
Happy Reading
***
Harry POV
"Ini hasil pemeriksaan kesehatanku dan kontraknya..." dia menaruh amplop coklat dan amplop putih di atas meja. Kami tengah berada di apartemen dan duduk di sofa untuk membahas kontrak kami di hari minggu yang mendung.
"Anda sudah menandatanganinya?" tanya James seraya membuka kontrak dan melihatnya.
"Yah dan sudah kubaca dengan baik.." bisiknya pelan dan aku mengangguk paham, aku mengambil amplop putih dan melihat hasil pemeriksaan kesehatannya.
Dari balik kertas yang kubaca, aku melirik ke arah Emilya yang duduk di depanku. Lalu, dia melirik ke arahku dan tatapan kami bertemu. Dia segera mengalihkan tatapannya seraya menggaruk tekuknya dengan gugup. Aku tersenyum miring, aku sangat suka reaksinya yang terintimidasi.
"Berat badanmu tidak ideal.." komentarku.
"Ah.. Aku akan makan lebih banyak..."
"Tekanan darahmu terlalu rendah, kekurangan darah, dan..." aku melirik ke arahnya lagi yang tersenyum canggung, "Tidak apa... Setidaknya tidak ada riwayat penyakit menular atau apa pun. Kau harus menjaga kesehatanmu selama tiga bulan ke depan..." aku menaruh kembali kertas itu ke meja.
"Yahh..."
"Aku akan menandatangani ini.." aku menerima kontrak itu dan segera menandatanganinya. James kemudian membubuhkan stempel ke masing-masing tandatangan kami.
Kami bertiga berdiri dan aku segera menjabat tangan Emilya yang kurus dan kasar. Dia menatapku dan aku tersenyum ramah padanya yang gugup.
"Aku akan bersikap ramah selama tiga bulan ini..." ucapku ramah dan dia tersenyum lebar yang canggung.
"A.. Aku juga.."
***
Emilya POV
"Kau akan tinggal di sini selama tiga bulan ke depan." ucap Harry saat James sudah pulang dan meninggalkan kami berdua di apartemen ini.
"Ini bukan apartemenmu?"
"Bukan.. Ini tempat tinggal khusus untuk bertemu kekasihku..."
Kekasih? Yah kekasih dalam artian lain. Aku mengikutinya berjalan.
"Ada tiga kamar di sini. Satu kamar utama dan dua kamar tamu, kau bisa memilih yang mana dan kau juga bisa menghiasnya sesuka hatimu." dia menunjuk kamar utama lalu berjalan ke arah lain.
Tiga bulan, artinya dalam setahun pria ini memiliki minimal empat kekasih jika dia tidak memutuskan kontraknya. Itu jumlah yang cukup banyak dan pasti sangat menyedot uangnya. Dia benar-benar orang kaya berat.
"Oh, aku lupa.. Salah satu kamar sudah di ubah menjadi gym mini, kau harus olahraga minimal 3-4 kali dalam seminggu..."
"Yah..." dia menjelaskan begitu ramah. Lalu dia menuju dapur dan duduk di bar kecil, aku ikut duduk dengannya.
"Jadi, namamu bukan Lily tapi Emilya..." ah.. dia juga menyebut namaku dengan pas. Bukan Emilia tapi Emil-ya. Dia menerima nilai tambah padaku.
"Itu nama yang kugunakan saat bekerja..."
Dia mengangguk, "Apa yang biasa kau lakukan? Maksudku pekerjaanmu?"
"Aku bekerja banyak hal..." aku tidak terlalu suka membicarakan pekerjaanku. Itu cukup memalukan untukku.
"Tipe pekerja keras?"
"Begitulah... Apa setiap kekasihmu selalu tinggal di sini?" kuharap pertanyaanku tidak terlalu lancang.
"Begitulah..." dia meniru nada bicaraku dan aku tersenyum kecil.
"Sudah berapa banyak.. Maksudku.." aku menatap dia yang terus menatapku lekat dan itu membuatku ciut, "Lupakan..."
