Harry's Love Story

Harry's Love Story
My Lady



Happy Reading


****


Aku membaringkan kepalaku di atas lengan Harry dan Harry mengelus rambutku dengan lembut. Itu adalah hubungan intim terhebat, terpanas, dan terlama yang pernah kulakukan. Dan semua hubungan intim yang kulakukan bersama Harry.


"Aku baru tau kau bekerja di toko kaset itu.." ucap Harry.


"Itu karena aku tidak memberitahumu..."


"Aku pernah datang ke toko itu sekali sekitar enam bulan lalu, tapi aku tidak ingat pernah melihatmu di sana..."


"Mungkin saat itu aku tidak ada di sana..."


"Apa lagi yang kau kerjakan?"


Aku menatap langit-langit kamar yang remang.


"Dulu aku bisa melakukan 2-3 macam pekerjaan setiap harinya..."


"Sebanyak itu?"


"Yah... Sulit menemukan pekerjaan tetap karena aku hanya lulusan SMA.."


"Kau keberatan jika aku bertanya tentang keluargamu?"


Aku melirik ke arahnya, "Tanya saja sesukamu..."


"Kenapa kau bisa berada di posisi ini? Sebagai tulang punggung...."


Aku menerawang dan mengulang beberapa kenangan dalam memoriku. Aku tidak tau harus memulai dari mana.


"Uhm... Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku berasal dari kota kecil di Virginia, bukan?"


"Yah..."


"Orangtuaku menjalankan sebuah pertanian dan peternakan dulu di sana sampai aku berusia sekitar 13 tahun. Ada seseorang yang menawarkan sebuah bisnis pada Ayahku di New York dan dia menerimanya. Awalnya hanya dia yang pergi ke New York sementara aku, Ibu, dan saudaraku di Virginia menjalankan pertanian. Singkat ceritanya, bisnis Ayahku sukses di New York hingga membuat dia berani membawa kami sekeluarga pindah ke New York..."


Aku kembali mengingat memori saat Aku, Julia, dan Hailey begitu bersemangat saat Ayahku menceritakan rencana tentang kepindahan kami ke New York. Saat itu belum ada teknologi sehebat sekarang yang bisa menunjukkan kemegahan New York melalui ponsel dan hanya berdasarkan cerita-cerita serta beberapa foto Ayah di New York-lah kami tahu tenang New York.


Lampu-lampunya....


Lalu lintasnya yang padat...


Gemerlapnya kota itu...


Dan semua tentang New York membuat kami bertiga begitu senang dan bahagia tenang rencana kepindahan itu. Wajar, kami lahir dan besar di lingkungan pertanian. Tidak penah melihat gemerlapnya kota. Hanya bisa melihatnya dari televisi.


"Ibu sempat menentang karena jika kami pindah, pertanian, rumah, dan peternakan kami haruslah kami jual..." Aku ingat malam-malam saat orangtuaku berdebat, "Namun, akhirnya Ayahku dapat menyakinkan Ibuku agar kami pindah ke New York..."


Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Awalnya semua berjalan baik. Kami punya rumah yang layak, mobil, dan bisnis Ayahku berjalan lancar. Namun, itu hanya berjalan selama dua tahun.. Bisnis Ayahku bangkrut, orangtuaku berkelahi hampir setiap hari, Ayahku mabuk-mabuk dan suka memukul lalu mereka berpisah, Ayahku pergi entah kemana, dan bummmmm... Di sinilah aku berada sekarang menyadari bahwa kota New York bukanlah tempat yang menyenangkan..."


Lalu hening. Aku menoleh ke arah Harry yang sedang menatapku.


"Kenapa diam?"


"Aku tidak tau harus bereaksi apa pun..."


"Kau tidak perlu mengasihaniku..."


"Apa hanya kau yang bekerja di keluargamu?"


"Yah begitulah.. Kakakku memiliki fisik lemah, lalu adikku...." Aku mengingat Julia. Si sialan itu, "Adikku sedikit tidak bisa diandalkan dan suka bikin masalah...."


Dia mengecup pipiku sekilas, "Kau wanita yang tangguh, Em..."


Aku memutar mataku, geli atas pujian Harry, "Tidak juga..." aku segera memtur badanku dan memindahkan kepalaku dari lengan Harry ke atas bantal, takut membuat dia pegal. Aku menatapnya, lalu tanganku terangkat dan menyisihkan rambut Harry yang sedikit menutupi dahinya.


