Harry's Love Story

Harry's Love Story
What? The baby?!



Happy Reading


***


Harry POV


"Astaga... Harry.." ucap Emilya dengan nada penuh keterkejutan dalam pelukanku. Dia memelukku erat. Begitu erat.


"Hai..." bisikku seraya mengusap kepalanya lembut. Aku menghirup wangi unik Emilya yang terasa menenangkan.


Aku melepas pelukan dan Emilya menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Ah.. Kau tidak senang melihatku?" tebakku karena ekspresinya yang menahan tangis.


Dia menggeleng kemudian menarik tanganku masuk ke dalam rumah. Dia membawaku terus melewati lorong rumah yang sempit lalu Emilya membuka pintu. Aku langsung melihat hamparan padang rumput yang luas. Emilya mendorongku dengan lembut duduk di kursi santai yang ada di teras belakang rumahnya.


"Um.. kau ingin minum apa? Aku punya jus jeruk, kopi, susu, teh, sirup, dan..." Emilya memutar matanya, berusaha mengingat sesuatu, "Beer.. Jadi kau ingin minum apa?"


Aku tertawa kecil lalu menarik dia untuk duduk di pangkuanku. Dia bersandar di tubuhku dan aku bersandar pada punggung kursi santai.


"Aku tidak ingin minum...." aku mengecup pipinya lembut, "Aku hanya ingin kau di sini..."


Dia menatapku.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja menemuimu..." aku melingkarkan tubuhku di sekitarnya.


"Kau harusnya memberitahuku..."


"Aku ingin ini jadi kejutan..." ucapku lembut.


"Jadi, kapan kau sampai di sini?"


"Tiga hari yang lalu....."


Segera Emilya bangkit dari sandarannya dan menatapku heran.


"Ti.. Tiga hari?"


Aku mengangguk kecil dan menarik dia lagi untuk bersandar di tubuhku, tapi dia menolak.


"Tiga hari yang lalu dan kau baru menemuiku sekarang?" ucapnya dengan nada kecewa.


"Aku memiliki sedikit urusan..."


Dia memutar bola matanya dengan jengkel, "Kau selalu memiliki banyak urusan..."


"Aku serius..." aku menarik tubuhnya kembali ke sandaranku dan dia tidak menolak.


"Urusan apa yang kau lakukan di sini?"


"Meminta izin..." ucapku dengan nada kalem dan dia segera menatapku dengan tatapan penasaran.


"Meminta izin apa?"


"Aku meminta izin pada Dr.Murphy dan istrinya serta Bibimu...."


Dia segera bangkit dari sandaranku dan menatapku heran.


"A-- Apa?"


Aku tersenyum kecil lalu menarik tangan kirinya dan tidak melihat cincin yang kuberikan padanya. Aku mengelusnya lembut lalu menatap dia.


"Kau tidak memakai cincin yang kuberikan?"


Dia menarik tangannya lalu melipat itu di dadanya, "Jangan mengalihkan pembicaraan. Kenapa kau menemui Dr. Murphy dan istrinya serta Bibi Debs? Ah... Bagaimana bisa kau mengenali mereka?"


"Untuk ini..." aku menarik tangan kanannya lalu mengecupnya lembut, "Aku meminta izin untuk mengenggammu seperti di di altar pernikahan, Em..."


"A.. Apa?" bisik Emilya.


Aku tersenyum kemudian menarik kepalanya mendekat padaku, menciumnya dengan lembut. Angin sejuk bersembus, dersik menerbangkan daun-daun, dan bunyinya begitu menenangkan. Aku mengeratkan pelukanku pada Emilya. Kepalaku beradu dengannya.


Aku menggigit dan menarik bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya melepas panguutan itu. Napas kami terengah dan dahi kami saling menempel. Aku memejamkan mata, rasanya seperti di surga.


"Kau tidak mengenakan cincin yang kuberikan?" tanyaku lagi dan Emilya segera menjauh.


Dia menatapku lalu menghembuskan napas pendek, "Aku memakainya.." ucapnya seraya merogoh sesuatu dari balik kerah kemejanya lalu menampakkan kalung bermata cincin yang kuberikan.


