
Happy Reading
***
Harry POV
"Kau akan datangkan ke penampilanku malam ini kan?" tanya Kenny untuk kesekian kalinya padaku melalui ponsel. Malam ini dia akan mengisi bagian pemusik piano untuk acara tahunan sekolahnya.
"Aku datang..." ucapku seraya mengambil koperku dari pemeriksaan bandara, "Aku sudah sampai di bandara jadi aku akan mengejar kehadiranku..."
"Uhm.. Aku merindukanmu.." ucapnya dari seberang.
"Aku juga. Nanti aku menghubungimu yah.. Aku harus pergi sekarang.."
"Okay. Bye...."
"Love you.." ucapku pelan seraya mencium layar ponselku.
"Love you too..." ucapnya dan menutup panggilan tersebut. Aku memasukkan ponselku ke kantong jaketku dan berjalan pergi.
Kenny Cullens... Dia kekasihku sejak aku duduk di bangku SMA. Dia lebih muda dua tahun dariku, aku mengencaninya saat dia masih duduk di bangku SMP. Sekarang aku dan dia harus melakukan hubungan jarak jauh karena aku harus menempuh pendidikan sarjanaku di Inggris. Sekarang umurnya masih 16 tahun dan aku 18 tahun
Aku benar-benar mencintainya. Sangat cinta walau dia terkesan kekanak-kanakan. Aku tidak ingat jelas bagaimana aku jatuh hati padanya. Aku hanya ingat bahwa dia gadis manis yang ceria dan baik.. Pintar bermain piano juga. Entah sejak kapan, tapi aku terus mencuri-curi pandang padanya hingga akhirnya aku sadar bahwa aku jatuh hati padanya.
Aku duduk di kursi tunggu lalu merogoh sakuku untuk mengambil ponselku untuk menghubungi Cassie, saudara perempuanku. Aku menunggu hingga akhirnya itu tersambung.
"Kau tidak menjemputku?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Aku sedang di jalan... Macet dan hujan. Apa yang kau harapakan?" balasnya dan aku bisa mendengar deru hujan dan bunyi klakson. New York... Kota yang tidak pernah bebas dari kata masalah lalu lintas.
"Aku naik taxi saja.." ucapku akhirnya.
"Sudah kubilang tunggu saja..." suaranya meninggi. Aku memutar mata.
"Ya.. Ya.. Baiklah."
Aku segera menutup panggilanku dengannya. Aku mengambil earphoneku dan menyambungkannya ke ponselku lalu mendengar materi pembelajaran yang kupelajari hari ini di kampus. Aku sengaja pulang ke New York hanya untuk menghadiri penampilan Kenny. Tidak ada kata istirahat dalam diriku. Aku begitu ambisius dan aku sangat menikmati kegiatan belajarku.
Aku menaruh ponselku ke dalam kemudian berjalan ke vending machine yang tidak jauh dariku. Aku memasukkan lima uang koin dan memilih sebuah roti dan air mineral. Aku kembali duduk dan seorang gadis kecil menarik perhatianku. Dia duduk di bangku yang sama denganku dan dia menatapku, lebih tepatnya menatap roti yang kupegang.
Aku mengabaikannya dan duduk lagi. Aku membuka botol mineralku dan segera meneguknya. Saat aku membuka bungkusan rotiku, aku merasa aku di amati. Aku menoleh ke arah anak kecil itu, masih tetap melihatku. Dia menatapku dengan tatapan lugunya yang memohon.
Aku memutar mata dan berdecak lidah, "Kau mau?" tanyaku dan dia mengangguk malu, "Ini.." ucapku seraya menawarkan roti itu dan dia bergeser ke arahku kemudian mengambil roti itu dengan kedua tangannya.
"Thank you.." ucapnya dengan suara cadel.
Aku berdiri dan pergi ke vending machine, aku mengambil dua roti dan satu susu kotak. Saat aku kembali duduk, aku memberikan susu cokleat itu untuknya.
"Thank you, Sir...."
Aku melepaskan earphoneku lalu membuka roti milikku. Aku menatap gadis kecil itu. Mungkin usianya sekitar delapan atau sepuluh tahun. Pakaiannya rapi. Memakai gaun biru selutut, stocking cokelat, dan sepatu boot warna hitam. Rambut coklat panjangnya diikat dan dikepang dua. Dia jelas bukan anak telantar.
"Di mana orangtuamu?" tanyaku dan dia melihatku dengan pandangan malu-malu. Dia memiliki bola mata berwarna coklat madu, begitu memesona. Begitu jernih.
"Aku tidak tahu..." ucapnya pelan.
