Harry's Love Story

Harry's Love Story
What's happening?



Happy Reading


****


Harry POV


Lima bulan sudah berlalu dan perutnya membesar. Sangat besar. Kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan. Emilya tampak kesulitan dalam melakukan apa pun. Seseorang harus ada si sampingnya untuk melakukan banyak hal. Ada rasa sedih dalam hatiku terdalam saat melihat dia kesusahan karena perutnya yang membesar, tapi tetap berusaha tersenyum.


"Dia menendang lagi..." bisik Emilya dan aku memandang kulit perutnya bergerak. Aku menekan itu dan Emilya tertawa kecil lalu mereka menendang lagi.


Aku mengecup kulit perutnya.


"Aku benar-benar penasaran seperti apa mereka nanti..." ucap Emilya dan aku menatapnya. Kami memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin calon bayi kami dan menjadikannya kejutan tersendiri untuk kami.


"Aku juga... Namun, yang terpenting sekarang adalah melihat mereka lahir dengan sehat begitu juga dengan Ibunya."


"Harry.. Emilya..." suara Ibu menginterupsi kami.


"Itu Mamma.." ucap Emilya seraya bangkit berdiri dan menurunkan gaun untuk menutupi tubuhnya. Ibu dan Cassie selalu datang ke sini, terkadang aku dan Emilya juga datang menginap di rumah. Keluargaku benar-benar tidak sabar menunggu bayi kami datang..


Kami berjalan keluar dari kamar bawah dan berjalan menuju ruang tamu. Aku dan Emilya harus tidur di lantai bawah karena aku selalu bermimpi buruk tentang Emilya jatuh tergelincir di tangga karena kehamilannya yang semakin tua.


"Mamma..." ucap Emilya dan segera merangkul wanita itu, "Apa yang kalian bawa?" Emilya merujuk pada bekal yang di bawa oleh Cassie.


"Aku dan Mom memasak albondigas dan paella untukmu...." ucap Cassie seraya mengecup pipiku sekilas.


"Hai Mom, Cass...." aku berjalan mendahului mereka menuju dapur.


"Albondigas? Paella? Uh... Aku tidak tahu apa itu, tapi tampak menggiurkan. Apa itu makanan khas Spanyol?" tanya Emilya.


Emilya dan Mom duduk di meja makan, sedangkan aku dan Cassie mengambil piring, gelas, dan minuman segar untuk menyantap makanan yang di bawah oleh Ibu. Cassie dan Ibu tidak pernah datang ke tempat kami tanpa tangan kosong, selalu membawa sesuatu untuk di makan.


"Oh my.. Wanginya saja sudah luar biasa..." suara antusias Emilya mengirimkan energi positif untukku. Aku tersenyum melihat senyumnya yang lebar. Aku dan Cassie kembali duduk lalu Cassie membagi makanan itu.


"Aku tidak pernah makan nasi seperti ini sebelumnya..." ucap Emilya merujuk pada nasi kuning yang di sajikan di piring. Itu namanya paella, nasi kuning domba yang diberi banyak toping, mulai sayuran, cumi, udang, dan lainnya.


"Namanya Paella.. Ini mengandung banyak protein yang baik untuk kehamilanmu..." terang Mom, "Dan ini Albondigas... Ini daging domba, tapi memiliki cita rasa yang unik...."


Albondigas adalah daging domba atau sapi yang dicincang kasar dan di bentuk bulat dengan sedikit tepung, lalu di masak dalam saos tomat kental dengan berbagai rempah yang memperkuat rasa dalam daging. Seperti bola-bola daging(bakso), tapi dagingnya di cincang kasar.


"Cobalah.." ucapku pada Emilya.


Mom mengambil garpu lalu menusuk satu bola Albondigas lalu mengarahkannya pada mulut Emilya. Emilya segera memasukkan itu ke dalam mulutnya. Pipinya menggembung karena makanan itu memenuhi mulutnya. Aku menekan pipinya tersebut.


