Harry's Love Story

Harry's Love Story
You're mine (21++)



Happy Reading


If you under 19, please be wise readers. It's so vulgar btw...


***


Harry POV


Aku menarik napas. Dia bohong. Pernikahan? Orangtuaku atau lebih tepatnya, Ayahkulah yang melakukan perjodohan ini dan kami baru mengenal satu sama lain kurang dari empat bulan. Ditambah, kami hanya bertemu sekitar sekali dalam seminggu. Hanya baru-baru ini intensitas pertemuan kami bertambah. Satu lagi, orangtuaku sedang tidak berada di New York sekarang, mereka ada di Jepang untuk mengurus sesuatu.


"Zoya..." ucapku lembut, "Ada yang ingin kubicarakan padamu..."


Tatapannya berubah keras dan serius.


"Aku tidak mau mendengarnya..."


Lalu pintu lift terbuka. Aku memejamkan mata lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Ayo.." ucapku dan menarik tangannya dengan lembut.


"Kita pergi ke mana?"


"Bicara..."


****


Emilya POV


'Maafkan aku, Em.. Aku tiba-tiba memiliki urusan yang harus kuurus.'


Aku menutup ponselku dengan kecewa. Astaga. Aku sudah menunggunya 30 menit. Dia yang merencanakan dan kini dia yang membatalkannya. Aku menarik napas dan membuangnya perlahan, berusaha meredakan emosiku. Pada akhirnya, aku berdiri dan meninggalkan gedung penerbit tersebut.


Aku mengeratkan mantelku ketika udara dingin berhembus ke arahku setelah aku keluar dari gedung. Aku hendak mencari taxi, tapi kuurungkan niatku. Ini baru pukul tiga sore, apa yang akan kulakukan di hotel. Tidak ada apa-apa di sana. Kebanyakan orang saat ini menghabiskan waktunya dengan ponsel, tapi bermain ponsel bukanlah aku. Aku tidak menggunakan sosial media atau semacamnya.


Sungai Hudson.


Aku akan pergi ke sana, jika aku beruntung aku bisa menuju Patung Liberty. Dulu, selama aku tinggal di New York, aku hanya pergi ke tempat itu sebanyak lima kali. Sebenarnya, kebanyakan masyarakat di sini sangat jarang ke sana, terutama di cuaca seperti ini . Yang datang hanya masyarakat pendatang atau wisatawan.


Aku berjalan perlahan menuju halte bus ke sana. Mungkin aku hanya perlu berjalan sekitar satu blok menuju halte bus. Aku berhenti di pinggir jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Aku melihat sekitar lalu berhenti menatap sosok yang ku kenal.


Aku berdiri di sana dan menatap sosok tersebut hingga lampu berganti. Beberapa orang mulai melewatiku dan pergi menyebarangi jalan melalui zebra cross. Aku akhirnya melangkah kakiku tanpa melepaskan pandanganku dari Harry, sosok yang kulihat tersebut.


Dia duduk menyamping di dalam sebuah kafe dengan seorang wanita, lawan bicaranya.  Namun, aku mengenal wanita itu. Dia adalah wanita yang sama saat di restoran beberapa waktu lalu. Ah.. Jadi ini urusan yang perlu dia urus tersebut.


Kenapa? Kenapa harus di kafe itu yang jelas-jelas dekat dengan gedung penerbit yang kukatakan padanya? Dia sengaja? Jika dia sengaja, itu benar-benar keterlaluan. Aku memutar tubuhku ke arah yang berbalikan dengan halte bus itu dan malah berjalan ke arah kafe itu. Aku berjalan perlahan dan hingga akhirnya aku melewati mereka, Harry tidak menyadari keberadaanku. Sialan..


****


Harry POV


"Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi..." ucapku akhirnya, tanpa aba-aba atau kata permulaan setelah kami duduk di sebuah kafe.


