
Happy Reading
***
Emilya POV
"Apa kau yakin aku tidak perlu mengantarmu?" ucap Mr.Lee saat kami berjalan di lobi gedung restoran. Ini saatnya kami pulang dan aku tidak menyangka sekarang sudah hampir pukul dua belas malam.
"It's okay, Sir.. Aku sudah memesan taxi.."
"Aku bisa mengantarmu jika kau segan karena Mr.Lee lelaki..." timpal Mrs.Potter.
Aku tersenyum, bingung sudah menjawab ini.
"Terimakasih untuk makan malamnya Mr.Lee dan Mrs.Potter... Saya pulang lebih dulu." aku menunduk sekali.
"Baiklah... Bye, Ms.Teatons.." ucap mereka berdua dan aku segera berlalu dari mereka. Aku keluar dari lobi dan melihat taxi yang kupesan sudah di sana. Aku berjalan dan segera masuk ke dalam taxi.
"Ms.Teatons?"
"Yah.." ucapku pada supirnya. Tanpa basa-basi yang lain, supir itu melajukan mobilnya di jalanan New York yang masih saja cukup ramai walau tidak macet.
Aku memijit pelipisku saat merasakan pusing. Uh.. Aku minum terlalu banyak, tapi anggur yang dibeli Mr.Lee benar-benar enak. Ah.. Dengan gaji pertamaku nanti, aku akan membeli anggur mahal dan meminumnya bersama Bibi dan Hailey.
Hailey....
Di bandara saat itu, dia memberiku sesuatu dan sesuatu itu adalah sebuah syal berwarna biru gelap, nyaris seperti hitam dan itulah yang kulilitkan sekarang di leherku. Dalam mengobati masalah psikoligisnya, Hailey belajar merajut dan dia belajar dengan cepat.
Aku menyentuh syal yang melilit di leherku. Dia benar-benar berbakat dalam hal seperti ini. Awal tahun lalu, dia mulai belajar menjahit dan sekarang dia sekarang semakin mahir, bahkan dia sudah dapat pekerjaan lepas ebagai penajhit. Aku senang akhirnya dia menemukan sesuatu yang bisa dia lakukan sendiri.
Mungkin, setelah pulang dari New York aku akan memperbaiki hubunganku dengannya. Will sadar hubungan kami renggang dan itu benar-benar tidak baik. Bibi juga tau jelas itu dan terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman pada bibi Debs setiap kami dalam satu tempat. Ah.. Kuharap aku bisa memperbaiki hubungan dengannya sebelum dia menikah dengan tukang jagal itu.
Aku membuka tas kecilku saat merasakan taxi perlahan melambat. Aku merogoh beberapa lembar uang dan memberikannya pada supir tersebut. Aku keluar dan berjalan masuk ke dalam hotel. Lalu, aku melangkah masuk ke dalam lift.
Aku bersandar di dinding lift kemudian mengambil ponselku dari dalam tas. Aku menghidupkan kembali ponselku yang kusengajakan tidak aktiv karena jika aku membiarkan ponselku tetap hidup, mungkin aku akan lebih fokus melihat ponselku seraya menunggu sebuah pesan dari 'dia' dari pada memperhatikan Mr.Lee dan Mrs.Potter. Saat layarnya sudah menyala, ada beberapa notifikasi muncul. Iklan, email, dan pesan dari nomor asing. Aku membukanya tanpa rasa curiga.
'Kuharap kita bisa minum teh malam ini. --H--'
Itu di kirim jam sembilan malam, sejam setelah aku sampai di restoran. Dia jelas mengirim ini setelah kami bertemu di restoran tadi. Aku menggeleng kepala dan mematikan ponselku. Tidak penting. Dia jelas tau aku memiliki makan malam saat itu dan dia mengajakku. Jika dia benar-benar ingin
Aku segera keluar dari lift setelah pintu terbuka. Aku berjalan di sepanjang lorong hotel yang sepi. Ah.. Aku benar-benar ingin segera berbaring dan menikmati acara televisi. Aku berjalan dan menengok seseorang berdiri di depan kamarku. Semakin dekat, aku semakin tau siapa itu. Dia menoleh ke arahku.
