
Happy Reading
****
Emilya POV
Aku bangun dengan keadaan luar biasa dan perlahan membuka mataku.
"Good morning..." ucap Harry yang berbaring di dekatku.
"Uhm..." erangku seraya merengangkan tubuhku.
"Tidurmu nyeyak?"
"Sangat..."
Aku menguap kemudian memutar tubuhku ke arah Harry. Aku segera memeluk tubuhnya di dalam selimut dan merapatkan tubuhku padanya.
"Ayo bangun.." ucapnya dan segera bangkit, melepaskan pelukanku secara paksa. Aku mendengus kesal dan segera merapatkan selimut ke tubuhku seraya menatap tubuh telanjang Harry. Dia segera memakai boxer miliknya seraya menatapku. Kemudian dia melangkahkan kaki menuju telepon pesawat. Aku menatap bagaimana ototnya bergerak seiring langkahnya.
"Halo..." ucap Harry seraya menatapku, "Aku ingin dua set sarapan pagi untuk kamar 1401.... Menu terbaik..." lalu dia menutup kembali telepon pesawat tersebut. Kemudian merangkak ke atas tempat tidur. Kemudian mengecup bibirku sekilas.
"Ayo mandi..."
Aku menggeleng. Aku tidak pernah mandi pagi sejak kedatanganku ke New York. Tidak dengan cuaca sedingin ini.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sempat tertunda kemarin..." ucapnya dan aku berpikir bahwa aku harus mandi. Well... 'Kegiatan' hebat kemarin membuatku tubuhku lengket karena keringat.
Aku kemudian mengangguk kecil, "Kau bisa mandi lebih dulu..."
Dia kemudian menggeleng, "Kita mandi bersama... Ayo."
"No.." ucapku denagn nada yang berlebihan hingga emmbuat raut wajah Harry terlihat terluka. Ah.. mandi bersama pria tidak pernah kubayangkan bahkan sekali pun dalam mimpi liarku.
"Kau jijik padaku?"
"Bukan... Aku hanya merasa tidak nyaman berbagai kamar mandi dengan orang lain..."
Harry kemudian turun dari tempat tidur dan berdiri di sampingku.
"Akan kutunjukkan betapa nyamannya mandi bersamaku..."
Harry kemudian menarik selimutku dengan paksa kemudian menggendong tubuhku di bahunya bak karung beras.
"Harry!" pekikku dan segera tertawa. Rambutku bergoyang ke sana ke mari saat dia membawaku ke kamar mandi. Secara tiba-tiba dia memukul bokongku.
"Awwww..." kemudian aku tertawa lagi.
Aku yakin ini tidak akan sekadar mandi saja...
***
"Kita ke mana?" tanyaku setelah kami ke luar dari lift dan berjalan di lobby. Dia mengenggam tangan kananku dengan erat. Secara tidak sengaja, aku menatap resepsionist yang melayaniku pertama kali saat datang ke sini, mulutnya menganga lebar. Well... Tentu saja karena Harry. Dia milikku, sialan...
"Danau..."
"Danau?" tanyaku dan segera membayangkan suhu di sekitaran danau. Sial, pasti dingin sekali.
"Yah...."
Kami ke luar dari hotel dan segera melihat pria berkulit hitam berdiri di samping mobil seolah menunggu kami.
"Selamat pagi Mr. Smith, Mrs.Teatons.." sapanya dengan suara rendah lalu memberi sebuah kunci mobil pada Harry.
"Terimakasih, Liam..." ucap Harry dan segera membuka pintu mobil untukku. Aku tersenyum singkat pada pria bernama Liam tersebut sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Yes, sir..."
Lalu Harry bergabung dengan yang duduk di kursi penumpang.
"Apa dia yang membawakanmu pakaian bersih ke kamar hotelku?" tanyaku saat Harry menyalakan mesin mobil.
"Yah..." lalu dia melajukan mobilnya. Jika kau kaya, kau bisa memerintahkan orang lain melakukan banyak hal padamu.
