Harry's Love Story

Harry's Love Story
The other people



Happy Reading


****


Harry POV


Aku menatap semua surat tanpa nama yang dikirimkan pada Emilya. Ada total 35 surat dan 15 di antaranya tanpa nama pengirim. Setelah diperiksa menggunakan alat, 15 surat tersebut ternyata ditulis oleh orang yang sama dan dikirimkan tiap minggunya setelah satu bulan buku Emilya dirilis. Aku sudah membaca surat itu semua dan tidak ada isi yang mencurigakan, tapi tetap terasa ganjil.


Hadiah kemarin yang dikirimkan pada Emilya juga tidak memiliki nama pengirim, tidak dikirimkan melalui sebuah destinasi pengiriman, tidak ada sidik jari, tidak ada jejak. Aku benar-benar buntu. Namun, entah kenapa aku merasa bahwa pengirim burung sialan ini adalah pengirim ke-15 pesan itu.


"Aku seperti mengenal tulisan ini..." bisikku lagi untuk kesekian kalinya. Aku yakin pernah melihat tulisan ini entah di mana. Tulisan sambung yang tidak rapi dan terkesan tidak terbaca. Sial... Aku benci saat-saat seperti. Aku tahu tulisan ini, tapi tidak mengingatnya.


"Sir.." Liam memanggil.


"Yah.." ucapku tanpa menoleh padanya dan tetap memandang 15 surat yang di jejerkan rapi di atas mejaku.


"Penulis surat itu pernah mengirimkan boneka kemari."


Aku segera mengangkat kepalaku kepada Liam yang duduk tidak jauh dariku dengan sebuah laptop di pangkuannya.


"Saya memeriksa setiap destinasi yang dipakai oleh penulis surat itu dan ternyata dia pernah mengirim boneka kepada Mrs.Smith..."


Aku berdiri, "Boneka yang mana?" aku menatap tiga boneka yang pernah dikirimkan penggemar Emilya padanya. Ada boneka beruang putih berukuran besar, boneka lumba-lumba ukuran sedang, dan boneka unicorn ukuran kecil.


"Boneka beruang, Sir..." Liam berdiri dan aku segera mengangkat boneka beruang putih itu. Aku menatap boneka itu. Aku memiringkan kepalaku dan entah mengapa aku melihat sebuah kilatan dari mata boneka tersebut. Instingku mengatakan ada yang salah di boneka ini. Aku menarik salah satu mata boneka beruang itu dan aku menahan napas saat melihat sebuah kabel ada di sana.


"Sialan..." bisikku saat mengetahui apa itu. Itu adalah penyadap suara. Aku menarik satu mata boneka lagi dan mendapat kabel yang lain. Kamera tersembunyi.


Selurah tubuhku terasa lemas dan entah kenapa aku seolah kehilangan seluruh tenagaku. Aku melempar boneka itu beserta penyadap itu ke lantai dengan marah. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan aku segera berpegangan pada meja. Aku memejamkan mataku.


"Sejak kapan boneka itu ada?" tanyaku pada Liam.


"Itu dikirimkan dengan surat kedua, sekitar empat bulan yang lalu, Sir..."


Aku memejamkan mataku dan merasakan rasa perih dalam diriku. Dia sudah menonton Emilya selama empat bulan lebih. Penguntit? Siapa? Sialan...


"Periksa semua boneka itu. Periksa sidik jari atau bukti apa pun..."


"Yes, sir...."


Aku berjalan dan kembali duduk di kursiku. Tubuhku tegang walaupun aku berusaha rileks. Aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Aku memikirkan pelaku di balik ini semua. Mulai Max, Zoya, si cowboy itu, dan... Ayah Emilya?


Aku segera membuka mataku saat memikirkannya. Ayah Emilya? Kenapa itu tiba-tiba terlintas di pikiranku? Padahal dia sekarang sudah mendekam di penjara untuk seumur hidupnya, tapi tetap ada kemungkinan. Tetap ada.


"Liam, segera carikan latar belakang Ayah Emilya. Apa yang dia lakukan selama 20 tahun terakhir ini..."


"Yes, Sir...."


****


Albert Teatons. Itulah nama ayah Emilya.  Aku membaca semua latar belakang hidupnya. Dia ternyata buronan internasional karena mengedarkan narkoba dan senjata secara ilegal, memalsukan data diri, memasuki wilayah secara ilegal, dan banyak lagi. Dia sering melakukan transaksi di negara-negara yang berkonflik. Aku membaca semua catatan kriminalnya, satu per satu.


Aku melihat gambar Albert dan menyadari bahwa dia mewariskan warna bola mata yang sama dengan Emilya dan... Julia. Aku membuka lembaran lain dan melihat catatan destinasinya. Dia tidak pernah menetap di satu tempat dan yang terlama hanya sekitar dua bulan. Dia memasuki negara lain secara ilegal menggunakan kapal yang beroperasi mengekspor barang dari satu negara ke negara lain.