"Itu enak, bukan?" tanyaku dan dia mengangguk senang. Lalu, ponselku yang berada di atas meja berdering, aku segera mengambilnya dan melihat layar. Aku segera menerima panggilan tersebut.


"Yah?"


"Mr.Smith, ada beberapa paket di kirimkan untuk Nona Emilya Smith...." ucap lawan biacaraku yang tidak lain adalah penjaga pent-house ini.


"Kau bisa mengantarnya kemari....."


Aku menutup ponselku dan mereka bertiga menatapku.


"Siapa?" tanya Cassie seraya memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Kiriman untuk Emilya... Aku akan mengambilnya."


Novel ciptaan Emilya sangat laku di pasaran, membuatnya namanya dikenal banyak khayalak dan dia digadang-gandang sebagai penulis yang layak di pertimbangkan. Aku bukanlah penikmat romansa, tapi novel yang di bawa Emilya bagus. Permasalahan dalam cerita itu sebenarnya biasa, tapi Emilya sangat berbakat menyusun kata dan membangun sebuah cerita yang membuat siapa pun ketagihan membacanya.


Jadi, tidak heran rasanya jika Emilya terkadang mendapat kirim dari penggemarnya. Semua berjalan lancar. Tidak pernah kejadian aneh terjadi di sekeliling kami dan kasus Cassie di tutup sebagai kesalahan dalam mesin mobil. Lalu, semuanya berjalan seperti biasa.


Aku berdiri di depan lift dan menempelkan kartu passku lalu aku berbicara di monitor, memberitahu mereka untuk memberi paket itu pada Liam,pengawalku. Tidak lama kemudian, Liam muncul membawa tiga kotak hadiah yang dibawanya di tangannya.


"Thank you, Liam..." ucapku seraya mengambil paket itu ke dalam tanganku.


"Yes, sir..." lalu Liam masuk ke dalam lift lagi lalu pergi kembali ke tempatnya.


Aku membawa tiga kotak berukuran sedang tersebut ke dalam dapur lalu menaruhnya di kursi kosong yang berada di samping Emilya.


"Dari penggemar? kau benar-beanr semakin terkenal, Em...." ucap Cassie seraya mengambil satu kotak, "Bolah aku membukanya?"


"Sure..." uap Emilya seraya mengambil satu kotak dan membuka bungkusannya, "Terakhir kali aku mendapat boneka besar. Aku tidak tahu apa kali ini....."


"Apa isinya?" tanyaku pada Cassie yang duduk di sampingku, tapi aku melihat wajahnya membeku.


"Berhenti." ucap Cassie tegas, "Jangan buka bungkusannya, Em...."


Semua membeku, heran.


"Ada apa?" tanya Emilya, jelas bingung. Wajah Ibu berubah waspada.


Alarm peringatan segera berbunyi di dalam diriku. Aku segera berdiri dan menarik kotak yang dipegang Cassie dan segera menutupnya lalu aku mengambil kotak yang di pegang Emilya dan kotak yang lain. Aku menaruhnya di meja bar lalu merogoh ponsel dalam saku celanaku.


"Harry... Apa yang terjadi? Kenapa kau mengambilnya?" tanya Emilya


"Cassie, bawa Mom dan Emilya kembali rumah...." ucapku pada Cassie, mengabaikan pertanyaan Emilya, "Liam..." ucapku setelah aku tersambung dengan Liam. Aku memerintahkan agar anak buahnya mengawal mobil Cassie ke kediaman orangtuaku.


"C'mon, Em..." ucap Cassie seraya merangkulnya untuk pergi.


"Apa yang terjadi? Apa yang kau lihat?" Emilya terus bertanya dan menolak untuk bergerak.


"Sayang, kita akan mencari tahunya nanti. Sekarang kita harus pergi..." ucap Ibu dengan nada sedikit memohon.


Emilya menatapku tajam, terkesan marah.


