
Happy Reading
****
Aku keluar dari gedung dan menatap langit yang mendung. Lalu menghembuskan napas dan kembali berjalan. Selesai. Aku benar-benar sudah selesai dengan Harry. Kupikir... Kupikir semua akan berjalan baik hingga tiga bulan akhirnya tergenapi, tapi ternyata tidak dan aku tidak percaya bahwa akulah yang akhirnya memutuskan kontrak dengannya.
Namun, inilah akhirnya. Hubungan kami di mulai dengan cara yang salah dan akan berakhir pula dengan cara yang lebih salah. Aku tau bahwa aku telah kehilangan banyak hal selama aku bersamanya. Banyak, tapi aku tidak menyesalinya sedikit pun. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan baik, sama seperti aku mengenang Max.
Aku hanya tidak menyangka bahwa kata-kata jahat itu keluar dari mulut Harry. Namun, lagi-lagi yang harus kulakukan adalah mengalah dan sabar. Aku tidak akan bisa melawan dia. Aku tidak akan bisa membela diriku sendiri. Aku hanya bisa diam dan membiarkan Harry memikirkan apa pun tentangku sesuka hatinya. Baik pemikiran buruk, maupun baik. Jika aku melawannya, hanya akan menimbulkan masalah lebih besar.
Lebih baik begini. Mengalah. Sama seperti yang kulakukan saat menghadapi Julia, keadaan ekonomi, dan semuanya. Akhirnya hidupku hanya berputar-putar seperti ini saja. Kepedihan, sakit hati, utang di sana- sini, masalah keluarga, dan banyak lagi beban lainnya. Lebih menyenangkan rasanya jika aku mati saja.
Aku menatap gedung itu sekali lagi lalu berjalan lagi. Entah kenapa aku berharap dia mengejarku dan meminta maaf. Namun, apa? Hingga saat terakhir pun, perkataan yang keluar dari Harry adalah perkataan yang benar-benar menyakiti hati.
Seandainya... Seandainya dia meminta maaf padaku dan membiarkanku menjelaskan apa yang terjadi, mungkin aku akan memaafkannya. Sialnya... Arogansinya mengalahkan semua. Dia tidak melakukan itu dan hanya meninggalkanku dengan ucapan jahatnya.
Aku menarik napas dan mencegat taxi. Aku masuk dan mengatakan tujuanku ke toko kaset tempatku bekerja. Aku sudah meninggalkan banyak jam kerjaku. Bob (bosku), akan memotong gajiku. Si lintah darat sialan itu. Dia selalu mencari alasan untuk memotong gajiku.
Persetan.. Mungkin aku akan keluar dari situ setelah aku menerima gajiku. Aku tidak tahan lagi bekerja di sana. Dengan adanya Dave lalu kenangan saat-saat Harry menjemputku.. Ah. Harry lagi.. Harry lagi. Aku tidak akan membiarkan pria jahat sialan itu membuatku frustasi dan menangis lagi. Tidak akan pernah.
****
Julia POV
"Sial.." umpatku dengan nada tertahan saat mengintip dari jendela menuju rumah George(tempat pesta), si cewek sialan itu sudah mencariku ke mana-mana akhir-akhir ini untuk menangih utangku. Ahk.. Aku tidak punya uang dan ini sudah akhir bulan. Dia pasti akan membunuhku.
Aku segera menutup gorden kamarku dan segera duduk di ranjang. Aku sudah susah payah mengganti penampilanku seperti Emilya, tapi saat yang tepat tidak datang juga.Aku sudah mengikuti Emilya dan sudah tahu jelas siapa pria itu. Betapa terkejutnya aku mengetahui bahwa pria itu adalah pria muda dan kaya. Kukira aku akan berhadapan dengan pria tua kaya yang buncit.
