Harry's Love Story

Harry's Love Story
My Love (21+)



Happy reading


*****


Emilya POV


Inggris.


Ah.. Ini lebih indah dari pada yang kubayangkan. Bangun tuanya, aroma bangunannya yang unik, dan aku benar-benar jatuh cinta tempat ini. Tempat lahirnya berbagai penulis legendaris lahir di sini. William Shakespear, Jane Austin, Thomas Hardy, dan banyak lagi.


Lalu, Swiss..


Oh my God.. Aku tidak membayangkan suamiku akan membawaku di sini. My rich husband. Tempat yang dingin, tapi aku menyukainya, padahal aku tidak suka dingin. Aku suka salju di sini, hamparan padang rumput, danaunya yang tidak terhitung, air sungainya yang jernih, dan semuanya. It's beautiful.


Belgia!!


Akhirnya aku mencoba coklat legendaris dari Belgia. Itu enak walau pahit. Bangunan tuanya! Astaga.. Kupikir aku benar-benar jatuh cinta pada Eropa. Aku bersepeda dengan Harry di sepanjang trotoar dan di samping kami ada bangunan tua dan di sisi lain sungai yang begitu jernih.


And the last, Spanyol....


Aku tertawa mengingat setiap film dan novel tentang tempat ini. Surganya pria tampan nan kriminal. Well.. Itu ada benarnya. Pria-pria di sini benar-benar panas, tatapannya tajam, warna kulitnya yang coklat, jenggotnya, dan ah... Yah.. Walaupun begitu, Harry tetaplah favoritku.


"C'mon..." ucap Harry seraya menarik tanganku menaiki sebuah kapal dan beberapa orang menaruh barang kami di sana.


"Kita tidak menginap di sini? Ini sudah sore.." jika Harry membawaku ke kota lainnya. Kupikir lebih baik kami melakukannya besok.


"Yah.. Kita akan menginap di Spanyol, tapi bukan di tempat ini..."


Aku melangkahkan kakiku menaiki kapal di bantu oleh Harry.


"Kapten Morris.." ucapnya seraya menjabat tangan seorang pria paruh bayah, "Ini isteriku, Emilya Smith...."


Ah.. Aku belum terbiasa dengan itu, tapi aku benar-benar menyukainya.


"Emilya Smith..." ucapku seraya menjabat tangannya.


Mereka berbicara sesuatu dan aku permisi untuk pergi. Aku berjalan di dek kapal lalu berdiri di ujung kapal. Udara hangat berembus bercampur dengan wnagi laut yang khas. Aku menatap matahari yang perlahan tenggelam dan meninggalkan jejak orange di langit.


Gaun biru berhembus dan aku memejamkan mata menikmati angin itu. Lalu kedua tanganku kutaruh di atas perutku. Usia kandunganku sudah memasuki minggu ke delapan dan aku belum juga merasakan morning sickenessku. Aku menelepon dokter yang menanganiku karena aku takut jika terjadi hal yang salah, tapi Dokter mengatakan bahwa tidak semua wanita hamil mengalaminya.


"Aku harap kau baik-baik saja di sana, kecil..." bisikku .


"Emilya..." suara Harry memanggilku dan aku menoleh ke arahnya. Dia berjalan ke arahku.


"Di mana semua orang?" tanyaku saat menyadari kapal yang sepi.


"Pergi..."


Aku menatapnya heran dan dia menarikku untuk pergi ke arah lain kapal.


"Siapa yang membawa?"


"Aku.."


Aku menatapnya kagum.


"Well... Aku masih bertanya-tanya, hal apa yang tidak bisa kau lakukan..."


Dia tertawa kecil, "Perjalanan kita akan sedikit jauh, jadi kau duduk di sana..."


Aku mematuhinya dan duduk di sebuah sofa berbantalan lembut.


"Kita ke mana?"


"Apa kau ingat bahwa Ibuku berasal dari sini?"


Aku mengangguk.


"Kita akan pergi ke Barbara Island..."


"Barbara Island..."


"Sebuah pulau pribadi yang diberikan Ayahku untuk Ibuku...."


****


Aku segera membuka mataku dan menatap langit-langit yang berbeda. Tempat tidur yang kutiduri pun berbeda karena memiliki tirai putih.  Lalu menatap ruang sekitar. Semua identik dengan warna putih dan coklat dari kayu. Aku bangkit berdiri dan menyadari bahwa ruangan ini langsung memiliki akses ke pantai. Aku berjalan mendekat saat melihat siluet di pantai. Harry!


