Harry's Love Story

Harry's Love Story
Seseorang di kegelapan



Happy Reading


***


Pada senin pagi menjelang siang, aku duduk bersama Hailey seraya menunggu operasi ibuku berakhir. Will sedang berada di bangsal anak-anak untuk bermain. Aku menarik napas seraya melihat jam di ponselku. Sudah berjalan satu setengah jam dan ini sudah hampir pukul dua belas.


"Apa kau khawatir pada Ibu?" tanyaku memecah keheningan tanpa melihat Hailey


"Dia Ibuku, tentu aku peduli..."


"Tau tidak? Kau sangat mirip dengan Ibu baik dari segi fisik dan sikap...."


"Lalu Julia mirip Ayah dan aku tidak mirip siapa pun..."


"Kau berpikir begitu? Jadi menurutmu aku mirip siapa?"


"Entahlah... Aku boleh bertanya?"


"Tanya saja. Kau sangat diam Hail, padahal aku adikmu..."


"Aku pergi ke naik kapal ke sungai Hudson bersama Will tiga hari yang lalu dan aku berpikir aku melihat Ayah..."


Aku melihatnya yang juga melihatku, "Jangan bercanda.." jantungku berdegup kencang untuk alasan yang tidak kutahu.


"Aku juga tidak yakin karena dia berada di kapal lain. Tapi entah kenapa, aku merasa itu dia..."


Aku menggigit bibirku, "Bukan ide yang bagus jika dia datang ke tempat kita. Jika melihatnya, pura-puralah tidak menganalnya...."


"Dia tetap Ayah kita, Em..."


"Memangnya aku bilang apa. Aku hanya ingin kau berhati-hati..."


Aku menarik napas, "Aku akan pergi membeli makan siang..."


Aku bangkit berdiri dan berjalan di lorong rumah sakit yang sepi. Aku menelan ludahku dan entah kenapa dadaku terasa sesak. Aku memegangi dadaku dan bernapas dengan susah payah. Aku menjilat bibirku yang tiba-tiba mengering. Sial, entah kenapa perasaanku tidak enak. Ah.. Terlalu banyak hal yang tidak terduga, itu membuatku takut.


****


Pukul dua siang dan operasi Ibuku telah selesai dan berjalan lancar. Akan tetapi, bukan berarti dia sembuh total. Dokter hanya memperlambat penyebaran kanker, kami belum tahu bagaimana ke depannya. Dan apa pun itu, dokter berkata bahwa kami sebagai keluarganya harus siap sedia.


Aku melihat dari jendela kaca di pintu tubuh Ibuku yang berbaring dengan berbagai selang penunjang kehidupan. Will dan Hail ada di sana. Aku menggigit bibirku dan membuka pintu itu. Mereka melihatku dan aku tersenyum kecil. Aku berdiri di tengah ruangan dan melihat wajah Ibu yang pucat, kurus, tua, dan seperti mayat, tapi dadanya naik turun secara perlahan menunjukkan masih ada kehidupan di sana.


"Ayo duduk, Em..." ucap Will dan aku mengambil kursi untuk duduk di samping mereka di dekat Ibuku.


"Ini pertama kalinya kau melihat Ibu setelah dua bulan bukan?" tanya Hail


"Yah.." Lebih dari dua bulan.


"Noni selalu menanyakan dirimu, Em..." ucap Will seraya menyandarkan kepalanya ke lenganku. Noni adalah panggilan Will kepada Ibuku.


"Bagus.." bisikku. Aku tidak tau kenapa aku mengatakan itu. Suaraku terdengar sangat culas.


"Apa kau benci Noni, Em?"


Aku mengelus rambut Will dan tidak menjawabnya. Aku melihat ke arah Hailey yang menunduk hingga rambutnya menutupi wajahnya. Ada beberapa hal yang terjadi di masa lalu membuat hubungan kami renggang. Julia, Ibu, Hailey, aku dan bahkan Ayah yang tidak pernah kulihat lagi batang hidungnya. Aku selalu yakin bahwa suatu saat bahwa Ayah akan datang, cepat atau lambat. Dan kuharap dia tidak menimbulkan masalah untuk kami lagi.