"Bagaimana denganmu, Harry? Ada apa denganmu dan wanita misterius itu?"


"Dia menikah dengan orang lain..."


Wah.. Begitu jelas, singkat, dan padat. Dia menolak Harry dan menikahi pria lain. Sehebat apa pria itu hingga bisa mengalahkan Harry yang nyaris tampak sempurna? Tampan, kaya, dan baik.Dia punya segalanya, tapi apa yang tidak dia miliki hingga membuat wanita itu memilih pria lain?


"Wah.. Aku tidak bisa membayangkan ada wanita yang bisa menolak pesonamu..."


Dia tertawa kecil mendengar ucapanku.


"Sebenarnya dia pacarku sejak masa SMA dan kami sempat bertunangan..." Harry memutar-mutar ujung rambutku di jemarinya, "Namun, ada kejadian yang terjadi hingga membuat aku dan dia berpisah..."


"Aku memiliki banyak waktu untuk mendengarkan kisahmu Harry..."


Lalu dia tertawa kecil lagi.


"Itu cerita yang sangat panjang, Em hingga kupikir aku bisa menjadikan kisah itu sebagai sebuah novel... Yah, itu kisah yang sangat panjang dan rumit hingga membuatku tidak sanggup melupakannya..."


Memangnya serumit apa?


"Apa kau belum bisa melupakannya?" ada nada terluka di sana saat aku menanyakannya.


"Belum... Belum bisa."


"Dia pasti wanita yang sangat unik hingga membuatmu tergila-gila padanya..."


"Begitulah.. Banyak pria yang menyukainya..."


Wah.. Banyak pria yang menyukainya sudah cukup jelas bahwa wanita itu pasti sangat cantik dan memiliki sesuatu yang tidak di miliki wanita lain.


"Bagaimana denganmu dan Max, Em?" tanyanya.


"Yah begitulah.. Kami benar-benar berpisah..."


"Apa--"


"Aku tidak ingin membicarakannya, Harry..."


"Oh.. Okay. Maafkan aku.."


"It's okay..."


"Ah.. Aku teringat sesuatu. Tentang pesta itu, apa kau masih mau datang denganku?"


Aku berpikir sejenak, "Tentu..."


"Itu sekitar seminggu lagi..."


"Aku harus pakai baju apa?" aku segera mengingat beberapa pakaianku yang ada di lemari.


"Soal itu, aku akan menyuruh Cassie untuk membantumu. Dia sangat hebat untuk hal-hal begitu.."


Ah.. Cassie. Aku merindukan Kakak,Ibu, dan Ayah Harry. Mereka benar-benar ramah dan menyenangkan. Cassie bahkan sempat mengirimiku beberapa pesan. Aku menggeserkan badanku semakin dekat pada Harry lalu aku menguap keras.


"Aku tidak sabar menghadiri pesta itu..."


Harry tertawa kecil. Tawa yang renyah dan manis.


"Pesta orang elite bukanlah pesta yang menyenangkan, Em..."


"Tapi aku penasaran.." aku bergumam dan menguap lagi.


"Tidurlah, Em..."


Dan dengan itu, aku terjatuh dalam dunia mimpi


***


'Semoga harimu menyenangkan, Em..'


Aku tersenyum membaca pesan Harry dan membalasnya dengan emoticon senyum. Aku memasukkan ponselku dan segera memasukkan satu kotak telur ke dalam troli belanjaanku. Aku mendorong troli menuju kasir setelah seluruh barang yang kami perlukan sudah di torli dengan Hailey di sampingku.


"Kenapa tidak pulang semalam?" tanyanya saat kami menunggu antrian menuju kasir.


"Aku ada urusan..." aku berdehem kecil, "Mungkin nanti malam aku juga tidak pulang..." dia melihatku sebentar.


"Oh..."


"Bagaimana kabar Ibu?" tanyaku.


"Tidak baik... Dia muntah dan mimisan beberapa kali..."


Aku menoleh ke arahnya, "Kenapa begitu? Bukankah hasil kesehatannya menunjukkan peningkatan akhir-akhir ini?"


"Ibu tidak memiliki hasrat untuk sembuh, Em..."


Kami maju beberapa langkah saat antrian semakin pendek.


"Maksudnya?"


"Dokter berkata bahwa segala pengobatan akan sia-sia jika pasien tidak memiliki hasrat dan rasa berjuang untuk sembuh...."