"Aku tidak menghitung sudah berapa banyak wanita yang kutiduri dan biasanya kontrakkku tidak penuh tiga bulan. Yang paling lama adalaaah 1 bulan 17 hari...."
Ah..
"Benarkah?" aku tidak menyembunyikan nada senangku. Bisa saja aku kurang dari itu bukan?
Dia tersenyum miring yang mencurigakan, "Kuharap yang satu ini tidak berakhir membosankan.."
Aku menggigit bibir bawahku sekilas, "Kenapa kau memutuskan kontrak?"
"Kau akan paham sendiri nantinya.."
"Entahlah, kita tunggu tanggal mainnya saja..."
Setiap ucapannya tidak jelas mengarah kemana. Apa dia berpikir bahwa dia juga akan memutuskan kontrak padaku dengan alasan yang sama dengan kekasih sebelumnya. Tiba-tiba, dia bangkit berdiri.
"Aku akan pulang jadi kau bisa membereskan apa pun di sini. Besok malam kita bertemu kembali..."
Aku mengikuti dia yang berjalan mengambil jaketnya lalu menuju pintu luar.
"Satu lagi, aku sudah mengirimkan uang itu ke dalam rekeningmu dan ini..." dia memberiku kartu debit warna hitam, "Untuk biaya hidupmu.. Gunakan dengan bijak..."
Dia segera keluar sebelum aku mengucapkan terimakasih. Aku menutup pintu dan melihat kunci pintunya sudah menempel di sana. Aku berjalan masuk ke dalam apartemen. Aku memasukkan kartu itu ke dalam dompetku dan berpikir tidak akan menggunakannya. Asal dia sudah mengirim $30.000, itu semua sudah lebih dari cukup. Dia boleh mencapku sebagai wanita murahan, tapi aku tidak akan bertingkah seperti itu.
Aku ingin sekali bertanya, berapa banyak yang harus dia tebus pada MJ? Apakah $1000? Atau kurang dari itu.. Ah, bodo amat. Yang terpenting tiga bebanku berkurang. Mj, biaya pengobatan ibu, dan biaya hidup kami. Aku hanya perlu menemani Harry saat malam, maka aku bisa menghabiskan sisa waktuku untuk bekerja.
Aku mengelilingi apartemen itu lagi dan memeriksa setiap kamar. Aku melihat salah satu kamar yang kuyakini sebagai kamar utama karena ukuran ranjangnya lebih besar dan lebih luas. Kamarnya begitu polos dan minimalis. Ada meja rias, lemari, sofa, dan ranjang besar. Aku menelusuri sprei putih itu dengan jemariku dan merasa ngeri. Sudah berapa banyak wanita yang tidur di ranjang ini? 30? Atau lebih...
Aku penasaran dengan gaya bercinta Harry. Apa dia maniak? Atau dia seorang yang sangat kasar? Sial, dia berkata bahwa kontraknya tidak pernah penuh selama tiga bulan, apa sih yang membuat dia memutuskan kontraknya? Aku memeluk diriku sendiri saat merasakan bulu kudukku berdiri. Kuharap, dia ramah juga dalam hal bercinta.
Aku berjalan ke arah jendela dan membuka gordennya. Aku menatap pemandnagan kota New York yang tampak mengerikan saat cerah karena nampak sangat padat, tapi begitu cantik saat malam. Aku memutar tubuhku dan melihat ranjang. Jendela itu menjunjung tinggi dari langit-langit hingga ke lantai seketika pikiran liarku bermunculan. Apa mereka bercinta seraya menatap pemandangan kota New York saat malam?
Aku menggeleng kepala dan menutup kembali gorden. Aku mematikan lampu dan segera keluar dari kamar. Aku harus pulang dan mempersiapakn diriku untuk besok. Apa pun itu, aku harus siap karena aku sudah dibayar untuk ini.
