Harry's Love Story

Harry's Love Story
Wanita Berambut Merah



Happy Reading


***


Emilya POV


"Apa yang terjadi jika aku mengatakannya pada 'kekasihmu' itu, Emilya Teatons?"


Aku menatap bola mata Harry dengan lekat. Sial, ternyata dia bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dulu aku kesal kenapa terlahir sebagai orang yang sabar karena Julia selalu mempermainkan dan memanfaatkan perasaanku, tapi aku sekarang lebih bersyukur. Rasa bersabarkulah yang membuatku tetap hidup hingga hari ini.


"Harry..." bisikku, "Max hanya menciumku sekali setelah tujuh bulan tidak bertemu. Hanya sekali. Kami tidak pernah melewati batas dalam hal menyentuh dan kau yang pertama kali memasuki kewanitaanku dibanding dia karena aku benar-benar butuh uang...."


Aku diam sejenak saat dia hanya menatapku kosong. Aku harus mengatakan ini walau merendakan diriku sendiri.


"Kau sudah lihat keadaan rumahku, Harry, Keaadan keluarga ini dan keadaan keuanganku yang sebenarnya. Dan aku punya segudang masalah di pundakku saat ini. Aku tidak kaya dan aku benar-benar kesulitan dengan keadaanku sekarang. Kumohon mengertilah, Harry... Kumohon...."


Dia memejamkan matanya dan memejit pelipisnya dengan satu tangan, "Kesalahanku, maafkan aku. Aku terkadang terlalu gegabah dalam menghadapi situasi, Em..."


"Jangan minta maaf. Akulah yang salah... Aku berjanji hingga kontrak ini berakhir jika Max tidak akan menyentuhku lagi dan boleh aku meminta sesuatu hal padamu?"


Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan.


"Boleh aku tidak ketempatmu malam ini?"


"Kenapa?" ucapnya dengan nada kecewa.


"Max akan pulang hari ini dan aku ingin mengantar dia. Hanay malam ini, aku janji...."


"Baiklah, jadi dia tinggal di sini?"


"Tidak, dia tinggal di Seattle..."


"Boleh kita bicara, aku akan mengantarmu sebelum jam lima sore..."


"Okay..." bisikku, "Kembalilah ke mobilku, Harry. Aku tidak ingin Kakakku melihatmu..."


"Kau malu padaku?" aku melihat matanya begitu terluka dan aku segera tersenyum kecil. Sial, dia terkadang bertingkah kekanak-kanakkan.


"Bukan, Harry..." aku memakan potongan omelet terakhirku dan menelannya, "Kakakku orang yang mudah jatuh cinta pada pria mana pun. Aku tidak ingin dia suka padamu dan menimbulkan masalah lain padaku..."


Bibirnya datar, tapi matanya menampilkan sorot kebahagiaan di sana.


"Wanita mana pun tidak akan tahan dengan pesonaku..."


Entah datang dari mana rasa kepercayaan diri itu, tapi aku tidak bisa membantah hal itu. Aku pun sangat terpesona padanya. Cara dia berpakaian, wajahnya yang super tampan, gagah, kaya, dan semua hal yang bagus ada padanya. Bahkan sikap-nya pun sangat baik.


"Kau benar..." bisikku, "Kembailah ke mobilmu. Aku akan mendatangimu sesegera mungkin..."


"Kenapa buru-buru?"


"Perasaanku tidak enak..." ucapku serius. Aku selalu percaya firasatku.


"Baik.. Baiklah..." dia berdiri dari duduknya, "Terimakasih sarapannya. Aku akan izin pada Will terlebih dahulu..."


"Yeah..."


***


Harry POV


Aku keluar dari rumah Emilya setelah berpamitan dengan Will. Kupikir dia adalah anak kecil yang menyenangkan dan dia sangat pintar. Mereka mendidiknya dengan baik. Aku memasukkan tanganku ke dalam mantelku dan berjalan menuju mobilku. Di depan pintu mobilku, tanganku berhenti membuka handle pintu karena aku merasa di amati.


