
Happy Reading
***
"Stop..." bisikku pada Harry saat dia ingin membuka sabuk pengamanku, "Aku ingin melihat danaunya..."
Dia mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum miring, "Tentu... Setelah melihat danaunya...." dia mundur dan membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil. Aku ikut keluar dan merasakan hawa yang sangat menggigit hingga menusuk tulangku. Aku merapatkan mantelku.
"Rrrrrrr..." aku mengikuti Harry yang sudah berdiri di dermaga.
"Aku dulu sering datang ke tempat ini..." ucap Harry dengan nada sendu itu. Wajahnya pun terlihat sendu melihat danau yang dikelilingi pohon pinus itu.
Aku mensejajarkan tubuhku dengannya, "Dengan seseorang yang pernah di hidupmu itu yah?"
"Yah.."
"Dia wanita?"
"Tentu saja...."
"Tempat ini pasti sangat menyegarkan saat musim panas..."
"Benar...." bisik Harry.
Aku mendekat pada Harry dan menggandeng tangannya dengan erat. Aku menyandarkan kepalaku pada lengannya dan mencari-cari kehangatan dari dalam tubuhnya.
"Kau pernah bilang bahwa aku mengingatkanmu pada seseorang, apakah aku mengingatkanmu pada sosoknya..."
"Hanya sedikit karena dari segi mana pun kalian sangat berbeda..."
Aku tersenyum miring, dia jelas menyindirku.
"Pasti dia sangat cantik maka kau tergila-gila padanya..."
"Yah, semua pria suka padanya. Akan tetapi ada satu sifatnya yang tidak kusuka, dia sangat plin-plan...."
"Mungkin di plin-plan karena keputusannya berat..."
"Mungkin, tapi terlepas dari itu, dia adalah wanita yang sangat baik, ramah, dicintai banyak orang, dan begitu sempurna..."
Entah kenapa aku merasa iri terhadap wanita yang diceritakan Harry. Bagaimana dia mendeskripsikan wanita itu, cara tatapannya seolah sedang menatap wanita itu, dan caranya menceritakan menunjukkan bahwa dia sangat mencintai wanita itu. Dan aku iri akan itu. Betapa menyenangkannya bisa dicintai dengan begitu tulus oleh orang seperti Harry yang nyaris sempurna.
Ingin aku menanyakan siapa wanita itu, bagaimana mereka berpisah, di mana sekarang wanita itu, dan banyak lagi. Akan tetapi aku tau batasanku. Aku memang bicara santai dengan dia, menggandeng tangannya layaknya seorang kekasih, tetapi aku hanya sebatas 'Emilya dan Kontrak' dan tidak akan pernah lebih dari itu. Terlebih, aku harus tetap menjaga perasaanku karena ada yang mengatakan semakin banyak kau mengetahui tentangnya, semakin kuat perasaanmu akannya.
"Boleh kita tidak melakukannya, Harry?"
"Melakukan apa?" dia menatapku dengan senyum nakalnya dan aku menepuk pipinya pelan dengan tanganku yang bebas.
"Kau tau jelas maksudku..." aku kembali menyandarkan kepalaku pada lengannya, "Trims, Harry..." bisikku.
***
"Maafkan aku, Em... Aku berharap kita memiliki lebih banyak waktu..." ucap Max untuk kesekian kalinya saat kami sudah sampai di bandara. Max akhirnya tidak sempat datang ke rumahku untuk makan malam dan yang kulakukan adalah mendatangi hotel tempat dia menginap dan mengantarkannya menuju bandara bersama temannya yang lain.
"Aku mengerti, Max... It's okay." aku berjinjit dan mengecup pipinya untuk terakhir kalinya, "Pergilah..."
Dia mencium pucuk kepalaku dan memelukku erat, "Aku akan sangat merindukanmu, Em..."
"Seharusnyan aku tidak mengantarmu pergi, sangat berat rasanya..." bisikku
"Aku mencintaimu, Em. Selalu..."
"Love you, too..."
Dengan itu, Max segera melepas pelukanku dan berjalan meninggalkanku untuk melakukan proses check-in. Aku berdiri di sana sambil menatap langkahnya dari kejauhan. Dia melirik-lirik ke arahku dan aku tersenyum kecil. Dia melambai padaku dan aku melambai kecil sebelum akhirnya Max masuk ke dalam pesawat.