***


Ada saat-saat momen paling canggung untukku. Mungkin salah satunya adalah saat ini.


"Kau lebih diam dari biasanya..." ucap Harry, kami berada di kamar apartemen.  Harry duduk di sofa menghadap ke jendela seraya mengerjakan beberapa pekerjaannya yang harus segera selesai. Aku duduk di karpet seraya menggeser-geser ponselku dan memakan camilan yang sengaja dibeli Harry. Dia mengisi lemari pendinginnya sampai penuh. Dia tidak pernah main-main dalam menggunakan uang. Aku menanya alasannya kenapa dan dia bilang bahwa dia ingin berat badanku naik.


"Tidak juga kok..."


"Maafkan aku tentang kejadian hari Minggu itu.."


Aku memejamkan mata sejenak dan segera menoleh ke arahnya dengan senyum lebar, "Ayolah, itu bukan masalah besar..." lalu menoleh kembali ke ponselku, sial.. Aku bahkan tidak melihat matanya. Aku tidak berani menatapnya. Uh.. Kacau sudah.


"Hey... Aku serius, katakan sesuatu apa yang salah?" dia memegang bahu kiriku


"Apakah ini soal pagi itu karena aku ingin bercinta denganmu dari belakang?"


Aku melipat bibirku menjadi garis, menahan diri untuk tidak tersenyum malu.


Aku memutar mataku lalu membalikkan tubuhku ke arahnya, "Bukan..." suaranya setengah tertawa.


"Jadi apa? Kau marah karena kita tidak melanjutkannya?" godanya dengan nada jenaka, 'Kita bisa melakukannya sekarang..."


Aku tidak bisa lagi menahan senyum lebarku dan akhirnya aku tersenyum padanya, "Dasar otak mesum. Bukan karena itu..." nadaku berubah sedih di akhir.


Dia mengelus pucuk kepalaku, "Coba ceritakan..."


Aku menatap wajah dan matanya. Senyumnya sangat lembut dan ramah, tatapannya menenangkanku. Aku bergeser mendekat ke arah dia. Aku menaruh kepalaku di atas pahanya. Kain celananya begitu lembut dan nyaman. Dia mengelus rambutku dan mataku menerawang melihat cahaya gemerlap New York.


"Aku punya banyak pikiran akhir-akhir ini." Ibu yang sakit, Ayah yang mungkin saja muncul, Julia yang melihatku saat minggu pagi itu, Hailey, Max yang kuselingkuhi, dan termasuk Harry. Aku memikirkan banyak hal soal Harry akhir-akhir ini.


"Pikiran itu membuatku sedikit stress."


"Apa itu?"


"Banyak. Sangat banyak, tapi saat di sini aku lebih santai..." aku mengucapkan setiap kata tanpa berpikir, "Aku merasa nyaman di sini seolah aku pergi ke dunia lain yang lebih tenang dan aman..."


"Sepertinya tidak seperti itu, kau selalu mengerutkan dahimu seolah kau berpikir keras saat bersamaku..."


"Tidak kok... Itu memang kebiasanku. Aku selalu begitu..."


"Apakah saat di sini bersamaku kau merasa berada di dunia lain?"


"Uhm.. Duniamu sangat berbeda dengan duniaku..."


"Kau hanya melihat sisi luar, Em.. Kau berpikir bahwa duniaku menyenangkan, itu karena kau hanya melihat permukaan airnya yang begitu cantik dan jernih. Kau tidak menyelam untuk melihat apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam sana..." suarnaya begitu sendu.


Aku mengangkat kepalaku dan melihat Harry yang menatapku juga, wajah begitu sendu. Aku pernah melihatnya berdiri di depan jendela dengan mata tertutup. Wajahnya begitu sendu dan menyedihkan. Lalu dia mengarahkan tangan kanannya ke depan, ke arah cahaya kota yang gemerlap, seolah berusaha mencari sesuatu di kegelapan. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi Harry berbuat demikian seolah dia berusaha menggenggam sesuatu di luar sana. Aku tidak melihat dia melakukan itu sekali atau dua kali, tapi sudah berulang kali.


