Harry's Love Story

Harry's Love Story
It's Normal Again (21+)



Happy Reading


****


Emilya POV


"Cassie..." ucapku setelah aku masuk ke dalam kamar rawat. Aku tidak bisa menahan tangis bahagiaku saat melihat dia setengah berbaring dan tersenyum padaku. Aku segera memeluknya. Demi apa pun, aku begitu lega mengetahui dia sudah sadar.


"Em.. Kau bisa meremukkan tulangnya..." ucap Harry padaku seraya menarik tubuh darinya. Seisi kamar tertawa kecil dan aku tersipu malu.


"Aku sangat senang mengetahui dia sudah sadar...." aku melihat Pappa duduk di sofa, menatap kami. Aku duduk di samping ranjang Cassie bersama Harry sedangkan Mamma duduk di sisi lain ranjang.


"Jimat apa yang kau beri padanya hingga dia bisa sadar, my darling?" tanya Mamma padaku.


Aku segera menatap Harry, "Kupikir, sekarang adalah waktu yang tepat..." bisiknya dengan senyum lembut.


"Aku tidak merasa itu jimat..." ucapku dengan tawa kecil, "Excuse me, Cassie..." ucapku seraya menyelipkan tangan kiriku ke balik bantalnya. Aku menatap Cassie yang tersenyum kecil padakau, jelas penasaran.


"Ini dia..." ucapku dengan nada gembira. Aku memberi satu lembar foto pada Mamma lalu Papa bangkit dan berjalan menuju sisi Mamma, jelas penasaran benda apa yang kuberikan pada Mamma.


Cassie melihatnya dan menatapku begitu juga Papa dan Mama.


"It's our babies...." ucap Harry


*Babies \= bayi-bayi(jamak)


"Babies?" tanya Mama, masih belum menangkap apa pun dari pembicaran ini.


"Ini bayi satu dan ini bayi dua...." ucapku seraya menunjukkan bulatan yang sedikit kabur itu kepada Mamma dan Pappa.


"Kau memiliki dua bayi?" tanya Pappa lagi, jelas terkejut.


"Yes, Pappa..."


"¡Dios ... querida!*" teriak Mamma dengan bahasa spanyolnya. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arahku, aku berdiri dan segera menyambut pelukannya.


*Astaga.... Sayangku!


"Aku tidak percaya! Aku akan memiliki dua cucu sekaligus!" teriaknya, "Aku mendapat dua kabar gembira sekaligus hari ini...."


"Mamma..." ucapku dengan logat Spanyol, "Aku senang jika kau senang..."


Dia melepas pelukannya dan menaruh kedua tangannya di bahuku.


"Ini jimat yang hebat, sayang..." bisiknya dan matanya berair.


"Mamma... jangan menangis..." aku merangkulnya dan memutar tubuh ke arah Cassie yang tersenyum bahagia. Lalu aku melihat mulutnya bergerak seolah mengatakan sesuatu. Aku segera mendekatkan telingaku ke bibirnya.


"Thank you..." bisinya pelan, parau.


Aku segera mengecup pipinya sekilas lalu Pappa datang.


"Selamat, Nak... Kau membawa banyak kebahagiaan di keluarga ini.." ucap Pappa dan memelukku.


"Thank you, Pappa..."


Aku melepas pelukan dan semua ribut melihat gambar yang kuberikan. Harry yang sedang duduk mengelus perutku dan aku memegang tangannya itu. Harry tersenyum lalu mengecup punggung tanganku.


"Thank you, my dear...."


"I love you..." ucapku


"I love you too... Always.."


Always....


Aku berharap semua kebahagian ini akan abadi selamanya.


****


This the day... Hari di mana aku meluncurkan bukuku ke publik. Aku datang bersama Harry ke toko buku dan aku senang bukuku ada di rak paling depan dengan sebuah spanduk kecil di sana. Aku senang dan begitu antusias saat melihat bukuku.


"Oh my..." ucapku seraya mengambil satu buku dari rak, "Aku tidak percaya hari ini akan datang..." ucapku seraya melihat Harry.


