
Happy Reading
***
Harry POV
"Mom.. Astaga.. No baby.. Okay. Kami masih tahap mencoba.." ucapku pada Ibuku seraya mengarahkannya dengan Cassie ke lift.
"Kau mengusir kami?" ucap Cassie dengan suaranya yang naik satu oktav, "Beraninya kau..."
Aku mengusap wajahku dan melihat Emilya yang tidak bisa berkata-kata.
"Aku hanya butuh privasi Cassie, Mom..."
"Biarkan kami mengetahui nama pacar simpananmu ini, my dear..." ucap Ibuku seraya menyingkir dari depanku dan berjalan ke arah Emilya.
"Halo Mrs.Smith, maafkan kita bertemu dengan keadaan seperti ini...."
"Ohh.. It's okay. Siapa namamu, my dear?"
"Emilya. Emilya Teatons..."
Emilya menyodorkan tangan kanannya untuk memperkenalkan diri dan itu sangat bergetar keras. Dan bertambah keras karna Ibu hanya menatap tangan itu.
"Oh Mom.. Kau membuatnya tidak nyaman.."
"Astaga. Jangan takut begitu.." ibuku segera memeluknya, "Ah.. Aku senang mengetahui bahwa kau ada di sini." Ibu melepas pelukannya, "Panggil aku Barbara.."
"Cassandra Smith. Panggil aku Cassie. Aku senang bertemu denganmu Emilya..." Cassie pun ikut memeluknya.
"Jadi kenapa kalian datang ke sini?"
"Apa aku tidak bisa melihat anakku lagi?...." lalu ibu mulai berceloteh dengan bahasa Spanyolnya. Ah.. Begitulah dia.
"Maafkan aku, Mom..." bujukku dan dia tersenyum, tergoda untuk memaafkanku.
"Aku hanya ingin melihat putraku satu-satunya karena kau sangat jarang pulang..."
"Dad merindukanmu.." lanjut Cassie.
"Dad?" ucapku sedikit terkejut, "Titip salam untuk, Dad. jadi bisakah kami meminta waktu privasi kami?"
"Tentu. Aku senang bertemu denganmu, my dear.." ucapnya pada Emilya, "Ajaklah dia makan malam bersama keluarga kita secepatnya, Harry..."
"Bye.." ucap Cassie dan segera membawa Ibuku menuju lift.
"Astaga...." Emilya segera melap tangannya ke baju yang dia pakai, jelas tangannya sangat basah. Dia segera memutik baju kami yang berceceran di sofa dan aku ikut membantunya.
"Maafkan aku. Ibu dan Kakakku selalu bersemangat begitu.."
Dia segera duduk di sofa dan menaruh pakaian itu di sampingnya. Aku pun ikut duduk di depannya.
"Apa mereka membuatmu tidak nyaman.."
"Tidak.. Hanya saja.. Uhm.." dia mengerutkan dahinya lagi.
"It's okay, Em... Katakan saja. Jangan terlalu keras memikirkannya."
"Aku begitu terkejut Ibu dan kakakmu sangat bersemangat bertemu denganku. Itu membuatku begitu berharga dan aneh di saat yang bersamaan."
"Kau wanita ketiga yang datang ke tempatku kecuali Ibu, Kakak, dan Msr.Luni, pengurus rumah ini."
"Ketiga?" Pertama Lolita, kedua Kenny, dan ketiga adalah dia.
"Mungkin itu kenapa mereka begitu terkejut..."
"Harry.. Mereka berpikir kau berkencan denganku.."
Aku tertegun mendengar ucapannya, "Tidak apa, aku bisa mengurusnya. Tidak perlu merasa ada ikatan yang memberatkanmu, Emilya..."
Dia menatapku, seolah menimbang apa yang kuucapkan. Dia mengalihkan tatapannya dariku.
"Oh, begitu.. Baguslah." nada suaranya berbeda.
"Kau okay?"
Aku meliriknya dengan tajam, "taruh saja di sana, pembantu akan mengurusnya.."
"Oh. okay.." dia menaruh pakaianku dan mengambil pakaiannya, "Aku harus mengganti bajuku dan pulang.." dia berjalan ke arah tangga.
Aku berdiri, "Akan kuantar..."
"Tidak perlu, Harry. Aku bisa sendiri dan aku ada urusan di sekitar sini.."
"Akan kuantar.." ucapku lebih tegas dan dia berhenti menaiki anak tangga.
"Okay, Harry....Okay." ucapnya dengan nada ceria dan melanjutkan langkah kakinya. Aku mengikutinya ke atas dan masuk ke dalam kamar. Aku sudah melihat dia memakai pakaiannya yang kemarin dan sekarang sedang melipat pakaianku.
