
Happy Reading
***
"Aku tidak akan pulang malam ini, jadi tidak perlu menungguku..." ucapku pada Hailey melalui ponsel seraya berjalan menuju pub.
"Kerja apa?"
"Bekerja di kafe yang buka 24 jam dan uang lemburnya lumayan..." perkataanku tidak sepenuhnya salah.
"Jangan terlalu keras. Okay?"
"Yahh..."
"Jangan lupa makan, Em..."
"Okay. Titipkan salamku pada Will. Sudah yah..." aku memutuskan panggilan dan tepat saat panggilan dari Spencer muncul.
"Di mana?" tanyanya dari seberang.
"Aku hampir sampai.. Aku sedikit tersesat saat datang ke sini..."
"Okay, baguslah...." dia segera menutup panggilan sebelum aku sempat menjawab. Aku menatap layar ponselku sebentar sebelum memasukkannya ke dalam kantung jaketku. Dia sepertinya marah padaku. Aku menaikkan syalku menutupi mulutku. Padahal salju belum turun, tapi udara sudah sangat membekukan.
Aku menelusuri trotoar yang cukup sepi dan aku mulai melihat gedung Pub itu. Aku menyebrang sekali lagi dan berjalan melalui parkiran Pub. Aku sedikit berlari kecil dan sebuah mobil mundur secara tiba-tiba ke arahku. Aku dengan cepat mundur, tetapi aku kehilangan keseimbangan hingga akhirnya aku terjatuh ke aspal. Aku berteriak kecil saat melihat badan mobil hampir menyentuh kepalaku. Sial, badanku bahkan sudah berada di bawah mobil itu.
"Sial.." umpatku lagi
"Apa anda baik-baik saja?" suara pria terdengar begitu khawatir dan pemilik suara itu membantuku berdiri.
"Tidak. Aku okay, badan mobilnya tidak menyentuhku..." untungnya aku tidak terluka, tapi itu nyaris saja. Aku berdiri dan menjauhkan badanku dari pria itu. Aku tidak terluka dan ini tidak perlu diperpanjang lagi.
"Apakah anda benar baik-baik saja?" ucapnya lagi, "Saya minta maaf dan akan saya beri uang kom--"
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja..." aku menurunkan syal yang menutupi mulutku dan menatap pria di depanku yang hendak mengambil sesuatu dari kantung coatnya, "Tidak perlu, Tuan..."
"Ah.. Tidak.. Ini kesala--" dia menghentikan ucapnya saat dia mengarahkan pandangannya ke arahku. Sekarang aku bisa melihat jelas wajahnya walau hari mulai beranjak gelap. Ah, dia pria minggu lalu. Sepertinya dia mengenaliku setelah aku menurunkan syal yang menutupi setengah wajahku tadi.
"Oh..." ucapku tanpa sadar. Apakah dia sering datang ke pub ini? Tapi sepertinya dia akan pergi karena ingin mengeluarkan mobilnya dari parkiran.
"Anda baik-baik saja?" suara ramah itu. Ternyata itu dia. Ah.. Aku tidak tau namanya.
"Aku baik-baik saja..." entah kenapa aku tersenyum sumringah padanya, "Anda sibuk?" aku harus menggodanya dan kita mulai dari hal seperti ini.
"Nona, jika anda tidak baik-baik saja, saya akan memberi kompensasi..."
"Anda sibuk, Tuan? Kumohon, biarkan aku menemanimu malam ini..." ucapku lebih berani. Harga diri? Aku sudah lama membuang hal itu. Hidup dengan menjunjung tinggi harga diri tidak akan bisa membuatku bertahan di hidup yang keras ini.
"Aku--" aku segera menarik tangan kanannya dan memegangnya dengan kedua tanganku. Aku merasakan tangannya yang hangat nan lembut. Sangat beda dengan tanganku yang dingin
"Aku akan bersikap baik, aku berusia 25 tahun, dan aku bukan remaja. Aku juga sehat jika kau khawatir aku memiliki penyakit menular.." aku bisa menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatanku padanya karena aku melakukan pemeriksaan kesehatan saat flu beratku. Lampu parkiran yang cukup terang membuatku bisa menatap matanya dengan jelas. Salah satu kiat sukses merayu seseorang adalah dengan tidak memutuskan tatapanmu padanya.