Harry menyalakan musik dan kini bukan musik milik Kenny. Aku diam dan Harry diam. AKu tidka ingin bertanya kenapa bukan musik Kenny. Aku ingin menikmati perjalanan dan musik itu dalam tenang.. Musik itu begitu lembut dan tenang. Semakin jauh kami dari pusat perkotaan, aku semakin ingat jalan ini. Ah.. Ini jalan menuju danau saat Harry membawaku pertama kali sekitar tiga tahun lalu.
"Aku ingat..." bisikku saat mobil Harry memasuki hutan pinus dengan jalan kecil. Lalu dia menghentikan mobilnya.
"Ayo..." ucap Harry dan aku segera keluar.
Harry menggenggam tangan kananku dan kami berjalan di jalan setapak menuju danau itu. Aku ingat jalan setapak ini tidak sebagus dulu dan itu di penuhi daun kunign yang berguguran.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanyaku seraya berjalan perlahan dengan Harry.
"Aku hanya ingin saja.."
"Karena?" kami akhirnya melihat danau yang pinggirannya dipenuhi oleh daun orange yang berguguran. Kami berjalan di tepi danau. Ah.. Jika musim panas, tempat ini akan tempat yang menyenangkan untuk mandi.
"Aku mencintaimu..." ucap Harry dengan suara mantap. Aku menatap ke arahnya yang juga menatapku kemudian aku mengalihkan tatapanku darinya. Itu pertama kalinya aku mendengar dia mengucapkan itu dan jantungku berdegup kencang. Namun, bagaimana denganku? Aku tidak yakin dan tidak mampu mengucapkan hal yang sama saat kami baru bertemu beberapa kali setelah dua tahun walau kami sudah meluruskan kesalahpahaman antara kami.
"Siapa wanita yang bersamamu saat di restoran itu?"
"Zoya Clark."
"Dan kau memutuskannya karena aku?"
"Ya, tapi bukan hanya karena kau, Em.. Aku hanya merasa tidak bisa meneruskan hubungan itu. Sulit menjalanai hubungan tanpa cinta..."
"Bagaimana tanggapan orangtuamu jika mereka tahu?" aku menyandarkan kepalaku di lengannya. Ingatakanku membawaku pada bayangan orangtua dan Kakak Harry yang sangat bersahabat.
"Aku sudah dewasa untuk mengambil pilihanku sendiri..."
"Zoya.. Dia cantik dan tampaknya seperti wanita ambisius.." aku hanya bertemunya sekali dan itu hanya sekilas, tapi sorot matanya menunjukkan itu. Kuat, tajam, dan penuh ambisi.
"Ah... Kau benar. Namun, dia wanita yang baik sejauh aku mengenalnya. Dia seorang dokter bedah hebat dan wajar jika kau menilainya tampak ambisius..."
"Kau merelakannya hanya untukku?" ucapku dan Harry segera berhenti berjalan. Dia memutar tubuhku dan memegang kedua bahuku.
"Kau bukan hanya kau. Kau Emilya..."
Aku segera memutar tubuhku sehingga tangannya terlepas dari tubuhku. Aku berjalan dan memasukkan kedua tanganku ke kantung jaketku. Aku bisa merasakan remahan daun kering yang ada di tanah.
"Bagaimana dengan Kenny? Kenapa kau begitu yakin dan mudah mengatakan jika kau mencintaku?"
"Kenny? Aku menyukainya, tapi bukan sebagai wanita. Namun sebagai teman. Aku sudah menjalin pertemanan dengannya selama dua tahun ini dan aku aku tahu sedikit informsi tentangmu dari dia." aku berhenti berjalan dan memutar tubuhku ke arahnya.
"Kau menguntitku?" ucapku dengan nada tidak percaya.
Dia menggeleng, "No.. menguntit dan bertanya adalah hal yang berbeda.." Harry menarik tangan kananku dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya.