"Aku harus membantu Bibiku di pertanian ini dan aku takut kehilangan cincinnya jadi aku membuat seperti ini...."


Ah.... Aku tersanjang karena ucapannya.


"Jadi.. Kau meminta izin pada Bibi debs dan Dr. Murphy?"


"Yah..."


"Untuk menikahiku?"


"Yah, Emilya Teatons..."


Dia melipat tangannya di dada dan menatapku dengan tatapan menuduh penuh penilaian.


"Tapi, kau belum mendengar persetujuanku, apakah aku mau menikahimu atau tidak..."


"Tentu kau mau..." ucapku tegas, penuh percaya diri.


Dia mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa kau begitu yakin kalau aku akan menerimamu?"


"Um... Karena.." aku memelankan suaraku lalu menyentuh perutnya, "Karena ada sesuatu di sini..."


Dia segera membelalakkan matanya, "Apa?"


****


Emilya POV


"Karena ada sesuatu di sini...."


Aku segera membelalakkan mata saat Harry menyentuh perutku, "Apa?" ucapku setengah histeris.


Dia hanya tersenyum kecil, "Aku melakukannya karena aku takut kau akan meninggalkanmu lagi..."


Apa? Kenapa? Aku tidak paham apa yang dia bicarakan.


"Apa maksudmu, Harry..."


Dia menatapku seolah sedang berpikir, "Sudah berjalan dua minggu setelah kita tidur bersama seharusnya kita sudah bisa mengeceknya...."


Aku segera berdiri dan menatap Harry penuh ketidakpercayaan.


"Maksudmu kau tidak memakai pengaman saat kita melakukannya?" biskki pelan.


"Yah.. Uhm.. Maksudku--.."


Aku membuka mulutku penuh ketidakpercayaan.


"Harry? Bagaimana bisa... Bagaimana bisa kau melakukannya?" aku kehilangan kata-kata.


Dia berdiri di depanku, "Maafkan aku, Em.." dia mengusap wajahnya yang sekarang sedikit panik.


"Kau sengaja melakukannya?"


Aku suka anak-anak dan tentunya aku ingin memiliki bayi lucu bersama Harry. Namun, tidak saat ini. Maksudku, setelah kami menikah tentunya.


"No... Tentu saja tidak..." ucapnya tegas, "Terjadi sedikit kecelakaan kecil saat kita melakukannya..."


Aku menatapnya. Menunggu dia menyelesaikan perkataannya.


"Pengamannya robek, Em.." ucapnya pelan, takut. Ujung telinganya memerah. Sial. Sial.


"Bocor?"


Dia menganngguk dan aku segera terduduk lemas di kursi santai. Sial. Aku seperti kehilangan seluruh kekuatanku. Harry segera bersimpuh di lututku. Aku menutup mataku lalu menarik napas dan membuangnya perlahan. Aku melakukannya beberapa kali, berusaha meredakan gejolak di dadaku.


"Em.. Katakan sesuatu." ucap Harry dan aku hanya diam. Astaga. Tentu, tentu aku ingin seorang bayi mungil dan lucu. Namun, bukan seperti ini. Aku menginginkannya saat aku menikah secara hukum dan agama. Astaga. Aku benar-benar kehilangan kata-kataku sekarang.


"Apa ini alasanmu mengajakku menikah segera?"


Jika ya, aku akan merasa kecewa karena dia tidak menikahiku karena dia ingin, tapi karena aku hamil. Yah.. Yah.. Aku tahu bahwa seharusnya aku bersyukur karena dia mau bertanggung jawab, tapi.. Tapi. Ahk!! Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"No.. Of course not.. Aku melakukannya karena aku ingin dan aku benar-benar mencintaimu, Em. Melebihi apa pun..."


Aku membuka mataku dan menatapnya yang menatapku sungguh-sungguh. Sial. Aku sangat cepat luluh.


Aku berdiri dan Harry berdiri.


"Kau tidak marah?"


"Yah.. Tentu saja aku marah..." ucapku dengan senyum seadanya.