"Harry?" tanyaku. Terkejut mengathui dia ada di sini
"Oh.. Hy?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menunggu..."
"Siapa yang kau tunggu?"
"Siapa lagi kalau bukan kau..."
"Untuk?"
"Minum teh?" dia mengangkat botol anggur pada tangan kanannya.
"Ini sudah malam..." Itu adalah ucapan secara halus untuk menyuruhnya pulang.
Lalu dia hanya menatapku,lekat. Sial. Aku segera mengalihkan tatapanku padanya. Aku merogoh tasku untuk mengambil kartu pass milikku.
"Sudah berapa lama kau menunggu?" tanyaku.
"Cukup lama...."
Aku sudah memegang kartu pass milikku. Aku menelan ludah. Apakah aku harus membiarkan dia masuk?
"Seberapa lama?" tanyaku lagi.
"Setelah melihatmu di restoran itu, aku menuju kesini..."
Jam delapan malam artinya hampir empat jam. Mungkin dia bohong? Namun... Uh. Sial. Aku selalu lemah
"Ayo..." bisikku seraya membuka pintu. Lemah. Terlalu lemah.
****
Harry POV
Emilya menuangkan anggur yang kubawa ke atas cangkir teh.
"Hanya ini gelas yang ada..." ucapnya.
Aku mengangguk kecil dan tetap melihatnya yang duduk di depanku.
"Ada apa?" tanyanya dan akhirnya menoleh kepadaku.
Banyak yang ingin kukatakan padanya. Sangat banyak. Namun, aku tidak tahu harus memulai dari mana.
"Bagaimana kabarmu, Emilya?"
"Baik. Bagaimana denganmu?"
"Tidak terlalu baik...."
Aku mengangkat cangkirku dan menyodorkan pada Emilya, "Cheers?" dan Emilya mengangkat cangkirnya.
"Cheers.."
Aku menyesap anggur itu tanpa melepas tatapanku dari Emilya.
"Jangan menatapku seperti itu.." ucapnya seraya menaruh cangkirnya kembali.
Aku tidak bisa. Tidak bisa tidak menatapnya.
"Apa yang kau lakukan di New York...."
"Ada beberapa urusan yang perlu kulakukan..."
Urusan? Urusan apa? Katakan. Katakan padaku, Em...
"Urusan apa?"
Dia mengedipkan matanya, "Pekerjaan..."
Sial. Bisakah dia memberitahuku secara jelas?
"Siapa pria yang bersamamu tadi?"
"Harry..." ucapnya dengan nada peringatan yang lembut.
Ya..Ya..ya.. aku tau aku terlalu ikut campur dan terlalu mengorek infomasi dari dia.
Aku meneguk anggur itu hingga habis dan diikuti oleh Emilya.
"Aku meminta maaf.." ucapku akhirnya.
"Untuk?" Emilya menuang anggur itu lagi padanya dan padaku. Minuman ini jelas membuat kami lebih rileks.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana..." bisikku, "Namun, aku tahu apa yang terjadi pada waktu itu. Malam di mana aku memper--"
"Stop.." ucap Emilya, "Kau tidak perlu meneruskannya.." ucapnya dengan lembut.
"Aku yang salah... Aku minta maaf, Em..." ucapku tulus. Aku menatapnya dengan tatapan nanar.
"Aku telah melupakannya, Harry...."
"Bisakah.. Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi hari itu?"
"Sebelumnya kau berkata kau telah tau.."
"Namun, aku ingin mendengarnya dari mulutmu...."
Dia meneguk anggurnya hingga habis, "Ini membuatku rileks..."
Aku diam dan dia mulai menatapku, menatapku jauh seolah mencari sesuatu di wajahku. Lalu dia mulai bercerita tentang hal yang sudah kutahu. Dia menceritakan kecelakaan Max dan keadaan Ibunya yang kritis. Dia juga menceritan tentang Julia yang menyamar seperti dia.
"Lalu.. Julia telah meninggal.."
"Aku tahu itu.."