Aku meremas pegangan troli dengan keras seraya memejamkan mataku. Sial, pengorbananku untuk membayar segala pengobatan, perawatan, perawatan Ibuku terasa sia-sia. Sial... Inilah mengapa aku tidak suka pada Ibuku. Lemah...


"Padahal aku bekerja banting tulang setiap hari hingga muak rasanya hanya untuk kesembuhannya..." ucapku dengan geram.


"Em... Kupikir kau harus mengunjunginya dan bicara dengannya. Aku sudah berkata beberapa kali agar dia mau berjuang, tapi dia hanya menatap kosong ke depan dan menganggapku tidak ada..." ucap Hailey sedih dan lesu, "Bagaimanapun dia tetaplah Ibumu, Em... Kau sudah lama tidak mengunjunginya, bahkan setelah dia operasi..."


"Aku selalu menyempatkan waktu melihatnya ke rumah sakit, Hail..


"Tapi kau tidak mengunjunginya kan?"


Aku diam dan memajukan troliku ke depan kasir lalu menaruh belanjaanku di meja kasir.


"Semuanya $64.." ucap kasir itu dengan nada malas. Dia memberikan dua bungkusan besar kantong belanja. Aku merogoh saku dan mengambil dompetku, lalu memberi beberapa lembar uang.


Aku mengambil satu kantong belanjaan dan satu lagi dipegang Hail. Kami berjalan keuar dari supermarket dan berjalan menuju halte bus. Aku dan dia berdiri di halte dan menunggu bus. Udara dingin berembus dan membuat segera menggigil walau hanya menyentuh wajahku.


"Aku dan Max sudah putus.." ucapku.


"Putus? Kapan? Bagaimana bisa?"


"Awal tahun lalu. Kami putus karena memang sudah seharusnya..."


"Apa maksudmu?" Julia adalah topik sensitif untukku.


Dia menoleh sekilas padaku, "Berarti bukan karena Julia...."


"Apa ada dengan Julia? Kenapa kau berpikir aku putus karena Julia?"


Bus segera berhenti di halte dan pintu bus segera terbuka.


"Dia mengubah warna rambut dan gaya berpakaiannya sama sepertimu, Em..."


***


Hari itu berjalan sangat lambat. Aku terus memikirkan perkataan Hailey tentang Julia yang mengubah penampilannya sepertiku. Ada apa? Kenapa? Apa yang dia rencanakan sekarang? Dan selama aku berpikir tentang itu, aku ingat perkataan Max saat di LA seolah seseorang memberitahunya bahwa aku simpanan Harry. Satu-satunya orang lain yang mengetahui itu adalah Julia. Hanya dia seorang.


Aku menarik napas dan membuangnya dengan frsutasi.


"Kau ada waktu malam ini?" Dave tiba-tiba muncul di sampingku yang sedang mengepel lantai toko.


Aku menoleh ke arahnya dan wajahnya terlalu dekat denganku. Aku buru-buru bergeser seraya menggerakkan kain pelku.


"Ada apa?"


"Aku tau bar yang menyajikan makanan enak di sekitar sini. Jadi aku ingin mengajakmu..."


Aku memasukkan kain pel ke dalam ember berisi air, lalu memerasnya, kemudian melanjut mengepel lantai.


"Aku pergi dengan pacarku..." ucapku dingin tanpa melihatnya.


"Ah.. Begitu yah.. Kapan kau tidak pergi dengan pacarmu?"


Aku melihat ke arahnya dan menegakkan badan. Aku tidak percaya dia berani mengatakan itu padaku. Padahal sudah jelas-jelas kukatakan aku berpacaran.


"Tidak ada... Aku akan bersamanya. Aku tinggal dengannya...." aku memasukkan kain pel ke dalam ember dan aku segera mengangkat ember lalu segera pergi meninggalkannya.


Lalu, secara mengejutkan dia berdiri di depanku. Aku memutar mata dan segera bergerak ke arah kiri, tapi dia mengikutiku. Ke kanan dan ke kiri. Aku menengadah untuk melihatnya. Dia tersenyum, memamerkan giginya yang menguning.


"Ah.. Begitu, yah? Jadi aku tidak punya kesempatan..."


Aku memutar mataku dengan jengkel dan segera bergerak melewatinya.


"Jika kalian sudah pisah, kabari yah..."


