
Happy Reading
***
Emilya POV
Aku selalu bertanya-tanya, kapan aku menerima manisnya kehidupanku? Apa memang hidupku hanya akan berputar-putar di lingkaran setan yang perlahan memnbunuhku? Aku memandang gundukan tanah coklat yang basah karena hujan.
Hari ini adalah pemakaman Julia.
Tidak ada yang datang untuk penghormatan terakhirnya. Tidak teman, pacar, keluarga, atau siapa pun. Hanya aku seorang. Julia meninggal karena tembakan dari senapan ayah yang mengenai dadanya. Aku memegang dadaku, merasakan rasa kosong yang menyakitkan.
"Dari dulu, aku ingin kau mati saja... Saat itu terjadi aku merasakan kekosongan..." ucapku dan tidak mempedulikan tubuhku yang mulai gemetar kedinginan karena hujan.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku saja yang tertembak? Kenapa kau bersikap sebagai penyelamat? Aku lebih suka kepribadianmu yang jahat dari pada melihatmu berbuat baik padaku....."
"Sampai akhir kau tidak tau siapa yang memecahkan botol ayah... Itu bukan aku, pelakunya Hailey"
Aku menatap nisan itu.
"Saat hidup kau menjadi beban untukku dan sekarang pun begitu... Kenapa kau pergi dan membiarkanku menanggung rasa bersalah? Kenapa?!" aku menatap langit dan merasakan hatiku yang sakit. Air mataku akhirnya jatuh dan bercampur dengan air hujan.
Ibu dan sekarang Julia..
Max lalu Harry...
Lalu Ayah...
Aku kehilangan semuanya satu per satu dan aku berpikir siapa selanjutnya yang akan pergi.
****
Dua tahun kemudian..
28 tahun....
Sekarang aku sudah berusia 28 tahun, lebih tepatnya 28 tahun 2 bulan. Aku baru menyadari usiaku sudah bertambah saat aku melihat tanggal di sebuah koran. Namun, aku tidak peduli itu. Tidak ada hal yang menyenangkan dari usia yang bertambah.
Aku mengangkat keranjang kecil berisi telur ayam dan segera pergi menjauh dari kandang ayam. Dua tahun berlalu dan inilah yang kulakukan sekarang. Bertani dan beternak. Aku menaruh keranjang itu ke rumah. Setelah itu aku berjalan menuju teras belakang rumah. Duduk di kursi santai seraya menikmati padang rumput yang luas.
Aku menatap sapi yang merumput dan Will yang berlari-lari penuh kebahagian bersama Kirby. Yah.. Kirby adalah nama anjingnya. Sekarang dia sudah berusia 12 tahun dan keadaannya semakin membaik. Begitu pun aku dan Hailey.
Setelah kejadian dua tahun lalu, saat ayahku menembak mati Julia, kejadian itu menimbulkan trauma besar pada Will. Itu merusak psikoligisnya. Membuat dia ketakutan pada pria yang berprawakan seperti Ayahku dan dia pun takut pada suara yang mirip letusan senapan. Mulai dari petir, kembang api, dan berbagai macam suara apa pun yang mirip dengan suara senapan.
Hailey dan aku pun merasakan gangguan psikologis. Sesungguhnya kami sudah memiliki gangguan itu sejak lama. Namun, kami menyembunyikan segala luka itu dalam diriku dan membiarkan itu tumbuh bersama kami. Kurangnya finansial membuat aku dan Hailey tidak pernah peduli pada kesehatan psikologis kami.
Selama setahun penuh, Hailey dan aku tidak berbicara. Dia tidak berusaha mengajakku berbicara dan aku pun begitu. Aku tidak tahu kenapa dia tidak mengajakku berbicara, mungkin karena dia marah padaku karena aku membuat Will mengalami hal buruk atau bisa juga dia merasa bersalah karena membuatku menanggung semua rasa benci Julia padaku.
Awalnya aku marah karena sampai akhir dia tidak mengatakan maaf padaku, tapi aku hanya diam. Membiarkan rasa marah itu hilang sedikit demi sedikit. Hailey pun sama halnya denganku, dia juga merasakan masa-masa berat. Dia sering menangis dalam gelap dan mengingau dalam tidur. Membuatku tidak bisa marah lagi padanya.
"Maaf! Bukan aku! Bukan aku!" itulah teriakan yang sering terjadi setiap dia tidur. Bahkan dalam mimpi pun dia menyangkal kesalahannya.
Ayah harus mendekam di penjara seumur hidupnya karena melanggar beberapa pasal hukum dan ternyata ayahku adalah buronan internasional yang di cari-cari.Pelanggaran yang di lakukan mulai dari pengedaran narkoba, menjual senapan secara ilegal, mencuri mobil, perdagangan manusia, praktik prosstitusi, dan yang terbaru adalah pembunuhan pada putrinya sendiri, Julia.
