
Happy Reading
Please.. Ini Bukan untuk berumur 19 tahun kebawah!!! NOT FOR UNDER 19th!!! Please be wise readers!! Aku gak pengen karyaku tiba-tiba di hapus nanti!!!!! Makasih!!!
***
Harry POV
Lantunan musik memenuhi semua ballroom. Beberapa orang bercengkrama, tertawa, berdansa, dan beberapa wanita mencoba tebar pesona ke sana ke mari. Persis seperti yang kuduga. Pesta ini sangat membosankan. Aku menegak anggurku seraya menatap tajam ke arah tamu dan tanganku yang satu tetap melingkar di pinggul Emilya. Mereka tidak ada di sini. Kau tau siapa yang kumaksud dengan 'mereka'?
"Apakah pesta orang elite semembosankan ini?" bisik Emilya di telingaku.
"Begitulah...." aku mengelus pinggulnya, "Mau berdansa?"
"Entahlah.. Aku tidak berbak-- Ah! Oh my...." aku menatap heran pada Emilya yang tiba-tiba terkejut.
"Ada apa?"
"Itu.. Itu Kenny Sharp..." bisiknya penuh nada kagum.
Aku menghembuskan napas kecil saat merasa udara disekitarku terasa sesak. Aku segera mengikuti arah tatapan Emilya dan segera aku merasakan syok ringan. Aku meneguk lagi anggurku sampai habis dan menaruh gelasnya ke atas meja dengan kasar. Scout dan Kenny.
Oh my.. Sial! Kenny bahkan mempesona bahkan setelah melahirkan bayi-bayinya baru-baru ini. Aku merasa iri karena mereka dianugrahi tiga anak kembar sekaligus. Ah.. Entah kenapa, Scout begitu beruntung. Namun, aku tau bahwa Scout tidak meraih semua itu dengan mudah.
"Harry... Apakah pria itu suaminya?" tanyanya padaku dan tatapanku tidak lepas dari mereka yang sedang bercengkrama dengan para undangan. Kami tidak jauh dari mereka, tapi beberapa undangan yang lalu-lalang membuat mereka tidak terlalu jelas untuk di lihat.
"Yah..."
"Wah..."
Aku segera menatap Emilya yang sedikit menganga. Aku mengangkat sebelah alisku lalu menarik Emilya mendekat lagi denganku. Aku mendorong rahang bawahnya ke atas agar mulutnya tertutup. Dia segera menatapku jengkel. Mataku beralih lagi pada mereka.
"Kau terkejut?" ucapku.
"Astaga... Aku tidak tau bahwa suaminya sangat tampan...."
Tampan?
"Tidak juga...." Ucapku dengan nada tidak setuju dan aku menatap ke arah mereka lagi.
"Kau juga tampan.. Kau yang tertampan di sini..." ucap Emilya dengan nada ceria dan aku sedikit terkekeh. Dia berusaha menghiburku, heh?
"Betulkah?" ucapku dengan nada senang.
Dia menoleh ke arahku dan tangan kanannya mengelus wajahku sebentar.
"Yap... Kau yang terbaik di sini..."
Aku mengecup pucuk kepalanya, "Kau juga...." aku kembali menoleh ke arah Kenny dan detik itu juga mata kami bertemu. Tubuhku membeku. Dia mengangguk dan tersenyum kecil padaku. Aku berdehem dan melakukan hal yang sama.
"Dia tersenyum padamu..." bisik Emilya.
****
Emilya POV
"Dia tersenyum padamu..." bisikku pada Harry seraya menatapnya. Dia menatap Kenny.
Tatapan yang sama. Sangat sendu. Tatapannya begitu sendu saat melihat mereka berdua. Walau wajahnya di atur sedemikian rupa agar nampak keras, datar, dan kejam, tapi tatapan Harry tidak bisa membohingi apa pun.
"Mereka datang ke arah kita, Harry..." ucapku saat dua sejoli itu datang ke arah kami. Aku ingat Harry berkata bahwa dia cukup dekat dengan Kenny.