Dia menatapku datar lalu seorang pelayan datang dan menaruh sebuah buku menu di sana.


"Apa kalian ingin makan sekarang atau nanti?" ucap pelayan dengan buku kecil dan pulpen di tangannya


"Sekarang.." ucap Zoya


"Nanti.." ucapku bersamaan dengan Zoya.


"Berikan kami anggur termahal di sini.." ucap Zoya datar tanpa memutuskan kontak mata denganku.


"I'm sorry Ms, ini kafe dan kami tidak menyediakan alkohol..." ucap pelayan.


Aku menoleh pelayan itu dan tersenyum kecil, "Dua Kopi pahit..." ucapku. Satu-satunya hal yang paling kutahu dari Zoya adalah bahwa dia tidak suka sesuatu yang manis.


"Kudapan?" tanya pelayan itu.


"Tidak. Terimakasih..." ucapku dan segera pelayan itu pergi dari hadapan kami.


"Zoya--"


"Stop." ucapnya tegas, "Aku akan menunggu minumanku datang baru kau bisa berbicara..."


Oh... Seseorang pernah berkata padaku bahwa dia sangat 'bossy' dan sifat itu akhirnya muncul juga. Aku menarik napas dan mematuhi apa yang dia katakan. Aku ingin membuka ponselku untuk melihat apakah Emilya sudah membaca pesanku atau tidak. Namun, salah satu sopan santun saat bersama wanita adalah jangan memegang ponsel jika tidak 'perlu', terutama jika wanita itu sedang marah.


Tidak menunggu beberapa lama kemudian, pelayan itu datang dan mengantarkan pesanan kami. Aku mengucapkan terimakasih pada pelayan itu dan dia segera pergi. Aku sudah membuka mulutku untuk bicara, tapi dia mengangkat tangan kanannya dengan mengarahkan telapaknya ke arahku, menghentikanku.


"Biarkan aku mencicipi minumanku..."


Oh. Okay. Aku melihat dia mengangkat cangkir itu dengan sangat sopan dan perlahan. Menghembus permukaan kopi itu perlahan dan mencicipinya. Dia menaruh kembali cangkirnya kemudian menatapku.


"Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi..."


Aku segera terkejut setelah mendengar apa yang dia katakan. Begitu persis dengan apa yang kuucapkan tadi.


"Aku membuangmu.. katakan itu pada orang jika mereka bertanya tentang hubungan kita.." lanjutnya dengan nada 'bossy'-nya yang sedikit menyebalkan.


Lalu dia berdiri, hendak pergi.


"Aku akan mengantarkanmu..." ucapku seraya berdiri.


"Tidak perlu. Aku memiliki dua kaki sehat dan kau tidak perlu repot-repot melakukannya..."


Dia memutar tubuhnya.


"Ah.. Dan satu lagi.." dia menolehkan sedikit kepalanya ke arahku sehingga aku melihat sisi kiri wajahnya, "Aku akan mendapatkanmu di kesempatan lain dan dengan caraku sendiri..."


Lalu dia pergi dengan dagu terangkat ke atas, badan tegap, dan wajah datar. Aura kuat langsung terpancar dari dia. Ah.. Dia ternyata selucu itu.. Kuharap aku tidak mendapatkan masalah atau hal mengejutkan lainnya suatu saat nanti.


****


Emilya POV


Bunyi bel kamar hotelku segera menginterupsiku setelah aku keluar dari kamar mandi. Aku mengikat handuk kimonoku erat. Aku membuka pintu sedikit tanpa melepas rantai pengamannya dan melihat Harry ada di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?"  ucapku dengan nada datar.


"Minum teh?" ucapnya ragu seraya mengangkat sebotol anggur di tangannya.


"Maafkan aku, Harry. namun, ini sudah larut dan aku perlu istirahat..."


"Ini masih pukul delapan malam.."


"Aku tahu dan itu sudah larut..."