"Kau tidak tahu?" Jangan bilang dia anak yang ditinggalkan secara sengaja di tempat ini.
"Tadinya, aku bersama mereka. Tapi, sekarang tidak.."
Bukan urusanku. Mungkin dia dibuang dan itu bukan urusanku.
"Kenapa bisa?" tapi pada akhirnya aku tetap bertanya soal itu.Pikiran, hati, dan mulutku tidak pernah konsisten.
"Aku, Hailey, Julia, dan Mom pergi bersama-sama ke New York menggunakan pesawat, tapi aku kehilangan mereka..."
Hailey, Julia? Siapa pula mereka?
"Dari mana asalmu?"
Dia menatapku dengan tatapan bingung. Sial. Mungkin kata-kataku terlalu kompleks. Aku berdehem sekali.
"Maksudku, sebelum ke New York, kau dari mana?"
Dia menelan rotinya lalu menyedot susunya dan aku menatapnya dengan sabar.
"Virginia..." ucapnya pelan, "Aku bersama Mom, Julia, dan Hailey ke New York untuk bertemu Daddy..."
Ah.. Aku paham sekarang. Dia pasti terpisah dengan keluarganya.
"Kau belum pernah ke New York sebelumnya?"
Dia menggeleng.
"Kau terpisah dari orangtuamu ternyata..." ucapku, "Ayo..." ucapku seraya berdiri dan dia menatapku dengan bola matanya yang jernih.
"Aku tidak mencurimu atau apa. Aku akan mengantarmu ke pusat keamanan agar kau bisa bertemu orangtuamu lagi..."
Wajahnya berubah berbinar, "Kau mengenal Mommy dan Daddy?"
Sial. Kenapa daya tangkapnya aneh? Apakah setiap anak diusianya seperti dia?
"Bukan.." ucapku seraya menggelng, "Aku tidak tahu mereka, tapi aku akan menolongmu.. Ayo..."
Dia menyeruput habis susu kotak tersebut lalu dia turun dari bangku dan membuang bungkusan roti dan kotak susu ke dalam tong sampah. Bagus. Setidaknya dia punya sifat yang baik. Dia berdiri di sampingku dan aku segera berjalan seraya menarik koperku.
Aku melihat ke bawah dan menyadari dia tidak ada di sampingku. Aku menoleh ke belakang dan melihat gadis kecil itu berlari kecil dan berusaha melewati kerumunan. Sial. Kesalahanku. Aku melangkah terlalu cepat dan langkah kakiku cukup lebar, berbanding terbalik dengan langkah kakinya.
"Ayo.." ucapku saat dia berdiri di sampingku seraya menggenggam tangan kanannya yang mungil. Aku menyesuaikan kecepatan dan lebar langkah kakiku padanya.
Kami sudah sampai di depan ruang pusat keamanan dan aku melirik ke dalam melalui pintu kaca. Aku melihat seorang petugas keamanan wanita duduk di posnya. Aku mengetuk kecil dan dia segera berdiri. Aku masuk ke dalam.
"Ada yang bisa kubantu, anak muda?" tanyanya lalu menatap gadis kecil tersebut.
"Sepertinya dia tersesat dan kehilangan orangtuanya saat di bandara..." ucapku seraya merujuk pada gadis kecil itu.
"Sudah kuduga.. Kemarilah." ucap petugas itu dan gadis kecil itu melepas tangannya dan menuju si petugas itu.
Aku menatapnya yang menatapku dengan bola matanya yang jernih.
"Boleh aku pergi sekarang?" tanyaku.
"Sure.. Terimakasih sudah melaporkannya kemari.."
"Sure..." aku menarik koperku dan berjalan pergi tanpa melihat gadis kecil itu. Saat aku memegang gagang pintu, aku berhenti dan menoleh ke belakang. Aku menatap gadis kecil itu yang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Aku mengangguk kecil padanya sebelum akhirnya pergi keluar dari tempat itu. Goody bye, gadis kecil...
Aku merogoh sakuku lalu menghubungi Cassie.
"Apa?!!" dia berteriak kencang padaku, "Kenapa kau selalu menghubungiku?! Sudah kubilang bersabar!"
Aku memutar mataku. Sialan. Temperamennya benar-benar perlu diubah. Mungkin itu alasan kenapa tidak ada pria yang mau mengencani dia.
"Aku baru menghubungimu dua kali. Kau masih lama? Tidak bisakah aku menggunakan taxi saja?"
"Diam! Daddy menyuruhku menjemputmu. Berhentilah menghubungiku!! Sialan.." aku bisa mendengar bunyi klakson saling beradu, "Minggir dari jalanku, sialan!!!"