"Please, Emilya... Kumohon untuk mengikuti apa yang dikatakan sekali ini saja..." ucapku pada Emilya dengan nada memohon.


Dia menghela napas panjang lalu membuangnya kasar, "Okay..." Lalu dia memutar tubuhnya dan pergi bersama Cassie dan Ibu.


Setelah mereka menghilang di balik dinding, aku menarik napas panjang. Seolah hal yang kulihat tadi benar-benar menguras seluruh energiku. Tidak lama kemudian Liam datang. Aku membuka kotak tadi dan melihat dua ekor burung merpati putih yang tidak bernyawa lagi dengan satu foto pernikahanku dengan Emilya yang dirobek dan satu lagi foto Emilya yang bagian perutnya dilubangi secara dramatis yang dilumuri darah merpati tersebut.


"Sir..." Liam melihat itu, "Apa yang akan anda lakukan sekarang?"


"Periksa siapa pengirim ini dan cek semua hadiah yang pernah diberikan pada Emilya..."


****


Aku sudah berada di kediaman orangtua Harry dan sedang berdiri di dekat jendela kamar, mengamati mobil yang lalu lalang di rumah Harry. Beberapa orang berjas mulai mengisi kediaman Harry, lalu beberapa orang berkaos hitam pergi ke arah garasi rumah ini.


Apa yang terjadi? Sial! Kenapa dia tidak memberi tahuku? Tidak satu pun dari mereka memberitahuku. Apa karena aku hamil? Karena aku tampak lemah dan rapuh? Sial... Aku tidak ingin dilindungi, sedangkan mereka dalam bahaya. Lalu Harry, dia masih ada di pent-house kami.


Ketukan di pintu kamar membuatku menoleh.


"Ini aku, Cassie..."


"Yah.." ucapku seraya menjauh dari jendela. Lalu pintu terbuka, Cassie dan Ying masuk ke dalam kamar.


"Di mana Mamma?" tanyaku.


"Sedang bersama Dad..." jawab Cassie.


"Harry?"


Dia menggigit bibir bawahnya, "Dengar, Em.. Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi, yang jelas ini cukup serius..."


"Seberapa serius? Apa yang kau lihat dalam kotak itu, Cassie?" sekarang suaraku sedikit memohon.


"Bisakah kita tidak membicarakannya sekarang? Kumohon, Em..."


"Apa karena aku hamil? Apa karena aku tampak lemah dan rapuh sehingga tidak satu pun yang memberitahuku apa yang terjadi?"


Cassie segera menggeleng dan  memelukku, "No. Of course not... Kumohon jangan berpikir seperti itu. Kita akan memberitahumu, okay?"


Cassie melepas pelukan dan menatapku lembut. Aku tau dia benar-benar peduli padaku. Aku tau dia akan melindungiku dan tidak akan membiarkanku terluka. Aku tau itu.


"Okay..." bisikku.


"Aku dan Ying datang ke sini untuk meminta seluruh hadiah yang kau terima dari penggemarmu. Boleh kah kau memberitahuku di mana kau menyimpan semua hadiahmu ?" tanya Cassie dan bulu kudukku segera merinding. Hadiah? Aku mendapat banyak hadiah dari orang asing. Apa yang terjadi?


"Aku punya banyak..." bisikku, merasa ngeri.


"It's okay, Em.... Di mana kau menyimpan semuanya?"


"Termasuk surat?"


"Yah..."


Aku menatap Ying dan Cassie bergantian, "Itu semua ada di pent-house kami. Aku mengumpulkan hadiahku di satu tempat, di ruang kerjaku..."


"Kau yakin hanya ada di sana? Termasuk boneka atau apalah?" tanya Cassie lagi.


Aku berusaha mengingat, "Uhm.. yeah. Harry tidak terlalu suka ada boneka dalam kamar, jadi aku mengumpulkan semuanya di sana...."