Aku sudah mencari tahu tentangnya dan betapa beruntungnya aku bahwa informasi pria itu ada di internet. Namanya Harry Smith, bujangan kaya-raya di negara bagian ini. Ah.. Betapa beruntungnya Emilya.. Pantas dia rela putus dengan Max, pacar sepuluh tahunnya.
Ternyata dia tidak sebaik yang kukira dan tidak seboodoh yang kukira.
Aku akan mengatakan dia sebagai manusia bodoh jika dia lebih memilih Max dari pada Harry. Jelas.. Max memang cukup kaya, yah hanya cukup kaya. Namun, Harry?! Dia bukan hanya kaya-raya. Konglomerat. Kaum elite. Ah.. Aku penasaran kemewahan apa yang di dapatkannya dari pria itu.
Aku sudah bersembunyi di rumah sialan ini selama lima hari untuk menghindari penagih utang itu. Selama itu pula, rumah ini lebih sering kosong. Tidak ada penghuninya. Itu memberiku kesempatan yang baik dan mempermudahku mengikuti Emilya, tapi aku tidak bisa merokok karena penciuman Emilya sangat tajam akan rokok. Padahal aku harus merokok untuk menenangkan diri.
Baru-baru ini, Max kecelakaan. Uh.. Sialnya dia tidak mati. Lalu aku menduga ada sesuatu yang terjadi dengan Emilya, tapi aku tidak tau. Kejadian itu terjadi hari ini. Saat aku masih tertidur, aku mendengar suara di rumah ini pagi-pagi buta tadi. Kupikir itu hantu atau apa, tapi ternyata itu Emilya. Aku mengintip dari lobang kecil khusus yang ku buat untuk mengintip si sialan satu ini. Kamar kami berhadapan dan dia membuka lebar pintu kamarnya saat itu sehingga aku bisa memiliki akses bebas melihat dia.
Aku dengan jelas melihat, bagaimana dia berdiri di cermin dan melepas semua pakaiannya dan meninggalkan dia hanya dengan pakaian dalam rendanya yang tampak menyebalkan di badannya. Sialnya, dia memakai celana dalamnya terbalik, yang seharusnya di depan menjadi di belakang. Kupikir aku akan tertawa keras dan mengolok-olok celana dalam rendanya yang terbalik.
Akan tetapi, bukan itu yang paling membuatku terkejut. Aku melihat tubuhnya penuh dengan lebam-lebam kecil yang merah-membiru. Aku ada di bahu, punggung, dan bagian tubuhnya yang lain. Bekas yang paling mengejutkanku adalah di lengan tangannya yang sangat merah dan sepertinya berdarah. Itu jelas bekas luka dan lebam yang masih baru.
Apa yang terjadi? kenapa? Apa dia kecelakaan?
Aku mendengus.. Apa peduliku? Dia mati pun aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah Harry dan uangnya. Lalu, aku melihat Emilya duduk di lantai seraya memeluk kakinya. Dia menangis di depan cermin. Dia menangis kencang dan aku segara berdiri dari sana dan segera mebenamkan diriku di tempat tidur, menutup pendengaranku dengan bantal.
Menyebalkan.
Ikatan batin. Itu adalah satu-satunya hal yang awalnya kupikir omong kosong belaka, tapi sekarang aku tau setelah merasakannya. Emilya.. Dia. Dia tetap adalah temanku berbagi tempat di perut Ibu dulu dan ikatan batin itu jelas ada. Jelas ada ikatan antara kami yang membuatku merasa aneh dan tidak nyaman saat ini.
Ah... Sialan.
Biasanya dia pun tidak secengeng ini. Aku bahkan pernah membakar secara sengaja kado pemberian dari Max hanya untuk melihat dia menangis dan memarahiku. Namun dia hanya menatapku kosong dan segera pergi dari depanku, seolah tidak ada yang terjadi. Aku selalu melakukan banyak hal hanya untuk melihat dia marah dan menangis.