"Ah... Aku sudah membeli test pack untukmu."


Aku menatapnya dengan tatapan terkejut. Dia jelas sudah merencanakan ini.


"Aku akan mengambilnya untukmu dari mobil..."


Lalu Harry pergi dan aku berjalan ke kamar mandi untuk mengeluarkan air seniku. Aku keluar dari kamar mandi dan menatap Harry yang berdiri dengan sekotak test-pack di tangannya.


"Wow.." ucapku pelan saat dia menggoyang kotak tersebut.


Harry berjalan ke arahku dan memberikannya padaku.


"Aku hanya perlu satu..."


"No.. Kau perlu beberapa untuk bisa menarik kesimpulan.." ucapnya dengan gaya khasnya. Aku memutar mata dan segera mengambilnya dengan kasar. Aku masuk dan segera mengunci pintu kamar mandi.


"Kau tidak perlu menguncinya.." ucap Harry dari balik pintu.


"Aku butuh privasi.."


Aku mengambil 10 test pack sekaligus dan melakukan semuanya sesuai petunjuk. Aku membariskan sepuluh test pack itu dan menatapnya penuh harap. Astaga. Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa. Aku menunggu. Jantungku berdegup kencang.


"Em..." suara Harry menginterupsi dan aku segera memejamkan matakuu kesal.


Sialan. Jangan menggangguku.


Aku membuka mata lagi.


Dan...


"Oh my. Sial.." bisikku.


Aku hamil..


***


Harry POV


Aku mengetuk pintu itu pelan, takut membuat Emilya semakin kesal. Ah.. Ini kesalahanku. Memalukan. Padahal aku tipe manusia yang sangat jarang melakukan kesalahan apa pun. Sangat jarang. Namun, sial.. Andaikan malam itu aku bisa menahan biirahiku sendiri, itu tidak akan robek. Namun.. Namun, aku tidak bisa menahannya. Benar-benar tidak bisa.


"Em.." panggilku dan pintu segera terbuka.


Kami saling bertatapan.


"Bagaimana hasilnya?" tanyaku sedikit santai, berusaha menyembunyikan antusiasmeku. Jauh dari lubuk hatiku, aku benar-benar ingin dia hamil. Sangat ingin.


"Aku hamil.." bisiknya dan aku berteriak bahagian dalam hatiku. Aku bisa saja berteriak bahagia sekarang, tapi aku takut dengan perasaan Emilya. Aku takut dia tidak menginginkan kehamilan ini.


"Aku.. Aku hamil, Harry...." ucap Emilya dengan nada bergetar. Sial. Dia akan menangis. Dia benar-benar kecewa? Sekecewa apa?


Tiba-tiba Emilya memeluk tubuhku erat, sangat erat.


"Aku hamil.. Kita akan menjadi orangtua, Harry..."


Akhirnya.. Dia bahagia. Dia menerimaku dan calon bayi kami. Sial. Astaga. Aku memeluknya erat. Begitu erat. Aku benar-benar bersyukur. Aku belum pernah sebersyukur ini selama hidupku. Tidak pernah.


"Kita akan menjadi orangtua..." ucapku lagi.


"I love you, Harry.."


"I love you so much, my dear..."


****


Sore menjelang malam kami akhirnya pergi ke pekan raya setelah drama kecil kami. Kami berjalan di kerumunan orang yang banyak dan tangan kami bergenggaman erat. Lampu-lampu kuning menyala memenuhi lapangan luas tersebut. Stand-stand makanan berdiri di kanan-kiri jalan setapak, menawarkan berbagai makanan. Ada juga yang menjual pernak-pernik khas Texas. Ada berbagai wahana dan permainan. Sangat ramai. Sangat menyenangkan.


"Kau harus memakai sepatu booth juga.." ucap Emilya padaku dan aku segera menggelang.


"Aku tidak menggunakan hal semacam itu..."


"Padahal aku benar- benar ingin kau mengenakan topi dan boots cowboy."


"Aku lebih nyaman dengan ini..." ucapku merujuk kaos hitam, jaket kulit coklat, celana jeans hitam, dan sneakers yang kupakai.