"Harry..." ucapku seraya berjalan ke arahnya. Dia memutar tubuhnya dan aku segera memeluknya.


"Kenapa tidak tidur?" bisiknya.


"Aku tidak mengantuk..." aku melepaskan pelukan dan menatap air laut yang bersinar karena cahaya bulan. Angin menghembuskan rambutku ke belakang dan deru ombak membuatku sangat nyaman.


"Ayo kembali, Em.. Kau bisa kedinginan..." Harry mengarahkanku kembali ke kamar dan aku menurut padanya.


"Apa yang kau lakukan di sana?" ucapku saat sudah di dalam kamar.


"Mencari udara segar.."


Aku mengangguk dan duduk di tempat tidur.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam delapan malam.."


Wow.. Selama apa aku tidur?"


"Jadi kau mengangkatku dari kapal ke sini bersama barang-barang kita?"


"Jadi ini Barbara Island? Apa hanya kita di pulau ini? Seluas apa pulaunya? Apakah ada binatang buas di sini?" aku terus bertanya dan bertanya. Untuk memuaskan rasa penasaranku.


"Em..." ucap Harry dengan suara beratnya yang khas. Aku mengangkat kepala dan menatap dia yang berdiri tidak jauh di depanku.


"Yah..."bisikku dan atmosfer di sekitar kami segera berubah.


"Apakah aku bisa menjawab pertanyaanmu besok?" bisiknya dan berjalan mendekat ke arahku.


"Tentu..."


"Apa kau mengantuk?"


Aku menggeleng, "Tidak..." bisikku dan Harry segera mendorongku ke tempat tidur. Harry menciumku dengan lembut dan kepala kami beradu. Harry melepas kaosnya dan segera melepas gaunku.


"Cantik..." bisiknya di depan dadaku. Dia menarik bra milikku ke bawah, membuat dadaku menyembul ke atas. Dia menghembus pucuknya dan membuatku melengkungkan punggung ke arah mulutnya.


"Harry..."


"Yah sayang..." dan menjilat daging yang sudah tegang itu sekilas, membuat badanku segera bergetar dan menarik kepala Harry ke arah dadaku, tapi di tahan oleh Harry.


"Easy, Em..."


Dia naik ke atas dan mensejajarkan wajahnya kepadaku. Tatapannya begitu buas, panas, dan membuat badanku bergetar hebat. Dia menggesek dadanya ke dadaku dan aku melenguh tertahan, "Kau harus belajar sabar, Em dan aku akan mengajarimu..."


"Harry... Kumohon...."  aku mengarahkan mulutku ke arahnya hendak menciumnya, tapi dia menjauh...


"Sabar, sayang... Sabar..." Harry mencium kedua kelopat mataku, lalu kedua pipi, lalu menghisap telingaku, membuatku melenguh tertahan.


"Ini milikku..." bisiknya dan mencium bibirku sekilas. Lalu turun ke depan dadaku. Dia melepas kaitan braku dan itu segera terbebas. Harry menggoyangnya dan menghembuskan napasnya yang dingin.


"Ini juga milikku..."


"Ahk.... Harry! Please..." ucapku tak tertahan dan punggungku melengkung lagi ke arahnya.


"Sabar..."


Dia menciumi perutku dan memberi tanda di sana, "Tanda bahwa kau milikku, Em..."


Lalu kepalanya semakin turun dan aku menatapnya seraya meremas sprei. Napasku tertahan saat tatapan kami bertemu. Dia menurunkan celana dalamku dan di biarkan menggantung hingga paha. Dia tersenyum miring dan aku segera menggeleng kepala.


Harry menghembusnya milikku dan...


"Ahk..." engahku dan tanpa aba-aba, Harry segera memasukkan milikku ke dalam mulutnya. Badanku segera bergoyang karena sensasi yang sangat berbeda itu. Aku mendorong kepala Harry semakin dalam dan aku tidak henti-hentinya melenguh penuh nikmat. Sial. Ini hal baru untukku dan terasa sangat nikmat.


"Harry... Ahk!!"pekikku saat lidahnya menembus dan menyentuh sesuatu yang belum pernah tersentuh. Aku mendorong pinggulku semakin dalam ke mulutnya saat merasakan getaran itu semakin kuat. Aku akan mencapai ujungku. Aku memejamkan mata, bersiap dengan puncakku. Namun, Harry mengacaukannya dengan segera melepas mulutnya.


"Harry..." ucapku putus asa saat dia mengangkat kepalanya. Dia menjilat bibirnya,


"Kau nikmat, sayang..."