"Beban? Jangan bercanda..." ucapku dengan nada jenaka, "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban..."
"Jadi kenapa kau hanya membalas semua surat dan email yang kukirim padamu hanya satu kali? Itu membuatku berpikir bahwa kau benar-benar ingin menghindariku" lanjutku.
"Bukan... Aku hanya merasa bersalah dan berpikir jika tidak bersamaku, kau akan baik-baik saja..."
"Aku tidak baik-baik saja. Aku, Hailey, dan Will harus menjalani konsul dengan psikiater."
"Aku tahu itu..." ucap Harry dengan suara kalemnya.
"Kau tau dari Kenny?"
"Yah.." bisiknya, "Jadi bagaimana keadaan kalian bertiga?"
"Jauh lebih baik. Ah.. Anjing yang kau berikan pada Will sudah tumbuh besar sekarang. Berkat anjing itu, Will bisa melewati masa sulitnya dengan kuat.."
"Apa kau sudah benar baik-baik saja, Em?"
"Yah, tentu. Cukup baik. Selama tahun pertama perawatanku, aku tidak pernah berbicara dengan siapa pun di Texas dan hanya mengurung diri di rumah dan pertanian. Namun, kini aku sudah mulai beraktivitas dan bersosialisai lagi dengan orang-orang di Texas."
Harry tidak membalas apa pun dan aku pun diam. Aku menatap danau itu. Namun, aku merasakan sesuatu melingkari jari manisku yang berada di dalam kantung mantel Harry. Aku berhenti berjalan dan menatapnya. Aku tahu apa yang dia pasangkan itu.
"Aku bukan pria baik, Em.. Aku tau kita baru memulainya. Aku tau banyak hal yang terjadi selama ini. Aku bukanlah tipe yang mudah mengungkapkan perasaan baik melalui perkataan dan perbuatan. Namun, saat aku mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu, aku benar-benar serius.. Aku mencintaimu, Em..."
Sial. Ini lamaran atau apa?
"Harry..." bisikku, merasa bingung harus membalas apa, "Kita baru bertemu beberapa kali setelah dua tahun dan aku hanya berada di New York selama dua minggu, harry... Aku--"
"Aku tidak memaksamu untuk mengatakan hal yang sama padaku saat ini, Em.. Namun, aku akan menunggu." ucapnya lembut. Dia menatapku penuh emosi. Dia benar-benar serius.
"Harry..." bisikku dan segera memeluknya. Aku berjinjit dan mengalungkan tanganku pada leher Harry, "Thank you..."
"Aku akan menunggumu, Em..."
****
"Kau tidak mau menginap di tempatku malam ini?" tanya Harry untuk kesekian kalinya.
Aku menggeleng, "Aku memiliki meeting penting besok tentang novelku yang akan di terbitkan.."
Aku yakin jika aku bersama Harry, aku tidak akan mendaapatkan cukup tidur malam ini dan aku butuh energi untuk besok pagi.
"Aku akan merindukanmu..." bisiknya seraya mencium bibirku sekilas.
"Aku akan menginap di tempatmu besok..." ucapku lembut, "Terimakasih untuk hari ini, Harry dan untuk ini..." aku mengangkat tangan kananku, memamerkan cincin putih yang dia berikan padaku. Itu cincin putih yang bermata berlina kecil mungil. begitu manis dan cocok di tanganku walau tamapk sederhana.
Dia menarik tangan kananku dan mengecup punggung tanganku.
"Aku mencintaimu..." bisiknya dan aku tersenyum padanya.
"Good night, Harry...":
"Good night, Emilya..."
Aku segera masuk ke dalam lobi hotel dan melambai pada Harry sebelum akhirnya aku menghilang di balik dinding lift. Aku bersandar pada didning lift. Ah.. menyenangkan. Ini benar-benar menyenangkan. Kuharap ini merupakan permulaan yang baik untuk kami. Saat aku ke luar dari lift, ponselku bergetar.