"Padahal, sepertinya bayi kita mengingin--"


"Emilya!" suara pria yang berat memotong perkataan Emilya dan kami menoleh ke kiri, ke arah sumber suara.


"Jackson..." ucap Emilya dengan nada ceria yang dilebih-lebihkan dan dia juga segera melepas genggaman tangannya dariku. A--Apa?!


"Senang melihatmu di sini..." ucap pria berpakaian khas layaknya seorang cowboy.


"Aku juga..." lalu mata pria bernama Jackson itu melihatku. Apa yang kau lihat sialan?


"Ah... Jackson, ini Harry Smith dan Harry, ini Jackson Hemsworth.."


Kami berjabat tangan dan mengangguk sekali.


"Harry Smith, tunangan Emilya..." ucapku padanya dengan nada posesif dan aku tahu ini konyol. Aku tahu Emilya sedang menatapku penuh keheranan sekarang.


"Ah.. Jackson Hemsworrth. Senang berhemu anda." lalu dia berlaih ke Emilya, "Jika sempat berkunjunglah ke stand milik keluargaku. Aku akan menyuruh mereka memberimu menu spesial secara gratis..."


"Wah.. okay. Trims, Jack..."


"Aku harus pergi.."


Yah. Pergilah kau sialan.


"Bye, Jack..."


Lalu si cowboy sialan itu pergi dan aku segera menggenggam tangan Emilya erat.


"Harry.. Kenapa kau agresif begitu?"


"Karena dia ingin masuk ke dalam celana dalammu, Em..."


"Harry.. Dia pria tersopan yang pernah kutemui di kota ini..." ucap Emilya dengan nada membela yang terdengar menyebalkan di telingaku.


"Baiklah.. baiklah..." ucapku dengan nada mengalah. Aku tidak ingin membuat dia marah lagi.


Aku dan dia akhirnya menghabiskan waktu bersama hingga malam akhirnya datang. Kami mencoba berbagai permainan dan makanan. Yah.. Akhirnya kami pergi ke stand makanan milik Jack, untungnya aku tidak melihat dia di sana. Lalu aku menarik tangan Emilya menjauh dari kerumunan.


"Ayo.." ucapku.


"Ke mana?"


"Aku ingin menunjukkan sesuatu..."


"Sebentar lagi pesta kembang api..." ucap Emilya, "Kita tidak bisa melewatkannya..."


"Ada yang hal penting yang ingin kutunjukkan padamu, Em..."


***


Emilya POV


Aku kehilangan kata-kata saat melihat rangkaian lilin dan bunga mawar merah yang di susun sedemikian rupa.


"Aku tidak pernah sekalipun memberikan padamu hal romantis seperti bunga dan lilin, Em..." ucap Harry yang berdiri di belakangku dan aku hanya menatap itu semua dengan terpana. Oh my..


"Harry.. Ini.." aku kehilangan kata-kataku sendiri dan segera membalikkan badanku ke arahnya. Aku menutup mulutku terkejut saat melihat Harry bersimpuh di sana dengan membuka kotak cincin. Sial. Oh my,... Dia melamarku?!


"Aku bukan pria baik, tapi aku ingin membahagiakanmu dengan semua yang kumiliki dan menghabiskan sisa waktuku bersamamu, Emilya Teatons. Memilik anak-anak bersamamu, menikmati keindahan dunia bersama, melakukan hal baru bersamamu, dan selalu bersama dalam keadaan sulit atau baik, sehat atau tidak, dan di setiap keadaan apa pun... I want you to be my lady, Emilya... Will you marry me?"


Aku menangis. Aku terharu. Astaga. Aku tidak bisa menahan emosiku yang membuncah. Oh my.. Pria besarku.


"I will... Aku mau, Harry..." ucapku dan segera Harry memasangkan cincin itu di jari manisku lalu bangkit untuk ememlukku erat.


"Thank you, Em..." ucap Harry seraya mengangkat tubuhku untuk berputar. Aku tertawa. Tertawa penuh kebahagiaan.


****


MrsFox


Aku masih berpikir, kapan selesianya cerita ini wkwkw.