Aku begitu terperangah melihat rupa mereka. Begitu tampan dan cantik. Indah. Seolah mereka bukan dari dunia ini. Seolah mereka adalah Dewa-Dewi yang turun dari langit. Garis wajah suami Kenny begitu tegas, keras, tatapannya setajam elang, dan begitu tampan. Aku tidak menyangka ada pasangan sesempurna ini. Ah.. Hidup Kenny benar-benar sempurna. Karier sukses, suami tampan dan kaya, serta wajah yang luar biasa cantik.
Kenny memeliki garis wajah yang lembut membuat kesan ramah pada wajahnya. Dia tinggi, mungkin 180 cm. Warna rambutnya hitam sedikit kecoklatan. Bulu matanya lentik. Bibirnya atasnya lebih tipis dibanting bibir bawah. Dagunya berbentuk V yang sangat bagus. Aku menghembuskan napas. Wanita ini benar-benar sempurna. Astaga... Mereka berdua benar-benar menjadi sorotan di pesta ini. Semua tatapan tertuju pada mereka.
"Harry..." bisikku sangat pelan saat mereka berdua akhirnya di depan kami.
"Selamat malam..." ucap suami Kenny dengan nada datar.
"Selamat malam..." Kenny menyapa kami dengan nada yang sangat berbeda dari suaminya. Begitu lembut, ramah, bahkan suaranya sangat merdu hanya dengan bicara saja.
"Selamat malam.." sapa Harry dengan nada yang sangat datar dan dia memajukan tangan kanannya lalu suami Kenny menjabat tangan Harry. Aku menatap jabatan dan mata mereka berdua secara bergantian. Ada aura aneh di sini.
Lalu Kenny menjabat tangan Harry. Aku menatap wajah Kenny yang tersenyum ramah pada Harry, sedangkan Harry menatap keras wanita itu. Jelas ada yang salah di sini.
"Senang bertemu kembali setelah sekian lama, Harry...." ucap Kenny dengan suara merdunya.
"Senang bertemu kalian berdua juga...."
Jabatan itu terlepas dan aura disini begitu mencengkam. Mataku tidak sengaja bertemu dengan mata suami Kenny. Dia menatapku tajam. Aku buru-buru mengalihkan tatapan dari dia. Sial. Dia begitu mengintimidasi. Apa penampilanku begitu aneh? Kenapa dia menatapku seolah ingin membunuhku?
"Halo..." ucap Kenny padaku dengan nada lembut. Dia tersenyum begitu manis padaku dan itu melelehkan hatiku. Astaga. Aku tidak menyangka aku akan bertemu pianist terkenal ini dan bahkan berbicara denganku. Dia benar-benar.... Aku kehilangan kata-kata.
"Ha--" aku berdehem sekali, "Halo..."
"Dan siapakah wanita cantik ini, Harry?" tanyanya.
"Dia Emilya Teatons. Kekasihku..." balas Harry dan itu sedikit mengirim sengatan aneh pada diriku. Jantungku berdetak cepat. Ucapan Harry terasa begitu posesif. Nadanya saat mengucapkan itu. Caranya mengucap namaku dengan suaranya. Astaga.. Aku merasakan wajahku memanas.
Kenny mengarahkan tangan kanannya padaku, "Kenny Sharp..." dan aku menjabat tangannya yang benar-benar mungil, ramping, lembut, dan hangat. Sangat berbeda dengan tanganku yang kasar.
"Emilya Teatons.. Senang bertemu denganmu juga.."
Astaga?!! Aku menyalam Kenny Sharp! Aku tidak percaya moment seperti ini terjadi dalam hidupku.
"Dan ini suamiku, Scout Sharp..." ucap Kenny setelah jabatan kami terlepas. Scout Sharp. Ah... Namanya pun terdengar begitu mengintimidasi. Sharp (tajam), pantas saja tatapannya sangat 'tajam'.
Scout dan aku berjabatan tangan. Jabatannya begitu kuat, tegas, dan keras seolah mencirikan sifatnya secara tidak langsung. Menandakan dia adalah pria disiplin yang berwatak keras.