"Harry.... Kumohon..." rengekku kecewa karena pelepasanku tidak terjadi,


Harry segera mengarahkan wajahnya ke dadaku dan segera menghisap ujungnya yang sudah tegang dan dada yang lain dia remas dan dipelintir, membuatku pandanganku berkabut oleh gairah. Sial. Ini sangat nikmat. Harry sangat ahli memanjakanku dengan mulutnya yang ahli


"Ahk.. Ahk.. Ahk..." tubuhku terhentak-hentak dengan rasa nikmat yang tiada tara.


Harry segera menjauhkan wajahnya dari dadaku dan mencium bibirku, "Buka kakimu lebar sayang..." bisiknya dan aku menurutinya, "Aku akan bercinta dengan sangat keras padamu, Em... Membuat kau berteriak kencang hingga seluruh orang di negeri ini mendengar teriakanmu..." dia menggesek miliknya ke milikku dengan menggoda dan segera memasukkannya tanpa peringatan.


"Ahhh..." desahku saat itu memenuhi diriku. Harry mendorong lagi, memasukkan lebih dalam dan dalam. Dia belum pernah masuk sedalam ini dan aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak nyaman. Apakah ini karena aku hamil?


"Tidak nyaman sayang?" bisiknya, "Tapi ini akan nikmat saat aku menggerakkannya seperti ini..." Harry segera memutar pinggulnya perlahan, mengirimkan kenikmatan tiada tara padaku.


"Ahk!!!!" pekikku saat rasa yang berbeda itu mengguncang diriku.


"Rasamu sangat nikmat, Em..." Harry tetap memutar pinggulnya perlahan, menggodaku dan ini membuatku frustasi. Aku segera menggerakkan tubuhku naik turun dengan tidak sabaran dan putus asa.


"Kumohon, Harry..." ucapku putus asa.


Harry segera menggerakkan tubuhnya naik dan turun dengan sangat perlahan, "Kau. Milikku. Emilya. Smith." ucap Harry di setiap gerakannya. Aku mengikuti gerakannya yang perlahan.


"Aku milikmu, Harry.. Selamanya..."


Harry segera menggoyang dengan cepat dan aku berusaha mengikuti gerakannya. Dia melakukannya dengan sangat cepat seraya meremas dadaku dan menciumi wajahku. Keringat Harry menetes pada kulitku yang sudah basah oleh keringat.


"Ahk..." desah Harry, "Kau sangat nikmat, sayang... Sangat nikmat..."


"Ahk.. Ahk.." setiap dorongan itu semakin dalam dan membuat ruangan ini penuh suaraku dan suaranya.


"Harry!!" teriakku saat puncakku datang.


"Em!!" dan pelepasan itu segera diikuti oleh Harry


Napasku dan napasnya terengah-engah. Lalu, secara mengejutkan Harry membalikkan badanku dan memasukkan miliknya kepadaku dengan cepat. Itu memenuhiku segera dan mengirim sinyal lain. Bahkan aku belum menikmati pelepasan pertamaku dan Harry sudah bersiap untuk pelepasan kedua.


"Aku tidak akan membiarkanmu tidur..." bisiknya ditelingaku dan segera menampar pantatku, membuatku mengerang. Dia mencium punggungku dan mulai menggerakkan tubuhnya. Dia meremas dadaku dari balik punggungku. Aku terus melenguh dan melenguh karena kenikmatan ini tiada tara.


"Emilya!!" teriak Harry dan terus bergerak. Mengisi dan memompaku dengan keras. Tempat tidur ikut bergerak mengikuti gerakan kami. Wajahku bersentuhan langsung dengan ranjang dan ikut gerakan itu. Napasku terengah dan kami semakin menggila. Tangan kanan Harry menganggkat perutku semakin tinggi dan mengarahkan bokongku padanya mendekat, membuat miliknya semakin memenuhi diriku.


"Keluarlah untukku, Em.. keluar lah..."  Harry menampar pantatku dan aku segera menemui puncakku. Harry masih tetap mendorong dan mendorong, lalu puncak miliknya segera datang. Aku segera ambruk ke tempat tidur. Itu sangat melelahkan dan nikmat.


Harry segera berbaring di sampingku dan dia membalikkan tubuhku ke arahnya. Dia memelukku erat. Napas kami terengah-engah. Perlahan, aku menutup mataku dan masuk ke dalam dunia mimpi. Mimpi yang sangat indah.


"Good night, sweetheart..."


***


MrsFox