
Happy Reading
***
Harry POV
Aku menatap layar in-focus dan sesekali menoleh ke kertas dokument yang ku pegang. Aku mengetuk-ketuk jemariku secara bergatian ke meja dalam kegelapan. Aku tidak fokus. Aku memperbaiki posisi dudukku, lalu jemariku memutar-mutar jamku yang berbentuk lingkaran. Aku memejamkan mata dan..
'ah.... Harry'
Aku segera membuka mataku dan menyadarkan diri. Sial, suara desahan dan erangan Emilya memenuhi otakku akhir-akhir ini. Itu membuatku tidak fokus. Sebentar saja aku lengah, suara dan banyangan tubuhnya akan memenuhi diriku.
Aku membuka kerah bajuku yang paling atas saat merasakan sesak dan panas secara tiba-tiba. Aku menyilangkan kakai dan memajukan tubuhku seraya menggosok-gosok daguku dengan tangan kiriku. Aku kembali fokus melihat dan mendengar presentasi rapat.
Ruangan begitu gelap dan hanya ada cahaya dari layar in focus.
Entah kenapa, terasa sangat hening...
Panas, padahal sedang musim dingin...
"AH!!"
Pekikan Emilya yang keras menghantam dan memenuhi kepalaku. Sial. Aku gagal fokus. Napasku semakin cepat dan jantungku berdebar keras. Aku menelan ludah dan menggenggam pinggiran meja dengan tangan kananku, aku menggenggamnya begitu erat, seolah menahan sesutu. Uh.. Sial, suara Emilya begitu menghayati, lembut, nakal, dan....
Aku segera menyadarkan diriku sendiri. Kenapa pula aku mendeskripsikan itu? Tarik napas, tahan, dan buang dengan perlahan Harry. Tarik lagi, tahan, dan buang perlahan.. Yah perlahan.. Sangat perlahan, Emilya bergerak begitu perlahan saat itu, menggoyangkan pinggulnya dengan penasaran, dan itu perlahan masuk sedikit demi sedikit dan...
"Sir?"
Aku segera sadar saat aku merasa dipanggil. Aku melihat bahwa presentasi telah selesai dan lampu sudah dinyalakan. Sial, sejak kapan? Aku terlalu sibuk memikirkan semua itu. Biasanya aku tidak begini, aku bertingkah seperti remaja yang baru pubertas. Aku berdehem dan kembali bersikap profesional.
"Saya akan sampaikan pendapat dan pertimbangan saya di rapat berikutnya." ucapku dengan nada datar, dingin, dan tegas. Aku melihat pria yang jauh lebih tua dariku itu, air mukanya berubah. Dia jelas takut karena aku tidaak menanggapi presentasi yang dia berikan seolah dia telah melakukan kesalahan yang besar. Uhm.. Padahal akulah yang salah karena tidak tau apa yang sedang di jelaskan.
"Kita akan lanjutkan rapat di minggu berikutnya, " aku berdiri dan sekretarisku segera membereskan dokumentku yang di atas meja, "Dan yah, saya suka presentasi anda." ucapku dengan senyum teramah yang kumiliki, setelah aku segera keluar dari ruang rapat. Huhh... Aku perlu menemui Emilya saat ini juga.
***
"Hai... Kau pulang lebih awal.." suara Emilya segera menyapaku saat aku sampai di apartemennya. Dia membalikkan badannya kembali ke arah televisi. Dia tengah menonton acar televisi di sofa. Aku segera membuka jasku dan memeluknya dari belakang. Aku menghirup wangi sabun yang bercampur dengan pewangi pakaian dari tubuhku. Aku mencium dan sedikit menghisap leherny.
"Aku merindukanmu, Em..."
Dengan agresif, aku segera bergabung dengannya di sofa dan menindihnya, dia tersenyum manis padaku seraya mengalungkan tangannya pada leherku.
"Aku juga.." bisiknya dan aku segera mencium bibirnya. Aku menarik keluar sweaternya dan dia membuka kancing bajuku. Aku melakukannya begitu tergesa-gesa seolah kami akan kehabisan waktu jika tidak melakukannya sekarang. Aku berdiri di atas lututku dan segera membuka gesperku, napasku memburu sangat cepat.
"Easy, Harry..." ucap Emilya yang menyadari tingkahku seperti yang kesetanan.
Aku tersenyum miringnya, "Aku tidak bisa lagi menahannya, kau membuatku gila satu harian ini..."
Aku menarik celana serta pakaian dalamnya turun dan menggantungkannya di atas paha
"Aku akan melakukannya dengan cepat dan keras..." aku mulai memposisikan diirku pada Emilya, "Sangat keras..."
Dan...
"Sial.. Apa yang kau lakukan?" aku menaikkan suaraku saat Emilya tiba-tiba mendorong tubuhku menjauh karena ponselnya berbunyi.
"Maafkan aku.." dia kembali duduk dan menarik celananya, wajahnya berubah pucat dan panik.
"Ada yang salah?"
