." ucapnya tegas. Jawabannya ambigu dan jelas dia tidak ingin membahas ini lagi.


Dia bangkit berdiri, "Mau berenang?" tanya Harry dengan nada menggoda seraya menarik kaosnya. Jelas dia ingin berusaha mencarikan suasana di antara kami yang tiba-tiba tegang.


Aku menggeleng. Jika aku berenang dengannya, kami akan berakhir bercinta dan tidak jadi berenang. Terlebih, aku butuh istirahat. Sekali aku dan dia memulai, Harry tidak akan berhenti. Nafsu dan birahinya benar-benar... Rrrrr, aku tidak bisa di buat tidur olehnya setelah sampai di Eropa.


"Kau yakin?" aku tertawa kecil menatap otot perutnya yang bergerak. Aku menelan ludah.


"Aku yakin..." ucapku, "Cepatlah berenang dan berhenti tebar pesona padaku..."


Harry menggangguk, "Okay, Mrs.Smith..."


Aku memandang dia memutar tubuhnya dan berjalan ke kolam lalu menceburkan diri. Aku berdiri dari teras dan mengambil kaos Harry lalu aku berbaring di kursi santai dengan kaos Harry menutupi dadaku. Aku menatap Harry yang menggantungkan tangannya di pinggir kolam.


"Kau yakin tidak mau bergabung? Ini menyegarkan..."


Aku menggeleng


"Kau bisa memeluk diriku dari pada memeluk kaos itu...."


Aku tertawa dan segera melempar kaosnya ke arah lain.


"Jangan konyol..."


"Aku tidak konyol, hanya realistis...." Harry tersenyum miring dan aku bisa melihat pancaran aura yang panass dari Harry. Kulitnya yang coklat seolah mengkilat diterpa cahaya sore.


"Apa yang terjadi jika aku bergabung denganmu?"


"Kita berenang. Menurutmu apa?"


"Aku tidak yakin kita hanya berenang..."


"Kita hanya berenang Mrs.Smith. Jika kau menginginkan 'hal lain', aku dengan senang hati melakukannya bersamamu, Mrs.Smith..." ucap Harry dengan nada penuh penekanan pada kata 'hal lain'


"Bisa kau beri contoh 'hal lain' itu apa?"


"Aku akan memberitahunya jika kau bergabung denganku di kolam ini, Em..."


Aku bangkit dari posisi berbaringku, kemudian tidur menelungkup ke arah Harry dengan bertopang dagu dengan kedua tanganku.


"Kau bisa memberitahunya dari sini..."


"Kau tidak penasaran? Ayo.. Akan kuberitahu dengan lembut dan pelan..." suara Harry memelan secara misterius.


Aku menggigit bibir bawahku, "Aku lebih suka keras dan cepat..." ucapku seraya merapatkan pahaku, merasakan sesuatu yang hangat di antaranya.


"Kita bisa menegoisasikannya di dalam kolam renang..."


"Apa yang terjadi jika aku menegoisasikannya di dalam kolam renang, Harry?"


Aku bisa melihat jakun Harry bergerak setiap dia bicara. Ah...


"Aku akan membuka tali bikinimu..."


Aku suka itu.


"Menghisapmu di sana di dalam air dengan sangat keras hingga membuatmu berjerit..."


Di dalam air? Aku merasakan napasku semakin cepat.


 "Lalu?" tanyaku lagi dengan nada kalem.


Harry! Oh my! Aku merasa tertantang untuk melakukannya.


"Lalu?"


"Kau penasaran, Mrs.Smith?"


"Sedikit..."


"Bergabunglah dan cari tahu apa yang terjadi selanjutnya, Emilya..."


Ah.. Aku tergoda untuk melakukannya. Benar-benar tergoda.


"Okay.. kau berhasil menggodaku dengan penawaran hebat, Mr.Smith..." ucapku seraya berdiri.


"Pilihan bagus, Em..."


Tiba-tiba, bunyi bel terdengar. Bel rumah ini. Aku memandang Harry dengan tatapan bertanya-tanya.


"Siapa?" tanyaku


"Warga di sini..." Harry bergerak ke sisi tangga kolam dan segera keluar dari kolam, "Kau tau bukan lampu kita yang padam?"


Yah aku tahu. Itu padam sejak siang.


"Mereka datang memperbaikinya..." Harry berjalan ke arahku dan segera memukul bokongku, "Kita akan melanjutkan nanti, Em..." dia mengambil sebuah handuk dan melap tubuhnya seadanya lalu memakai kaos miliknya. Aku mengambil kardigan panjang untuk menutupi tubuhku dan berjalan mengikutinya.


"Hola, Senor..." aku mendengar bahasa spanyol dari suara wanita saat Harry membuka pintu.


"Hola..." balas Harry dan aku menoleh wanita itu. Wanita berambut coklat panjang yang di kepang satu, kulitnya coklat eksotis khas anak pesisir, dan bola matanya biru terang. Dia tampak lebih muda dariku dan kuakui dia cantik. Dia jauh lebih pendek dariku, tapi tubuhnya berisi pada tempat-tempat tertentu.


Aku tidak tahu apa yang di katakan Harry pada wanita itu karena mereka menggunakan bahasa yang tidak kutahu, tapi dia tersenyum ramah padaku. Kemudian mereka berbicara sesuatu yang tidak kupahami. Aku menatap mata wanita yang tersipu itu. Dia jelas suka Harry pada pandangan pertama.


