
Happy Reading
****
Harry POV
Aku dan Emilya masuk ke dalam kamar rumah sakit, tempat Cassie di rawat. Aku melihat ada Ibu di sana. Duduk di samping Cassie yang terbaring tak berdaya. Berbagai selang penunjang kehidupan terpasang pada tubuh Cassie dan aku merasakan tubuhku bergetar.
"Mom..." ucapku dan Ibu menoleh ke arah kami. Wajahnya pucat, lelah, dan entah kenapa aku merasa dia tampak sepuluh kali lebih tua dari biasanya.
"Oh.. My dear..." aku segera berjalan menuju Ibu dan memeluknya erat dan dia menangis.
Aku hanya diam dan mengusap punggungnya dengan lembut. Tidak ada kata yang terucap baik dari Emilya mau pun aku. Aku tidak sanggup mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja karena aku tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari. Aku melepas pelukan dan Emilya segera memeluk Ibu.
"Oh my... Aku sangat senang kalian ada di sini...."
"Oh.. Mama.." ucap Emilya. Aku duduk di sisi ranjang yang lain, berhadapan dengan Ibu dan Emilya. Ibu bersandar pada pundak Emilya yang menatap Cassie. Aku tidak pernah melihat Cassie dalam keadaan seperti ini. Tidak pernah. Begitu lemah dan tampak tidak ada kehidupan. Aku memijit keningku yang tiba-tiba terasa sakit. Mataku bertemu dengan Emilya yang menatapku seolah memberiku semangat. Oh my.. Aku tidak tahu bagaimana aku menghadapi ini jika dia tidak ada?
"Di mana Dad?" tanyaku pada Ibu.
"Dia berkata ada hal yang perlu dia urus tentang penyelidikan kasus ini..."
Aku menarik napas, "Aku akan pergi menjumpainya sekarang...." ucapku seraya berdiri lalu mengecup kening Cassie yang dingin. Hatiku benar-benar hancur melihat saudariku seperti ini. Aku ingin menangis, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah.
"Hati-hatilah..." bisik Emilya padaku dan aku tersenyum padanya lalu pergi ke arahnya untuk mengecup pipinya sekilas.
"Aku pergi Mom, Em..."
Lalu aku berjalan keluar dari kamar itu. Aku menatap Liam berdiri di sana, menungguku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Tambahkan keamanan di sini..." ucapku pada Vin saat melihat ada dua penjaga di sini.
"Yes, Sir..." ucapnya dan aku segera berjalan diikuti Liam yang berbicara melalui ponsel untuk menambahkan tim keamanan.
****
Menjelang malam, aku kembali ke rumah sakit bersama Ayah dengan mobil berbeda. Sampai saat ini, belum ada titik terang tentang kejadian ini. Semua mobil keluargaku di periksa dan mendapati bahwa ada empat mobil lainnya yang remnya blong. Di rusak secara sengaja. Termasuk mobil yang kuhadiahkan pada Emilya, dia menargetkan seluruh anggota keluargaku. Namun, untuk apa?
Siapa pelakunya? Tidak ada satu pun sosok yang terlintas di pikiranku mau pun Ayah. Keluargaku tidak memiliki musuh baik dalam dunia bisnis atau pun tidak. Kami selalu berusaha membangun jalinan hubungan yang baik dengan semua orang.
Aku dan Ayah berjalan dalam diam menuju ruangan Cassie. Wajahnya keras dan tegas, tapi aku bisa melihat wajah penuh kelelahan. Aku dan beliau memang tidak dekat karena adanya perbedaan prinsip, tapi aku selalu tahu bahwa dia menyayangiku dan aku pun begitu.
Aku membuka pintu untuknya dan dia masuk diikuti oleh aku. Aku melihat Emilya masih duduk di samping Cassie dan Ibu berbaring di sofa. Dia segera berdiri melihat kami. Emilya berpelukan singkat dengan Ayah kemudian aku berdiri di samping Emilya.
"Kami akan berjaga malam ini di sini, Dad..." ucapku, "Mom butuh istirahat..." aku merujuk pada Ibu yang tertidur.
Dia menarik napas, "Kau benar... "
Emilya membangunkan Ibu dan dia segera mengiyakan saat diajak pulang. Lalu tinggallah kami berdua di sini. Aku mengajak Emilya duduk di sofa dan dia segera berbaring dengan berbantalkan kakiku. Aku mengelus rambutnya dengan lembut.
"Kau sudah makan?" tanya Emilya seraya memejamkan matanya.
"Belum..."
Dia segera membuka matanya, "Kenapa?" dia bangkit dari tidurnya dan duduk. Dia segera memukul lenganku.
