Harry's Love Story

Harry's Love Story
Photograph



Happy Reading


***


"Apa kau tau apa yang dikerjakan Emilya?" tanyaku pada Will dengan tetap fokus pada televisi.


"Mom bilang dia mengerjakan banyak hal...."


"Di mana Kakek dan Nenek-mu?"


"Nenek di rumah sakit dan aku tidak punya Kakek.."


Aku bingung dengan pemilihan kata anak kecil ini, apakah makna dari 'tidak ada' ini artinya Kakek dan Ayahnya sudah mati atau dia memang tidak tau dan tidak pernah melihat mereka.


"Jadi Em yang bekerja mencari uang?"


Kuharap pemilihan kataku sudah tepat.


"Begitulah. Dia juga membeli ponsel baru untukku.." dia mengangkat ponsel yang di maksud ke depan wajahku.


"Dia pasti pekerja keras..."


Aku kembali mengingat tangannya yang kasar, tubuhnya yang kurus, dan penampilan seadanya.


"Apa kesuakaan Emilya?"


"Kau ingin melihat isi kamarnya?" tanya Will padaku


"Boleh?"


"Dia selalu memperbolehkanku masuk ke sana."


Aku menggaruk tekukku. Sial, anak kecil ini terlalu polos dan aku terlalu penasaran. Sebenarnya masuk ke kamar seorang wanita tanpa izin benar-benar salah. Aku ingat pernah masuk ke dalam kamar kakakku tanpa izin dan dia benar-benar marah besar padaku. Dia menhajarku habis-habisan.


"Maksudku, apakah aku boleh masuk?"


"Kita bisa minta izin pada Em, kau kan pacarnya. Pasti diperbolehkan.."


Adik kecil, seandainya kau tau jenis hubungan apa yang sebenarnya kami lakukan.


"Tidak perlu, aku akan menunggumu di luar pintunya saja."


Dia menatapku heran, "Tapi.."


"Uhm..Tunjukkan juga aku di mana kamarmu..." potongku


"Jadi kau tidak masuk? Kita bisa minta izin pada Em. Dia itu baik loh..."


Aku mengangguk, "Yah, tidak perlu. Ayo kita pergi sebelum dia selesai memasak..."


Kami segera berjalan meninggalkan dapur dan berjalan di lorong rumah yang sempit, kami melewati dapur dan melihat Emilya tampak sibuk. Kami menaiki tangga dan aku begitu terkejut betapa berderitnya tangga kayu ini. Kupikir ini bisa roboh kapan saja...


"Maafkan tangga kami yang berderit...." ucap Will yang memimpin di depan.


"Yah.."


Kami sudah berdiri di ujung tangga yang memisahkan dua bagian rumah. Dia berjalan ke arah lorong kiri dan ada tiga kamar disana, dua diantaranya berhadapan dan satunya menghadap langsung ke arah lorong


"Ini kamarku, kamar Mom, dan ini kamar Emilya..." dia menunjukkannya satu persatu, "Dan ini kuncinya..." dia menunjukkan tiga kunci yang digabungkan


"Kau punya semua kunci untuk setiap kamar?"


Dia mengangkata baunya, "Tradisi keluarga Teatons..." ucapnya dan segera membuka pintu kamar Emilya.


Aku segera melangkahkan kakiku masuk dan melupakan perkataanku sebelumnya yang mengatakan bahwa aku hanya melihat dari ujung pintu saja. Aku melihat satu buah single-bad di ujung kamar, lemari pakaian, rak buku, dan meja belajar yang diatasnya ada sebuah komputer besar. Khas gaya komputer tahun 90-an. Kamarnya cukup kosong dan polos, tapi rapi dan nyaman.


Aku memegang bagian atas komputer, "Apa ini masih berfungsi?" Itu benar-bena tua dan usang.


"Yah.." ucap Will yang sudah duduk di tempat tidur Emilya, "Walau dia harus memukul-mukulnya agar menyala.."


"Tentu saja.." gumamku dan mataku beralih ke arah rak buku yang berisi banyak buku dan novel tersebut, "Dia suka membaca?"


"Dia suka membaca banyak buku, terkhusus novel."


"Benarkah?' ucapku lagi karena merasa janggal. Emilya dan buku? Tampak bukan perpaduan yang cocok.


"Yah..."


Aku berjalan ke arah rak yang setinggi bahuku. Di rak paling atas, aku melihat enam buah bingkai foto dan ada satu bingkai foto yang membuatku tertarik. Aku mengangkat bingkai foto tersebut dan melihat Emilya dan seorang pria. Mereka tampak muda.


Emilya memakai pakaian kelulusan SMA dan pria itu berkacamata serata memakai kardigan biru. Emilya mengangkat toganya dengan senyum lebar dan pria itu mencium pucuk kepala Emilya. Begitu mesra dan penuh kebahagiaan. Aku memutar bingkai foto itu dan melihat tulisan tangan di sana.


Max Logan&Emilya Teatons


17-07-20XX(Kelulusan SMA Em)


Max Logan.. Hah.. Dia pria yang menelpon Emilya saat malam itu bukan? Sialan.


Aku menaruh kembali bingkai foto itu dan segera berjalan dengan cepat menuju lantai bawah. Aku tidak mempedulikan deritan tangga yang mengerikan. Aku hendak masuk ke dalam dapur, tapi segera mengurungkan niatku dengan bersembunyi di balik dinding saat mendengar ini.