Aku melihat ke arah kiri dan melihat seorang wanita berambut merah terang berdiri 30 meter jauhnya dariku seolah tengah menatapku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai masker. Aku segera mengabaikannya karena aku sadar banyak orang aneh di kota ini. Aku masuk ke dalam mobil dan menunggu Emilya yang muncul sepuluh menit kemudian.


"Uh.. Dingin banget..." ucapnya setelah masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sampingku.


"Aku akan menaikkan suhu penghangat mobilnya..."


"Trims..." ucapnya dan aku menyalakan mesim mobil.


"Kau meninggalkan Will sendirian di rumah?"


Aku melajukan mobil.


"Ibunya sudah datang."


"Benarkah? Aku tidak melihatnya..."


"Dia dari halaman belakang tadi..." dia menanamkan setengah wajahnya ke dalam syalnya, "Kita ke mana?"


"Entahlah.." bisikku, "Maafkan aku soal tadi. Aku tidak bermaksud merendahkanmu, Em. Aku hanya.. Uh, aku bingung menjelaskannya, Em. Akan tetapi aku bersungguh-sungguh bahwa aku tidak berniat merendahkanmu.." aku melirik ke arahnya sebentar.


Emilya menaruh salah satu tangannya yang mengenakan sarung tangan di atas lututku dan menepuk-nepuknya perlahan.


"It's okay.. Aku mengerti apa maksudmu. Aku juga yakin kau tidak akan melakukannya secara sengaja..."


"Sudah berapa lama kau berpacaran dengannya?"


"Cukup lama dari aku masih duduk di bangku SMA kelas satu. Dia lebih muda tiga tahun dariku..."


Aku melihatnya yang juga melirikku, "Serius?"


"Uhm... Usia tidak berarti apa pun..." ucapnya santai seolah reaksi seperti itu sudah sering dia dengarkan.


Dia dan pacarnya beda tiga tahun, aku dan dia berbeda hampir delapan tahun.


"Dia sudah bekerja?"


"Filsafat yah.. Aku sempat mengambil kelas filsafat selama dua semester saat aku kuliah. Itu juruan yang menarik."


"Benarkah? Di mana kau kuliah dan jurusan apa yang kau dalami?"


"Aku mempelajari banyak hal dan aku sudah mendapat gelar Doktor (s3)"


"Gila? serius?"


Aku sangat suka reaksinya setiap kali dia terkesan akanku. Oh, betapa menyenangkannya. Senang rasanya bisa membanggakan sesuatu pada Emilya.


"Yah. Aku mendalami jurusan ilmu ekonomi dan hukum ekonomi. Aku juga sempat mengikuti pelatihan sebagai tenaga kesehatan dan aku memiliki lisensi khusus untuk itu..."


"Sial?! Kau juga mengerti ilmu kesehatan?"


"Tradisi dalam keluarga...."


"Apa lagi? Ceritakan lebih banyak..."


"Aku juga pernah mengikuti pelatihan militer selama tiga tahun..."


"Harry.." bisiknya kagum dan aku melirik ke arahnya. Ah, senang sekali melihat reaksinya.


"Itu juga trasidi keluarga. Pengabdian pada negara..."


"Keren banget. Bidang apa yang kalian kerjakan di perusahaan keluargamu, Harry?"


"Itu adalah perusahaan turun -temurun kami, awalnya buyutku berfokus pada bidang kesehatan dan kami memiliki banyak gedung rumah sakit yang tersebar di negara ini. Lalu, dikembangkan lagi dalam bidang telekomunikasi... Bidang telekomunikasi benar-benar menguntungkan pada zaman mondren ini. Baru-baru ini kami fokus ke bidang pertanian.."


"Pantas saat aku meminta uang $30.000 padamu, kau tampak tidak keberatan...."


"Aku menghasilkan jumlah itu setiap menitnya, Em...."


Aku memberhentikan laju mobil di lampu merah.


"Harry..." panggilnya dengan nada sendu dan aku segera melihat dia yang tidak melihatku. Matanya menatap lurus ke depan.


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Bukan.. Hanya saja aku akan bertemu keluargamu besok dan aku bukanlah siapa-siapa.."


"Apa maksudmu?"