"Bagaimana kau tahu?" aku bisa melihat tatapannya yang sendu. Walau senyum menempel di bibirnya, aku bisa merasakan lukanya.
"Karena aku tahu..'
"Kau tahu, tapi tidak menghadiri pemakaman Julia."
"Aku menghadirinya, Emilya dan Ibu juga. Aku menghadirinya..."
"Julia? Tidak ada satu pun yang menghadiri pemakamannya..." ucapnya dengan nada menuduh. Suaranya hancur. Ah.. Emilya.
"Aku hadir setelah kau pergi dari sana..."
Dia menatapku kemudian meneguk anggur itu lagi.
"Kau sudah meminum terlalu banyak..."
"Kau tidak bisa membedakan aku dan Julia..." itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Nada suaranya penuh nada terluka, "Kini giliranku."
Dia mentapku lekat, pupilnya membesar, dan wajahnya memerah.
"Sejauh apa... Sejauh apa yang kau lakukan dengan Julia?"
"Aku hanya menciumnya..."
"Jangan bohong. Kumohon. Jangan membohongiku..."
Aku berdiri dan berjalan perlahan ke arahnya. Aku duduk di sampingnya.
"I'm not...." bisikku seraya mengelus wajahnya. Dia memejamkan matanya, menikmati sentuhanku.
"I miss you..." bisikku dan perlahan aku mendekatkan wajahku padanya dan dia memejamkan matanya.
Aku menyentuh bibirnya dengan bibirku dan aku segera merasakan rasa manis dari anggur yang dia minum. Begitu manis. Begitu kenyal. Aku menghisapnya dengan pelan kemudian aku menggigit lembut bibir bawahnya. Tanganku mengelus punggungnya dengan lembut.
Aku menjauhkan mulutku dari dia, memberi kesempatan kami berdua untuk menarik napas. Aku menatapnya. Napasnya terengah dan tatapannya tertuju pada mulutku seolah memohon. Cantik. Dia cantik. Oh my.. Betapa aku merindukannya. Aku segera menciumnya lagi dengan lembut.
Tanganku melepas gulungan rambutnya, membuat itu tergerai. Aku membawa tubuhnya untuk berdiri dan dia segera mengalungkan tangannya pada leherku. Kami bergerak dengan perlahan serta tanganku menuju kancing gaunnya. Aku menariknya turun.
Aku melepaskan panguutanku padanya dan menaruh kedua tanganku padanya lehernya yang hangat. Aku menjatuhkan lengan gaunnya ke bawah dan meninggalkan dia dalam balutan pakaian dalam dan stoking hitamnya. Sial. Dia benar-benar panas. Aku mengelus lengannya dengan lembut.
"Cantik.." bisikku seraya mengecup bahunya dengan lembut.
Aku kembali menatapnya. Tatapannya tampak tidak fokus.
"Kau berputar.." ucapnya.
Apa?
"Kupikir aku akan pingsan..."
"Sekarang?" tanyaku dan detik itu juga, tubuh Emilya jatuh dalam pelukanku.
Aku terkejut dan segera tertawa kecil. Sial. Bisa-bisanya dia pingsan di saat seperti ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan segera menggendong Emilya ke tempat tidur. Aku membaringkannya dengan lembut di atas ranjang. Aku menelan ludah. Sial.
"Mungkin tidak hari ini..." bisikku lembut.
Aku berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian untuknya. Aku melepas stoking, dan branya. Aku tau jelas bahwa memakai bra saat tidur tidak baik untuk kesehatan. Aku memasangkan baju dan celana pada Emilya. Kemudian aku menatapnya.
"Seharusnya tidak kubiarkan kau minum terlalu banyak..." aku mengelus rambutnya lembut.
"Mmm--mmmm" ngingau Emilya dalam tidurnya.
Aku menarik napas dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Lalu aku mengecup dahinya dengan lembut.
****
Emilya POV
"Sial..." itulah yang kuucapkan setelah mataku terbuka.
