
Happy Reading
***
"Kumohon, temani aku.."
Dia menatapku. Apa yang dia pikirkan? Apa aku nampak seperti pria murahan? Sepertinya begitu.
"Kau mabuk?" tanyanya lagi, "Aku tidak ingin pelanggan pertamaku seorang pria mabuk. Aku takut tidak dibayar..."
Pertama? Apakah maksudnya aku pelanggan pertamanya untuk amlam ini? Atau apa?
Aku memejamkan mata dan kembali mengarahkan kepalaku ke meja bar.
"Maafkan aku... Mungkin aku sedikit mabuk. Abaikan ucapanku.." aku merogoh saku jaketku dan mengambil dua lembar uang yang kutaruh di bawah gelas kosongku. Aku kembali memakai jaketku, bersiap untuk pulang. Tidak baik untuk diriku jika berlama-lama di sini. Persetan untuk Bastian.
"Kau pulang?" tanyanya dengan suara jernih itu dan itu membuatku jengkel. Dia bertingkah seperti wanita lugu yang tidak tau apa-apa. Padahal dia tidak begitu... Dia pasti sangat liar.
Aku mengabaikannya dan berjalan meninggalkannya walau ada rasa sedikit bersalah karena aku mengabaikannya begitu saja. Aku menarik napas dan menoleh sekali lagi ke belakang, dia tengah melihatku. Ah.. Kenapa pula aku repot-repot melihat dia lagi? Dia hanya ingin isi dompetku. Itu saja. Persetan dengan semua ini, aku tidak akan datang ke tempat seperti ini lagi.
Aku keluar dari gedung itu dan segera merasakan udara dingin akhir tahun. Aku tidak sempat memakai jaket yang lebih tebal karena Bastian benar-benar memaksaku harus bergerak cepat. Lalu, suara hentakan sepatu ke aspal terdengar jelas di telingaku dan tampaknya mengarah ke arahku.
"Tunggu!" suara jernih itu.
***
Emilya POV
Aku menatap kepergiannya. Ah.. Seharusnya aku menggodanya dan bukan berkata hal konyol. Padahal dia tampak baik dan sopan. Dan dia muda! Padahal aku takut dan selalu wanti-wanti jika pelanggan pertamaku adalah pria tua yang buncit dan botak. Aku menatap punggungnya yang menjauh dan dia tiba-tiba berhenti sejenak. Dia menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke arahku dalam waktu singkat.
"Dia ingin dikejar..." aku menoleh ke arah Martin yang tiba-tiba muncul, "Dia menoleh ke belakang karena berharap di kejar..."
"Ah, kau benar. Trimss.." aku segera sadar dan bergegas pergi ke ruang ganti untuk mengambil mantelku.
Aku tidak mungkin pergi tanpa mantel di cuaca seperti ini. Aku segera memakaikan mantelku dan mengambil tas kecilku, lalu berlari keluar dengan kewalahan karena heels-ku. Aku mencari keberadaannya dan segera melihat bayangan pria yang tidak jauh dariku. Aku yakin itu dia. Dengan susah payah, aku berlari ke arahnya. Kuharap aku tidak mematahkan satu-satunya heels milik Hailey
"Tunggu!!" teriakku
Aku segera menarik tangan kanannya dengan kedua tanganku sehingga dia berhenti.
****
Harry POV
Aku merasakan telapak tangannya yang dingin dan kasar saat dia menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Aku terkejut dengan perlakuannya itu.
"Apa yang kau lakukan?" ucapku dingin. Dia segera melepas tangannya.
"Maafkan aku... Maaf.." suaranya terengah dan dia segera memperbaiki postur badannya menjadi lebih tegak. Dia nampak lebih berisi karena memakai mantel. Lalu dia berdehem sekali, "Aku akan menemanimu...."
"Sudah kubilang, aku tidak serius mengatakan itu. Maaf, aku harus pergi."
"Usiaku 25 tahun 8 bulan 12 hari..." Hah? Apa yang dia bicarakan.
Aku memutar tubuhku dan berjalan ke arah mobilku, tapi dia tetap mengikutiku.
"Aku bukan gadis remaja. Aku bisa menunjukkan kartu tanda pengenalku padamu jika kau ragu..."
Aku mulai jengah.
"Bola mataku itu asli. Aku tidak pakai softlens..."
Aku segera berhenti dan memutar tubuhku padanya, "Nona muda, aku tidak peduli tentang itu. Aku hanya bertanya itu karena aku mabuk dan itu tidak berarti apa pun untukku."
"Kumohon, bawa aku..."
Dalam lampu parkiran yang cukup temaram, aku tidak yakin bagaimana ekspresi wajahnya. Apa sih yang dia pikirkan?
"Baiklah, maaf mengganggu waktumu. Permisi..." dia segera membalikkan badannya dariku dan kembali masuk ke gedung itu. Bagus.. begitulah dia seharusnya. Seandainya saja dia tidak pergi setelah apa yang aku katakan padanya, dia pasti tidak memiliki harga diri saja.
Aku mendengus kesal dan segera berjalan ke mobilku. Merepotkan. Aku tidak akan datang ke tempat seperti itu lagi. Aku masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan tempat itu.
***
Seminggu berjalan dengan membosankan. Keadaan kota semakin ramai dengan hiasan bertema natal. Semua orang bergembira, tapi tidak denganku. Baik itu musim panas, gugur, dingin, maupun semi, semuanya sama saja untukku. Tidak ada yang istimewa.
Aku memejamkan mata seraya mendengar lantunan musik piano di ruang kerjaku. Dia berbakat, lantunan musiknya selalu bisa membawa siapa pun ke tempat yang menenangkan. Ah.. Kenny, kenapa dia benar-benar sempurna? Dia tidak memiliki cacat apa pun. Begitu sempurna, tapi sayangnya bukan hal yang bisa kucapai.