Aku dulu pernah menimbulkan masalah besar sewaktu SMA hingga membuat Emilya dituduh dan membuat dia harus di keluarkan dari sekolah, tapi sialnya dia menanggapi semua itu dengan santai. Dia tidak marah atau menangis saat tau jelas bahwa pelakukanya adalah aku. Dan banyak lagi yang kulakukan pada Emilya, tapi dia selalu seperti. Menganggap semuanya seolah tidak terjadi.
Itulah.. Itulah asalanku memperlakukannya sesuka hatiku karena dia tidak pernah berusaha menghentikanku. Aku kesal... Kesal padanya karena dia selalu menahan amarahnya. Namun, aku ingat saat aku mengambil semua tabungannya dan dia akhirnya menampilkan amarahnya.
Malam itu, dia memukul dengan keras. Menunjukkan sosok aslinya saat marah. Namun, pada akhirnya dia hanya kembali menganggap itu tidak terjadi. Si wanita sialan itu. Entah kenapa dia bisa menjadi kembaranku. Seharusnya aku membunuhnya saat di kandungan Ibuku dan membiarkan hanya aku yang hidup.
Lalu, aku mendengar keheningan setelah beberapa saat. Sudah berapa lama berlalu? Aku segera bangkit perlahan dan mengintip lagi ke lobang itu dan aku tidak melihat Emilya ada di sana. Lalu aku mendengar suara shower, menandakan dia sedang mandi. Kuharap dia tidak bertingkah sialan seperti menangis di bawah shower. Jika dia melakukannya, dia benar-benar manusia dramatis yang menyedihkan.
Tidak menunggu lama, dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian dalam terbaliknya. Dia jelas hanya membersihkan rambutnya. Dia segera mengganti pakaian dalam rendanya yang menyedihkan dan mengganti dengan pakaian dalam non-renda. Dia memakai pakaian yang dia pakai tadi dengan buru-buru. Kemudian mengambil map biru yang dia selipkan di rak bukunya.
Aku jelas tau isi map itu. Surat tanah dan rumah ini. Apa yang akan dia lakukan dengan itu? Dia memasukkan itu ke dalam jaketnya lalu keluar dari kamar. Setelah mengunci kamarnya dia segera pergi dari rumah ini. Aku segera keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah dengan buru-buru.
Aku mengintip dari balik gorden dan melihat Emilya yang masuk ke dalam taxi. Aku melihat taxi itu pergi hingga hilang dari pandanganku. Ke mana dia? Apa yang dia rencanakan? Jelas sekali aku harus mengikutinya, tapi aku tidak tau jelasnya dia akan pergi ke mana.
Aku hendak beranjak dari tempatku, sebelum aku mendengar deru mobil yang keras dan itu berhenti di depan rumah. Aku segera mengintip dan melihat wanita sialan itu datang bersama anak buahnya. Sial! Bagaimana bisa dia tau rumahku? Siapa yang memberitahunya?
Aku segera berjongkok dan bersembunyi saat mereka datang ke arah rumahku. Sial. Kuharap mereka tidak mendobrak rumah ini. Jika mereka melakukannya, aku benar-benar akan menjadi mayat hari ini juga. Kenapa mereka tidak datang saat Emilya masih di sini? Uh.. Keberuntunganku tidak pernah datang akhir-akhir ini.
"Jadi ini rumah si j*alang itu?" ucap si cewek itu.
"Yah, bos..."
"Sepertinya tidak orang ada di sini..." ucap suara pria yang lain.
Pergi. Kumohon kalian pergilah.
"Kita tunggu sampai ada orang yang datang..." ucap si cewek, "Kalian tunggu di jalanan halaman belakangnya, kami menunggu di halaman depan.."
"Yah, bos.."
Sial! Aku benar-benar terjepit sekarang.