Aku segera duduk dan memijit pelipisku yang pening. Bisa-bisanya aku pingsan semalam. Tiba-tiba bunyi bel kamarku terdengar dan aku segera bangkit berdiri. Aku baru menyadari bahwa aku tidak mengenakan bra karena 'itu' sedikit bergoyang. Lalu aku tersadar bahwa aku memakai baju yang berbeda dari semalam. Oh.. jelas dia juga memakaiankan aku baju.
Aku membuka pintu sedikit dan melihat seorang pelayan ada di sana dengan sebuah kereta dorong.
"Yah?" tanyaku
"Selamat pagi, Ms.Teatons. Saya ingin mengantarkan pesanan ini."
Hah?
"Sepertinya terjadi kesalahan. Aku tidak memesan apa-apa..."
"Ini dipesan oleh pria bernama Harry Smith dan ditujukan untuk anda, Ms..."
Ah..
"O--Okay.." ucapku seraya membuka pintu lebar. Tidak mungkin aku menyuruhnya pergi.. Aku tetap berdiri di dekat pintu dan melihat pelayan itu menyajikan makanan tersebut. Setelah, pelayan itu pergi.
"Thank you.." ucapku ramah.
"Yes, Ms.."
Aku menutup pintu dan segera berlari kecil menuju sofa. Aku duduk dan menatap nampan lebar itu. Aku membuka penutup makanan tersebut dan segera wangi menyenangkan tercium di hidupku. Ada sup dengan daging, roti begel, pancake, madu, dan teh. Sempurna.
Aku menyalakan televisi dan menikmati makananku. Lalu ponselku yang berada di atas meja bergetar. Aku buru-buru mengambilnya dan melihat ada satu pesan di sana.
'Selamat makan...'
Itu jelas dari Harry. Aku segera tersenyum lebar. Astaga. Perasaan apa ini? Kenapa terasa menyenangkan?
'Thank you' Balasku pada pesan Harry. Setelahnya, aku menyimpan nomor ponsel Harry. Lalu, aku segera menyadari sesuatu. Ah.. Kenapa seperti ini? Aku buru-buru menghapus nama Harry dari daftar kontakku. Namun, kemudian aku menambahkannya kembali ke dalam kontakku.
Sial. Sekarang aku merasa beruntung. Aku beruntung bisa pingsan semalam, jika tidak... Ah. Sial. Sadar Emilya. Jangan mudah jatuh dalam godaan pria. Aku tau dia sangat tampan dan menggoda, tapi jangan terlalu gampangan. Tahan nafusmu, wanita sialan.
Aku menggerutu pada diriku sendiri. Lalu mataku melihat sebotol anggur yang kami minum semalam, masih tersisa sedikit lagi. Aku tidak akan membiarkannya masuk dengan mudah ke kamar ini. Tidak akan. Namun,pada akhirnya aku menambahkan harry ke dalam kontakku. Betapa tidak konsistennya aku.
***
Harry POV
'Kau sibuk saat ini?'
Aku mengirim satu pesan pada Emilya. Aku menunggu berapa menit hingga aku mendapat pesan darinya.
'Yah.'
Singkat, padat, dan menyakitkan.
'Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sore ini. Kau mau?'
'Tergantung tempatnya...'
Aku tertawa kecil.
'Aku tidak akan membawamu dalam bahaya. Aku janji...'
'Okay...'
'Jadi kau ikut atau tidak? Jika ya, di mana aku menjemputmyu?'
Aku melihat ponsel itu seraya menghitung di dalam hatiku. Aku mengetuk-etuk jemariku di meja. Sial. 30 menit sudah berlalu. Bagaimana bisa dia belum juga membaca pesanku? Aku hendak menghubungi Emilya, tapi ponselku segera bergetar.
'15 street, Penerbit X.."
Segera aku tersenyum. Pilihan bagus, Em..Aku segera memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku dan segera mengenakan jasku. Aku berjalan pergi meninggalkan ruang kerjaku.
"Good Evening, Sir.." sapa sekretarisku.
"Aku akan pulang lebih awal hari ini..."
"Yes, Sir..."
Aku berjalan ke arah lift dan menekan tombol buka. Aku menunggu lift terbuka lalu bunyi TING terdengar. Aku hendak melangkahkan kakiku masuk, tapi aku berhenti melihat Zoya ada di dalam lift. Well.. Kejutan yang lain. Dia tidak pernah datang ke tempatku sebelumnya.