Telepon pesawat di mejaku terdengar. Aku segera mematikan musik itu dan mengangkat panggilan itu.
"Anda harus berangkat untuk jamuaan makan malam dengan Klient dari Arab, Sir.." ucap suara sekretarisku dari seberang.
"Baiklah..." aku segera memutuskan panggilan dan menarik napas. Mari kita mulai lagi hal membosankan ini. Jika bisa, aku ingin sebagai pria pengangguran saja. Tapi, hasrat untuk mengalahkan Scout-lah makanya aku bertahan di posisiku. Aku tidak mau dianggap lemah, terutama oleh Scout. Mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia dan aku harus tampil kuat, menunjukkan bahwa aku tidak tergoyahkan.
***
Aku memandang malas keluar jendela mobil. Melihat orang yang berlalu lalang sembari menunggu lampu lalu lintas berubah ke hijau. Beberapa pasangan tampak berjalan sama, wajah mereka bahagia. Hiasan natal memenuhi seluruh kota dan di sana berdiri wanita bermata coklat cerah itu. Ah...
Aku meneggakkan badanku dan melihat dia yang memakai jaket hijau tebal, syal, dan topi kupluk. Dia menyebrangi jalan melalu zebra cross bersama pejalan yang lain. Badan kurusnya semakin jelas karena jeans dan kelihat kecil di antara pejalan kaki itu. Dia melewati mobilku dan melihat raut wajahnya yang sepertinya cemas. Dia ke mana? Ini bukanlah lokasi pub tempat dia bekerja dan... Hah. Kenapa aku harus peduli?
Aku menggeleng kepala. Itu semua bukan urusanku.
***
Emilya POV
Ponselku berdering setelah aku menyebrangi jalan. Aku segera menerima panggilan itu saat melihat nama Spencer di sana.
"Em.. MJ tidak akan senang jika kau tidak datang besok. Ini sudah satu minggu!" suara Spencer naik satu oktav.
Aku mendesah dan asap lembut keluar dari mulutku, "Maafkan aku. Besok aku akan datang. Tubuhku memang sangat mudah sakit.." ucapku jujur. Setelah hari pertama aku bergabung dengan Spencer di Pub, aku jatuh sakit keeseokan harinya. Aku menderita flu berat. Mungkin terjadi karena aku memakai pakaian sangat terbuka saat malam itu.
Aku mendengar dia mendesah kesal, "Jangan membuatnya kesal. Usahakan kau mendapat pelanggan besok."
"Yah..." panggilan itu berakhir dan aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku jaketku. Seharusnya operasi Ibuku dilakukan lusa, tapi Dokter menunda melakukannya hingga satu minggu ke depan karena Ibu tiba-tiba terserang flu. Semua orang memang rentan terkena flu jika sudah musim dingin seperti ini. Akan tetapi aku bersyukur akan itu karena aku belum memiliki biaya untuk operasi itu.
Sempat terpikirku untuk membiarkan Ibu seperti itu saja, membiarkan penyakit itu menggerogoti tubuhnya dan membiarkannya mati. Namun, aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Julia selalu berkata padaku untuk melakukannya, tapi aku tidak sanggup. Aku memang tidak menyukainya, tapi dia tetap wanita yang melahirkanku. Aku hanya berharap dia segera sehat dan menikmati sisa waktunya dengan bahagia.
Aku menuruni tangga menuju stasiun kereta api bawah tanah. Lalu masuk ke dalam kereta api dengan berdesak-desakan. Aku mencari sudut kereta dan berdiri di sana. Aku bersandar pada badan kereta dan mulai berpikir. Kemungkinan besar aku kehilangan berat badanku karena sakit dan itu jelas membuatku semakin kurus, jelek, dan menyedihkan.
Aku menggigit daging dalam mulutku seraya mengingat perkataan pria yang ketemui di pub seminggu lalu. Perkataannya benar-benar menyakitiku walau yang dia katakan benar. Aku jauh dari kata menarik. Ah.. Aku harus berusaha keras untuk besok malam. Mungkin aku harus memakai sumpalan.. Julia dan Hailey punya banyak bra dengan sumpalan yang besar. Aku harus mencoba itu. Lalu, sepanjang perjalanan, aku memirkirkan taktik apa yang harus kulakukan besok.
Aku segera turun dari kereta setelah sampai di perhentianku dan berjalan cepat menuju rumahku. Aku melewati gang yang gelap seperti biasa, lalu gang yang ramai dengan bar, hingga ke jalan besar menuju rumahku. Rumah George ttidak pernah berhenti berpesta dan aku tidak pernah lagi melihat Julia setelah dia mencuri uangku. Kuharap dia mati saja di luar sana dan tidak ada yang menemukan mayatnya.
Aku masuk ke dalam rumahku setelah sampai. Membuka sepatuku dan berjalan menuju ruang tamu dengan kaos kaki tetap kupakai. Aku menemukan Hailey dan Will sedang menonton film kartun. Mereka melihat ke arahku dan aku buru-buru bergabung dengan mereka di sofa santai kami. Will berada di antar kami berdua.
"Em..." bisik Will dan aku mengelus kepalanya seraya menikmati kartun yang sudah kutonton untuk kesekian kalinya. Aku senang ada Will di rumah ini, kupikir dia lah salah satu alasan kuatku untuk terus bertahan hidup. Kuharap aku memiliki anak sebaik dia suatu saat ini.
"I love you..." bisikku seraya mengecup pucuk kepalanya dan kembali menikmati kartun itu.
***
MrsFox