Bagaimana denganku? Aku menangis terus-menerus dalam beberapa bulan. Hypophrenia, gejala menangis secara tiba-tiba dalam jangka panjang dan terus menerus. Terkadang aku menangis saat mandi, saat memasak, saat menonton, saat berbelanja, bahkan dalam tidurku.
Trauma tidak terselesaikan dan kehilangan mendalam, itulah yang dikatakan Dr.Murphy padaku, seoarang psikater yang menanganiku, Hailey, dan Will. Dia pria tua yang hidup bersama istri dan anjing tua mereka. Mereka tinggal tidak jauh dari rumah kami dan dia sosok penyayang yang sangat ramah.
Dia berhasil membawa keadaan kami bertiga ke tahap yang hebat. Kami perlahan bisa melupakan trauma, rasa sakit, dan kesedihan itu secara perlahan. Namun, tidak sepenuhnya hilang. Dr.Murphy berkata bahwa ingatakan akan itu tidak bisa hilang, hanya bisa dikendalikan
"Ah... Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat..." aku mendengar suara Bibi Debs, membuatku menoleh ke arah pintu. Dia bersandar di kusen pintu dan menoleh padaku, "Empat bulan lagi sudah pergantian tahun...."
Aku tersenyum kecil, "Itu masih lama...."
"Itu tidak akan terasa lama..."
"Di mana Hailey?" tanyaku. Bibi Debs dan Hailey pergi ke kota sebentar untuk mengantar hasil pertanian kami untuk di jual.
"Oh..." ucapku pelan dan mengingat wajah si penjual daging itu. Dia seorang duda dengan dua orang putra kembar yang masih berusia lima tahun. Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tapi kupikir dia adalah sosok pria baik dan penyanyang. Terlihat dari bagaimana caranya merawat kedua putranya
"Bagaimana denganmu, nak? Apa cowboy itu tidak terlalu tampan untukmu?"
Aku tertawa kecil seraya menggelengkan kepalaku. Jackson Hemsworth. Seorang bujangan tampan dan idaman banyak wanita di salah satu kota kecil Texas ini. Dia seorang cowboy dan itu wajar kenapa banyak wanita mengidam-idamkannya. Secara umum, wanita texas suka pria cowboy. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah pasti hebat di ranjang.
"Entahlah..." ucapku tidak terlalu tertarik.
Jackson mendekatiku awal tahun ini dan aku tidak terlalu menggubrisnya. Setelah empat bulan berusaha menarik perhatianku dan itu tidak membuahkan hasil, akhirnya dia menjauh perlahan. Namun, baru-baru ini dia memberiku bunga saat kami tidak sengaja bertemu di kota. Bukan buket bunga yang besar, itu hanyalah bunga yang dia petik sembarangan dari pinggir jalan.
"Dia mengirimimu bunga..."
Aku menutup mataku, enggan melanjutkan pembicaraan. Mengingat kejadian dia memberiku bunga di tempat ramia membuatku merasa aneh.
"Ah.. Padahal dari dulu aku ingin didekati cowboy dan kau menyia-nyiakannya.."
"Kalau begitu buat Bibi saja.. Aku tidak keberatan.."
"Astaga, seleramu itu harus yang bagaimana?" lalu dia memukul pahaku, "Ayo bangun.. Bantu aku menyiapkan makan malam..."
"Uhm..."
"Will!" teriak bibiku, "Waktunya mandi..."
"Okay!"
"Bibi..." ucapku.
"Uhm?"
"Tanggal berapa sekarang?"
"13, kenapa?"
Aku menggeleng kecil, "Tidak kenapa..."
****
Author POV
"Happy Birthday, Harry..." ucap wanita berambut hitam legam, "Sekarang buat harapan sebelum meniup lilinnya..."
Harry tersenyum kecil pada wanita di depannya. Dia menatap kue bulat yang dihiasi beberapa lilin.
"Apakah aku harus membuat permintaan?"
"Tentu saja.. Ayo, cepat buat..."
Harry memejamkan matanya beberapa detik kemudian membukanya kembali untuk meniup lilin-lilin itu.
Wanita bermata hijau itu bertepuk tangan, "Apa permintaanmu?" tanyanya setelah tepukan itu selesai.
"Bukankah jika diberitahu tidak akan terkabul?"
Dia mengangguk, "Kau benar..." lalu dia merogoh sesuatu dari tasnya kemudian menaruh kotak kecil berwarna silver, "Ini hadiah dariku. Kuharap kau menyukainya."
Harry menerima kotak itu.
"Terimakasih, Zoya...."
****
MrsFox
New Seasons! Artinya, Di new York sekarang udah musim gugur(dalam cerita) dan di Texas hanya ada musim hujan dan musim kemarau. Yeayyy Musim gugur! Huhuy!! Sejujurnya, aku tidak tau arah cerita ini ke mana. Tapi kita ikuti ajah yahh kannn? Jangan lupa dukungan anda sekalian(maap pendek). Lop yuh gais, from the moon and back