
Happy Reading
***
Apa yang sedang kulakukan?
Aku terus menanyakan hal itu sepanjang perjalanan dan sesekali melihat wanita yang bahkan tidak kutahu namanya. Aku memberhentikan mobilku saat lampu merah dan melirik ke arahnya. Dia menutupi wajahnya dengan syal sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Akan kubawa kemana dia? Hotel? Pent-house ku? Apartemen?
"Siapa namamu?"
"Emm...." dia berhenti dan berdehem sekali, lalu menoleh ke arahku, "Lily...."
Lyli? Kupikir namanya Emelda atau apalah karena dia menyebutkan kata 'Em' tadi.
Aku menjalankan kembali mobil saat lampu merah berganti. Dia terlalu diam untuk seukuran wanita penggoda. Dia harusnya menjernihkan keadaan, menggodaku, atau apalah walau aku tidak terlalu menyukai hal seperti itu. Dia terlalu diam hingga membuatku tegang untuk alasan yang tidak kutahu. Padahal aku sudah meniduri banyak wanita seumur hidupku.
Aku membelok mobilku memasuki kawasan apartement dan memarkirkan mobilku di basement. Aku turun dan diikuti oleh Lyli. Dia berjalan di belakangku. Lalu kami masuk ke dalam lift dan diam kembali. Aku menatap pantulan tubuh kami pada dinding lift. Dia menatap ke bawah dan aku tidak yakin apa yang sedang dia pikirkan.
"Apa kau biasanya sediam ini?"
"Tidak juga.. Aku hanya tidak biasa berbicara dengan orang yang baru kutemui..."
"Jadi bagaimana kau menghadapi pelangganmu selama ini? kau diam saja pada mereka?"
Dia mengangkat kepalanya dan mata kami bertemu di dinding lift. Dia segera mengalihkan tatapannya lagi, seolah ada yang mengganggu pikirannya. Dia terlalu sering mengkerutkan dahinya seolah beban dunia ada di pundaknya. Dia memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Itu jaket yang dia gunakan kemarin. Uhm.. Kupikir, dia berpenampilan terlalu sederhana. Biasanya wanita-wanita penghibur itu selalu berpenampilan heboh dan mencolok.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?"
"Ah..." dia tampak berpikir. Apa susahnya, tinggal jawab Ya atau tidak. Kenapa terlalu berpikir keras untuk hal yang sederhana.
"Lupakan..." ucapku saat pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar dari lift dan...
"Tunggu..." lagi-lagi, dia memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. Aku sudah berada di luar lift dengan dia tetap di lift. Aku memutar kepalaku dan melihat dia yang sedikit mengangkat kepalanya untuk menatapku.
Kenapa dia sering pegang-pegang seperti ini? Apa dia pikir ini serial drama romans?
"Maaf.. Aku hanya sedikit pendiam. Maaf membuatmu tidak nyaman. Maafkan aku. Nanti aku akan bicara lebih banyak, jadi kumohon maafkan aku..." Kenapa dia meminta maaf? Dan berapa kali dia mengucapkan kata maaf?
"Itu bukanlah masalah besar. Jadi.. Apa kau tidak akan melepaskan tanganku dan keluar dari lift?"
"Ah..." dia segera sadar dan segera melepas tanganku dan keluar dari lift.
Aku menggaruk tekukku yang tidak gatal seraya merogoh sakuku saat sampai di depan pintu apartemen. Aku memasukkan kunci dan membukanya. Kami masuk dan lampu segera menyala. Aku melepas sepatuku dan menaruhnya di rak sepatu. Lalu, Lily mengikuti apa yang aku lakukan.
Aku berhenti saat di ruang tamu dan memutar tubuhku ke arah dia. Sekarang apa? Ah.. Biasanya aku tidak secanggung ini, tapi dia sangat pendiam hingga membuatku bingung harus memulainya dari mana. Aku sedikit memiringkan kepalaku ke arah kanan.
"Angkat kepalamu..." ucapku dan dia menurut. Aku melihat bola matanya itu dan setengah wajahnya tertutup oleh syal.
Kemudian, aku mulai melepas mantelku dan dia mengikutiku dengan melepas syalnya. Ah.. Dia mengikutiku? Aku melempar mantelku ke sofa dan dia menaruh syalnya dengan sopan ke atas sofa yang di sampingnya. Lalu melepas sweater dan meninggalkanku dengan kaos putih . Aku berhenti dan dia juga berhenti. Aku memutar mata dengan jengkel. Dia kenapa sih?