Aku segera memutuskan panggilanku dengan Cassie. Temperamennya itu. Rrrr.. Sampai sekarang aku tidak menyangka dia saudaraku. Aku segera duduk di kursi tunggu dan melihat ponselku dengan bosan. Aku ingin menghubungi Kenny, tapi dia pasti dalam persiapan untuk penampilannya malam ini.
Aku memasukkan ponselku ke saku jaket lalu menyandarkan punggungku ke dinding. Aku menoleh ke kiri, ke arah ruang pusat keamanan tersebut. Gadis kecil tadi pasti akan tumbuh menjadi wanita yang menawan suatu saat nanti.
Dia pasti sendirian di sana. Well.. Apa peduliku jika dia sendirian. Toh... Aku sudah melakukan tanggung jawabku dengan membawa dia ke pusat keamanan. Aku mengambil ponselku lagi hendak mendengar beberapa musik, tapi aku mengurungkan niatku.
Sial. Aku benar-benar tidak konsisten.
Pada akhirnya aku berdiri dan menarik koperku kembali ke ruang pusat keamanan itu. Aku melihat dari balik pintu, dia duduk sendirian di sana dan petugas tadi tidak ada di sana lagi. Dia duduk dengan rapi dan menatap lesu ke depan.
Okay.. Aku melakukannya karena aku iba dan kasihan. Aku mendorong pintu dan dia menoleh ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya berubah berbinar dan mau tidak mau aku tersenyum kecil. Sesenang itu kau melihaktu lagi, hah?
"Hai.." ucapku singkat seraya duduk di sampingnya, "Di mana petugas tadi?"
"Aku tidak tahu, Sir.." ucapnya pelan.
Sir? Itu terlalu formal.
Aku menoleh padanya, "Kau bisa memanggiku Harry. Siapa namamu?"
"Emilya Teatons..."
Emilya? Itu nama yang sangat cocok dengan parasnya.
Aku bersandar dan melipat tanganku di dada.
"Berapa usiamu?"
"10 tahun.." dia tersenyum lebar, memamerkan giginya yang rapi. Well. Aku terkejut melihat anak diusianya memiliki gigi yang serapi itu. Biasanya, jika tidak ompong maka bentuknya tidak beraturan.
"Kau berkata dari Virginia, bukan?"
Air mukanya berubah antusias, "Yah.. Aku dari Virginia. Di sana...."
Emilya bercerita padaku bahwa mereka tinggal di suatu kota kecil di Virginia. Dia bercerita tentang keluarganya, mulai dari ayah, ibu, saudara, nenek dan beberapa orang lain yang tidak kuingat. Dia menceritakan mereka memliki peternakan dan pertanian.
Aku merasakan aliran energi positif yang disebarkan Emilya. Aku tersenyum kecil melihat betapa antusiasnya dia menceritakan hewan ternak yang mereka perlihara. Ini membuatku ingin memiliki seorang anak perempuan suatu saat nanti bersama Kenny.
"Jadi kalian memiliki banyak ayam?" ucapku menanggapi ceritanya tentang ayam mereka.
"Yah. Saaangattt banyakk.." dia membentuk lingkaran dengan tangannya yang mungil, 'Sangat gendut dan--
"Emilya.. Emilya..." suara wanita menginterupsiku dan Emilya yang sedang bercerita. Aku menoleh ke arah pintu dan melihat seorang wanita berusia 30 tahun-an masuk ke dalam ruang pusat keamanan bersama dua perempuan yang satu diantaranya benar-benar mirip dengan Emilya. Ah.. Ini keluarganya?
"Mommy..." Emilya melompat dari kursi dan berlari ke pelukan Ibunya. Aku berdiri dan memberi mereka ruang. Mataku bertemu dengan saudara kembaranya yang menatapku tajam dan penuh penialaian. Well.. Dia jelas memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Emilya. Seorang pria bertubuh gagah masuk dan itu kuyakini sebagai ayah Emilya. Dia menatapku.
"Apa kau yang melaporkannya kemari?" tanyanya dengan suaranya yang berat
"Yah.."
"Thank you.. Thank you so mucah..." Ayah Emilya menjabat tangan kananku dengan kedua tangannya.
"You're wellcome, Sir.. Kalau begitu, saya permisi dulu.."
