Harry's Love Story

Harry's Love Story
My Cowboy Girl



Happy Reading


Teruntuk Pembaca Setiaku. Terimakasih sudah menemani novel ini. Big Love from me <3


****


Emilya POV


Aku menarik napas lagi untuk kesekian kalinya sehari ini. Aku berguling ke kanan-kiri di ranjangku yang kecil. Lalu aku berhenti dan menatap langit-langit kamar. Sialan. Aku tidak bisa tidur selama seminggu ini setelah pulang dari New York.


Aku menatap layar ponselku. Yah... Dia selalu mengirimiku pesan, tapi dia tidak mau melakukan panggilan denganku. Astaga. Aku merindukan suaranya. Sial. Dia selalu menolak dan hanya mengirimiku pesan. Itu pun hanya pesan 'Sudah makan?' 'Selamat tidur' 'Bagaimana harimu?'. Ada apa sih dengan pria satu ini?


Dia benar-benar membingungkan. Dia yang mengajakku menikah dan harusnya dia berusaha meluluhkan hatiku, membujukku dengan berbagai cara. Namun, yang ada... Dia benar-benar cuek. Uh.. Andai saja aku wanita berpikiran pendek, aku sudah memutuskannya.


Dia tidak pernah membuat hubungan ini lebih mudah. Tidak pernah. Harry terlalu mementingkan harga dirinya. Astaga. Sialan. Aku bisa saja memulai pembicaraan tentang ajakan dia menikah, tapi aku.. Aku juga memiliki egoku sendiri. Aku menanamkan dalam pikiran bahwa pria yang harus memulainya


Aku memejamkan mata, menarik napas dan membuangnya perlahan, berusaha meredakan kekesalanku. Tiba-tiba, aku mendengar ponselku berdering sekali. Aku segera bangkit dari tidurku dan dengan sigap mengambil ponsel yang ada di meja samping tempat tidurku.


Harry!!!


'Aku merindukanmu, Em...'


Aku segera menutup mulutku, menahan diri untuk tidak berteriak. Astaga. Kenapa dia tidak tertebak. Oh my... Seluruh kemarahanku dan kekesalanku seolah hilang setelah memebaca pesanku. Aku segera menjatuhkan diriku di ranjang dan berguling-guling ke kanan-kiri dengan senang.


"Okay.. Okay, Em... Tenangkan dirimu...." ucapku dengan suara kalemku setelah aku duduk bersimpuh di ranjang. Aku berdehem sekali lalu membalas pesannya.


Aku merindukanmu juga...


Itulah yang kuketik di ponselku, tapi aku buru-buru menghapusnya lagi seraya menggeleng-gelenggkan kepalaku. No.. Aku harus sedikit tarik ulur setelah dia cukup mengecewakanku beberapa hari ini.


'Yahh, aku tahu....'


Sempurna...


Aku segera mengirimnya lalu menaruh ponselku di depanku, menatapnya penuh harap dan... Aku hanya mengedipkan mataku beberapa kali dan Harry sudah membalasnya. Aku menyambar ponselku dengan buas dan segera membacanya.


'Aku ingin melihatmu...' 


Lalu bergetar lagi.


'Aku ingin mendengar suaramu, Em...'


Aku menelan ludah dengan susah payah dan membayangkan suara Harry saat mengucapkan itu.


'Aku ingin menciummu...'


Aku menggigit bibirku dan segera menjatuhkan diriku di tempat tidur.


'Aku ingin melihatmu telanjaang di bawahku...'


Wajahku memanas dan suhu kamarku tiba-tiba naik.


'Kemudian membuatmu berteriak keras sepanjang malam memanggil namaku...'


Yah.. Yah.. Yah.. Aku ingin kau melakukannya padaku.


'Lalu bercinta denganmu dengan sangat keras.....'


Aku menutup mataku membayangkannya. Napasku terengah. Wajahku memanas dan memerah.


"Emilya..."


"Ahk!" aku segera berteriak kencang saat mendnegar suara Bibi Debs yang tiba-tiba muncul di kamarku. Aku segera tertududuk di tempat tidur. Sial.


Bibi menatapku aneh.


"Uhm.. Ada apa, Bi?" ucapkku kalem, tapi pikiranku tidak fokus. Benar-benar tidak fokus.


"Aku memanggilmu sejak tadi dan kau tidak menjawab jadi aku datang ke sini...."


"Sorry... Aku tidur tadi.."


Yah.. Ini masih pukul tujuh malam dan aku hanya tersenyum menanggapi Bibi.


"Kau ingat bukan, aku mengajakmu ke kota malam ini untuk membantuku melakukan sesuatu?"


Aku menatap Bibi tidak fokus kemudian aku sadar.


"Ya.. Yah.. Aku ingat.." sejujurnya aku tidak ingat.


Bibiku hanya tersenyum kecil.


"Baiklah.. Aku menunggumu di bawah..."


"Okay, bi..."


