Harry's Love Story

Harry's Love Story
Step One



Happy Reading


***


Aku berlari menuju rumah George dengan tongkat baseball di tangan kananku. Bayangan aku memukul kepala Julia hingga hancur sudah sangat nyata di depanku. Aku akan membuat kepalanya tidak terbentuk lagi, hingga warna rambutnya yang berwarna merah terang berubah menjadi warna merah darah.


Aku tidak peduli lagi jika dia saudaraku. Aku tidak peduli lagi jika itu membuat masa depanku hancur karena aku memang tidak memiliki masa depan apa pun. Aku hanya berkutat di duniaku yang selalu berputar di bawah, selalu di kalangan bawah, dan tidak akan pernah berubah. Inilah garis hidupku dan aku lelah dengan itu. Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membunuh Julia. Persetan jika aku menjadi buronan.


Aku memasuki pekarangan rumah George yang ramai oleh orang dan halamannya penuh dengan gelap styrofoam berwarna merah. Beberapa pasang mata tertuju padaku dan bersiul ke arahku, tapi langkahku tetap lebar dan tegas. Aku masuk ke dalam rumah Geroge yang sangat penuh dengan manusia yang berpesta.



"Julai!!"


Detuman musik terdengar keras, tapi aku tetap berteriak membelah suara detuman musik yang keras. Aku masuk semakin dalam dan melihat dua orang tengah bercinta di sudut ruangaan. Sial. Mereka bercinta di tengah keramaain dan semua orang di sini sangat acuh, seolah itu adalah hal biasa di sini. Aku berbelok dan melintasi sofa yang penuh orang dengan seorang wanita yang telanjang bulat di atas meja. Mereka memainkan sebuah permainan dan aku tidak penasaran permainan apa pun itu.


Lalu, mataku menangkap kilatan merah dari arah dapur. Julia. Aku yakin itu dia. Aku segera berlari ke sana dan melihat dia yang tengah mencumbu seseorang yang berambut pendek pirang di sudut dapur yang sepi. Posisinya membelakangiku sehingga dia tidak menyadari kedatanganku. Aku segera menarik tubuhnya dengan kasar menghadapku.


"What the fu---" sebelum dia menyelesaikan umpatannya, aku segera menampar wajah dengan keras sehingga dia kehilangan keseimbangan dan kepalanya terbentur ke meja makan. Wanita pirang tadi berteriak terkejut. Tanganku berdenyut dan panas.


Aku menarik rambutnya dengan keras dan mengarahkan wajahnya ke arahku. Hidungnya berdarah, bekas tamparan jelas ada di wajahnya, dan dia benar-benar kesakitan. Dan aku menikmati itu.


"Di mana uangku, keparat sialan?!" teriakku


"Lepaskan aku! Aku tidak mengambil uangmu..."


Aku segera meninju wajahnya dan dia menarik kerah bajuku sehingga kami terjatuh ke lantai. Aku duduk mengangkanginya dan mulai memukul-mukul dia dengan kencang. Aku berteriak keras saat dia mencakar wajahku dan menjambat rambutku dengan keras. Dia berhasil meninju mataku dan seketika pandanganku kabur. Tepat saat itu, tubuhku tertarik ke belakang dan tanganku di kunci ke belakang.


"Lepas!Sial!!" aku meronta dan terus meronta, tapi tenagaku tidak mampu melawan seseorang bertubuuh bongsor di belakangku. Dia mengunciku dengan kuat, bahkan mengangkat tubuh kurusku. Aku berhenti meronta dan kakiku tidak lagi menyentuh lantai. Aku menatap Julia yang dibantu wanita pirang tadi. Dia berambut pendek, cepak, pirang, ada tindik di hidungnya, dan aku sadar bahwa itu adalah pacar Julia. Sial. Dia lesbi sialan.


Julia berjalan ke depanku dibantu oleh pacarnya. Wajahnya kacau dan aku senang akan itu. Setidaknya aku berhasil memukul dia tadi. Secara mengejutkan, dia meludahi wajahku sebanyak dua kali. Sial. Itu menjijikkan. Bau ludahnya seperti kotoran yang bercampur alkohol.


"Aku menghabiskan uangmu, Em.. Trims.." sebuah pukulan keras dilayangkan oleh Julia ke wajahku hingga aku kehilangan kesadaran. Tubuhku tumbang di lantai diiringi tawa Julia. Beberapa tangan meraba tubuhku, berusaha mencari sesuatu. Mereka mengambil dompetku. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Hanya pasrah. Aku benar-benar hancur. Dihancurkan saudari kembarku sendiri.


****


Aku membuka mataku dengan tiba-tiba karena mimpi dan sedihnya aku tidak mengingat mimpiku. Lalu aku terpekik pelan saat menyadari aku menatap langit-langit yang berbeda. Bau asap rokok dan parfume tercium begitu pekat di hidungku. Aku membuka mataku perlahan dan bangun untuk duduk. Aku menyadari bahwa aku tidur di sofa dan ada Spencer yang duduk di sofa seberangku.


"Kau sudah bangun.." itu peryataan dan bukan pertanyaan.


"Ummm... Di mana aku?" aku tetap bertanya walau aku tau bahwa aku berada di ruang tamu Spencer. Aku bersandar di sofa dan memijit kepalaku yang sedikit berdenyut.