"Zoya...." ucapku sebagai bentuk sapaan.
"Harry... Tepat waktu sekali." ucapnya dengan wajah berseri, lalu menarik tanganku masuk ke dalam lift.
"Ada apa?" ucapku. Zoya menggenggam tanganku dan bersandar pada bahuku.
"Coba tebak..." aku diam, membiarkan dia segera mengatakan maksud dan tujuannya, "Orangtuaku ingin bertemu denganmu dan mereka mengajakmu makan malam bersama di kediaman kami..."
"Ah.. Zou, aku sudah memiliki acara hari ini..." ucapku, "Mungkin lain kali..."
"Oh.. Itu mungkin bisa menunggu karena orangtuamu akan ikut juga makan malam bersama kita..."
Aku menoleh ke arahnya. Menatap wajahnya yang berseri-seri.
"Kenapa?" tanyaku
Kenapa? Apakah ada sesuatu yang penting.
"Kenapa? tentu saja membicarakan pernikahan kita.."
Apa?
***
Emilya POV
Aku berdiri di lobi gedung penerbit W setelah mengerjakan proyek novel baruku yang akan diterbitkan seraya menunggu kedatangan Harry. Dia mengajakku secara tiba-tiba dan itu benar-benar mengejutkanku. Jujur. Aku merasakan pergumulan saat dia mengajakku pergi, antara ya dan tidak. Aku berpikir untuk menolaknya, tapi... Tapi, hati kecil berkata bahwa aku menginginkannya.
Huff..
Di sinilah aku berada, menunggu kedatangannya. Sudah berlalu sekitar 20 menit sejak pesan terakhir kami. Wajar, mungkin efek macet. Aku bertanya-tanya, ke mana dia akan membawaku. Sialnya, pent-house milik Harry terus terbayang di otakku.
Hentikan pikiran kotormu, Ms.Teatons.
Namun, ke mana pun itu aku yakin itu akan menyenangkan.
****
Author POV
Malam sebelumnya, 11.00 PM (Pukul 9 Malam)
Zoya menatap layar ponselnya dengan ekspresi marah. Dia melacak ponsel Harry dan menemukan pria itu tidak pulang ke pent-housenya, tapi berada di hotel ini. Sudah dua jam Harry ada di sana. Pikiran Zoya dipenuhi pertanyaan kenapa Harry di sana dan siapa yang dia temui.
Zoya memejemkan matanya dan menggeram marah. Harry tidak akan pergi dari tempat itu malam ini. Zoya yakin itu. Dia mematikan layar ponselnya dengan marah dan matanya menatap hotel itu. Zoya yakin bahwa pria itu bersama wanita. Sial. Berani-beraninya bermain gelap di belakangku, pikir Zoya.
"Aku ingin kau menyuruh orang mencari tahu apa yang dilakukan Harry di sana dan siapa yang dia temui..." ucap Zoya dengan nada marah.
Pengawal wanita itu menatap tuannya dari kaca spion.
"Yes, Ms.Clark..."
Zoya memejamkan mata, "Bawa aku pulang..."
Lalu mobil itu melaju dan meninggalkan hotel tersebut..
"Persetan, Harry..." ucapnya dengan marah. Sial. Dia mencintai pria itu dengan tulus. Dan apa? Dan ini yang dia dapatkan... Sial.
****
MrsFox
Actually, aduh..., gimana bilangnya yah. Jujur bukan ini sih skenario awal aku tentang cerita ini dan aku sempat nge-stuck tentang ide ceritanya walau sedikit udah ada gambaran gimana jalannya cerita ini. Sekarang, aku merasa pembawaan novel aku jadi pasaran :'). But, hope you enjoyed it guys. Okay, anyway.. Aku sekarang udah mulai ngerjai project novel baru aku dan masih berlatar di New York(Kalian ada request negara lain? Boleh koment yah.Sapa tau kalian bosan cuma New York ajah terus.) Wait for my New novel yah gais... Jangan lupa dukungan kalian. Lop yuh gaisss