Bibiku segera pergi dan menutup pintu. Aku segera menghembuskan napas lega. Sial. Waktunya benar-benar tidak pas. Aku segera berdiri lalu mengambil jaket kulit coklat milikku yang tersampir di kursi dan mengenakannya. Aku mengambil ponselku dan tidak ada pesan baru dari Harry. Aku segera mengetik sesuatu dan mengirmnya untuk Harry.


'Aku berharap kau di sini Harry. Sangat....'


******


"Kau tidak ikut ke pekan raya?" tanya Bibi untuk kesekian kalinya.


Aku menggeleng, "No... Aku akan pergi saat sore menjelang malam saja..."


Pekan raya di Texas benar-benar menyenangkan, tapi berdasarkan pengalamanku, pekan raya benar-benar tidak menyenangkan saat siang bolong seperti ini. Panas dan padat.


"Baiklah...." ucap Bibi seraya berjalan keluar dari rumah diikuti Hailey dan Will.. Ah.. Dan anjing peliharaan Will. Mereka bertiga benar-benar terniat dalam pekan raya ini. Mereka mengenakan topi cowboy dan sepatu booth khas cowboy. Aku juga memiliki seperti itu, tapi aku benar-benar terlihat konyol dengan itu, sedangkan Hailey.. Dia benar-benar cocok.


Dia mengenakan kemeja kotak-kotak cerah dan celana jeans, rambutnya di kepang menjadi dua. Dia benar-benar manis. Wajar jika banyak yang suka padanya, tapi beberapa mundur mengetahui fakta bahwa dia seorang janda beranak satu. Aku mengantarkan mereka hingga keluar dan aku berdiri di teras, menghindari panas matahari.


"Bye, Em..." teriak Will seraya melamabaikan tangan padaku.


Hailey melambaikan tangan juga sebelum akhirnya masuk ke dalam truk. Aku tetap menatap truk itu hingga hilang dari pandanganku baru kemudian aku masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu harus melakukan apa-apa karena rumah sudah rapi.


Harry belum menjawab pesanku sejak kemarin dan aku tidak ingin mengiriminya pesan karena mungkin dia sedang sibuk saat ini. Aku akan mengiriminya pesan nanti saat hari semakin sore. Aku menatap rumah dan benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


Pada akhirnya, aku menuju ke kamarku. Awalnya aku ingin tidur, tapi saat aku melihat boots cokat dan topi cowboy-ku yang berada di samping lemari, aku segera tertawa. Dua benda itu  seolah sedang memanggilku untuk mencoba mereka.


"Apa salahnya..." ucapku padadiriku sendiri. Aku segera melepas pakaianku dan mengganti kaos dan celana pendekku dengan jeans dan kemeja kotak-kota berwarna hitam dan merah. Aku mengepang satu rambutku. Aku menatap diriku di cerming. Well.... Sejauh ini tidak aneh.


Aku mengambil boots dan mengenakannya. Lalu aku memakai topi itu. Aku berjalan ke arah cermin dan berharap penuh bahwa penampilanku tidak konyol dan... Fyuh.. Ternyata aku masih kelihatan konyol . Itu tidak cocok padaku. Kenapa Hailey tampak hebat mengenakannya?


Aku mendengar bel rumah dibunyikan. Aku segera mengintip dari jendelaku dan menatap sebuah sedan hitam mewah terparkir di halaman kami. Siapa? Aku tidak pernah melihat mobil seperti ini di kota kecil ini. Kebanyakan warga menggunakan truk dan sedan sederhana.


Alarm peringatanku segera berdering di kepalaku. Aku berjalan keluar dari kamar lalu mengambil tongkat baseball Will dari kamarnya. Aku turun perlahan dari tangga, berusaha tidak mengeluarkan suara. Aku berjalan di lorong rumah yang langsung menuju pintu. Itu tidak di ketuk lagi.


Aku berjalan perlahan ke arah pintu lalu berhenti di sana. Aku mengintip dari lobang kecil khusus yang ada di pintu dan melihat seorang pria berdiri membelakangi pintu. Siapa? Sial. Aku ingin membuka suara, tapi aku takut. Seorang wanita sendirian di rumah dan didatangi pria asing bukanlah keadaan yang baik.


Sial...


Apa aku harus menunggunya pergi? Aku memejamkan mata. Okay. Lalu aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Beranikan dirimu, Emilya. kau memiliki tongkat basball beli yang bisa memukul kepalanya hingga hancur.


"Siapa?" ucapku dengan suara tegas, tapi tidak lantang.


"It's me.." ucap pria itu seraya memutar tubuhnya. Momen itu seolah terjadi dalam waktu yang lambat. bagiamana ucapannya dikeluarkan seraya dia memutar tubuhnya. Jantungku berdegup kecang.


"Harry..." bisikku.


Aku segera menjatuhkan tongkat baseballku dan membuka pintu.


"Harry!" pekikku senang dan segera memeluknya.


"My cowboy girl.." ucap Harry seraya mengangkat tubuhku. Kami berputar kecil dan aku tertawa senang. Dia datang. Dia datang untukku. Aku tertawa penuh syukur. Jika dia datang untuk melamarku, aku akan mau. Benar-benar akan mau.


****


MrsFox


No konflik again. Sialakan tunggu cerita baru aku gais. Lop yuh so much