"Selamat, Emilya Smith...."


Aku tersenyum padanya, "Kau sudah mengucapkannya beribu kali untuk hari ini..."


Kami berjalan di rak dan melihat bukuku dengan bangga.


"Aku akan membelinya dan mencari tahu apa isi bukumu ini..." ucap Harry


"Berjanjilah padaku untuk menilai secara jujur novel ini.."


"Okay. AKu akan melakukannya.." ucap Harry seraya mengambil satu buku untuknya.


"Akhir-akhir ini selalu datang kabar gembira..." aku mengingat kejadian beberapa hari ini, mulai dari pengumuman bayi kembarku, Cassie yang sadr dan bahkan sudah semakin pulih saat ini, lalu bukuku, dan Will mendapat nilai akhir sekolah yang bagus. Semua berjalan lancar. Sangat lancar. Jika terlalu lancar, bukankah kita harus berhati-hati?


"Tapi, kau harus tetap waspada, Em..."


"Jangan begitu... Nadamu tegasmu membuat bayi-bayi ini tidak tenang..." ucapku dengan nada bercanda lalu aku melihat Ying yang berjalan tidak jauh di belakang kami.


"Aku ingin mengendarai mobilku sendiri, Harry..." ucapku dengan nada rindu. Aku ingin mengendarai mobil lagi, tapi Harry tidak memperbolehkannya.


Harry begitu posesif akhir-akhir ini saat usia kehamilanku semakin tua. Dia menyuruh seorang chef dan ahli gizi untuk memasak makanan khusus untukku, dia melarangku naik tangga sendirian karena takut aku tergelincir, tidak memperbolehkanku mengendarai mobilku sendiri, dan dia benar-benar sangat posesif.


"No, Em... Tidak dengan perut besar itu.."


"Perut besar? Usia kehamilanku masih sebelas minggu.. Ini tidak terlalu besar..." aku menepuk-nepuk perutku dengan pelan, "Pernah dengar kada ngidam, Harry? Itu selalu terjadi pada wanita hamil jika tidak terpenuhi akan mengangganggu pertumbuhan janin.. Aku ngidam mengendarai mobil, Harry..."


Harry menatapku dan tersenyum penuh arti.


"Kau selalu tahu caranya membujukku..."


"Bayi-bayi ini sedikit menolong juga..."


"Kau bisa, tapi kau melakukannya di sirkuit.. Bukan di jalan raya dan dengan mobil yang kupilih sendiri. Kau tidak mengendarai lebih dari 30km/jam dan Ying akan ada di sana untuk mengawasimu.."


Apa? Terlalu banyak aturan hanya untuk mengendarai mobil.


"Kau serius mengatakan itu?"


Dia menggeleng, "Yes." ucapnya tegas. Aku memutar mata. Sikap bossy itu muncul lagi.


"Setidaknya 40km/jam jangan 30. Okay?"


Dia menarik napas, "Okay..." bisiknya pelan, "Bisakah kita pergi sekarang dan membayar ini?" ucapnya seraya mengangkat buku milikku.


"Sure, Mr.Smith...."


***


Harry Smith


Emilya keluar dari kamar mandi saat aku sedang berbaring di tempat tidur seraya menatap laptopku. Sebuah handuk putih dililitkan di tubuhnya dan satu handuk lagi dililitkan di rambutnya. Hormone kehamilan jelas mengubah bentuk tubuhnya.


Ibu dan Cassie tidak henti-hentinya memasakkan dia makanan dan entah kenapa, nafsu makan Emilya meningkat. Aku tidak pernah sekali pun melihat dia makan dengan lahap. Sekarang, tubuhnya tampak lebih berisi terkhusus di bagian-bagian tertentu.


"Apa yang kau lihat, Harry?" ucap Emilya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Kau..." ucapku.


Dia tertawa kecil dan wajahnya memerah. Ah.. Betapa senangnya aku melihat Emilya yang begitu mudah tersipu.


"Karena aku gendut?"


"Tentu saja tidak.. Kau bahkan semakin cantik..."