"Aku tidak sempat...."
"Ck..." dia berdecak lalu berdiri, "Kau menyuruh seseorang mengantarkan makanan ke sini, tapi kau sendiri belum makan..." dia memutar tubuhnya dan membawa sebuah mangkuk dengan tutup kemudian memasukkannya ke dalam microwave di kamar tersebut.
"Aku sengaja membeli beberapa makanan dari minimarket untukmu karena aku tahu kau tidak akan makan..." dia membuka lemari pendingin kecil kemudian menoleh padaku, "Kau minum jus atau susu?" tanyanya.
"Kopi..."
Dia menggeleng, "No... Dulu kau selalu mengatur gaya makananku karena tidak sehat. Sekarang aku melakukan hal yang sama...."
Aku tertawa kecil, "Aku tidak minum susu..."
"Okay.. Kau mau buah potong?"
"Tidak..."
TING. Bunyi microwave membuat Emilya memutup pintu lemari pending. Dia mengambil bungkusan itu dengan jus lalu menyajikannya di meja.
"Makanlah.."
"Aku ingin kau yang menyuapiku..."
Dia tertawa kecil, "Really?"
"Yah..."
"Ternyata kau bisa juga bersikap manja..." ucapnya seraya mengambil mangkuk tersebut dan membukanya. Segera semerbak bau menyenangkan memenuhi penciumanku. Itu adalah sup ayam yang di campur dengan kentang tumbuk, kacang polong, brokoli, dan wortel.
"Padahal aku yang sedang hamil..." Emilya menghembus sendok berisi bubur itu perlahan lalu menyuapkannya ke dalam mulutku.
Aku menikmatinya dan merasakan rasa tenang di perutku, lalu dia menyendokkan lagi dan lagi hingga habis.
"Kau ternyata kelaparan..." ucapnya, "Mamma juga tadi begitu, tampaknya dia juga sangat lapar..." dia membuka tutup botol air mineral dan memberikannya padaku. Aku meneguknya hingga tersisa setengah lalu aku bersendawa kecil.
"Ups.." ucapku dan kami tertawa kecil.
Tertawa dan kami berhenti. Kami bertatapan untuk beberapa saat, seolah berusaha menyampaikan perasaaan kami masing-masing tanpa berbicara. Emilya menarik kedua tanganku dan mengelusnya dengan lembut.
"Kau harus ceria dan kuat, Harry..." ucapnya. Aku mengelus wajahnya dengan tanganku yang bebas.
"Betapa beruntungnya aku memilikimu di situasi seperti ini...."
"Berjanjilah untuk ingat makan..." Emilya bergeser ke arahku dan segera berbaring di pahaku. Dia memeluk tanganku dan menggosokkannya pada pipinya, "Aku benar-benar merindukanmu...."
Aku tertawa kecil, "Aku juga..."
"Bayi-bayi kita benar-benar merindukanmu..."
"Benarkah?" Aku melihat perutnya dan segera menaruh kepalaku di atasnya, "Halo bayi-bayiku?" aku tersenyum dan berusaha mendengar sesuatu dari perut Emilya, mataku bertemu dengan mata Emilya. Lalu senyumku hilang saat menyadari sesuatu.
"Bayi-bayi?" aku segera mengangkat kepalaku dan melihat senyum lebar Emilya.
"Yah..." bisik Emilya lalu segera bangkit dan aku masih menatapnya, masih belum percaya dengan apa yang kudengar.
"Kemari... Akan kutunjukkan sesuatu..." dia berdiri dan aku berdiri. Dia berjalan menuju ranjang Cassie dan duduk di kursi lalu aku duduk di sampingnya. Emilya memasukkan tangannya ke balik bantal Cassie dan mengambil lima lembar foto hitam putih dan memberikannya padaku.
"Aku melakukan pemeriksaaan tadi dan Dokter mengatakan aku punya dua janin di sini..." jelas Emilya seraya menepuk-nepuk perutnya. Aku melihat gambar itu dengan takjub, "Ini janin satu, dan ini janin dua..." dia menunjukkan dua bulatan di dalam foto.
Aku menatapnya, "Em..." bisikku. Aku benar-benar terkejut hingga tidak bisa menerima informasi yang diberikan Emilya.
"Aku belum memberitahu siapa pun karena aku pikir ini bukanlah waktu yang pas..." jelas Emilya dengan nada sendu dan aku segera memeluknya erat. Begitu erat.
"Thank you, Em.. Thank you.." ucapku penuh syukur hingga kurasa aku ingin menangis saat ini. Aku memeluknya semakin erat. Oh my...
