
Happy Reading
***
"Emilya?" Max segera berjalan ke arahku seraya melambaikan tangan padaku. Napasku tercekat. Aku menoleh ke arah resepsionist, dimana Harry masih fokus berbicara pada pekerja di sana.
"Max...." bisikku saat dia berdiri di depanku.
"Astaga.. Suatu kebetulan luar biasa. Aku tidak menyangka kau menginap di sini...."
Aku menelan ludahku dengan susah payah.
"Max..." ucapku lagi. Masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Dari sekian banyaknya hotel di Los Angeles, kenapa harus di sini?
"Sedang apa di LA? Dengan siap?" tanyanya penuh keceriaan, "Astaga, Em.. Aku belum percaya melihatmu di sini...."
Aku juga. Aku juga tidak percaya bisa bertemu dengannya di sini. Dia segera menarik tubuhku untuk memelukku. Aku tidak bisa menolak dan dengan canggung aku membalas pelukannya. Dia melepas pelukan setelah beberapa saat. Dia tersenyum lebar, sangat lebar.
"Aku merindukanmu, Em... Astaga. Kau tidak tau betapa senangnya aku melihatmu di sini..."
"Ku pikir kau berada di Seattle..."
Dia menggaruk belakang lehernya, "Aku memiliki urusan di sini bersama teman kuliahku... Bagaimana denganmu? Siapa temanmu datang ke sini?"
"Ah... Aku.." aku berdehem sekali seraya memikirkan alasan yang masuk akal.
"Emilya?" jantung berdegup kencang saat mendengar suara Harry. Sial. Sial. Sial.
"Hey..." ucapku, "Max dia Harry. Harry ini Max, kekasihku..." ucapku dengan nada ceria yang menyebalkan. Aku tidak berani melihat mata mereka berdua. Astaga. Ada keheningan yang mencengkam terjadi untuk beberapa saat sebelum akhirnya Max berbicara.
"Max Logan..." Max menyalam tangan Harry.
"Harry Smith...."
Max menatapku, meminta penjelasan.
"Dia pacar temanku, Max. Lyli..." entah kenapa nama Lyly terlintas di otakku.
"Lyli?" ulang Max, "Ah... Kau menemani temanmu yang bernama Lyli kemari?"
"Yah.. Dan kami ingin pergi sekarang..."
"Lyli sudah menunggu di mobil...." ucap Harry dan aku benar-benar bersyukur dengan sikap bekerja sama Harry, "Aku akan menunggu di mobil karena Lyli sudah menunggu..."
"Yah.. Sure..."
Harry mengangguk sekali pada Max, sebelum akhirnya dia pergi.
"Wow... " ucap Max, "Dia benar-benar mengintimidasi..."
"Ah, dia memang begitu...."
"Jadi kau akan pergi? Kau tidak berduaan dengannya, bukan?" ucapnya dengan nada menyelidik.
"Aku? tidak, aku sudah bilang aku bersama Lyli...."
"Aku tidak tau kau punya teman sedekat itu hingga bepergian bersama...." gumamnya, "Kau akan menginap di sini, bukan?"
"Hanya malam ini, besok kami pindah penginapan..."
"Oh, begitu.. " dia mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kita bicara besok, yah?" ucapnya dengan nada ragu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi seolah terhalang akan sesuatu.
"Okay, kita bicara besok... Aku pergi. Mereka sudah menungguku..."
Dia mendekat dan mengecup bibirku sekilas, "I love you..."
"Love you..."
"Aku serius, Em..." dia memegang kedua bahuku
"Max, kau kenapa? Aku juga serius...." aku tertawa kecil, "Aku pergi... Bye.."
"Tunggu... Di mana cincinnya?" dia melihat-lihat kedua tanganku.
Aku menarik kalung yang menggantung di leherku, "Aku takut hilang maka aku menaruhnya di sini..."
Dia diam.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan, Max.... Mereka sudah menungguku. Aku pergi yah..." aku mengecup pipinya sekilas sebelum akhirnya bergerak. Aku mengambil jaketku dan segera pergi berjalan. Aku menoleh sekali dan melambai tangan padanya. Dia menatapku tajam. Wajahnya tegang. Dia tau aku berbohong, tapi aku pura-pura tidak mempedulikannya. Aku tidak akan memikirkannya hari ini. Besok, besok aku akan memikirkan ini.