"Bukan.. Berikan aku tiga menit Harry...." dia mengambil ponselnya yang tetap berdering seraya memperbaiki posisi bra yang masih menempel di badannya.
"Emilya, kau tidak bisa melakukan hal yang tadi. Itu benar-benar..." suaraku terdengar putus asa dan aku segera menarik celanaku ke atas, "Sudahlah, aku kehilangan moodku. Memang siapa yang menelpon hingga kau melakukan ini?"
"Harry, hanya tiga menit..." dia segera pergi menjauh dariku dan aku melihatnya yang menjauh. Dia mengabaikanku? Aku menarik napas dengan tidak percaya. Ah, ini tidak boleh begini. Dia tidak boleh menghentikan aktivitas seperti tadi secara tiba-tiba. Itu membuatku kesal, marah, dan kecewa. Itu pertama kalinya aku diperlakukan seperti itu. Bayangkan, aku sudah memasukkan milikku dan dia mendorongku. Kau tau, aku seperti merasakan serangan jantung ringan secara tiba-tiba.
Aku berdiri seraya melepas gesperku dan memperbaiki posisi celanaku. Aku berjalan ke arah tempat Emilya, aku harus bertanya siapa dan apa yang terjadi.
***
Dengan panik, aku segera menjauh dari tempat Harry. Astaga! Aku mendengar dering ponsel khusus Max saat aku bercinta dengan Harry. Itu membuatku panik dan segera mendorong tubuhnya. Max menelpon di waktu yang tidak tepat. Sial, apa yang harus kujelaskan pada Harry setelah ini?
Aku sedang di dapur dan aku berharap Harry tidak datang ke sini. Aku menarik napas dan membuangnya secara perlahan untuk mengatur napasku yang tidak teratur. Aku berdehem sekali dan segera menerima panggilan dari Max.
"Em.." suara Max segera menyapaku dan suara kebisingan lainnya. Sepertinya dia sedang berada di dekat jalan raya yang padat.
"Max..." ucapku seceria mungkin.
"Coba tebak sesuatu, sayang?"
"Apa? Menebak apa?"
"Apa keributan yang terdengar tidak terasa asing bagimu?"
"Keributan? Kau ada di mana, Max?" aku memulai menggigiti kukuku.
"New York!"
"New York?" bisikku.
"Yah.. Kau terkejut bukan? Aku sengaja tidak memberitahumu agar ini menjadi kejutan...."
"Oh my..." aku kehilangan kata-kata sekarang.
"Di mana kau bekerja, aku akan menjumpaimu di sana. Aku ingin kencan denganmu..."
Aku memejamkan mata, sial, sial, sial.. Kenapa di saat yang tidak tepat? Astaga. Aku begitu terjepit.
"Em? Babe? Kau masih di sana..."
"Yah.. Yah. Aku kehilangan kata-kata saking terkejutnya..."
"Jadi di mana kau bekerja agar aku mendatangimu..."
"Tidak perlu, Max. Aku sudah selesai bekerja. Aku.. Aku akan menjumpaimu. Kau ada di mana?"
Sial, inilah keputusan terbaik. Aku harus menyakinkan Harry setelah ini.
"Alun-alun kota Time Square. Kau yakin bisa?"
"Aku bisa, Max.. Aku akan tiba di sana 30 menit lagi jadi masuklah ke kafe atau apa...."
"Yeah, bye Em..."
"Bye, tidak sabar untuk melihatmu, Max..."
Aku segera mematikan ponselku.
"Itu siapa?"
"Oh my!!" aku berteriak kencang saat mendengar suara Harry yang tiba-tiba muncul. Dia berdiri di ujung pintu masuk dapur. Aku menaruh tangan kiriku di dada, sial.. Ku pikir aku akan mati muda jika begini terus
Dia tetap berdiri pada posisinya dan air mukanya jelas tidak senang.
"Harry.. Aku memiliki keadaan terdesak dan aku harus pergi sekarang.."
"Sekarang?" suaranya meninggi, marah dan kesal.
Aku menelan ludah, "Aku akan menjelaskan semuanya besok. Kumohon, Harry. Ada keadaan yang sangat mendesak. Harry, please..." aku memohon dan suaraku terdengar putus asa, setengah ingin menangis.
Dia memejamkan matanya dan mengalihkan wajahnya dariku, "Hanya sekali, Em.. Hanya sekali ini dan kuharap besok kau bisa memberikan alasan yang bagus..." dia membalikkan badannya dan segera pergi. Aku mengekor kepadanya menuju ruang tamu dan segera memakai pakaianku dengan cepat. Aku memaki jaketku yang tebal dan terakhir syalku. Aku tidak tahu kemana Harry pergi, tapi aku terpaksa pergi tanpa pamit padanya.
Maafkan aku, Harry
****
MrsFox
1 atau 2 eps bakalan di update nanti yah sekitar sore deh pokoknya. Mohon bersabar. Makasih gais yang udah setia. Lop yahh