Tidak. Tidak akan lagi kubiarkan dia masuk ke dalam kamarku ditambah dai bbaru seorang wanita lain tadi.


"Hey.. Aku perlu membicarakan sesuatu padamu.."ucapnya lembut.


Tidak!Teriakku pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan dia.


"Aku lelah, Harry... Kau bisa membicarakannya melalui ponsel atau mengirimiku pesan..."


"Ini penting, Em.. Kumohon."


Aku menarik napas dan mengarahkan kepalaku ke dalam kamar untuk memejamkan mata. Sial. Tahan, wanita sialan. Aku tau kau suka suara beratnya setiap dia memanggil namamu, tapi jangan tergoda. Tahan. Tahan nafsumu. Aku mengarahkan wajahku ke arah dai lagi.


"Mungkin lain kali. Selamat malam, Harry." ucapku segera dan menutup pintu.


Lalu bel kamarku dibunyikan lagi dan kini harry menekannya lebih agresif. Sial. Aku memutar tubuhku dan membuka pintu lagi tanpa melepas tali rantai pengamannya.


"Aku bisa memanggil pihak keamanan hotel jika kau tidak pergi juga dari sini..."


"Kumohon, Emilya..." ucapnya lembut, "Kumohon..."


Sial.Sial.


"No, Harry..."


"Emilya...." cuapnya denagn nanada memelas dan tatapan memohon.


Sial.


"Okay. Okay. Biarakan aku ganti baju dulu..." ucapku dan segera menutup pintu kamar dengan kuat.


****


"Waktumu hanya sepuluh menit..." ucapku setelah aku membukakan pintu pada Harry. Dia masuk dan segera melepas sepatu dan kaos kakinya.


"Okay, Maam..."


"Dan kita tidak minum.."


Harry segera duduk di sofa dan aku duduk di depannya. Dia menaruh sebotol anggur di atas meja.


"Kau bekerja di penerbit?" tanyanya.


"Ya. Sekarang katakan saja hal penting yang ingin kau bicarakan."


"Jadi kau akhirnya berhasil menerbitkan buku..."


Aku segera menatapnya tepat di mata.


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan Harry. Berhentilah berbasa-basi..."


"Kau marah?"


"Tidak.." ucapku segera dengan nada tinggi berlebihan.


Lalu dia tersenyum miring dan terkesan gelap. Sial. Apa yang dia pikirkan sekarang?


"Maafkan aku soal tadi, Em.. Aku tiba-tiba memiliki urusan penting..."


Urusan penting? Yah...Urusan hebat. Dia bertemu wanita itu saat terang dan sekarang menemuiku saat gelap. Hebat. Dia pikir aku masih wanita yang sama seperti yang dulu?


"Aku tidak peduli karena aku juga cukup sibuk saat itu..."


Sejujurnya aku hanya menghabiskan waktuku di taman New York dengan perasaan kacau.


"Emilya..." panggil Harry dengan suara baritton miliknya. Begitu berat. Astaga. Aku sangat suka aksennya setiap dia memanggil namaku. Aksen pria New York benar-benar berbeda dengan pria Texas.


"Aku ingin kau kembali padaku..." ucapnya lembut, rapuh, dan tulus.


Aku menatap matanya. Aku bisa melihat emosi di sana. Tatapan memohon. Sial.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya yang sudah berdiri.


"Yah. Semua ini salah..."


"Aku hanya ingin kau kembali, Emilya... Dan apa yang salah dari itu?"


Aku menggeleng kepalaku sedih.


"Aku melihatmu, Harry... Aku melihatmu bersama wanita itu tadi sore, Harry... Dan kini.. Kini kau datang ke hotelku dan berkata pada kau ingin aku kembali padaku?! Kau gila?!!" aku tidak menutup-nutupi emosiku kali ini.


"Sial.." umpatnya pelan, "Dengar.. Bisakah kau menutup pintunya dulu dan membicarakannya? Terjadi kesalahpahaman, Em.."


