
Happy Reading
***
"Halo Max" ucapku seraya menutup pintu kamar, mataku bertemu dengan mata Harry untuk sesaat yang menegangkan. Aku berjalan menjauh dari kamar dan menuju dapur.
"Em.. Lagi ngapain?"
Aku memutar otakku, "Aku sedang di kota..." aku memasukkan tanganku ke saku jeansku. Aku melihat bayanganku yang terpantul di kaca lemari es. Sial, aku kacau.
"Untuk?"
"Kerja seperti biasa..." aku memutar tubuhku, menolak melihat bayanganku. Aku berjalan menuju sofa dan melihat jas Harry yang tersampir di lengan sofa. Aku menggosok lenganku karena kedinginan. Aku duudk di sofa dan menarik jas Harry untuk menutupi tubuhku.
"Jangan terlalu keras, Em..." suaranya hangat dan menenangkan jiwaku. Segera rasa bersalah menghantamku, "Aku kangen..."
Air mataku menetes. Max... Astaga..
"A..." aku berdehem sekali, "Aku juga.." suaraku bergetar.
"Kau tak apa? Ada yang salah? Em?"
Aku menghapus air mataku, "Tidak.. Tidak ada yang salah.. Aku sangat merindukanku hingga membuatku menangis...." Sebenarnya banyak yang salah.
"Em.. Jangan menangis...."
"Yah.. Bagaimana kuliahmu?" aku menaikkan suaraku agar lebih ceria.
"Lancar walau ada satu dosen yang menyulitkanku... Aku akan ujian akhir tahun minggu depan, doakan aku bisa."
"Kau pasti bisa.." aku tersenyum dan membayangkan wajahnya sekarang.
"Bagaimana dengan Ibu?" Ibu yang dimaskud di sini adlaah Ibuku.
"Dia baik-baik saja dan operasinya akan dilakukan Senin ini.."
"Bertepatan dengan waktu ujianku. Maaf aku tidak bisa menemanimu.."
"It's okay..."
"Kau kerja apa lagi kali ini? Aku khawatir kau terlalu malam untuk pulang, kau tau New York itu kota yang bagaimanakan?" aku melihat jas hitam yang menutupi tubuhku, wangi Harry begitu kental di sini. Andaikan Max tau apa yang sedang kulakukan saat ini.
"Aku kerja di tempat yang aman kok, tenanglah. Aku akan segera berhenti setelah menemukan pekerjaan yang baru..."
Dia menghela napas membuatku khawatir.
"Ada apa? Semua baik-baik saja?" tanyaku dan jantungku berdegup kencang.
"Tidak, aku hanya merasa kau menyembunyikan sesuatu..."
"Aku..." aku tercekat.
"Em, ceritakan apa pun keluh kesahmu padaku. Jangan memendamnya. Aku khawatir.... Hailey berkata bahwa kau bekerja semalaman dan baru pulang di pagi hari, lalu pergi siang lagi untuk bekerja. Kenapa tidak cerita kalau kau bekerja satu malaman?"
Aku menelan ludahku, "Aku tidak ingin membuatmu khawatir, maafkan aku Max.."
"Kumohon ceritakan padaku, Em.. Aku ingin menjadi pria yang selalu bisa kau andalkan..."
"Yah. Aku akan menceritakan semuanya."
"Aku sangat mencintaimu, kau tau itu kan?"
"Aku tau dan aku juga sangat mencintaimu..."
"Baiklah.. Kuharap kita bisa bertemu sebelum pergantian tahun. Istirahatlah, Em. Jangan memaksakan diri."
"Yah..." bisikku.
"Bye, my love..."
"Bye..."
Aku menutup ponselku dan merasakan ketakutan luar biasa. Ah.. Jantungku. Aku memegang dadaku, kupikir aku akan mati muda. Aku memejamkan mata dan segera berdiri, aku menaruh kembali jas Harry di temapt semula dan berjalan menuju dapur untuk segelas air putih.
Setelah itu, aku berjalan menuju kamar. Aku menarik napas sejenak sebelum akhirnya membuka pintu. Aku melihat Harry sedang berdiri memunggungiku di depan jendela kaca dengan pakaian lengkap. Aku menarik napas, ah.. Tiba-tiba rasanya sangat canggung dan memalukan.
Aku berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian gantiku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengkep oleh keringat dan mulut Harry. Mulut Harry.. Aku melihat pantulanku di cermin, ada banyak bekas warna merah di sana. Dia menghisap terlalu keras dan aku yakin ini akan membiru besok hari.
Aku segera membasahi tubuhku tanpa menyabuninya, lalu memakai pakaianku. Aku membuang pembalut bekasku dan memasukkan pakaianku ke keranjang kotor, lalu keluar dari kamar mandi. Aku menemukan Harry masih berdiri di sana dengan posisi yang sama.