Dia menarik napas dan menundukkan kepalanya, "Maksudku.. Lihat diriku, Harry..." bisiknya


"Aku sedang melihatmu.." dia menatapku dengan senyum yang canggung.


"Kau mengerti maksudku, Harry. Bukankah sudah jelas bahwa aku tidak layak disandingkan denganmu. Ibu dan kakakmu berpikir bahwa aku adalah kekasihmu, mereka akan kecewa jika mengetahui aku hanyalah seorang wanita biasa."


Aku mengalihkan tatapan darinya dan melajukan mobilku. Aku sedikit kecewa karna dia menilai keluargaku seperti itu. Yah, siapa pun yang di posisi Emilya mungkin akan berkecil hati, tapi tidak semua orang seperti apa yang dipikirkan Emilya.


"Orangtua dan kakakku bukanlah seperti orang yang kau bayangkan, Em. Mereka tidak akan merendahkanmu hanya karna kau merasa berbeda dariku. Kau manusia dan aku juga manusia. Kita sama. Kau punya uang atau tidak adalah urusan belakang. Bagi mereka dan bagiku juga, sikaplah yang terpenting. Uang bisa dicari dengan berbagai cara, tapi menemukan seseorang dengan sikap yang bagus adalah yang tersulit saat ini. Selama kau adalah wanita tulen dan hidup, mereka tidak akan menentang pilihanku...." ucapku lembut dan aku tersenyum sekilas padnaya.


"Harry.. Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud berpikir seperti itu tentang keluargamu.. Aku hanya berpi--"


"It's okay, Em... Aku mengerti apa yang kau maksud..." potongku dengan lembut seraya menggenggam tangannya yang berada dia atas kakinya.


"Maaf, aku hanya merasa tidak percaya diri..."


"Terlepas dari kontrak, kau adalah kekasihku selama tiga bulan ini. Jangan merasa ciut, kau ingat bagaimana senangnya mereka saat melihatmu pertama kali padahal pakaian dalammu a--"


"Tidak perlu diteruskan..." ucapnya jengkel dan aku terkekeh. Aku mengangkat tangannya dan mendekatkan ke bibirku. Lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.


"Mereka menyukai, Em.. Percayalah. Jangan merasa ciut...."


"Baiklah.."


Aku mengecup tanagnnya lagi, "Ada alasan lain kenapa aku mengajakmu keluar, Em..." bisikku


"Apa?"


"Aku ingin melanjut hal yang tertunda kemarin, Em..."


"Harry... Ini bahkan belum jam 12 siang dan kau membawaku ke sudut kota..." ucapnya seolah sadar bahwa kami sudah berkendara sangat lama. Aku melihat pohon pinus di kanan-kiri tubuh jalan.


"Ada sebuah danau buatan yang bagus di sini..."


Aku memasuki jalan yang lebih kecil dan berbatu.


"Harry, jalannya rusak..." Emilya sedikit panik sekarang


"Tenanglah..."


Aku melajukan mobil sekitar 15 menit dan sampai ke tempat kami.



"Here we are..." bisikku, 'Aku akan bercinta denagn sangat keras denganmu di tempat ini, Em...."


***


MrsFox


Hey yoo gais... Maaf lama update T_T Gini gais, jadi aku nunggu novel ini lulus kontrak dulu, tapi gk datang" email atau pemberitahuannya dan aku pengen lanjut cerita ini lebih dalam, liar, langsung ke inti masalah karna aku bukan tipe yang suka nulis novel terlalu berlarut" gitu(kek chapter ini contohnya karna cuman cakap" biasa ajah), aku merasa novel ini terus datar ajah karna masalah dalam cerita ini gak berkembang kemana-mana. Cuman, kalo aku langsung to the point, nanti pasti gak lulus kontrak. jadi harap sabar yah, semoga senin udah lulus kontrak terus aku bisa kembalikan beberapa chap yang aku edit dan menulis ceritanya denagn sangat liar, penuh emosi, dan masalah, tapi kalo gak lulus" juga yah sudahlah wkwkwk. Setelah lulus kontrak, aku akan usahain update satu chap satu hari. See yahh gais. Lop yuhhh