"Kau pernah berkata padaku bahwa kau memiliki semuanya kecuali satu. Apa itu? Aku selalu melihatmu seolah berusaha mencari atau meraih sesuatu dalam kegelapan di luar sana, Harry.."


***


"Kau pernah berkata padaku bahwa kau memiliki semuanya kecuali satu. Apa itu? Aku selalu melihatmu seolah berusaha mencari atau meraih sesuatu dalam kegelapan di luar sana, Harry.."


Matanya yang bulat dan jernih melihatku begitu lekat, seolah ingin menelanjangiku dan memaksaku membuka rahasiaku satu per satu. Aku memiringkan kepalaku dan memperhatikannya. Dia ternyata memperhatikanku selama ini. Melihat kebiasaanku yang selalu berusaha mencari sesuatu di luar sana dan dia mengingat setiap percakapan kami. Dia mendengar dan memperhatikanku. Itu membuatku tersentuh.


"Apa yang sedang kau cari, Harry?" dia menyentuh wajahku dengan telapak tangannya yang masih saja kasar, tapi hangat. Aku menaruh tangan kananku ke atas tangannya.


Entah kenapa, aku melihat sosok Kenny ada dalam dirinya dan membuatku sesak. Ah.. Kenapa selalu dia. Kenapa? Aku benci fakta bahwa aku tidak bisa melupakannya. Aku benci fakta bahwa dia bahagia di sana sementara aku menannggung semua ini sekian lamanya. Kenny mendapat semua yang dia inginkan, tapi aku tidak. Aku seolah berjalan di lumpur hisap yang setiap saat menelan tubuhku sedikit demi sedikit dan melihat sosok bayangan Kenny yang berjalan di atas jalan rata serta bersih bersama keluarga kecilnya


"Aku rindu..." bisikku. Suaraku begitu rapuh dan hancur. Aku melihatnya sosok Kenny pada wanita kecil di depanku ini.


"Harry..." dia segera memelukku dan aku membenamkan kepalaku pada lekukan lehernya, dia menepuk-nepuk pelan punggungku. Aku tidak mengatakan apa pun, tapi Emilya seolah tahu apa yang kurasakan, "Tidak perlu menceritakannya jika terlalu sakit..."


Sisa malam itu yang kulakukan adalah memeluk Emilya dalam gelap dan berusaha menjauhkan segala ingatakanku tentang Kenny. Dulu aku berpikir bahwa asal dia bahagia maka itu sudah cukup untukku, tapi seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa itu tidak cukup untukku. Aku tidak bisa melewati ini dan semakin buruk karna Scout adalah kolega bisnisku, saat melihatnya selalu ada sorot kebahagian di matanya. Sorot matanya yang tidak akan pernah kumiliki dan selalu membuatku iri dan dengki padanya.


Aku selalu berpikir dan berkata dalam hatinya, 'ah.. Scout Sharp, betapa beruntungnya kau'


atau yang terburuk, 'Kenapa kau tidak mati saja?'


Tapi aku merasa bersalah setelahnya, Kenny mencintainya dengan sepenuh hati. Aku tau itu dari cara Kenny menatap Scout, tatapan yang sama ketika dia memandangku dulu saat kami masih bersama. Setelahnya, segala hal semakin buruk padaku. Hidupku hanya berjalan di lingkaran setan yang selalu membuatku hancur. Aku berusaha mencari cahayaku sendiri di lingkaran yang tidak berujung itu, tetapi tidak menemukannya. Itulah kenapa muncul kebiasaan diriku yang selalu berdiri dan menatap kegelapan seraya mengarahkan tanganku ke kegelapan mencari atau meraih sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa kumiliki karena sudah di miliki orang lain.


"Semua akan baik-baik saja, Harry.. Percayalah..." bisikan Emilya membuatku memeluknya semakin erat, takut dan merasa nyaman secara bersamaan.


****


MrsFox


Okay, kenapa aku tidak up setiap hari dan lebih update sekali dua hari dengan dua eps setiap up? Karena... Tidak tau wkwkw. Maaf loh yah aku updatenya kek sekali dua hari atau sekali tiga hari. Semoga kita semua menemukan kebahagian kita yah, semoga Harry juga. :) Kasihan dia jadi sad boy waktu di Because of You.