Dia melepas jabatan tangan itu dan aku merasa aku ditatapi seseorang. Aku melihat seorang remaja wanita yang mungkin berusia 14 tahun sedang menatapiku. Dia jelas kakak Emilya. Dia langsung membuang muka saat tatapan kami bertemu. Wajah dan kupingnya memerah. Well.. Aku tidak heran lagi jika seorang wanita tiba-tiba malu-malu padaku karena aku sudah merasakannya sejak dulu.
Aku tersenyum kecil pada mereka lalu menarik koperku untuk pergi.
"Harry!" Emilya memanggilku dengan suaranya yang nyaring dan aku menoleh ke belakang.
Aku tersenyum canggung saat ditatapi oleh keluarga itu.
"Thank you...." ucapnya dan aku tersenyum tulus padanya.
"Aku berjanji akan membawa banyak ayamm untukmu..."
Aku menggaruk tekukku dengan canggung.
"Aku menunggunya... Kalau begitu permisi...."
Aku keluar dari tempat itu dengan tersenyum lebar. Ayam? Well. Apa kami akan bertemu lagi? Kuharap dia menepati janjinya dan kami bisa bertemu lagi.
****
Aku tertawa kecil karena aku tiba-tiba mengingat kenangan 18 tahun yang lalu saat aku sedang memanen telur ayam bersama Emilya di peternakan milik Bibinya.
"Ada yang lucu?" tanya Emilya seraya memasukkan telur ke keranjang.
Aku menatapnya dengan tatapan kagum. Pantas.. Pantas saja saat melihat dia pertama kali di club itu aku merasa bahwa dia mengingatkanku pada seseorang. Kupikir dia mirip Kenny, ternyata tidak. Itu hanya berasal dari memoriku tentang pertemuan pertama kami 18 tahun yang lalu saat di bandara. Aku menatap Emilya lagi.
"Kau tidak pernah merasa pernah bertemuku sebelumnya?" tanyaku seraya mengangkat keranjang telur bersama Emilya.
Dia menatapku heran, "Entahlah.. Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Kau tidak pernah ingat tersesat di bandara saat berusia 10 tahun?"
"Entahlah... Aku sangat sering tersesat saat kecil..."
Dia menatap ke depan, seolah menerawang dan mengingat sesuatu.
"Kau tidak ingat? Hah? Cobalah mengingatnya..."
Emilya berhenti melangkah kemudian melihat ke arahku. Dahinya berkerut. Aku segera mengelus kerutan itu. Aku tidak suka dia berpikir keras.
"Jika tidak ingat, yah sudahlah..." ucapku, "Tidak perlu sampai berpikir keras seperti ini..."
"Itu kau, bukan?"
Mataku berbinar, "Kau mengingatnya?"
"Pria yang memberiku susu dan kue?"
Aku segera menaruh keranjang terlur dan segera memeluk Emilya dengan erat. Aku begitu senang dia mengingatnya. Oh my.. Betapa sempitnya dunia ini.. Betapa mengejutkannya.
"Yah.. yah.. Itu aku..." ucapku penuh haru. Jelas aku terharu karena kami sudah bertemu bertemu sejak dulu.
"Oh my... Aku sangat terkejut.."
"Me too.." bisikku dan mengelus rambutnya lembut. Dia memeluk badanku.
Angin sejuk berhembus dan suara angin yang bergesekan dengan pohon terdengar begitu menenangkan. Aku memejamkan mata seraya memeluk Emilya, menikmati kenyamanan ini. Siapa yang tahu bahwa gadis kecil yang kutemui 18 tahun yang lalu menjadi isteriku, belahan jiwaku.
Takdir memang unik dan tidak yang pernah tahu bagaimana cara kerjanya. Namun, sesulit apa pun dan sejauh apa pun, takdir akan membawa kita kepada orang yang tepat. Seseorang yang bisa kita aandalkan dan selalu setia pada kita.
Takdir...
Aku memang ditakdirkan untuk Emilya...
Dia takdirku.
My mine.. Milikku. Wanitaku...
Aku akan mencintainya seumur hidupku.
*****
MRS FOX
Inti dari cerita ini, kalo jodohma pasti bakal ketemu. Seperti dua sejoli kita ini, Harry dan Emilya.. Wkwkwk. Lop yuh gais. Terimakasih atas dukungan kalian semua. Terimakasih selalu ada dan mendukung cerita ini. Terimakasih kepada pembaca yang selalu setia dari cerita pertamaku. Mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, but aku akan selalu belajar dan menampilkan yang terbaik. Silakan mampir ke cerita yang baru aku. The Dark Side Of Love dan sesuai request para readers, aku mengambil latar di London!!!. Hove you enjoyed gais.
BIG LOVE FROM MRS FOX AND SMITH"S FAMILY..