Aku berdiri di sana untuk beberapa saat sebelum akhirnya berjalan keluar dari lokasi bandara dan mencegat taxi yang membawaku pulang. Aku menyandarkan tubuhku dan memeriksa ponselku. Ada beberapa pesan yang belum kubaca, kebanyakan adalah pesan tentang tagihan listrik, air, dan lainnya.Lalu ponselku bergetar dua kali dna melihat nama Harry di sana. Wah.. Dia mengirimiku pesan. Ini belum pernah terjadi dan kami sangat jarang berinteraksi melalui ponsel.
'Kuharap kau tidak gugup untuk makan malam besok...'
'Tentu aku gugup, Harry...'
Harry memberitahuku tidak perlu memakai pakaian yang terlalu formal, tapi aku takut sekali makna kata 'tidak terlalu formal' milik Harry akan berbeda dengan makna milikku. Bagiku, kemeja dan jeans adalah pakaian yang tidak terlalu normal, tapi itu mungkin berbeda dengan Harry.
'Selamat malam, Harry...' balaskusaat dia tidak membalasa pesanku lagi
'Yah...' singkat, jelas, padat.
***
"Bagaimana penampilanku?"ucapku saat aku berdiri di dinding pembatas ruang tamu dan lorong rumah. Will dan hailey sontak melihatku dengan wajah terkejut.
"Mau kemana berpakaian serapi itu?" tanya Hailey. Dia dan Will sedang menonton kartun bersama.
"Aku ada acara...."
"Cool... Kau terlihat cantik, Em..."
Aku berputar sehingga rok lipatku yang berwarna hijau lumut itu mengembang, lalu aku memberi penghormatan ala-ala kerajaan dengan kedua tanganku di sisi rok. Aku tidak memiliki baju yang cukup spesial karena aku tidak terlalu memerlukannya. Aku hanya punya sekitar tiga gaun di lemariku dan aku memilih tidak memakainya karena itu tidak sesuai dengan cuaca sekarang.
Aku akhirnya memakai rok lipat selutut terbaikku yang berwarna hijau lumut dan sweater turtle neck cream yang cukup ngepas ditubuhku. Lalu aku memakai stoking hitam tebal dan sepatu bot setinggi mata kakiku. Kuharap ini sudah cukup sopan. Aku juga membawa tas kecil milik Hailey yang kugantungkan di bahu kiriku.
"Aku pinjam tasmu yah?" ucapku seraya mengankat tas itu.
"Um..."
Ponselku berdering dan aku tau itu adlaah Harry
"Bye.. Aku pergi dulu..." aku memberikan 'kiss bye' pada mereka seraya mengedipkan mata kiriku pada Will. Aku memakai mantelku dan segera keluar dari rumah. Aku tidak menjawab ponsel Harry saat aku sudah melihat dia sudah berdiri di depan halaman rumahku. Langit sudah gelap padahal masih pukul lima lewat. Saat musim dingin, matahari lebih cepat tenggelam dan lebih lama terbit.
"Hay.." bisikku saat sudah di dekatnya.
"Hai, nona...."dia membuka pintu untukku dan aku segera masuk. dia mengikut masuk kemudian.
Dia menatapku seraya menyalankan mesin mobil, "Kau terlihat okay..." ucapnya.
"Trims.. Kau juga..."
Harry tampak kasual dengan pakaiannya. Dia memakai kemeja putih dilapisi dengan sweater berwarna biru gelap dan celana panjang. Tidak lupa juga dengan mantel panjangnya yang berwarna senada dengan sweaternya. Lalu mobil akhirnya melaju.
"Apa tempat itu selalu ramai?" tanyanya saat kami melewati rumah George yang sudah ramai.
"Oh.. Selalu. Tiap malam..."
"Warga di sini tidak keberatan?"
"Em, aku tidak keberatan jika kau menggunakan uang melalui kartu yang kuberi padamu untuk membeli apartemen baru..." aku melihat ke arahnya yang tersenyum hangat padaku.
Aku mengalihkan tatapan padanya, "Tidak perlu, Harry. Lokasi itu tidak aman, tapi kami nyaman di sana...."