Aku berjalan ke luar dari lift dan mengambil ponselku. Aku menatap layarnya dan segera tersenyum kecil. Pesan dari Harry.
'Good night, my dear. I love you....'
Aku berjalan di lorong dan hendak membalas pesan Harry, tapi aku mengurungkan niatku saat menatap seorang wanita yang berdiri di depan pintu kamarku. Seolah menyadari kehadiranku, dia memutar tubuhnya ke arahku dan tersenyum kecil padaku. Senyum yang tidak sampai pada matanya.
"Selamat malam. Anda Emilya Teatons, bukan?"
"Yah..."
Zoya Clark.
***
Aku menatap wanita berwajah tajam yang tak hentinya menatapku sejak minuman hangat kami datang. Aku mengangkat cangkirku dan meneguk teh milikku. Sial. Dia benar-benar mengintimidasi. Begitu angkuh. Begitu mendominasi.
"Aku putus dengan Harry karena kau.." aku hampir memuntahkan kembali minuman yang kuteguk. Namun, aku mengendalikan diri seraya berbatuk-batuk kecil. Aku menaruh cangkirku dan menatap dia. Sial. Tanpa aba-aba dan tanpa permulaan.
Dia bukan wanita priang yang kutemui di New York dan mereka semua cukup menyebalkan. Yang satu ini pasti benar-benar menyebalkan. Aku diam, tidak tahu harus membalas apa. Adu mulut bukanlah keahlianku. Namun, jika aku melawannya tentu aku akan kalash. Dia tampak jauh lebih pintar dan lebih licik dariku. Kemudian dia merogoh sesuatu dari tas coklat miliknya. Dia mengeluarkan map coklat yang di taruh di atas meja. Apa lagi ini?
"Aku tahu kau adalah kekasih kontrak Harry sekitar dua tahun lalu..."
Aku seolah berhenti bernpas. Sial. Aku terkejut bukan main saat dia mengatakan itu. Astag. Aku bisa merasakan rasa pusing segera menghantam kepalaku. Bagaimana... Bagiaman bisa dia mengetahuinya?
"Jika kau hanya ingin membicarakan omong-kosong, aku pergi..."
"Omong-kosong?" ucapnya dengan suara tajam, "Ini bukan hanya omong kosong. Di dalam ini ada beberapa kontrak yang di lakukan Harry dengan wanita lainnya termasuk kau..."
"Apakah kehidupan sekkssual seseorang adalah hal yang pantas di permasalahkan di sini?" ucapku dengan suara tenang. Aku tidak akan menunjukkan emosi marahku padanya. Jika aku menunjukkannya, dia akan lebih mudah mempermainkanku.
"Uhm... Entahlah. Namun, aku hanya terbiasa mendapatkan apa yang aku mau jadi aku akan pakai cara apa pun.."
Dia benar-benar wanita ambisius gila.
"Bagaimana menurutmu jika aku menyebarkannya ke publik. Apa tanggapan publik jika mengetahui sosok terpandang seperti Harry ternyata seperti ini?"
"Kehidupan sekkssual seseorang bukanlah konsumsi publik dan tentunya kau cukup pintar bahwa ada undang-undang yang melindungi hak privasi seseorang..."
Dia tertawa, "Aku orang yang kaya, Ms Teatons. Sangat kaya. Undang-undang tidak berlaku untukku."
Angkuh. Aku benci keangkuhannya.
"Ah.. Satu lagi, aku dengar kau sedang tahap penerbitan novel barumu. Apa yang akan terjadi jika ini tersebar?"
Licik. Aku tidak menyangka bahwa aku masih harus bertemu orang yang seperti ini. Aku memejamkan mata sebentar. Menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Apa yang kau inginkan?" ucapku akhirnya.
"Tinggalkan, Harry..."
****
MrsFox
Zoya semkain di depan. wkwk. maaf lama updatekarena aku benar-benar sangat-sangat sibuk sekali. Sebagai gantinya, aku bakal update satu episode lagi malam ini. Lop yuh gais