Dia mengangkat sebelah alisnya dan tertawa.


"Apa yang lucu..."


Dia menggeleng kepala, "Tidak ada..." dia menaruh hair dryer ke tempatnya.


"Bisakah kau menolongku, my dear?" ucapnya seraya mengangkat botol lotion.


"Tolong apa?"


"Aku tidak bisa lagi menggosokkan ini ke kakiku...."


Aku menutup laptopku, "Tentu..." aku berdiri dan berjalan ke arahnya yang sudah duduk di meja rias. Tatapan kami tidak lepas.


"Thank you..." ucapnya lembut seraya memberiku lotion tersebut.


Aku berlutut di depannya lalu membuka botol lotion. Menumpahkannya sedikit ke tanganku lalu mengusapnya ke kaki Emilya. Aku menatapnya lalu tersenyum miring. Aku menggosok itu dengan lembut, dari paha turun ke bawah dengan perlahan.


"Kau menyukainya?" tanyaku saat dia memejamkan matanya.


"Yes..." bisiknya.


Aku menutup botol itu setelah selesai mengolesnya. Aku berdiri dan menaruh botol itu di meja riasnya.


"Ada lagi?" tanyaku


"Bisa kau pijat aku?"


Aku tersenyum kecil, "Tentu..."


Emilya berdiri lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia mengambil susu kotak khusus ibu hamil dari meja samping tempat tidur lalu duduk di tengah tempat tidur seraya meminum susunya. Aku berjalan ke arahnya kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di belakangnya


"Di sini..." dia memukul bahunya lalu mengumpulkan rambutnya ke samping. Aku menatap kulitnya yang bersih lalu aku mulai memijat bahunya. Begitu lembut.


"Uhm..." Emilya memiringkan kepalanya, menampakkan lehernya yang jenjang, "Yes, Harry.. Yah. Aku suka itu..."


Dia mendesah?! Dia jelas menggodaku.


"Kau suka?"


Dia menoleh ke arahku, "Sangat suka..."


Aku memandang payudaranya yang gembul dan berisi, mengintip manis dari balik handuknya. Aku menelan ludahku dan merasakan rasa pusing. Aku menatap kulitnya dan kepalaku turun dengan sendirinya mencium lekukan lehernya yang hangat.


"Kau sangat wangi, Em..." aku mengendus kulitnya lalu aku menghisap kulitnya dan Emilya mendesah, membangkitkan gairahku.


Aku tidak bisa lagi menahannya. Aku segera melepas lilitan handuk di tubuh Emilya lalu memutar tubuh ke arahku. Dia mengelus wajahku lembut dan aku memejamkan mataku, menikmatinya. Aku menarik tangannya tersebut kemudian mencium setiap jarinya.


"Kau sangat cantik, Em..." bisikku, mengagumi tubuhnya dan dia lagi-lagi memerah.


Lalu aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan mencium bibirnya lembut. Aku ******* bibirnya dengan lembut, menggigit, dan menghisap bibir bawahnya. Tanganku menjalari lekukan tubuhnya dengan lembut, mengelus perutnya yang membesar, lalu tanganku naik untuk meremas payudaranya.


"Uhm.." Emilya menggeram dalam ciumanku. Aku segera membaringkannya dan menindihnya. Aku melepas kaosku dan tangan Emilya menurunkan celanaku.


Aku menurunkan kepalaku dan segera memenuhi mulutku dengan payudara Emilya, sedangkan tanganku meremas payuudaranya yang lain.. Begitu penuh. Berisi. Kenyal. Begitu pas dalam genggamanku. Emilya mendorong kepalaku semakin dalam, lalu meremas rambutku, dan dia menjerit.


"Ahk..."


Aku suka jeritannya. Aku suka teriakannya. Aku suka desahannya saat memanggil namaku. Aku suka semua tentangnya. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, wajah dan lehernya memerah. Aku mengecup dahinya, kedua kelopak matanya, ujung hidungnya, kedua pipinya, dan terakhir bibirnya.


"Aku akan melakukannya, Em... Aku akan melakukannya dengan lembut, aku berjanji..."