"Tidak.. Tidak ada yang perlu di bicarakan antar kita berdua, Harry. Kuharap kau pergi sekarang..."


"No.." ucapnya dan aku segera membelalakkan mataku padanya.


Harry segera menarik pintu dan menutupnya. Dia menatapku dan aku melipat tanganku di dadaku. Sial. Kenapa aku merasa terancam sekarang?


"Okay.." aku memutar tubuhku, "Jika kau tidak pergi, aku bisa memanggil pihak keama--" aku tidak sempat mengucapkan ucapanku hingga akhir karena Harry segera mendorongku ke dinding dan menciumku dengan agresif.


Aku menerimanya. Menerimanya, Namun, aku segera mendorong tubuhnya.


"Stop... Stop.." teriakku dengan napas terengah, "Aku tidak bisa, Harry. Aku tidak bisa membiarkanmu menciumku dengan bebas sementara kau memiliki kekasih. Aku tidak bisa..." ucapku dengan nada terluka. Saat ini, aku benar-benar menahan tangisku. Sial. Dia tidak boleh melihatku menangis.


"Emilya.. Itulah yang ingin kuperjelas saat ini.." dia melangkah maju ke arahku, "Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa pun lagi.. Tadinya yah, sekarang tidak..."


Apa?


"Dia hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang berusaha dijodohkan Ayhku padaku, Emilya.... Tidak ada yang berhasil karena ada kau.. Aku selalu memikirkanmu..."


Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia mempermainkanku lagi. Memikirkan? Persetan.. Jika dia benar-benar memikirkanku, dia pasti sudah mengirimiku pesan atau apapun sejak dulu. Namun, ini sudah dua tahun dan aku tidak pernah mendengar apa pun dari dia. Tidak sebelum akhirnya kami bertemu secara kebetulan di jalanan New York.


"Jangan berbohong.."


"Tidak, Em..No.." dia melangkah maju, perlahan, dan penuh kehatihatian. Kemudian dia segera memelukku dan aku menerimanya. Menerimanya sepenuh hati.


"Jika kau memikirkanku, kenapa kau tidak pernah menghubungiku selama dua tahun ini..."


"I'm sorry... Maafkan aku tidak pernah menghubungimu selama dua tahun ini, Em. Aku punya alasan sendiri.."


Harry memelukku dengan erat dan menyalurkan kehangatan keseluruh tubuhku. Aku bisa merasakan baunya yang wangi. Wangi kayu-kayuan yang bercampur dengan musk dan mint. Ah.. Wanginya tidak pernah berubah. Begitu jantan dan menggoda.


Harry melepas pelukannya kemudian menatapku. Lalu dia mendekatkan kepalanya ke arahku perlahan dan menciumku. Dia menciumku perlahan dan penuh kelembutan. Tangannya menjelajahi lekukan tubuhku di balik sweater yang kupakai.


"Manis.." ucapnya setelah melepaskan panguutan kami. Dia mengelus wajahku yang memanas dan aku memejamkan mata penuh kehausan. Astaga. Aku benar-benar merindukan sentuhan ini.


Aku mendekatkan kepalaku hendak mencium Harry, tapi dia segera mendorongku ke atas tempat tidur. Itu membuatku terkejut, tapi aku segera tertawa kecil.


"Apa kau sedang menertawaiku, Ms.Teatons.." ucap Harry seraya melepas mantelnya., "Buka bajumu.." perintahnya seraya melepas jasnya.


"Apa?"


Sial. Yah. Aku tau ini akan terjadi, tapi aku tidak mau melepaskan bajuku. Yah.. Aku tau aku akan melepaskannya, tapi aku ingin dia yang melepasnnya. Jika aku melakukannya sekarang, aku akan merasa malu.