"Harry dan yang lain akan memeriksa semua itu, Em.. Kuharap kau tidak keberatan, okay?"


"Okay.."


****


Sehari berlalu dan Harry belum kembali. Kami saling menghubungi semalam dan dia mengatakan dia baik-baik saja dan menyuruhku tidak khawatir. Namun, bagaimana  bisa aku tidak khawatir saat suamiku tidak di dekatku sementara pelakunya berkeliaran di luar sana.


Aku tidak tenang, benar-benar tidak tenang. Harry juga menyuruh beberapa orang untuk menjaga kediaman Bibi Debs di Texas. Mereka bertanya, apakah terjadi sesuatu lagi dan aku hanya bisa mengatakan semua akan baik-baik saja. Tidak tahu harus mengatakan apa karena aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.


Aku menarik napas lalu merasakan tendangan lembut dari dalam perutku. Aku segera menatap perutku dan mengelusnya lembut sehingga tendangan yang lain datang.


"Kalian juga merindukan Daddy kalian?" bisikku lembut, "Karena Mommy juga merindukannya. Sangat merindukannya."


Aku menatap langit-langit kamar seraya mengelus perutku. Aku tidak berhasrat melakukan apa pun. Namun, pada akhirnya aku berdiri. Aku tidak selera makan, tapi aku memiliki dua nyawa yang perlu kuberi makan pula. Aku memakai sendalku dan berjalan keluar dari kamar. Ada Ying di sana, berjaga terus. Entah harus berapa banyaklagi keamanan di tempatkan di rumah ini.


"Aku ingin makan..." ucapku.


"Saya akan membawa makanannya kemari, Mrs."


Aku menggeleng, "Aku perlu bergerak, Ying..." ucapku lembut dan akhirnya Ying mematuhinya. Kami berjalan meninggalkan kamar dan berjalan di lorong luas menuju dapur. Well.. Ini benar-benar rumah yang besar, sangat besar.


Saat aku mendekati ruang keluarga, aku mendengar suara tinggi terkesan marah. Itu suara Cassie. Lalu ponsel Ying berdering dan aku semakin mempertajam pendengaranku.


"No. No...." itu suara Momma, suaranya sedikit histeris.


"Mrs, saya pikir kita harus kembali ke kamar..." ucap Ying padaku dan aku menggeleng.


"Emilya.. Astaga. Bagaimana kita memberitahunya?" itu suara Cassie. Dia menangis.


Aku mempercepat langkahku, "Mrs..." panggil Ying lagi dan aku segera masuk ke dalam ruang tamu dan melihat Pappa, Mamma, dan Cassie ada di sana. Wajah mereka tegang. Mamma duduk bersama Pappa, sedangkan Cassie berdiri membelakangiku


"Apa yang terjadi?" ucapku segera dan mereka segera menoleh padaku.


Mamma segera menghapus air matanya dan segera berdiri, "Emilya... Kau sudah makan, nak?" ucap Mamma dengan suara ceria yang dibuat-buat.


"Pappa, apa yang terjadi? Cassie? Kumohon beritahu aku..."


"Em---"


"No." ucapku tegas seraya menggeleng kepalaku, "Beritahu aku? Apa yang terjadi? Apa? Di mana suamiku, Cassie? Mamma? Pappa?" suaraku histeris sekarang, benar-beanr khawatir. Apa yang terjadi. Oh my..


"Emilya... Kumohon duduk sebentar..." ucap Cassie.


"Tidak, Cass. Dia berhak tahu dan kita perlu pergi ke rumah sakit saat ini juga..." ucap Pappa dan aku merasakan jantungku berhenti berdetak saat dia mengatakan rumah sakit. Seluruh tubuhku membeku. Benar-benar kaku.


"Harry kecelakaan, nak..."


Yang kutakutkan akhirnya terjadi. Benar-benar terjadi dan aku merasakan duniaku benar-benar runtuh dan hancur.


***


MrsFox.


Mati satu tumbuh seribu.