"Love you..." dan itu adalah penutup percakapan mereka. Aku menghembuskan napasku dengan kasar. Sial. Bisa-bisanya Emilya melakukan ini? Aku marah untuk alasan yang tidak kuketahui dengan jelas dan aku juga marah karena merasa dikhianati. Aku segera muncul di pintu dapur dan melihat Kenny berdiri membelakangiku.


"Siapa?" ucapku dan Emilya segera memekik terkejut. Dia menoleh ke arahku dan wajahnya pucat pasi.


"Kau punya pacar?" ucapku langsung dan tanpa basa-basi. Aku sudah tau, tapi aku ingin memastikan itu langsung dari mulut Emilya.


"Harry, bisakah kita membicarakan ini di tempat lain? Ada Will di sini..." ucapnya dengan nada memohon yang putus asa.


"Jawab pertanyaanku, Em. Kau punya pacar?"


"Yah.." bisiknya dan itu benar-benar membuatku merasa kosong.


"Sial..." umpatku


"Harry? Em?" suara Will terdengar diiringi bunyi deritan tangga kami yang mengerikan.


Aku menarik napas dan membuangnya dengan kasar, "Kita lanjut pembicaraan ini nanti, Em. Setelah makan..."


***


"Aku dan Will melihat kamarmu tadi, jadi kau suka novel, Em?" ucapku tanpa melihat Emilya yang duduk di depanku. Aku menyendokkan omelet sosis yang dibuat Emilya.


"Begitulah..." bisiknya pelan.


"Thomas Hardy, Jane Austen, dan William Shakespear. Siapa yang membuatmu jatuh cinta pada buku?"


"William Shakespear..."


"Well.. Ku pikir kau akan mengatakan Jane Austen.."


"Aku suka ketiganya. Aku juga suka penulis zaman sekarang. J.K.Rowling adalah favoritku..."


"Jelas, yang tidak suka membaca pun suka membaca buku itu..." aku meliriknya, "Will mengatakan bahwa kau menulis ceritamu sendiri. genre apa yang kau dalami?"


Dan dia segera melihatku terkejut, seolah aku sudah memasuki wilayah pribadinya terlalu dalam.


Dia mendengus kecil dan  mengalihkan tatapannya dariku, "Romantis dan..--"


"Romantis? Pantas kau suka William Shakespear.." potongku.


"Romantis dan tragedi.." ucap Emilya dengan nada penekanan untuk menyelesaikan perkatannya tadi.


"Tragedi? Cocok untukmu..." aku segera sadar bahwa apa yang kukatakan sudah berlebihan. Sial. Seharusnya bukan seperti ini. Aku seharusnya tidak marah besar begitu, tapi.. Ah.. Ini semua membuatku bingung.


"Yah, kau benar. Cocok untuk kehidupanku..."


"Em, aku tidak bisa menghabiskan ini. Bisakah aku minum susu dan makan camilan yang kau beli tadi?" ucap Will yang tampaknya tidak terlalu peduli dengan perdebatan kami. Dia memainkan omeletnya yang tersisa banyak.


"Kenapa?" Emilya mengelus kepala Will yang duduk di sampingnya.


"Aku tidak terlalu suka telur akhir-akhir ini..."


"Baiklah. Ambil saja susu dan camilannya dari lemari pendingin. Lain kali jangan begini, buang-buang makanan tidak cocok untuk kita yang hidupnya sudah 'tragis'.." ucap Em dengan nada penuh penekanan pada kata 'tragis'. Sial, itu menohokkku melebihi apa pun.


"Baiklah.." Will segera pergi dan meninggalkan kami sendiri di dapur.


Aku melihat Emilya memindahkan omelet milik Will ke piringnya, "Aku tidak bisa buang-buang makanan." bisiknya pelan.


"Di rumah keluargaku memiliki banyak koleksi buku dan novel. Aku bisa merekomendasikan novel yang cocok untuk mengembangkan genremu..."


"Tidak perlu.." ucapnya ketus.


"Tapi kau harus, Em.." ucapku bersikukuh dan dia menatapku dengan tatapan mata yang nanar. Sial, apa matanya berkaca-kaca? Dia akan menangis?


"Kenapa aku harus, hah?" ucapnya dengan nada penuh tuntutan


"Karena Ibuku mengundangmu besok untuk makan malam dan aku sudah menyetujuinya..." Aku bohong. Aku mengucapkan kebohongan itu dengan lancar. Memang benar Ibuku mengundang Emilya tapi aku sudah menolaknya, tapi sekarang aku melakukannya. Ini tidak sepenuhnya bohong.


"Tapi..." dia memejamkan matanya, "Harry.. Aku tidak mungkin ke sana.."


"Mereka mengetahui kau sebagai 'kekasihku', Em.." ucapku penuh penekanan pada kata kekasih dan aku yakin dia tidak akan bisa menolak ini. Dia terlalu baik maka itu dia tidak sanggup menolak.


"Sialan, Harry. Sialan...."


"Max Logan. Apa dia tau apa yang kau lakukan sekarang?"


"Tidak.." bisiknya tanpa melihatku dan tetap memakan omeletnya, "Moodku sedang hancur, Harry. Bisakah kita membicarakan ini lain kali?"


"Apa yang terjadi jika aku mengatakannya pada 'kekasihmu' itu, Emilya Teatons?"


****


MrsFox


Jangan lupa like,coment,love,vote.. Itu sangat membantus aja agar novel ini bisa tetap masju dna berkembang. Terimakasih yang udah terus setia. Makaciww gaisss. Lop yuhhh.