"Aku menemukanmu di halaman rumah George saat melewati ruamhnya tadi subuh."


"Kau mengangkatku?" aku tidak yakin Spencer sanggup menggendongku walau badanku kerdil.


"Tentu saja tidak. Aku menyuruh orang yang ada di sana dan membawamu ke rumahku karena aku tidak tau apa yang terjadi jika aku meninggalkanmu sendirian di rumahmu"


"Jam berapa?"


"Ini sudah sore dan aku harus segera bekerja. Apa Julia membuat masalah lagi?"


"Begitulah.." aku menatap kosong ke arah Spencer yang duduk dengan piyama navi dan kakinya di silangkan. Dia cukup tau masalah keluargaku karena Hailey sering bercerita padanya, tapi aku tidak keberatan. Spencer adalah wanita baik.


"Kudengar-dengar Ibumu harus di operasi lagi."


"Begitulah..." aku bangkit dan dudukku, "Aku harus pergi sekarang. Terima kasih banyak, Spencer. Aku akan mentraktirmu minum lain kali."


"Kau butuh uang, bukan?"


"Bekerjalah untukku."


"Sebagai pembantu di rumahmu?" candaku. Aku tau jelas tawaran apa yang dia tawarkan padaku.


Aku berjalan melewati lorong rumahnya dan menuju pintu keluar seraya Spencer tetap mengikutiku. Aku keluar dari rumahnya dan berdiri di teras untuk memasang sepatuku. Dia menatapku seraya bersandar di kusen pintu.


"Aku serius. Kau akan di beri uang muka yang cukup untuk operasi ibumu."


Aku menelan ludah seraya bangkit berdiri. Aku memasukkan tanganku ke saku jaket, "Akan kupikir-pikir."


"Jangan lama berpikir. Aku menyukaimu, Emilya. Bekerja sebagai wanita malam bukanlah dosa. Kau hanya butuh uang. Itu saja..."


Aku menggigit bibirku. Aku tidak pernah berpikir ingin seperti Spencer sebagai wanita malam. Dari segi fisik aku sangat buruk. Kurus, datar, dan tidak berbentuk. Beda dengan Spencer, badannya berisi dan gemuk pada tempatnya yang pas seperti pantat, bibir, dan dadanya. Lagi pula aku tidak mau melakukan itu, aku tidak sanggup melakukan itu di saat aku masih berpacaran dengan Max dan aku tidak pernah berpikir melakukan itu.


"Akan kupikirkan.." ucapku akhirnya walau aku tau aku tidak mau memikirkannya lagi, "Bye..."


"Bye..."


Aku berjalan kembali ke rumahku dan membereskan kekacauan yang berada di kamarku. Aku tidak akan mendebat Julia tentang uang itu. Aku sudah pasrah dan aku tidak bertenaga untuk melakukannya. Aku enggan memikirkan tentang uang, Julia, dan segalanya yang menghimpitku. Aku hanya duduk di sofa dengan selimut menutupi diriku, secangkir coklat panas, dan menonton siaran film yang payah hingga cahaya matahari mulai meredup


Ponselku yang berada di atas meja berdering. Aku berusaha meraih ponselku dengan tanganku tanpa mengubah posisiku yang berbaring di sofa lalu menaruhnya ke atas telingaku.


"Halo..."


"Em..." suara Hailey


"Uhm..." ujarku tak semangat.


"Mom ingin bertemu denganmu..."


Sejujurnya, aku tidak terlalu suka dengan ibuku. Tidak ada alaasan khusus kenapa aku tidak terlalu menyukai Ibuku. Hanya saja aku tidka terlalu suka Ibuku. Bagiku, dia bukanlah perwujudan seorang Ibu.


"Aku sibuk..." Sibuk mengurus segalanya.


"Kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa. Dia hanya bertanya tentangmu..."


"Di mana Will? Bukankah dia sekolah besok?"


"Dia menginap di sini denganku. Besok hari libur..."


"Oh.. Aku akan menemui kalian besok pagi...."


"Uhm... Em, bagaimana tentang operasi Mom?"


Pertanyaan Hailey bersamaan dengan Spencer yang lewat di depan rumahku melalui jendela rumah. Dia akan berangkat bekerja. Aku menggigit daging dalam mulutku. Aku tidak memiliki pekerjaan lagi kecuali paruh waktu di toko kaset. Aku tidak akan memiliki pendapatan selama 25 hari ke depan. Julia mencuri semua tabunganku dan Ibuku perlu segera di operasi. Biaya sekolah Will. Biaya hidup kami. Uang beli pembalut pun aku sudah tidak sanggup.


Ahk.... Susahnya menjadi orang miskin.


"Em.. Kau mendengarku?"


"Yah. Tenang saja..."


"Tenang saja?" saut Hailey yang keheranan mendengar nada suaraku yang santai.


"Jadi harus apa? Panik? Menangis histeri? Tenanglah Hailey... Situasi menjepit seperti ini bukan terjadi pertama kalinya dalam hidup kita.. Sudah yah.. Aku ingin istirahat..." aku segera memutuskan panggilan tanpa mendengar ucapan terkahir Hailey.


MRS FOX