Lalu aku melihat catatan telepon dan rekening uangnya sekitar 10 tahun yang lalu. Ada sesuatu yang menarik di sana. Selama lima tahun, ada satu nomor ponsel yang selalu muncul di sana dan satu nomor rekening pula yang rutin dia kirimi uang selama lima tahun.


"Elmira Rogat?" ucapku membaca pemiik nomor ponsel tersebut dan entah kenapa aku merasakan deja vu saat mengucapkan namanya. Rogat? Aku pernah mendengar itu entah di mana.


"Dia diketahui sebagai partner Albert Teatons, Sie. Elmira Rogat juga diketahui sebagai pecandu narkoba, seorang pekerja sekkss komersial, dan sering keluar-masuk kantor polisi, Sir..." jawab Liam.


*Di negara USA, di sebut partner itu mirip ke suami/isteri yang menjalani hubungan layaknya suami-isteri, tapi tidak secara sah secara hukum atau agama.


"Mereka memiliki anak?" suaraku sedikit meninggi saat mengetahui fakta yang tertulis di sana.


"Itu adalah anak dari pihak Elmira yang tidak memiliki hubungan darah dengan Albert, Sir..."


"Elena Rogat?!!" suaraku penuh keterkejutan saat mengetahui bahwa nama anak Elmira adalah Elena Rogat, partnerku sendiri sekitar tiga tahun yang lalu. Elena adalah partner terlamaku di banding yang lain, tapi aku menghentikannya karena dia menginginkan lebih.


Aku menaruh berkas itu lalu berdiri menuju lemari tempat aku menyimpan semua data partnerku terdahulu. Semua tersusun rapi dalam map. Aku mencari map milik Elena. Tanganku bergetar. Mungkinkah.. Mungkinkah semua teror ini di lakukan oleh Elmira atau Elena? Atau mungkin Albert sendiri? Atau mereka bertiga?!


"Elena Rogat...." bisikku saat melihat data miliknya. Aku berdiri dan kembali duduk untuk melihat datanya. Di lembaran kedua aku melihat tulisan tangannya. Tulisan yang sangat mirip dengan ke-15 surat itu. Sialan....


"Periksa tulisan Elena dengan ke-15 surat itu.." perintahku pada Liam.


"Yes, Sir...."


****


Demi apa?! Oh my!!!! Itu tulisan yang sama!!


Elena adalah pemilik ke-15 surat itu. Sialan. Kemungkinan besar dia juga yang mengirim mayat burung itu dan penyebab kecelakaan Cassie. Artinya, selama empat bulan lebih dia memata-matai aku dan Emilya melalui boneka sialan itu. Dia jelas tahu banyak tenang aku dan Emilya, bahkan keluargaku. Aku memejamkan mata, napasku berderu. Marah. Aku begitu marah. Berani-beraninya?!


"Kau sudah mendapatkan di mana keberadaannya?" tanyaku pada Liam.


"Yes, Sir..."


"Mari kita pergi.." ucapku seraya bangkit berdiri. Kami berjalan keluar dari pent-house bersama bodyguardku yang lain.


Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi pengemudi. Ada dua mobil yang menjagaku. Satu di depan dan satu di belakang. Aku perlu pengamanan ketat karena aku tidak akan tahu bahaya apa yang akan kutemui saat pergi ke tempat keberadaan Elena. Dia tinggal di pinggirin kota tempatnya di sebuah apartemen kumuh bersama Ibunya.


Mobil di depanku melaju, diikuti mobilku. Aku menatap lurus ke depan. Memikirkan sebanyak apa yang diketahui Elena. Apa alasannya melakukan semua ini? Apakah karena sakit hati? Atau karena Ayah tirinya dipenjara? Semua alasan itu jelas sangat berhubungan pada Emilya. Semuanya. Entah kenapa harus di saat seperti ini. Di saat terentan Emilya. Dia jelas menunggu momen seperti ini.


Saat kami sudah menjauhi kota dan sudah memasuki jalanan sepi, aku merasakan kecepatan mobil yang kami kendarai kami tidak melambat. Aku memegang pegangan mobil dan menatap Liam.


"Liam, ada apa?" tanyaku saat dia melewati mobil pengawalku yang berada di depan.


"Remnya blong, Sir..." ucap Liam seraya terus-menerus menekan rem yang tidak berfungsi lagi.


Sialan!!!


"Berpegangan, Sir!" teriak Liam dan detik itu juga, mobil kami menabrak pembatas jalan lalu melaju lagi di luar jalur jalan, melaju dengan cepat. Menabrak semak belukar hingga akhirnya....


BRAK!


Mobil menbarak sebuah pohon besar. Tubuhku terdoroong kedepan dan merasakan sakit luar biasa karena dorongan tersebut. Aku menutup mata, menghindari serpihan kaca mobil yang pecah. Lalu airbag mobil segera menggengbung, menyelamatkan nyawa kami berdua.