"Aku ingin kau melepas pakaianmu sendiri, Ms..." perintah Harry dengan senyum miring dan itu mengirimkan sejuta getaran aneh dalam diriku. Sial. Aku bahkan sudah merasakan kelembapan di celanaku. Harry melepas kemeja hitamnya dan meninggalkan dia dalam balutan celananya..


Aku duduk di atas ranjang, "Okay.. Tapi, bisakah kita melakukanya dalam cahaya temaram?"


Dia menggeleng, "No... Aku ingin melihatmu secara utuh..."


"Tapi..."


"Tidak perlu merasa malu, Em.. Kau tidak penasaran?"


Penasaran? Yah. yah.. aku penasaran dengan apa yang dia rencanakan.


"Okay.." ucapku dengan senyum malu-malu.


Aku melepas sweaterku perlahan. Oh... Satu infromasi, karena kemunculan Harry yang tiba-tiba, aku tidak sempat memakai braku dan hanya celana dalamku saja. Harry menatapku dan aku melihat tatapan gelapnya. Sial. Aku merapatkan pahaku saat melihat senyum miringnya.


"Lanjutkan, Ms.Teatons.."


Aku melipat bibirku jadi garis dan segera berdiri. Aku perlahan menurunkan celana santaiku dengan tatapanku terarah pada Harry yang juga menatapku. Aku melempar celanaku dan meniggalkanku dalam balutan celana dalam putihku.


"Kemarilah. Berdrii di hadapanku.." bisik Harry dan aku berjalan di atas ranjang menuju ke arahnya,


Aku berdiri di depan Harry dengan aku berada di atas ranjang. Tiba-tiba, hHarry menarik kakiku mendekat.


"Apa kau sadar, Em.. Kau punya badan yang hebat..." pujinya dan itu benar-benar membuatku melayang.


"Aku ingin kau berdiri tegak, Emilya Teatons.... Jika tidak.." suaranya memelan dan aku melihat tatapannya yang gelap dan tajam. Aku menelan ludahku. Sial.


Aku merasakan tangan Harry menelisik di balik celana dalamku dan menurunkannya perlahan. Tangannya mengelus kedua pahaku seraya menurunkan pakaian dalamku.


"Ah.." lenguhku saat merasakan sentuhannya.


"Tetap pertahan kakimu lurum, Emilya..."


Aku mengangkat salah satu kakiku untuk melepas pakaian dalamku dan Harry melemparnya asal di lantai. Tanpa aba-aba, Harry menghembuskan napasnya yang dingin ke selangkanganku.


"AH..." erangku seraya memundurkan pinggulku kepelakang.


"Luruskan kakiku, Em..."


Sial. Sial. Dia bahkan belum memulainya. Harry segera mencium milikku. Aku berpegangan dan menumpukan kedua tanganku pada bahu Harry.


"Ah!" aku memekik keras saat dia menghisapnya.


"Pelankan suaramu, Em.. Kita tidak tahu kamar ini kedap suara atau tidak.." ucapnya pelan dan segera aku melipat mulutku menjadi garis keras.


Dia mengembusnya lagi.


"Harry..Harry.." geramku, menahan teriakanku. Aku meremas kulit bahu Harry dengan keras saat dia terus melakukan itu.


Dai mencium milikku dengan ahli.


Mataku berputar dan menggelap.


"Ah.." lenguhku dan kakiku bergetar hebat.


Yah. yah. Aku akan datang. Aku akan datang.


"AH!!" persetan jika ruangan ini tidak kedap suara, "HARRY!!"


Dia memutarkan lidahnya di sekitat milikku, lalu menjilatnya, kemudian menghisapnya keras.


"AH!" seluruh tubuhku bergetar dan pelepasan itu benar-benar datang. Kakiku lemas dan aku segera jatuh ambruk ke atas tempat tidur.


Sial. itu terlampau nikmat. Aku menatap langi-langit, berusaha menikmati pelepasanku. Kemudian aku menatap Harry yang melap sudut bibirnya. Dia tersenyum miring.