"Yah..."


"Katakan berhenti jika itu membuatmu tidak nyaman. Okay?"


Emilya segera menarik kepalaku dan mengecup bibirku sebagai jawaban.


Aku menatapnya dengan intens, lalu melebarkan kakinya dengan kakiku. Aku mengarahkan milikku padanya dan memenuhi milik Emilya. Dia segera terkesiap.


"Oh my..." desahnya pelan seraya memejamkan matanya. Kedua tangannya meremas seprei.


"Nyaman?"


"Yah..."


Aku mendorong lagi hingga itu masuk sepenuhnya, menjepit milikku begitu erat.


"Masih nyaman?"


"Yah..."


Lalu aku bergerak naik dan itu semakin menggenggam milikku semakin erat, menjepitnya.


"Lagi?" tanyaku lagi dan Emilya mengangguk. Aku akan memastikan dia baik-baik saja, tidak menyakiti dia mau pun bayi kami.


Aku mendorong lagi sekali dan Emilya memejamkan matanya penuh kenikmatan.


"Tatap aku, Em..." ucapku dengan nada memohon dan dia membuka matanya, memperlihatkan bola matanya yang menggelap.


Aku segera mendorong lagi dan lagi dalam irama yang lembut. Iramaku di sambut oleh Emilya dalam perpaduan yang seimbang. Aku ke atas, dia ke bawah. Aku melakukannya dengan perlahan dan tatapan kami tidak lepas. Mendoorng dan mendorong.


"Harry.. Harry!" Emilya mendesah namakau, lagi dan lagi. Membuatku semakin berhasrat menggerakkan tubuhku.


"Em.." geramku.


Tubuhku semakin cepat, lalu aku menundukkan kepalaku untuk mencium payuudaranya.


"Ahk! Harry!" teriak Emilya.


"Yah... Yah.. Panggil namaku, Em...."


Aku menatapnya dan aku akan merasakan tubuh Emilya bergetar, tanda miliknya akan datang.


"Harry!" dia berteriak kencang saat pelepasannya datang dan aku tetap mendorong, mencoba meraih pelepasanku sendiri. Mendorong. Mendorong dan...


"Oh my!" aku melengkungkan punggungku dan tubuhku bergetar. Itu nikmat. terlampau nikmat. Aku segera berbaring di samping Emilya, menikmati pelepasanku. Aku menarik tubuh Emilya ke arahku dan memeluknya. Napas kami berderu.


"Itu hebat..." bisikku seraya menarik selimut menutupi tubuh kami.


"Uhm..." gumam Emilya.


"Apa itu sakit?" tanyaku, menatap dia yang memejamkan mata. Dia mengiap lalu membuka matanya, melihatku.


"Itu hebat... Sangat dan selalu..."


Aku mengecup pucuk kepalanya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, merasakan panas dan lengketnya kulit Emilya.


"I lvoe you..." bisiknya lalu menguap lagi.


"I love you to.. Kau dan bayi-bayi kita..."


****


Author POV


Wanita berambut cokelat itu berdiri di seberang jalan dan menatap pasangan suami isteri itu yang baru keluar dari toko buku. Dia melihat novel yang dia pegang, penulis novel itu adalah wanita tadi. Lalu matanya menatap pasangan itu lagi


"Kau melihatnya?" ucap lawan bicaranya melalui ponsel


"Yah..." balasnya dengan matanya tetap mengikuti pasangan itu hingga masuk ke dalam mobil.


"Sangat bahagia, bukan?"


"Yah..." suaranya bergetar, ingin menangis dan dia marah. benar-benar marah.


"Kau iri, bukan?"


"Sangat..." dia menggeram seraya meremas buku itu semakin keras.


"Maka rebutlah...."


****


MrsFox


Yippi. Novel ini udah agak rame!! Makasih cemuanya! Peluk hangat online dariku. Jangan lupa dukungan kalian untuk novel ini, berupa vote, koment, like, vote, voucher,d an apa pun. Makasih semuanya. Lop yuh alll.... See yah