"Kau tidak pernah memakai uangku, kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin..."
Aku menyandarkan kepalaku di kaca mobil dan Harry sadar akan bahasa tubuhku yang sudah tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Sedetik kemudian, lantunan musik milik Kenny terdengar lagi. Lalu, aku segera mengingat sesuatu tentang Kenny
"Password apartemenmu tanggal lahir Kenny, bukan?"
"Mmm..." dia bergumam kecil.
"Aku tidak menyangka kau se-fans berat itu pada dia..." ucapku dengan nada ceria berusaha mencarikan suasana, tapi ternyata tidak. Wajah Harry berbubah datar dan memberikan bahasa tubuh bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Sial, apa aku berbuat salah lagi?
****
Aku segera merasakan keringat dingin saat sudah sampai di rumah Harry. Sial. Rumahnya lebih besar dari pada yang kubayangkan, bahkan aku merasa ciut saat melihat betapa tingginya gerbang rumah Harry dan jarak gerbang menuju rumahnya sekitar 50 meter lebih. Aku bahkan merasa ciut saat melihat tiang rumah Harry yang besar dan tinggi. Pelayan rumah Harry mengambil tas dan mantel kami. Sial, aku tidak tau dia sekaya ini. Dia benar-benar luar biasa kaya.
"Oh querida Emilya" ucap Barbara(ibu Harry) girang dan segera memelukku, "Aku senang akhirnya kau datang..."
Oh Emilya sayang
Dia melepas pelukan dan tersenyum senang, betapa ramahnya wanita ini.
"Aku juga senang. Terimakasih sudah mengundangku...." aku tersenyum hangat.
"Hay Mom... Hay Dad..." ucap Harry dan aku segera beralih ke arah pria tua yang begitu tampan dan gagah. Tubuhnya tegap, rambut coklatnya bercambur dengan uban, memakai pakaian yang casual, dan dia tersenyum ramah padaku. Sial, semua orang di rumah ini benar-benar keturunan bangsawan.
"Joshua Smith, Ayah Harry Smith..." dia menyalam tanganku dengan mantap, "Kau bisa memanggilku, Josh...."
"Emilya Teatons... Senang bertemu denganm, Josh..." kami melepaskan jabatan tangan kami dan aku melihat Barbara bergelayut manja di lengan Josh.
"Isteriku bergitu heboh saat tau kau akan datang ke rumah... Aku senang kau bisa datang, Emilya..."
Aku tersenyum lebar, "Terimakasih atas keramahan kalian untung menundangku..."
Lalu kami berjalan menelusuri rumah ini menuju tempat kami akan makan malam. Josh dan Barbara memimpin di depan dan Harry bersamaku. Dia melingkarkan tangan kanannya di pinggulku.
"Maafkan Ibuku yang sedikit heboh, Em..."
"Aku suka ibumu, kok.. Dia terlihat sangat baik..." bisikku, "Ayahmu sangat mirip denganmu..."
"Aku tetap yang paling tampan..."
"Ya..Ya.." ucapku seraya memutar mataku.
Sebuah pintu lainnya di buka dan lagi-lagi aku terkejut. Di sana ada Cassie dan seorang pria yang belum pernah kulihat. Ada sekitar lima pelayan yang berpakaian rapi di sana. Makanan tersaji begitu banyak di atas meja. Meja, kursi, piring, dan segalanya tampak begitu mewah dan klasik.
"Hai, Em..." ucap Cassie yang segera memelukku. Dia begitu ramping, cantik, dan memesona, "Aku sennag akhirnya kau datang berkunjung."
"Hai... Senang bertemu denganmu lagi..." kami melepas pelukan dan aku di arahkan dengan pria yang tidak kukenal tadi. Dia berambut coklat kepirangan, bola matanya hijau, tinggi, sedikit lebih kurus dari Harry, dan dia juga sangat tampan.
"Bastian Smith, aku sepupu mereka..." dia menjabat tanganku dan logat British begitu kental. Wah..
"Emilya Teatons..."
Dia melihat penuh arti seolah sedang memeriksa sesuatu dariku.
"Sepertinya kita bertemu, bukan?" ucapnya.