*Airbag itu kantung udara pada sebuah perangkat keselamatan kendara bermotor mondren


****


Aku duduk dengan kaku di UGD salah satu rumah sakit saat seorang perawat merobek bajuku hingga aku bertelanjang dada. Dia membersihkan luka robekan di belakang punggungku dengan alkohol. Aku menahan ringisan kesakitanku saat itu menyentuh lukaku. Lalu perawat yang lain membersihkan luka goresan di wajahku.


Airbag benar-benar menyelamatkan nyawaku dan Liam. Jika itu tidak ada, aku bisa menjamin kami berdua akan berada di ruangan operasi saat ini juga. Kami hanya menderita luka kecil walau tulang kaki Liam bergesar. Terlepas dari itu, kami baik-baik saja. Dan penyebab itu semua adalah rem blong. Kasus yang sama seperti kemarin. Sialan..


"Tolong berbaring, Sir..." ucap perawat itu, "Saya perlu menyuntikkan anestesi...."


"Tidak perlu..." ucapku.


"Luka anda perlu dijahit, Sir...."


"Apa robekannya dalam?"


"Cukup dalam, Sir..."


Aku memejamkan mata. Jika aku dibius, aku akan kehilangan kesadaran. Padahal, aku benar-benar ingin tersadar saat ini. Namun, aku tidak akan mampu menahan rasa sakit saat lukaku dijahit nanti.


"Harry! Harry!" aku mendengar teriakan Emilya lalu gorden pembatas berwarna biru itu disibakkan, menampakkan wajah merah Emilya. Matanya sembab.


"Harry!" teriaknya histeris dan tidak lama kemudian muncul Ayah, Ibu dan Cassie dengan wajah khawatir. Ibu dan Cassie pun menangis


"Hey..." ucapku seraya terkekeh saat melihat wajah Emilya. Memerah, mata dan wajahnya berair, dan cairan hidungnya menghiasi lubang hidungnya.


"Aku baik-baik saja..." ucapku dengan nada ceria, "Lihat? Hanya luka kecil?"


"Jangan bercanda! Kau pikir ini waktu yang pas untuk bercanda/!" Cassie berteriak kencang padaku dan aku segera menghilangkan senyumku


Lalu Emilya menangis lagi, "Ku.. Kupikir aku akan kehilanganmu!!"


"Sttt..." aku mengelus rambutnya lembut, "Kau bisa menganggu pasien yang lain.."


"Harry! Oh my.. My dear..." Ibu ikut lagi menangis.


"Mam, kami ingin melanjutkan mengobati lukanya. Berikan kami sedikit ruang dan waktu..." ucap perawat.


"Dengar? Mereka ingin mengobati lukaku. Pergilah sebentar..." ucapku penuh nada pengertian pada mereka.


"Ayo.." ucap Ayah mengajak Ibu yang menatapku nanar. Mataku bertemu dengan ayah dan aku mengangguk kecil padanya.


"Jangan menangis lagi... Pergilah, Em..." ucapku pada Emilya


Emilya segera mencium pipiku sekilas lalu menatapku dengan tapapan penuh syukur. Oh... Ingin rasanya aku mencium dia dan memeluknya erat. Menghiburnya, mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Dia jelas begitu mengkhawatirkanku.


"Aku akan baik-baik saja..." bisikku lembut dan dia mengangguk kecil lalu pergi bersama Cassie, "Jaga dia Cassie..." ucapku pada Cassie dan aku tidak mendengar balasan apa pun.


"Bisa kita lanjutkan, Sir?" ucap perawat itu.


"Tentu..."


****


Emilya POV


Aku berjalan seraya bertopang pada tubuh Cassie. Tubuhku terasa lemah. Energiku terkuras habis. Namun, di samping itu semua aku begitu bersyukur karena Harry baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja. Aku menarik napas kemudian membuangnya.


Tiba-tiba aku mendengar air yang menetes, mengalir dari pahaku dan jatuh di lantai rumah sakit. Aku berhenti berjalan lalu Cassie melihat ku kemudian air yang mengalir itu. Aku segera membengkokkan pinggulku kebelakang saat merasakan kram.


"Ah..." ucapku tertahan dna aku meremas tangan Cassie dengan erat.


"Emiya! Apa yang terjadi?!" Cassie berteriak panik, menarik perhatian Pappa dan Mamma yang berjalan di depan kami.


"Oh my! Emilya...." teriak Mamma.


Aku merasakan kram itu lagi.


"Kantung ketubannya pecah..." bisik Mamma dan aku menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan.


Tidak mungkin!! Usia kehamilanku masih 34 minggu!! Ini belum waktunya..


"Mom! Dad! Dia akan melahirkan!!!!!"


****


MrsFox


Hayoo... Siapa yang kemarin bilang Zoya pelakunya?Mcmcm, so udzon kalian yah. Dia kan Dokter, masa berusaha mencelakai nyawa orang lain wkwkwkw. So sorry bgt aku lama update karna mmg kehidupan nyata cukup berat, Bund... Maaf juga masih banyak kekurangan disana-sini di dalam cerita mulai dari pemilihan kata atau kesalahan penulisan. Lop yuh gais. Kalo ada waktu, aku nanti update satu chap lagi yah(kalo ada)