Aku mengabaikannya dan segera bergegas membereskan pekerjaan yang tersisa sebelum akhirnya bersiap untuk pulang. Saat aku mengganti pakaianku, ponselku yang berada di loker berdering. Aku segera menyelesaikan mengancing jaketku dan segera mengambil ponsel. Aku melihat di layar ponsel bahwa Harry mengirimiku pesan. Aku tersenyum kecil dan segera membukanya.


'Aku sudah di depan tempatmu bekerja..'


Aku tersenyum kecil dan segera memakai syal sebelum akhirnya menutup lokerku.


"Aku duluan yah..." ucapku pada Alice dan Rose yang sedang berganti pakaian, "Bye..."


"Bye...'


Aku keluar dari ruang ganti seraya memeasukkan tanganku ke dalam kantong jaket. Aku sudah hampir sampai di depan pintu, tapi Dave tiba-tiba muncul dari balik rak kaset ke depanku. Aku segera berhenti dan terkejut.


"Astaga..." bisikku. Sial. Si sialan ini benar-benar menyusahkan.


"Wah.. Aku mengejutkanmu yah? Maafkan aku..."


"It's okay.." aku hendak melewati dia, tapi di menahanku dengan memegang lenganku.


Aku menoleh dan menatapnya marah, "Ada apa sih denganmu?" ucapku dengan nada marah dan segera menepis tangannya dariku.


"Ups... Sorry. Ternyata kau bisa marah juga, yah?" dia tertawa kecil, "Aku hanya ingin mengatakan selamat malam dan mimpi indah...."


Aku merasa geli dengan ucapan Dave. Dia benar-benar bertingkah seperti orang mesum.


"Terserah. Aku harus pergi..." aku segera keluar dari pintu dan terkejut melihat Harry ada di sana.


"Astaga..." aku memejamkan mataku dengan kesal. Kenapa semua orang harus muncul secara tiba-tiba?!


"Whoa... Sorry..."


"It's okay..." Harry segera melingkarkan tangannya di bahuku dan menuntunku ke mobil.


"Kau tiba-tiba muncul, kenapa?" tanyaku seraya masuk ke dalam mobil. Harry menutup pintu mobil dan segera berlari kecil ke sisi lain mobil lalu masuk ke dalam mobil.


"Kau tanya apa tadi?" tanyanya setelah duduk.


"Kenapa kau berdiri di luar tadi?"


"Aku melihat pria tadi mencegatmu dari sini. Kenapa dengan pria itu?"


Aku menyandarkan tubuhku ke kursi dan menghembuaskan napas.


"Dia suka menggoda wanita.. Dia tidak menggoda hanya aku saja, tapi teman sekerjaku. Terkadang dia juga menggoda beberapa pelanggan wanita. Jadi.. yah begitu.."


"Dia menggodamu?"


Aku menoleh ke arah Harry yang menatapku serius.


"Uhm.. Secara harfiah, dia menggoda semua wanita yang dia lihat, Harry. Aku hanya perlu bersikap dingin padanya dan akhirnya dia akan bosan sendiri..."


Dia memalingkan wajahnya ke arah jalan seraya menyalakan mobil, "Tetap saja kau harus waspada, Em. Kita akan beli beberapa semprotan merica untukmu. Akhir-akhir ini banyak pria mesum di kota ini..." Harry melajukan mobilnya dan aku terkekeh mendengar ucapannya, tapi aku setuju akan itu. Kupikir aku harus mempersenjatai diriku sendiri walau hanya dengan semprotan merica.


Lalu, aku teringat akan sesuatu.


Aku menoleh ke arah Harry seraya menaruh tanganku di atas lututnya,"Harry..."


"Uhm..." ucapnya tanpa melihatku.


Aku ingat bahwa saat di SMP dan SMA, hampir beberapa temanku tidak bisa membedakan aku dan Julia. Bentuk tulang wajah, warna kulit, warna bola mata, dan warna rambut kami pun hampir sama, bahkan Ayah dan Ibuku terkadang bingung mmebedakan kami. Jika yang dikatakan Hailey benar bahwa dia menukar penampilannya seperti aku maka dia sedang merencanakan sesuatu saat ini. Aku yakin itu.


Aku membuka mulutku, hendak mengatakan pada Harry tentang Julia. Namun, aku tidak bisa.


"Ada apa, Em? Ada yang salah?"


Aku menutup mulutku. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengatakan apa pun tenang Julia pada Harry. Belum. Belum saatnya. Aku harus tahu maksud dan tujuan Julia melakukan itu. Bisa saja dia sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar sehingga dia mulai hidup normal walau kemungkinannya hanya sekitar 1%. Bisa saja. Aku harus memastikannya dulu.