Aku melepas pelukan dan menatap gambar itu secara bergantian, "Aku akan menyimpannya satu..." ucapku seraya mengambil dompetku di dalam saku celana, lalu memasukkannya ke sana. Ke tempat di mana aku selalu bisa melihatnya.
"Jadi kenapa kau menyimpannya di bawah bantal Cassie?" tanyaku lagi
Dia melihat Cassie yang masing berbaring, "Dia sangat senang mendengar kehamilanku. Kau ingat, bukan?" Tentu aku ingat, hari di mana aku dan Emilya memberitahu kehamilannya dan pertunangan kami pada keluargaku.
"Dia bilang tidak sabar melihat bayi kita... Dia orang pertama yang kuberitahu tentang kembar ini walaupun aku tahu dia tidak akan mendengarnya.Jadi aku menaruh gambar itu karena aku pikir itu bisa berguna sepeti jimat agar dia segera sadar..." dia menoleh ke arahku dengan senyum canggung, "Konyol, bukan?"
Aku menggeleng, "No.. Tentu saja tidak.." entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang membuncah dalam diriku seolah berteriak bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, aku melihat wajah Emilya yang terkesan lesu.
"Kau tidak bahagia?" tanyaku.
"Hanya apa?"
"Entahlah... Aku tidak tahu.. Semua akan baik-baik saja, bukan?"
Aku melingkarkan tangannya di sekitar tubuhnya, "Semua akan baik-baik saja.."
Aku yakin itu.
****
Emilya POV
"Kami pergi Momma, Papa..." ucapku pada Ibu dan Ayah Harry seraya memeluknya sekilas.
"Bye, Mom..." ucap Harry.
"Hati-hati..." ucap mereka dan kami keluar dari kamar rawat Cassie. Harry melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Jadi, kapan kau akan memberitahu mereka, Em?" tanyanya.
"Segera setelah keadaan lebih tenang...."
"Baiklah.. Jadi kau akan pergi ke penerbit nanti?"
Aku mengangguk, "Yap.. Ada yang perlu kami bahas untuk peluncuran bukuku...."
"Seorang bodyguard akan bersamamu, kau tau itu kan?"
Aku menatapnya dan tersenyum kecil, "Okay, Harry. Aku sudah tahu itu..." aku menoleh ke belakang, melihat wanita bernama Ying yang akan menjagaku. Ah.. Juga ada Liam.
"Setelah urusanmu selesai, segeralah pulang ke rumah..."
"Setelahnya aku akan ke rumah sakit lagi..."
"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Istirahatlah. Ibu dan Ayah akan mengerti keadaanmu..."
"Aku lebih senang bersama Ibumu dan bercerita banyak hal seraya menghiburnya, dari pada menghabiskan waktu di pent-housemu yang sepi, Harry."
"Pent-house kita." ucap Harry dengan nada tegas.
Aku terkekeh, "Okay, Mr.Smith. Aku paham.."
"Good, Mrs.Smith...."
****
Aku keluar dari gedung penerbit setelah menyelesaikan urusanku. Penerbitan novelku tetap sesuai jadwal, sekitar sepuluh hari lagi. Tidak akan ada sesuatu yang besar dari itu, novelku hanya di jajarkan di rak buku dan berharap orang tertarik membeli karyaku.
"Mrs.Smith..." ucap Ying seraya membuka pintu mobil. Aku masuk di kursi penumpang, tak berapa lama kemudian Ying masuk dan duduk di kursi pengemudi.
"Anda ingin ke mana setelah ini, Mrs?"
"Sekitar sini ada toko kue, sekitar dua blok ke sebelah kanan. Bisa kita pergi ke sana?"
"Yes, Mam.."
Ying melajukan mobil dan aku bersandar tenang di dalam mobil. Ini sudah bulan 12 dan aku tidak menyangka waktu berlalu secepat ini. Aku berbicara dengan Will, Bibi Debs, dan Hailey tadi, mereka mengatakan bahwa mereka baik-baik saja.
Aku bertanya apakah bodyguard yang dikirim Harry untuk menjaga mereka berlebihan dan mereka berkata tidak juga. Namun, aku berpikir bahwa Harry terlalu khawatir. Dia tidak harus melakukan hal yang sama kepada keluargaku, tapi dia hanya berkata bahwa kita tidak tahu apa yang terjadi besok.
Dia benar dan aku tidak berusaha lagi berargumen dengannya tentang itu. Aku bertanya-tanya, siapa pelaku di balik ini semua. Harry tidak mau memberi detail apa pun, tapi aku tahu bahwa ada hal buruk dari sekadar rem blong yang mencelakakan Cassie.