Dia memijit pelipisnya seraya menatap ke arah lain, lalu mendengus kecil.
"Baik.. Baiklah.. Ayo kita pergi..." aku segera melepas tanganku darinya.
"Benarkah? Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa mahalnya dirimu..."
***
Harry POV
"Kau yakin tidak ikut?" ucap Bastian untuk kesekian kalinya.
"Tidak..." ucapku tegas dan segera memarkirkan mobil.
"Membosankan.." dengusnya kecil, "Baiklah, aku pergi..."
Dia segera keluar dari mobilku setelah aku mengantarnya ke kafe yang kami kunjungi seminggu lalu. Aku terpaksa mengantarnya karena lisensinya tidak aktif dan Bastian bukanlah pengendara mobil di sebelah kiri, dia mengendarai mobil di sebelah kanan.
Aku menyalakan mobilku kembali dan menginjak kompling mobil untuk mundur. Lalu entah kenapa, kompling itu terlepas begitu saja hingga mobil itu mundur tiba-tiba ke belakang. Aku mendengar pekikan pelan dan bersamaan itu pula aku menginjak rem. Aku melihat dari kaca spion.. Ah sial.
Setelah keluar, aku panik saat melihat seseorang terduduk di belakang mobilku. Aku buru-buru membantunya dan menanyakan keadaannya. Aku hendak mengambil dompetku dan memberinya uang kompensasi, tapi aku berhenti saat melihat siapa yang berdiri di depanku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya tadi karena wajahnya tertutupi syal dan aku cukup panik. Tapi, setelah dia menurunkan syalnya, aku bisa melihat dia. Wanita bermata coklat terang.
"Apakah Anda baik-baik saja?" tanyaku lagi setelah tersadar. Aku sempat tertegun saat melihat bola matanya yang sama dengan Kenny.
"Aku baik-baik saja.." lalu dia tersenyum lebar, senyumnya cukup menyeramkan karena itu tidak sampai pada matanya, "Anda sibuk?" tanyanya. Apa sih yang dia pikirkan?
"Nona, jika anda tidak baik-baik saja, saya akan memberi kompensasi..."
"Anda sibuk, Tuan? Kumohon, biarkan aku menemanimu malam ini..."
Ah.. Karena dia mengatakan itu, aku tersadar bahwa dia bukanlah wanita 'baik-baik'
"Aku--" secara mengejutkan, dia menarik tangan kananku dan memegangnya dengan kedua tangannya yang kurus, kasar, dan dingin. Seketika, aku merasakan deja vu
"Aku akan bersikap baik, aku berusia 25 tahun, dan aku bukan remaja. Aku juga sehat jika kau khawatir aku memiliki penyakit menular.." dia menjelaskan dengan suara yang jernih, ramah, dan lembut itu. Aku melihat bola matanya yang cantik. Uhk.. Kenapa banyak wanita memiliki bola mata seperti itu? Itu membuatku kesal karena itu menginagtkanku pada Kenny.
Aku mengalihkan pandangan dan memijit pelipisku dengan tangan kiri.
"Baik.. Baiklah.. Ayo kita pergi..." dia akhirnya melepaskan tanganku dan aku segera melangkah ke arah mobil. Kuharap keputusan yang kubuat ini sudah benar.
"Harga permalamku mahal..." ucapnya tiba-tiba dan aku segera mengarahkan kepalaku padanya. Aku mendengus kecil, tentu saja dia bukan Kenny. Dia hanya wanita malam yang menginginakan isi dompetku
"Benarkah? Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa mahalnya dirimu..."
***
MrsFox
Hey yoo gais, maaf lama update. Sedikit inform, sifat Harry disini lebih ramah dan baik yah, beda saya babadang Scout yang rada" seperti penjahat akrena mengingat latar belakang keluarga mereka. harry lebih ke happy family dan Scout lebh ke broken home gitu. Semoga kalian suka feel cowok" yang ramah gitu yah. Okay gais, masa" perkenalan sudah selesai dan bakal menuju konflik dan aku jamin, chapternya penuh dengan keliaraannn wkwkwk. Bye" gais. Jangan lupa vote, koment, like, love dan favoritkan. Lop yuhhhh