"Aku?" sahut lagi dengan nada canggung. Di mana kami pernah bertemu.
Harry segera melepas jabatan tangan kami, "Ayolah, Bas.. Jangan menggodanya...."
"Well.. Mungkin aku salah lihat. Pacarmu cukup posesif rupanya..."
Aku tertawa canggung dan akhirnya kami di arahkan untuk bergabung ke meja makan. Josh duduk di ujung meja, aku dan Harry duduk bersampingan. Di seberang, Barbara, Casssie, dan Bastian duduk bersampingan. Kami melakukan perjamuan makan dengan ceria dan menyenangkan, tapi aku sadar bahwa Bastian terus melihatiku dan itu membuatku tidak fokus.
Aku tidak yakin jika dia tertarik padaku, tapi cara dia menaatapku membuatku tidak nyaman. Dia juga tersenyum kecil padaku dan mengedipkan salah satu matanya seolah ingin menggodaku. Akan tetapi, aku tidak bisa menarik kesimpulan bahwa dia menyukaiku. Aku merasa bahwa dia seolah memastikan sesuatu.
Setelah makan, Harry mengajakku berkeliling ke rumahnya. Aku memperhatikan betapa luasnya rumah Harry. Ini bukan rumah, lebih tepatnya mansion. Dindingnya berwarna putih gading, ornamen-ornamen rumah begitu klasik dan modren secara bersamaan, banyak lukisaan besar di sana, tiang-tiang besar, lorong rumah yang lebar serata dihiasi cahya lampu yang lembut, dan semua tempat di sini seolah sudah dirancang sedemikian rupa.
"Ada beberapa lukisan milik Bastian di sini... Dia seorang seniman.." jelaskan Harry.
"Oh.." ucapku paham. Aku enggan menceritakan apa yang terjadi di meja makan itu, aku takut jika Harry berpikir bahwa aku menjelek-jelekkan keluarganya, "Ada berapa banyak ruangan di sini?"
"Banyak... Sewaktu, aku dan Cassie selalu memakai scooter untuk mengeliling rumah ini karena luasnya." ucapnya dan aku bisa membayangkan itu. Wah.. Scooter untuk mengelilingi rumah, belum pernah terbayangkanku.
Ponsel Harry berdering dan dia segera merogoh saku celananya, "Well.. Tunggu sebentar, Em. Hanya 10 menit. Aku perlu membicarakan sesuatu dengan ayahku. Kau tidak apa atau kau mau ikut?"
"It's okay... Aku ingin lihat rumah ini..."
"Okay, sebentar yah..." dia membalikkan badannya dan pergi, "Halo.." dan langkah kakinya menggema di lorong rumahnya yang lebar. Aku menatap punggungnya hingga hilang di belokan lorong. Aku kembali berjalan seraya melihat-lihat. Yang terjadi kemudian adalah aku melihat Bastian muncul dari balik lorong dan aku cukup terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba. Dia memegang geleas yang berisi anggur merah dan tangan satunya di saku celananya.
"Oh my..." bisikku penuh keterkujutan.
"Emilya..." dia mengucapkan namaku dengan nada berat dan logatnya yang kental, "Maaf sudah mengagetkanmu..."
"It's okay... Aku memang tipe yang mudah terkejut...." ucapku canggung
Dia tersenyum miring, tapi nampak begitu manis. Aku menarik napas dan aku malu karena dia menatapku begitu lekat. Sial, kenapa dia menatapku begitu? Apa dia sedang meremehkanku?
"Aku sudah ingat di mana pernah menemuimu, Emilya..."
"Benarkah? Mungkin itu orang yang cukup mirip denganku...."
"Tidak. Aku seorang seniman dan mata cukup jeli untuk melihat perbedaan pada hal tertentu...."
Aku tertawa canggung, "Benarkah?"
"Kau wanita yang berbicara dengan Harry sekitar sebulan lalu di 'kafe' itu bukan?"
Sial...
****
MRSFOX
kalian pernah nonton film the great gatsby?, kurang leebih rumah Harry itu kayak rumah kekasihnya si gatsby itu yah. Bastian, Julia, lalu siapa lagi yang menurut kalian bakal jadi antagoni di cerita ini?