"Nikmat..." bisiknya dan dia segera merangkak ke arahku. Dia mensejajarkan tingginya padaku.


"Buka kakiku lebar.." bisiknya dan aku mematuhinya.


Harry segera memasukkan miliknya ke dalam milikku tanpa aba-aba.


"Uhm..." ucapnya tertahan. Aku bahkan belum selesai menikmati pelepasan pertamaku.


Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Kemudian mengalungkan kakiku pada pinggulnya, memberikan dia akses lebih luas.


"Em.." geramnya saat dia menggerakkan tubuhnya.


"Ah.."


Harry menundukkan kepalanya dan menghisap dadaku. Kepalaku pusing. Ini terlalu banyak. Ini terlampau nikmat. Aku mengikuti gerakan Harry dalam iramanya yang menyenangkan. Harry memasukkan miliknya semakin dalam dan aku segera terkesiap.


"Aku akan semakin cepat, my dear...."


Harry mempercepatnya lagi. Terus. terus. Hingga aku tidak bisa mengikuti iramanya lagi. Dia mengecup pipiku lembut. Aku menatap matanya yang menatapku intens. Suara detuman tempat tidur ke dinding terdengar. Sial. Kupikir dia bisa menghancurkanku berkeping-keping.


"Katakan kau milikku, Em..." Harry memperlambat gerakannya. Sial. Dia mempermainkanku


"Ah!" aku mengerang. Sial. Aku menggerakkan dan menggoyang tubuhku penuh keputusasaan, "Harry... Harry..." rengekku.


"Katakan kau milikku, Em..."


Sial. Dia benar-benar bermain dengan cara tidak adil.


"Aku ingin kau kembali padaku, Em.. Katakan ya..." Harry memutar pinggulnya dengan menggoda dan itu benar-benar menyiksaku.


"Harry... Harry... Kumohon..." rengekku putus asa.


"Katakan. Emilya." ucapnya terpatah seraya memasukkan miliknya kepadaku. lalu dia berhenti lagi.


Aku menggerakkan pinggulku, "Harry... Please..."


Sial.. Aku benar-benar ingin pelepasanku saat ini juga.


Aku menatapnya dan segera mengecup bibirnya singkat.


"Aku milikmu... Aku milikmu, Harry...."


Dengan itu Harry segera mempercepat gerakannya. Seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan teriakanku. Suara decitan. Suara detuman tempat tidur dengan dinding. Astaga. Kupikir tempat ini bisa rubuh kapan saja dan aku tidak peduli jika seisi hotel ini mendengar eranganku. Sial. Ini terlalu banyak.


"Harry.." erangku dan seluruh tubuhku bergetar. Akan datang. Akan datang.


"Kau milikku. Ingat itu, Em..." erang Harry dengan suara rendah.


"Aku milikmu...."


"Emilya!" erang Harry saat pelepasannya datang dan tidak menunggu lama, pelepasanku akhirnya datang.


Harry segera jatuh berbaring di sampingku. Dia segera menarik selimut menutupi tubuh kami. Aku mendekatkan diriku pada dadanya. Harry kemudian mengelus punggungku. Ah.. Ini benar-benar nyaman. Aku mendengar deru napas Harry yang semakin melambat. Detak jantungnya kembali normal. Aku menguap keras dan lampu segera mati.


"Good night, my dear..."


Itu adalah suara terakhir yang kudengar sebelum akhirnya aku jatuh dalam gelap.


***


MrsFox


Wah.. Wkwkw. Setelah sekian lama, akhirnya datang juga adegan ini. Wkwkw. Hope you like it gais. jangan lupa dukungan kalian berupa vote, like, koment, dan love. Oh Makasih yah sama 'someone' yang memberiku tip. Makasih banget. hehe. Bye" gais. See you in next chap. Lop yuh so much...