"Hey.. Kau tidak tidur?" ucapku senatural mungkin.
Dia membalikkan tubuhnya, "Kemarilah..." dia tersenyum manis dan dia menyodorkan tangan kanannya padaku. Itu senyum yang sangat indah. Aku berjalan ke arahnya dan memegang tangan kanannya. Dia segera melingkarkan tangannya padaku dan aku menyandarkan kepalaku pada lengannya.
"Kau lihat gemerlapnya kota New York ini?"
"Yah.."
"Menurutmu seperti apa?"
"Bintang?" ucapku ragu.
"Yah, benar.. Bintang selalu identik dengan harapan..." kemana arah pembicaraan ini.
"Entahlah..."
"Apa kau tidak punya harapan, Emilya?"
"Hidup tenang, mungkin.. Bagaimana denganmu?"
"Tidak ada yang kuharapkan karena aku punya semuanya kecuali satu..."
Aku menoleh ke arahnya. Suarannya terlalu sedih, jadi aku berpikir dia tidak berusaha untuk menyombongkan diri.
"Apa itu?"
Aku bertanya-tanya, apakah dia juga melakukan hal seperti ini dengan kekasihnya dulu? Aku merasa kami seperti sepasang kekasih, kecuali kami tidak melakukan tukar pesan layaknya pasangan. Aku belum pernah menghubungi atau mengirimi dia pesan.
Tangan kirinya di arahkan ke depan seolah mencari atau meraih sesuatu yang tidak kupahami, sedangkan tangan kanannya tetap melingkar di tubuhku. Aku melihat wajahnya, dia tersenyum kecil tapi raut wajahnya sangat sedih. Dia kenapa sih?
"Sesuatu yang ada di luar sana dan sempat kumiliki, hanya saja tidak bisa kumiliki lagi."
"Kau okay?"
"Entahlah.. Apa ada sesuatu yang kau inginkan atau yang ingin kau lakukan?"
"Aku? Banyak hal yang kuinginkan..." Salah satunya ingin waktu tiga bulan berlalu dengan cepat.
"Coba katakan salah satunya..."
"Aku ingin tidur..."
Lalu, dia tertawa kecil. Tawa yang manis.
"Ada yang lucu?"
"Tidak.. Aku hanya tidak menyangka kau ingin itu."
"Kau tidak? Ini sudah larut..."
"Baiklah. Ini permintaanmu yang kedua yang akan aku kabulkan..."
Dia mengarahkanku ke tempat tidur. Lalu kami berdua berbaring setelah dia mematikan lampu, menghadap langit-langit dengan tangan Harry mengelus rambutku. Tidak gelap, tapi temaram. Aku merapatkan tubuhuku pada tubuh Harry yang wangi.
"Apa permintaan keduaku padamu?" aku memecahkan keheningan.
"$30.000.."
"Ah.. Kau benar.. Apa kau selalu mengabulkan permintaan mantan kekasihmu sebelumnya?"
"Tergantung.."
"Berapa banyak permintaan mereka?"
"Aku tidak menghitungnya, tapi mereka selalu memiliki permintaan yang sama."
"Apa itu?"
"Bagaimana denganmu, apa lagi yang kau inginkan?" dia sering mengalihkan setiap pertanyaanku.
"Jika aku bilang hentikan kontrak?"
Dia terkekeh lagi, "Tidak boleh, secara hukum hanya aku yang bisa memutuskan kontrak.."
Ah.. Kenapa tawa, senyum, dan suaranya begitu manis dan ramah.
"Kau benar."
"Jadi apa yang kau inginkan?"
"Entahlah, berapa banyak permintaanku yang akan kau kabulkan?"
"Semampuku..."
"Kau pasti orang yang sangat kaya..."
"Sangat..."
"Aku akan menyimpan keinginanku untuk kemudian hari.."
"Katakan saja.."
"Apa saja?"
"Yah.." ucapnya jenaka.
"Aku ingin merasakan sehari saja bagaimana kehidupanmu sebagai orang kaya.."
"Tentu..."
"Serius? Padahal aku tidak serius mengucapkannya..."
"Sabtu? Kau ingin melakukannya sabtu ini?"
Aku berpikir sejenak, sabtu ini maka artinya lusa adalah operasi Ibuku. Memang kenapa jika aku bersenang-senang? Aku hanya harus bersikap seperti kekasihnya bukan? Dia membayarku untuk itu maka aku melakukannya. Persetan denagn yang lainnya. Dan untuk Max, selama dia tidak tahu semua akan baik-baik saja.
"Tentu... Tentu saja.."
****
MrsFox