****
"Aku akan membayarnya segera..." ucap Julia pada lawan bicaranya.
"Jika kau berbohong, aku akan benar-benar akan membunuhmu Teatons..." wanita berkulit hitam itu melepas kerah baju Julia, "Akhir bulan ini jika kau masih belum membayarnya. Aku bersumpah akan membunuhmu...."
"Ya.. Ya..." Julia memperbaiki kerah bajunya, "Akan kubayar segera..."
"Akhir bulan ini...." ucap wanita itu seklai lagi dengan nada mengancam.
Julia memutar matanya setelah wanita dan kekasihnya itu pergi. Julia segera menatap ke arah kaca kamar. Wajahnya kacau. Semua kacau. Sial.. Dia benar-benar terjepit saat ini. Detuman musik terdengar begitu keras di bawah membuat kepalanya ingin pecah. Dia sedang berada di salah satu kamar milik rumah George, merenung setelah diancam. Ketukan pintu terdengar samar dan segera seorang wanita berambut pirang cepak masuk. Bambi, kekasih Julia.
"Semua okay?" wanita itu duduk di sampingnya dan melingkarkan tangannya di leher Julia.
Julia menggeleng, "No.. Mereka meminta bayaran akhir bulan ini..."
"Sudah kukatakan jangan berurusan dengan mereka...."
Julia memutar matanya lagi, dia tidak butuh nasihat menyebalkan saat ini. Dia butuh uang, bukan kata-kata sok menasihati.
"Aku akan mencari cara. Tidak usah menasihatiku..." Julia menepis tangan Bambi dan segera berdiri.
"Mau ke mana? kau tidak pulang ke rumah malam ini?"
"Mencari uang.."
Bambi menahan Julia dengan memegang salah satu pundaknya, "Aku tau kau tidur dengan pria lain akhir-akhir ini, Juls..."
"Sial... Persetan dengan perasaanmu.." Julia segera mengenakan jaketnya dan berjalan keluar dari rumah yang padat itu. Persetan dengan Bambi. Dia tidak membantu sama sekali akhir-akhir ini. Dia berjalan di trotoar dan rasa pusing segera menghantam kepalanya. Dia bingung. Dia tidak akan bisa menghasilkan uang sebanyak $10.000 dalam waktu singkat. Tidak bisa.
Dia berhenti di depan rumahnya. Uhm.. Dia pun bukan lagi bagian keluarga sialan ini. Emilya sudah mendepaknya. Sial.. Mengingat wajah Emilya membuat darahnya berdesir. Si sialan itu. Dia memejamkan mata dan mulai memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan.
Dia membuka mata saat memikirkan sesuatu yang hebat. Dia tersenyum. Hanya ini satu-satunya cara. Emilya pasti memiliki uang yang sangat banyak sekarang karena si sialan itu pasti sudah menjadi simpanan pria kaya. Julia menarik napas dan berjalan meninggalkan rumah itu, ada satu cara dan itu benar-benar cara yang hebat. Terkadang, rencana hebat hanya datang saat posisimu benar-benar terjepit.
Dia mengambil ponselnya dan segera menekan nomor Max. Dia menunggu beberapa saat kemudian, hingga akhirnya itu tersambung. Julia tersenyum.
"Max... Hai. Ini Julia. Kau ingat aku bukan?"
"Ah, Julia. Halo, ada apa?"
"Aku punya sesuatu yang ingin kukatakan padamu..."
****
Harry POV
"Makanlah..." ucapku pada Emilya. Aku enggan membicarakan apa yang baru terjadi.
"Maafkan aku soal tadi, Harry..."
"Aku tidak ingin membicarakannya.."
Aku marah. Jelas. Aku tidak suka keadaan seperti ini.
"Harry... Keadaannya benar-benar di luar kendaliku. Aku tidak tau dia ada di sana..."
"Barangmu dan barangku sudah di ambil dari hotel. Kita pindah malam ini..."
"Harry..." ucapnya memelas. Kenapa lagi sih dengan dia?
Aku meletakkan garpu dan sendokku. Lalu mataku menatap dia.
Dia mengalihkan tatapannya dariku, "Aku perlu bicara padanya, Harry. Tidak bisakah kita menunggu besok agar pindah?"