"Em.. Aku dan dia akan pergi ke belakang untuk memperbaiki sambungan listriknya jadi tunggu saja di sini...." ucap Harry padaku.


"Dia memperbaiki listrik?" Maksudku, dia seorang wanita. Umumnya yang mengerjakan hal seperti itu adalah pria.


"Yah.. Dia bisa memperbaikinya."


"Okay.."


Aku bisa saja mengatakan aku ikut, tapi aku akan terlihat sangat agresif dan itu akan membuat citraku buruk di mata si wanita ini. Ajhirnya aku mengecup pipi Harry sejenak lalu melirik dia yang menatap kami malu-malu. Dia punya. Lalu aku berjalan menuju ruang tamu untuk duduk menunggu mereka.


Aku menatap mereka terus berjalan hingga hilang di balik dinding. Aku menahan diri untuk tidak melangkah ke sana dan pura-pura berbasa-basi seraya membawa teh pada wanita itu. Menggelikan. Pada akhirnya yang kulakukan hanya menunggu. Menunggu hingga akhirnya aku jatuh tertidur.


****


"Sial... Okay. Berikan aku keterangan lebih lanjut. Kau tau itu?"


Aku mendengar suara Harry begitu tegang dalam tidurku hingga membuatku bangun. Aku mengucap dan membuka mata perlahan, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang terang. Sudah jam berapa? Aku bangkit duduk dan menatap ke luar bahwa langit sudah gelap.


"No.. No... Pastikan penthouse ku aman, periksa semua orang yang keluar-masuk di gedung pent house-ku..." aku masih mendengar suara Harry yang tegang dan ada nada marah di sana. Dengan siapa dia bicara?


"Harry?" panggilku seraya bangkit berdiri dan berjalan ke sumber suara. Aku berjalan ke arah dapur dan melihat dia berdiri membelakangiku.


"Harry?" panggilku lagi seraya mengeratkan kardigan panjangku.


Dia menoleh ke arahku, "Kita lanjutkan nanti...." dia segera menutup ponselnya, "Kau sudah bangun?" ucapnya dengan nada cerita yang terlalu di buat-buat. Jelas ada yang tidak beres di sini.


"Ada apa?" tanyaku langsung saat dia menghembuskan napas dengan lelah.


"Kita harus pulang besok pagi, Em..."


Aku berjalan ke arahnya, "Kenapa?"


Harry mengusap wajahnya dengan gusar, "Cassie kecelakaan..."


"Oh my..." bisikku seraya menutup mulutku dengan tangan, begitu terkejut. Sial. Kenapa bisa?


Harry berjalan ke arahku dan duduk di meja bar. Aku ikut bergabung duduk dengannya. Dia menatapku dan aku tahu ada sesuatu yang ingin dia katakan. Terlihat jelas dari wajahnya yang kusut dan matanya yang tidak fokus. Aku memegang tangan tangannya dan mengelusnya dengan lembut.


"Ada yang salah, Harry?"


"Kecelakaan Cassie sudah di rencanakan. Rem mobilnya blong..."


Aku menelan ludah, menunggu dia melanjutkan dia bercerita.


"Sial.. Dia masih dalam kondisi kritis saat ini..."


"Harry..." ucapku lembut.


"Maafkan aku, Em.. Kita harus pulang secepat ini padahal rencana awal bukanlah seperti ini....."


Aku menggeleng, "No.. it's okay. Kita harus pulang, Harry.."


"Em.." dia menggenggam tanganku, "Aku menyuruh dua orang bodyguard wanita ke rumah Bibimu. Kau tidak keberatan untuk itu?"


"Kenapa?"


"Hanya untuk berjaga-jaga."


Sial. Kenapa lagi ini?


"Kita tidak bisa melonggarkan keamanan sampai pelakunya tertangkap, Em..."


Dia memejamkan mata dan menyergitkan dahinya. Aku mengelus dahinya lembut dan dia menatapku.


"Semua akan baik-baik saja, Harry..."


"Bisakah kau memelukku, Em?"


Aku bertatapan dan aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan memutari meja bar ke arahnya. Lalu aku memeluk kepala Harry di dadaku yang duduk di kursi. Aku mengelus kepalanya lembut. Harry melingkarkan tangannya di perutku.


"Aku khawatir, Em..."


"Shh.. Semua akan baik-baik saja..."


Sejujurnya aku tidak tahu, apakah keadaan akan segera baik-baik saja. Sial. Cassie. Oh my.. Aku menyayangi wanita itu seperti kakakku sendiri. Dia seorang pebisnis yang selalu membawa  dua bodyguard ke mana-mana dan dia bisa dicelakai. Siapa pun itu, aku hanya berharap dia segera di tangkap.


****


MrsFox


Jujur, ini bukan rencana awal, tapi ah sudahlah..... Rencananya di chap ini, aku udah selesaikan cerita ini dan tinggal tunggu epilog, tapi aku merasa ada yang kurang. Kurang assik rasanya tanpa satu masalah lagi sebelum menuju ending. Tapi, tahukah kalian? Secara realistis, sebuah hubungan yang di dimulai dari perselingkuhan umumnya gk berhasil kan yah?. Wkwkw. Hope you like it. Jangan lupa dukunagan kalian gais... Lop yahhh