"Uhm.. Aku lapar. kau sudah makan malam?"


"Belum.. Kita pergi makan malam saja?"


"Yah.. Itu ide yang bagus..."


"Okay....."


***


"Bagaimana menurutmu?" tanya Cassie. Kami berdua tengah berdiri di depan cermin besar dan aku benar-benar terkejut dengan penampilanku.


"Wah..." bisikku.


Aku mengenakan gaun ungu muda yang nyaris seperti warna putih yang membentuk badanku hingga melebar di bagian bawah. Lehernya berbentuk V dengan potongan cukup rendah hingga menampilkan sedikit belahan dadaku yang tidak seberapa dan ada hiasan manik seperti berlian di sana. Lengannya hanya sebatas bahuku. Rambutku di gulung sedemikian rupa dengan sedikit anak rambutku di taruh di depan telinga. Aku juga memakai kalung tipis yang bermata mutiara kecil dan anting bermata berlian kecil. Riasan wajahnku benar-benar membuatku terpukau. Itu riasan yang tidak terlalu tebal, tapi bisa membuat waajahku tampak sangat hebat.


"Kau suka? Aku tidak percaya gaun ini begitu pas denganmu. Namun, ukuran yang diberikan Harry benar-benar pas....."


"Harry?"


Cassie mengangkat sebelah alisnya, "Ah.. Ternyata kau tidak memberitahu ukuran tubuhmu ke dia yah? Artinya dia memperkirakan sendiri berapa ukuran badanmu..." aku segera memerah saat Cassie mengucapkannya. Astaga. Aku bisa merasakan tubuh memanas.


Cassie menyentuh pundakku, "It's okay, honey... Tak perlu merasa malu atau apa. Aku senang ada kau, Emilya..."


Aku terperangah dengan senyum manis Cassie. Begitu manis dan menenangkan.


"Jadi, apa kau suka dengan penampilanmu?"


Aku beralih ke cermin, "Yeah.. Semuanya benar-benar indah...."


"Baguslah jika kau suka..."


Aku menoleh kepdanya lagi, "Trims, Cassie..."


"Your're wellcome, honey..." Cassie pun tidak kalah hebatnya dariku. Dia benar-benar spektakuler. Gaunnya  berwarna hitam, tanpa lengan, potongan rendah, rambut hitam panjangnya digerai, dan dia benar-benar tinggi karena memakai sepatu hak tinggi juga. Kupikir dia jauh lebih tinggi sekitar sepuluh centimer dariku. Kuat. Itulah kesan yang kudapat dari penampilan Cassie.


"Harry sudah di sini menjemputmu... Aku akan pergi duluan karena aku memiliki supir sendiri. Sampai jumpa di pesta, Em.. Ibu ku pasti akan sangat senang bertemu denganmu..."


Aku melambaikan tanganku padanya hingga akhirnya Cassie pergi dari dalam ruangan tersebut. Lalu, Harry muncul dari balik pintu sesaat setelah Cassie keluar. Dia sama seperti basa. Aku selalu melihatnya memakai jas dan aku tidak bisa henti-hentinya terperangah akan penampilannya. Dia tetap berdiri di sana seraya menatapku. Dia tersenyum miring dan itu membuatku salah tingkah.


"Penampilanku aneh yah?"


Harry hanya menatapku sebentar kemudian berjalan ke arahku tanpa melepas tatapannya. Jantungku berdegup kencang. Dia berhenti di depanku. Lalu tangan kanannya terangkat. Dia mengelus kulit wajahku lalu turun ke leher dan terakhir ke lengan kananku. Dia mengelusnya dengan lembut dan berhenti di ujung jariku.


"Cantik... Benar-benar cantik..." dia mengangkat tangan kananku dan mencium punggung tanganku dengan lembut.


Aku menahan napasku.


Astaga.


Dia benar-benar sangat gentle.


Harry segera berdiri di sampingku dan melingkarkan lengan kanannya di pinggulku.


"Ayo kita pergi... My lady."


***


MRSFOX


SPOILER ALERT.


Di eps berikutnya kita bakal ketemu Scout sama Kenny dungss :') Maaf lama ups yah gais karena sibuknya di kehiduoan nyata hingga sulit membagi waktu dengan dunia imajinasi ini.


Selamat hari natal buat yang ngerayain yah.


Stay health gais and see yahhh