"Here we are, Mrs..." ucap Ying saat akhirnya mobil kami berhenti.
"Kau bisa menunggu di sini..." ucapku saat melihat dia hendak keluar untuk membuka pintu untukku.
Dia menatapku dari kaca spion.
"Itu hanya toko roti dan keadaan juga ramai. Jangan khawatirkan apa pun. Aku akan cepat...." aku tersenyum kecil dan segera keluar dari mobil. Aku berjalan ke toko roti yang di depanku membuka pintu, dan bunyi lonceng segera terdengar.
Segera semerbak wangi adonan kue tercium di hidungku. Nyaman. Aku berjalan di rak yang menyediakan berbagai kue, tapi aku ingin sesuatu yang hangat. Aku memutar tubuhku dan berjalan menuju kasir.
"Good Afternoon, ada yang bisa saya bantu?" tanya kasir itu dengan ramah padaku.
"Uhm.. Apa kalian memiliki roti jahe yang masih hangat? Atau kue apa pun yang tidak terlalu manis..." ucapku.
"Tentu, Mrs.. Kami juga memiliki pilihan roti dengan komposisi yang cocok untuk penderita diabetes..."
"Ah.. Berikan itu padaku..." Itu akan cocok untuk orangtua Harry dan Harry yang tidak suka manis.
"Satu kotaknya berisi enam, Mrs..."
"Berikan aku masing-masing dua kotak..."
Aku menunggu berapa saat lalu pesananku datang. Aku merogoh dompetku dan membayar jumlah yang harus kubayar.
"Thank you...."
Aku tersenyum dan membawa satu bungkusan berisi kue tersebut. Saat aku berjalan, ponselku berdering. Aku mengambilnya dari saku mantel dan melihat nama Harry ada di layar. Aku menerima panggilannya seraya berjalan keluar dari toko yang ramai.
"Hai. Kau di mana?" tanyanya langsung.
"Di toko kue dan sebentar lagi menuju rumah sakit. Ada apa?" ucapku seraya mendorong pintu dengan bahuku agar terbuka.
"Kupikir jimatmu ber--"
"Aw.." aku meringih dengan saat seseorang menabrakku hingga ponselku terjatuh hingga aku tidak bisa mendengar suara Harry. Untung bungkusan kue yang kubawa tidak jatuh.
"I'm sorry..." ucap suaranya wanita yang pelan dan lembut. Aku menoleh ke sumber suara dan melihat seorang wanita kurus, tinggi, berambut hitam kecoklatan, dan berwajah pucat. Dia mengangguk kecil padaku dan aku merasakan atmosfer yang berbeda saat dia melihatku tadi.
"Mrs? Are you okay?" suara Ying membuatku memutarkan kepala ke arahnya dan memberikan ponselku yang jatuh.
"Aku okay... Trims.." aku menerima ponselku lagi dan menoleh ke ke arah wanita tadi, tapi aku tidak menemukannya.
"Biarkan saya membawanya, Mrs..." Ying mengambil bungkusan kue itu dan aku segera menggaruk punggung leherku yang gatal.
Ini bukan kali pertama aku tiba-tiba mencurigai seseorang setelah kejadian Cassie, itu membuatku lebih sensifit dan dengan mudahnya curiga pada orang yang lewat. Aku menggeleng, itu pasti karena hormone kehamilanku hingga membuatku sensitif. Aku masuk ke dalam mobil dan mendengar Ying bicara.
"Dia baik-baik sja, Sir.. Ponsel beliau jatuh... Yes, Sir..." Ying memberi ponselnya padaku, "Mr. Smith..." ucapnya dan aku segera menerima ponsel Ying
"Kau baik-baik saja?" tanya langsung.
"Aku baik-baik saja. Seorang pejalan kaki tidak sengaja menabbrakku hingga membuat ponselku jatuh..."
"Oh my... Aku serasa ingin mati saat mendengar teriakanmu tadi.."
Aku memutar mata. Aku tidak berteriak, hanya meringis pelan karena terkejut.
"Aku tidak berteriak.... Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?"
"Jimatmu bekerja, Em.. Cassie sudah sadar..."
***
MrsFox
Kalian merasa gak kalo cerita ini agak aku anak-tirikan karna gak pernah buat gambar gitu, padahal waktu BOY, aku selalu buat gambar di setiap chapnya wkwkwk. Jangan lupa dukungan kalian semua wahai pembaca keren berupa love,like, koment, poin, dan satu lagi yang mirip karcis itu(yang dikasih setiap senin doang) Kasih ke karyaku yah kwkw.. Btw, adakah kalian pembaca pria?