"Kemarilah..."
Dia menatapku ragu-ragu sebelum akhirnya berjalan ke arahku. Langkahnya kecil dan dia nampak kecil karena sudah melepaskan jaketnya, meninggalkan dia dalam blous miliknya, dia lebih kurus dari yang kubayangkan. Dia sudah berdiri di depanku dan menunduk, jarinya saling bertautan karena gugup. Terakhir kali bertemu, harum parfum bunga sangat pekat dari tubuhnya, tapi kini kosong. Tidak ada wangi khusus yang menyeruak dari tubuhnya.
Aku mengangkat kepalanya sehingga kami bertatapan. Tanganku yang satunya melepas ikatan rambutnya sehingga rambutnya rambutnya tergerai. Uh.. Rambutnya lebih panjang dari pada yang kubayangkan dan wangi shampo tercium dari rambutnya. Aku memiringkan kepalaku, mencoba menilai wajahnya. Dia tidak cantik dan tidak menarik. Apa dia benar-benar seorang wanita penghibur?
"Uh.. Tidak. Hanya..." dia mendorong tubuhku menjauh dan sedikit menundukkan badannya seraya menaruh tangan kanan di dada dan tangan kiri di lutut, posisi seolah dia baru saja berlari 10 mil nonstop di padang gurun.
"Kau sakit?" aku otomatis menjauh dari tubuhnya, siapa tahu dia memiliki penyakit menular. Memang dari awal membawa wanita ini adalah pilihan yang salah.
Dia menatapku dengan mata membelalak. Aku heran, kenapa dia selalu bertingkah aneh dan apa sih yang dia pikirkan.
"Bukan..." dia menggeleng dan menegakkan tuubhnya, "Aku hanya..." dia mengalihkan tatapan dariku dan memutar-mutar bola matanya, seolah mencari sesuatu.
Dia melipat bibirnya menjadi garis lurus dan mengerutkan dahinya. Kerutan itu semakin tebal. Kupikir, dia akan mati muda jika terlalu sering melakukannya
"Aku.. Aku.." dia berdehem, "Apa boleh aku pulang?" lalu dia menggeleng lagi dengan keras, "Tidak.. Maksudku..."
"Ada yang salah? Jika kau ingin pergi, tidak apa. Tidak ada paksaan. Aku bisa mencari wanita lain..." ucapku ramah dan berusaha menenangkannya. Yah, lebih baik dia pulang. Dia nampak tidak normal.
"Tidak.. Aku ingin melakukannya.." dia menghela napas lagi, "Maksudku, mari kita lakukan..."
Aku menggeleng, "Aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku akan memberimu uang taksi..."
"Jangan... Kumohon, aku butuh uang..."
Ah.. Jadi uang masalahnya?
"Aku akan memberi biaya kerugian karena membawamu dan membuatmu terlambat pergi 'bekerja'" aku memberi penekanan pada kata 'pekerja' dan wajahnya yang semula pucat mulai memerah. Dia menunduk dan memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Aku.. Aku hanya belum pernah..." bisiknya pelan.
Aku diam.
Dia menggigit bibir bawahnya,"Aku gugup karena aku belum pernah melakukan ini..." ucapnya dengan nada pelan dan ragu.
"Tidak pernah bercinta?" ucapku dengan nada mengejek, "Maksudku.. Kau pekerja sekks komersial jadi--"
"Aku baru bergabung dan aku tidak tau bagaimana..." potongnya, "Aku tidak tau harus bagaimana..." wajahnya semakin memerah dan lehernya ikut memerah. Kepalanya semakin menunduk.
Aku tersenyum miring, "Kau perawan?" suaraku nyaris seperti bisikan. Aku berjalan ke arahnya. Aku mengangkat kepalanya dan bola matanya hampir gelap karena pupilnya membesar, tanda kegugupannya. Dia serius. Aku yakin serius.
"Kau serius?" bisikku lagi
Dia mengalihkan tatapan, "Aku tidak nyaman membicarakannya..."
"Aku akan menebusmu dari bosmu jika kau memang seorang perawan..."
"Menebus?"
"Yah... hanya jika kau bersedia melakukan pemeriksaan."
"Pemeriksaan apa?"
"Aku perlu tahu, apa kau benar-benar perawan atau tidak. Jika ya, kita buat kontrak..."
***
MrsFox