***
Setelah menemui Dokter Andara(dokter yang memeriksa keperawananku tempo lalu) untuk melalukan suntik KB karena aku harus melakukannya sesuai kontrak dna aku tidka keberatan akan itu. Setelah itu aku pergi menuju rumah Spencer dan menjelaskan bahwa ada yang menebusku, dia mengatakan aku begitu beruntung dan aku juga berpikir begitu. Aku hanya datang sekali ke tempat itu dan mendapatkan pria. Muda dan kaya juga. Hah... Aku ingin mengatakan ini keberuntungan, tapi tetap terasa aneh. Aku kembali ke rumah setelah itu dan bersiap pergi ke tempat Harry.
Aku masuk ke dalam rumah dan menuju dapur di mana Hailey sedang memasak dan Will mengerjakan tugas sekolahnya. Aku duduk di samping Will seraya mengelus rambut pirang kecoklatannya yang semakin panjang.
"Sekolahmu menyenangkan belakang ini?"
"Kami sudah libur, Em..." dia melihat ke arahku dengan senyum khasnya, "Sudah seminggu..."
"Benarkah?" aku tidak sadar bahwa dia sudah libur karena aku begitu sibuk dengan duniaku sendiri.
"Ini hanya tugas musim dingin, aku ingin menyelesaikannya lebih awal..." dia menjelaskan apa yang aku pikirkan.
Sial, aku merasa menelantarkan Will akhir-akhir ini dan itu menimbulkan rasa bersalah padaku. Aku baru sadar bahwa dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit sejak libur.
"Kau mau pergi ke taman hiburan besok atau semacamnya?"
"Aku ingin menemani Mom di rumah sakit...." aku melirik ke arah Hailey yang sedikit menunduk, merasa bersalah juga.
"Aku memiliki lebih banyak waktu sekarang dan kita bisa membeli game online atau mainan yang kau inginkan..." aku mengelus rambutnya dan dia menoleh ke arahku.
"Aku senang di rumah sakit karena aku bisa bertemu anak-anak yang sama seperti nenek, mereka lebih ramah dari pada teman di sekolahku. Aku senang punya teman dan aku senang di rumah sakit..." lalu dia menoleh kembali ke tugasnya dan mengerjakannya kembali.
"Baiklah.. Asal kau senang, aku juga senang..." bisikku dan Hailey segera menyajikan makan malam kami di meja. Aku melihat bahwa matanya berkaca-kaca. Harus kuakui bahwa Hailey bukanlah sosok mama yang bertanggung jawab, lemah, dan cengeng. Tapi aku yakin bahwa dia selalu ingin yang terbaik untuk Will dan aku juga begitu. Aku berharap Will menjadi sesuatu yang hebat di masa depan.
***
"Bawalah Will ke pusat perbelanjaan dan beli dia mainan, baju, atau apa pun..." ucapku seraya mengikat tali sepatu bootku.
"Uang dari mana?"
"Aku mengirimkan $1000 ke tabunganmu. Gunakan uang itu untuk belanja barang baru untukmu dan juga Will..." Aku berdiri dan menyandang tas ransel yang gendut ke punggungku.
"Kau sudah melunasi biaya pengobatan Ibu dan kini kau memberiku $1000 untuk belanja. Bukan $100 tapi $1000."
Aku menatapnya, "Jangan khawatirkan dari mana uang itu. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli pada Ibu dan kau, Hailey, sedangkan Julia sudah kuanggap mati. Aku bisa saja pergi dari rumah ini dan menikmati uang ini, tapi aku tidak bisa karena ada Will. Hanya Will seorang yang kupedulikan di rumah ini. Jadi jaga dia baik, Hail..."
"Okay..." ucapnya kecut. Aku tau dia kesal dengan tingkahku yang seolah aku lebih tua dari dia.
"Aku akan bekerja setiap malamnya, jadi tidaak usah menungguku pulang."
"Kau bekerja di mana?
"Pelayan..." ucapku asal, "Aku pergi yah, ucapkan salamku pada Will..."
"Bye.." aku membuka pintu dan segera berjalan keluar. Aku melihat jamku yang menunjukkan pukul 06.30 sore. Aku melihat taxi dan segera mencegatnya. Aku masuk dan memberitahu alamatnya. Selama perjalan aku memikirkan bagaimana malamku nanti berjalan. Kuharap semuanya baik-baik saja.
***
MrsFox