****
Emilya POV
"Aku akan menutup pintu.." ucapku akhirnya pada Alice dan Rose. Aku merasa bersalah karena ketidakhadiranku akhir-akhir ini. Namun, dalam hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin melakukan ini. Dave menggodaku satu harian ini dan itu membuatku tidak nyaman.
"Baiklah.. Bye Em..." mereka berdua akhirnya pergi dan meninggalkanku dengan Dave. Aku harus membereskan lantai yang kotor sesegera mungkin. Sebelum..
"Hey, Em..."
"AHK!" aku berteriak kencang saat mendengar bisikan Dave di telingaku. Aku segera memutar tubuh dan melihat dia yang tersenyum lebar seperti orang bodoh.
"Ups.. Sorry.." ucapnya dengan nada tidak bersalah.
Aku menatapnya dengan tatapan geram dan akhirnya aku menyerah. Aku segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu dengannya. Lebih cepat, lebih baik. Namun, aku mendengar langkah kakinya yang mengikutiku.
"Em.. Aku sudah mengepel semua lantai jadi kau tidak perlu mengepel lagi..."
"Oh... Okay."
Aku mempercepat langkahku.
"Kenapa buru-buru? Apa pacarmu datang hari ini?"
Aku sudah melihat pintu ruang ganti.
"Mm.." gumamku dan segera menarik pintu ruang ganti. Aku sudah masuk, tapi tangan Dave menahan pintu. Dia menampakkan wajahnya dari balik pintu. Dengan senyum lebar yang begitu cabul dan mengerikan.
"Kenapa kau terburu-buru, sih?" bisiknya pelan.
"Bisakah kau melepaskannya?" ucapku dengan nada tegas dan tegar. Aku tidak boleh bertingkah lemah menghadapi manusia-manusia sialan seperti ini.
"Ahh... Kau ingin ganti baju yah? Boleh aku melihatnya?"
Dia benar-benar gila!!
"Sekarang hanya daa kita berdua..." ucapnya, 'Aku sudah mengunggu momen ini sangat lama....."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku?" dia perlahan maju ke arahku seraya menggosok-gosok telapak tangannya, "Apa yang kuinginkan adalah..." dia menjilat bibirnya dan itu mengirimkan getaran ketakutan dalam diriku. Dia melihatku ku dari atas ke bawah lalu kembali dari bawah ke atas.
Sial.
"Kau kurus, tapi kau punya bokong yang seksi..." dia perlahan maju.
Aku menatap dia dan sisi kosong lainnya. Aku bisa lewat dari sebelah kirinya karena cukup kosong dan tubuh Dave berada di sisi kanan. Aku akan menunggunya maju sedikit lagi. Lalu aku akan berlari dari sisi kirinya dengan cepat dan membuka pintu. Aku pasti bisa melakukannya.
"Pacarmu tidak datang yah? Biasanya dia sudah menunggu sejam sebelum kita pulang" dia jelas memata-matai aku dan Harry.
"Dia akan datang..." ancamku, "Sebaiknya kau minggir sekarang sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan padamu.."
Lalu senyumnya hilang, "Kau mengancamku, yah?"
Dia marah dan itu benar-benar bukan hal yang bagus. Aku segera berlari dengan cepat ke sisi kiri. Kupikir aku bisa melakukannya, tapi ternyata tidak. Dave adalah pria tinggi dan tentu dia memiliki lengan yang panjang. Dia segera menangkapku dan menyudutkanku ke loker hingga kepalaku terbentur ke dinding loker. Dave mengunci tubuhku dan tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak.
"Ah.." ringisku kesakitan lalu aku merasakan sesuatu menekan pantatku.
Semprotan merica!
"Kau berusaha lari dariku yah?! Dasar jaalang sialan... Padahal aku juga tau bahwa kau juga menyukaiku kan?" dia mendekatkan wajahnya padaku dan mengendus-endus wajahku. Aku mencium bau tubuhnya yang menjijikkan.