"Kenapa aku harus peduli. Itu urusanmu, Em..."
Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Aku membayarmu, Em dan sudah seharusnya kau melakukan apa yang harus kau lakukan. Kau partnerku dan dalam kontrak, kau dilarang disentuh pria lain..."
"Sial... Kau tidak sebaik yang kubayangkan..."
"Baik? Kau salah menilaiku... Aku bukan orang baik, Em...."
Dia menatapku nanar.
"Aku tidak memperlakukanmu istimewa hanya karena aku mengajakmu bepergian. Aku juga melakukan hal yang sama dengan kekasihku yang lama..."
Aku mengatakan kebohongan lain. Aku tidak pernah mengajak mantan kekasihku berpergian bersamaku. Tidak ada. Aku mengatakannya hanya untuk menyakitinya. Melampiaskan kemarahanku.
"Harry... kau tidak perlu mengatakan hal seperti itu..."
"Hanya karena orangtuaku mengenalmu, itu tidak berarti banyak.... Jangan merasa istimewa, Emilya... Kau tetaplah Emilya..."
"Jika kau mengatakannya karena marah, aku akan maklum. Tapi, jika kau--"
"Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, Emilya... Aku tidak mengatakannya hanya karena aku marah. Kau pikir aku senang saat dia menciummu tadi? Di kontrak, itu benar-benar tidak diperbolehkan..."
"Aku..."
"Kupikir kau berbeda, tapi ternyata sama saja..."
"Apa? Apa maksudmu?"
"Kenapa kau marah, Em?" ucapku santai. Aku tau, apa yang kukatakan ini benar-benar sudah di luar batas. Namun, aku tidak bisa menahan hasrat untuk menyakitinya. Hasrat ingin melampiaskan.
Di menutup mulutnya dan segera berdiri, "Aku pulang... Aku ingin pulang..."
"Jangan bertindak bodoh, kau baru sampai enam jam lalu di sini..."
"Aku tidak peduli... Persetan dengan kontrakmu. Aku akan pulang malam ini juga..."
Aku segera berdiri dan menahannya. Dia memutar tubuhnya dan segera aku merasa bersalah saat melihat air mata di pipinya. Wajahnya memerah.
"Jangan bertindak bodoh... banyak orang yang melihat..."
Dia memutar tangannya, "Aku tidak peduli... Aku hanya ingin pulang..."
Dia segera berjalan meninggalkan restoran dan aku segera mengikutinya. Aku tidak tahan menjadi pusat perhatian di sini. Aku mengikutinya dan segera menahan lift di mana dia berada. Aku bersyukur di lift hanya ada kami berdua.
"Kau tidak bisa pulang..." ucapku tegas.
"Aku pulang..."
Aku menatap pantulan wajahnya yang memerah. Dia menutup mulutnya dengan lengan jaketnya. Sial, aku kehilangan kata-kata sekarang.
"Baiklah.. Jika kau ingin pulang, pulang saja.. Aku akan menyiapkan penerbangan untukmu."
"Tidak perlu. Aku akan menggunakan pesawat komersial..."
"Aku yang membawamu ke sini dan itu tanggung jawabku..."
"Aku tidak mau..." sial. Dia sangat keras kepala, sama seperti Kenny.
Aku segera mengarahkan tubuhnya ke arahku dengan memegang kedua bahunya,
"Kenapa kau sangat keras kepala? Apa kau marah karna ucapanku?"
"Lepaskan aku, Harry. Aku sedang tidak ingin membicarakannya..."
"Kau kenapa, hah? Kenapa?"
Dia menengadah dan melihatku, "Apa kau hanya menganggapku hanya sebagai partner pemuas nafsumu?"
"Apa?" aku menatapya dengan tatapan tidak percaya, "Apa maksudmu?"
"Jawab aku... Apa kau hanya mengganggapku sebagai partner saja?"
"Emilya..." bisikku. Sial.. Jangan sampai dia mengatakan kata-kata sialan itu.
"Aku menyukaimu... Aku menyukaimu, Harry..." ucapnya dengan nada putus asa dan aku segera merasa kengerian saat dia mengucapkannya. Sial.. Kenapa bisa begini?
Aku segera melepas tanganku dari bahunya, bersamaan dengan lift yang terbuka.