Aku berdiri di tengah kamar seraya melihatnya, "Kau okay?"
Dia melihatku, "Aku okay, Harry. Sangat okay. Aku harus pergi sekarang..." ucapnya seraya memakai jaket miliknya.
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Aku menerima panggilan penting. Maafkan aku, Em..." aku berbohong demi kebaikannya. Nampaknya dia sedang tidak ingin berada di dekatku.
Dia melihatku, "Benarkah? It's okay.. Lagian, aku ada urusan di daerah ini..."
"Akan kupanggilakan taxi.."
"Tidak perlu Harry. Kau hanya perlu di sini. Okay.."
"190990. Sandi liftnya..." ucapku.
"Uh. Trims yah untuk kemarin. Aku sangat senang. Bye, Harry..."
Aku tidak membalas ucapannya dan hanya menatap punggungnya yang sedikit dibungkukkan. Dia keluar dari kamar dan menutup pintu. Aku tetap berada di posisiku seraya menatap pintu cokelat itu sebelum akhirnya bergerak.
***
Emilya POV
Ada dua kejadian tidak terduga denganku hari ini. Satu adalah saat di pent-house milik Harry dan kedua adalah saat aku berpapasan dengan Julia saat aku sudah keluar dari gedung itu. Dia bersandar di dinding luar gedung dengan pakaian serba hitam. Dia seperti menungguku. Aku menelan ludahku. Sial. bagaimana bisa? Satu-satunya hal yang ingin ku hindari adalah dia. Abaikan dia. Aku berjalan melewatinya.
"Hey.." dia memanggilku dan aku tetap berjalan, "Emilya..." dia memegang tanganku dan aku segera memutar tubuh seraya menghentakkan tanganku darinya.
"Apa?!"
"Woahh.. Easy girl..." ucapnya santai. Jarak kami dekat dan aku bisa mencium bau rokok yang begitu kental dari tubuhnya, "Aku penasaran kenapa kau bisa masuk dan keluar dari tempat ini. Kau menghabiskan satu malaman di sini, bukan?"
Bagaimana dia bisa tahu?
"Kau penasaran bagaimana aku tahu kau di sini. Aku melihatmu duduk di mobil mewah dan masuk ke basement gedung ini. Kupikir aku salah lihat, tetapi aku menunggumu keluar dari gedung ini sejak subuh tadi...."
Aku memutar mataku. Aku harus bersikap sebiasa mungkin, "Bukan urusanmu..."
Aku memutar tubuhku darinya.
"Kau mengencani pria tua yah? Wah.. Apa yang akan dia katakan jika dia tahu akan ini..."
Aku menarik napas dan mengingatkan diriku bahwa dia hanya ingin membuatku marah.
"Ah... Sepertinya benar karena kau diam. Uhm.. Ternyata kau tidak sepolos yang kubayangkan..."
Aku memutar tubuhku lagi dan berjalan ke arahnya. Jarakku hanya beberapa jengkal darinya. Aku menarik kerah bajunya dan dia hanya tersenyum menyebalkan padaku.
"Kau ingin memukulku,Em?" tanyanya, "Kau tau kan bahwa kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak akan pernah bisa.."
Aku sedikit memiringkan kepalaku padanya, "Dengar, apa yang kulakukan bukan urusanmu, dasar lesbi sialan.." aku mendorong tubuhnya dariku dan dia segera tertawa. Tawa hinaan yang menyebalkan.
"Whoa.. Apa kau sedang menggertakku? Seorang Emilya menggertakku."
"Uruslah dirimu sendiri, Julia. Tidak perlu mengurusi hidup orang lain saat hidupmu sendiri tidak bisa kau urusi.." ucapku dingin dan segera pergi darinya. Aku berlari saat dia berusaha mengejarku. Aku melihat taxi dan segera mencegatnya. Aku masuk ke dalam taxi dan taxi itu segera melaju. Aku melihat Julia yang tampak kesal karena tidak bisa mengejarku. Aku tidak akan mau dimanfaakan oleh Julia. Cukup sampai sini, jika dia mengancamku dengan apa yang dia lihat hari ini, aku hanya perlu menyerangnya kembali karena dia tidak punya bukti yang cukup kuat.
Namun, saat aku melihat pejalan kaki di trotoar timbul perasaan aneh dalam diriku. Entah kenapa apa yang kulakukan tadi salah, seharusnya aku tidak melakukan itu. Julia tidak senang dan tidak suka jika di perlakukan sepertk itu. Emosinya tidak terkendali dan dia bisa melakukan apa pun dan itu membuatku benar-benar khawatir.
***
MrsFox