"Ayolah, Em... Apa hebatnya pria kaya itu? Pasti dia lemah di ranjang, bukan? Aku janji akan membuatmu mencapai puncak yang lebih hebat dari pada pria kaya itu... Aku janji..."
Tanganku yang sedikit bebas perlahan turun menuju kantong saku celanaku yang dibelakang. Aku sudah tau hal seperti ini akan terjadi maka aku menyiapkan ini untuk berjaga-jaga. Aku hanya perlu menyemprotkan dan memukul kelaminnya dengan keras maka aku bisa lari.
"Ah.. Em. Kau sangat wangi.." bisik Dave seraya mengelus-elus lekukan tubuhku, "Bisakah kita memulainya, sekarang? Aku tidak tahan lagi...."
Semprotan merica itu sudah ada di tanganku.
Dave menarik ujung kaosku dan memasukkan tangannya yang besar dan kasar.
Tahan Emilya.. Kita tunggu waktu yang tepat.
Aku menahan rasa jijikku.
Tangannya perlahan naik menuju braku dan kupikir aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku segera berteriak keras seraya menyemprotkan merica itu. Tidak penuh satu detik, aku segera menendang kelamin Dave hingga dia berteriak kencang dan mundur dariku. Aku segera berlari dengan cepat keluar dari ruangan itu.
"SIALAN EMILYA!!!" aku mendengar teriakan Dave setelah keluar dari ruang ganti. Aku segera berlari menuju pintu keluar dan berlari. Berlari terus hingga aku merasa aman dari dia.
Aku berhenti berlari saat aku sudah berada di keramaian dan cukup jauh dari toko itu. Aku terengah-engah. Ingin rasanya aku menangis. Sial. Kenapa kesialan hidup ini tidak pernah selesai juga. Kenapa?! Aku memukul dadaku dan menahan diri untuk menangis.
Aku tidak akan menangis. Menangis tidak akan membuat keadaan lebih baik. Lagi pula, aku sudah terlampau sering menangis akhir-akhir ini. Aku menarik napas kuat dan menguatkan diri. Hidup memang tidak adil dan aku harus menerima itu.
Aku berdiri di pinggir jalan menunggu taxi. Aku memeluk diriku sendiri saat merasakan angin dingin. Aku tidak sempat mengambil jaketku, bahkan aku masih menggunakan apron kerjaku. Aku segera sadar bahwa aku hanya membawa beberapa lembar uang. Sial. Kuharap ini cukup hingga ke tempatku nanti.
Aku memberhentikan Taxi dan segera masuk. Aku memberitahukan alamatku. Aku segera menghitung uangku yang tersisa dan betapa beruntungnya aku ingat membawa ponselku. Setelah menghitung uangku, aku melihat mesin penghitung kilometer taxi tersebut. Aku harus menyesuaikan uangku dengan benda itu.
"Stop.." ucapku setelah beberapa saat. Nominal uangku hanya cukup sampai ini saja. Aku segera memberi uangnya dan segera keluar dari taxi.
Jarak rumahku dari tempatku berhenti sudah dekat. Aku hanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit. Selama aku berjalan, aku mulai merenungkan apa yang kualami akhir-akhir ini. Begitu banyak yang terjadi. Besok, apa lagi yang akan terjadi padaku? Mungkin aku akan di pecat Bob tanpa menerima gajiku, mengingat Dave adalah keponakan Bob.
Hah.. Kenapa seberat ini? Semuanya sangat berat dan aku tidak memiliki seseorang tempatku bertumpu, tempat aku mencurahkan segala keluh kesahku. Aku tidak memiliki sosok itu. Tidak Ibuku, Hailey, Will, Julia, teman, dan tidak ada satu pun. Aku lelah dan benar-benar lelah. Ingin rasnaya aku bisa tidur tenang malam ini tanpa diganggu apa pun. Hanya itu yang kuinginkan untuk malam ini.