"Emilya?" aku menoleh dan melihat pacar sialannya sedang berdiri di sana. Sial. Kenapa dunia ini begitu sempit?
***
"Aku pergi sebentar..." ucap Max pada temannya.
"Ke mana?" tanya seorang dari mereka.
"Hanya sebentar. Aku perlu memastikan sesuatu..." Max segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mengarahkan GPS ke tempat yang dikatakan Emilya. Dia mengirim pesan pada Emilya dan bertanya di mana mereka makan malam.
Julia baru menghubunginya dan mengatakan hal yang tidak masuk akal, tapi dia memercayainya.
"Dia menjadi simpan seseorang..."
Itulah yang dikatakan Julia. Hanya beberapa kata itu dan segera jantung Max berdetak kencang. Sial. Entah kenapa dia merasa bahwa yang dikatakan Julia benar. Bayangan saat melihat pria tadi. Max bukanlah pria bodoh, dia jelas tau ada sesuatu yang terjadi antara Emilya dan pria bernama Harry itu.
Bagaimana cara pria itu menatap Emilya sangat berbeda. Itu adalah tatapan saat kau melihat seseorang yang istimewa. Dan tataapannya begitu mengintimidasi saat mereka bersalaman tadi. Marah, jelas pria bernama Harry itu marah. Marah akan sesuatu.
Dia memutar mobilnya menuju tempat itu dan merasakan kaki kanannya bergetar gugup. Dia takut. Dia jelas takut. Emilya... Sial, dia benar-benar mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Jika.. Jika sampai yang dikatakan Julia benar, Max tidak tahu harus bagaimana. Benar-benar tidak tau.
Max memasukkan mobilnya ke dalam basement dan segera keluar menuju lift dengan tergesa-gesa. Dia berdiri di depan lift dan menekan-nekan tombolnya dengan terburu-buru. Dia mengambil ponselnya dan mencari kontak Emilya. Dia baru akan menekan nomor Emilya, sebelum akhirnya lift terbuka.
Jantung seolah berhenti berdetak saat melihat Emilya ada di sana bersama pria itu. Dan yang membuat semuanya terasa jelas adalah saat melihat wajah merah Emilya. Dia menangis. Sial... Tidak mungkin. Seluruh darah seolah berhenti mengalir.
"Emilya?" ucap Max dengan nada sedih, hancur, dan rapuh. Dan mereka berdua melihat ke arah Max
****
"Aku ingin ganti warna rambut..."
"Sekarang?" ucap penata rambut itu.
"Uhm.... Aku ingin buang sial awal tahun ini. Aku ingin warna seperti ini..." ucap Julia seraya menunjukkan foto milik Emilya. Penata rambut itu mengambil ponsel milik Julia.
"Apa ini wajahmu saat masih polos?"
"Polos?" ucap Julia dengan nada jenaka, "Apa itu benar-benar kelihatan seperti diriku?"
"Memang ini siapa lagi kalau bukan dirimu?"
Julia hanya melihat penata rambut itu dari kaca seraya tersenyum lebar. Sial... Dia benar-benar bahagia. Sangat bahagia. Setelah menghubungi Max tadi.. Astaga.. Julia bahkan tidak menyangka bahwa Emilya dan Max sedang berada di LA. Kenapa waktunya bisa sepas ini? Astaga, keberuntungan memang selalu ada saat terjepit.
"Kau benar. Siapa lagi kalau bukan aku..."
"Biasanya kau selalu ingin warna nyentrik... Kau yakin ini seleramu?"
Julia mengambil ponselnya kembali dan menatap foto lawas milik Emilya. Dia tersenyum manis di kamera, rambut coklat kehitamannya yang panjang. Julia selalu gonta-ganti warna rambut karena dia benci dikatakan sangat mirip dengan Emilya, tapi... Khusus untuk saat ini, dia benar-benar butuh berpenampilan seperti Emilya.
"Yah... Ini seleraku..." bisiknya penuh arti seraya menatap wajah Emilya, "Benar-benar seleraku...."
****
MrsFox
Ada yang bisa menebak, Bastian (kawan Harry) bakal nimbulin masalah apa? Kalo Julia udah jelas banget kan dia mau ngapain.. Jangan lupa dukungan kalian my luvvvvv, like, koment, vote, love, dan jangan lupa tambahkan di favorit. Lop yuh from the moon to earth and back gaisss