Aku sudah berjalan beberapa saat dan aku sudah hampir sampai di tempatku. Aku bisa melihat rumah George yang gemerlap. Rumah itu tidak pernah absen melakukan pesta. Mereka punya uang dari mana, sih? Julia pasti di sana, menikmati hidup dan tidak memerdulikan apa pun yang terjadi dengan orang sekitarnya.
Aku sudah dekat dengan rumah, tapi sebuah cahaya menyilaukan mataku. Aku menutup mataku. Aku kembali membuka mata saat mendengar deru mobil mendekat padaku. Itu hanya sepersekian detik dari aku membuka mata, tapi aku sudah melihat mobil itu mengarah padaku. Aku tidak sempat mencerna apa yang terjadi dan yang kurasakan adalah bahwa tubuhku terpental jauh ke aspal.
Au merasakan tubuhku melayang lalu jatuh kembali.
Aku terguling di aspal.
Aku tidak bisa merasakan tubuhku.
Mati rasa.
Aku hanya menatap langit malam yang gelap.
Tidak ada bintang.
Dingin.
Kosong.
Seseorang muncul di depanku
"Kau layak mendapatkan ini, Julia Teatons..."
Suara itu terdengar begitu sayup dan pelan. Namun aku bisa mendengar nama Julia di sebut.
Aku bukan Julia.
****
Julia POV
Aku melihat kejadian itu di depan mataku. Bagaimana mobil si cewek sialan itu menabrak tubuh Emilya dengan kecepatan tinggi. Tubuh Emilya terpental ke depan begitu jauh dan terguling-guling di aspal. Bunyi tabrakan itu begitu keras dan mengerikan.
Setelah si sialan itu pergi, aku segera ke luar dari rumah. Aku menutup kepalaku dengan topi jaketku. Tidak ada seorang pun di tempat ini yang ke luar dan melihat apa yang terjadi. Mereka hanya melihat dari dalam rumah dan bertingkah bahwa itu bukan urusan mereka.
Yah.. Begitulah sikap manusia. Jadi aku tidak heran melihat Emilya hanya terbaring tidak berdaya di sana. Aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaannya karena pencahayaan yang minim, tapi aku bisa mencium bau anyir darah yang begitu kental. Seberapa banyak darahnya yang terbuang?
"Apa perlu aku memanggil ambulance?" gumamku pada Emilya.
"Tapi bukankah lebih menyenangkan mati daripada hidup susah, Em?"
Lalu aku mendengar bunyi dering ponsel dari tubuh Emilya. Aku segera jongkok dan mengambil ponselnya dari sakit celananya. Aku merasakan jijik luar biasa saat merasakan darah Emilya di tanganku. Aku buru-buru melap ponsel dan tanganku ke bajunya yang tidak terkena darah.
"Sialan..." umpatku.
Lalu aku melihat ponselnya yang sudah retak masih berdering. Aku segera senyum sumringah saat melihat nama Harry ada di sana. Aku memeriksa pemberitahuan dan melihat bahwa Harry sudah menelpon sebanyak delapan kali. Aku menerima panggilan itu dan menaruhnya di telingaku.
"Astaga. Akhirnya kau mengangkatnya. Kau kah itu, Em?"
Aku tersenyum miring mendengar suara Harry seraya menatap tubuh Emilya.
"Yah.. Ini aku, Emilya..."
****
MrsFox
Tidur yang tenang, Em...Karena yang koment ramai, akhirnya saya update.. Wkwkw. Segitu penasarannya kalian pada cerita ini. Sebisa mungkin, kita harus realistis tentang akhir cerita ini yah.. Maafkan daku hanya bisa update di larut malam gini doang. Karna yah ada waktu di malam ajah. Terus ngetik sepanjang ini engggak sejam, tapi bisa 3-4 jam dunggs :'v Semoga aku tidak mengecewakan kalian dengan episode ini. Jangan lupa vote, love, like, koment gais.. Lop yuh. See yah in the next chapter.