"Scout Sharp.. Senang bertemu denganmu..." Suara barritonnya begitu dalam. Astaga. Itu terdengar begitu.. Rrrr.. Sexi?
"Emilya Teatons...."
Aku melepas jabatan dan aku masih bisa merasakan kuatnya genggaman Scout tadi.
"Senang bertemu dengan kalian berdua, Mr.Sharp dan Mrs.Sharp...." ucap Harry dengan nada formal yang tegas, "Kami permisi untuk menyapa para undangan yang lain..."
"Baiklah..." ucap Scout, "Senang bertemu denganmu juga. Mr.Smith dan Ms. Teatons..."
"Kuharap kita bisa bertemu di kesempatan lain.." ucap Kenny.
Harry mengangguk kecil dan segera menarikku untuk meninggalkan tempat itu. Tangan kirinya yang berada dipinggulku meremas kain gaunku. Jalannya begitu cepat. Aku menatap mimik wajahnya. Marah. Dia jelas marah. Kenapa? Apa yang mengganggunya?
"Kita kemana?" tanyaku saat kami mulai menjauh dari kerumunan dan menuju pintu ballroom
"Pulang..."
"Kalau begitu kita permisi dulu kepada tuan rumah dan orangtuamu Harry..."
Pelayan membukakan pintu pada kami dan kami pun keluar dari ballroom.
"Pelan-pelan, Harry..." ucapku saat kami berjalan di lorong hotel. Berjalan dengan sepatu hak tinggi bukanlah hal yang mudah.
"Maaf.." bisiknya dan dia memelankan langkahnya. Aku menaruh tanganku di atas tangan kirinya lalu mengelusnya lembut dan genggaman Harry pada kain gaunku pun melonggar.
"Ada yang salah?" tanyaku lembut seraya memasuki lift yang kosong.
Dia menarik napas dan membuangnya dengan marah. Dia melepas tangannya dari pinggulku, melonggarkan dasinya, lalu membuka kancing teratas kemejanya. Harry menyandarkan badannnya di dinding lift dan menundukkan kepalanya dengan lesu. Aku menelan ludah dengan susah payah dan mengalihkan tatapanku ke depan untuk menatap Harry di pantulan dinding lift.
Jelas ada yang salah. Aura mereka bertiga begitu aneh tadi. Jelas ada sesuatu dengan mereka bertiga, tapi apa? Semua pertanyaan memenuhi otakku dan pada akhirnya aku dengan Harry hanya diam bahkan setelah sampai pada pent-housenya. Aku tidak berani bertanya karena dia seolah membangun tempok tak kasat mata antara kami.
Aku melepas sepatu hak tinggiku yang terasa menyiksa dan menaruh tas dan mantelku di atas sofa. Harry berjalan menaiki tangga menuju kamar tanpa melepas pakaiannya. Aku mengikuti dia dan segera masuk ke dalam kamar. Aku menemukan baju Harry sudah berceceran di lantai kamar dan mengarah ke kamar mandi. Aku memutik pakaiannya dan menaruhnya pada satu tempat.
Aku mendengar suara shower dari dalam. Aku menggigit bibir bawahku dan memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada sahutan. Aku mengetuk lagi dan kali ini lebih keras. Aku menekan handle pintu dan itu terkunci
"Harry?" ucapku, "Bisakah aku masuk?"
Tidak ada jawaban.
"Aku mengkhawatirkanmu, Harry..." ucapku seraya mengetuk pintunya sedikit putus asa. Aku tidak mau dan tidak suka jika dia memperlakukanku seperti ini.
Ada apa dengan dia? Kenapa seperti ini? Apa hubungannya dengan Kenny dan Scout?
"Harry... Kumohon.. Biarkan aku masuk..."
Aku mengelus ujung mataku yang basah karena air mata.
"Biarkan aku masuk... Kumohon.."
Kenny.. Aku yakin dia wanita yang dia maksud selama ini.
Aku menarik napas.
Kenny Sharp....
Apakah Harry akan membiarkanku masuk? Memberiku izin sedikit saja untuk masuk ke dalam hatinya? Astaga.. Aku tidak menyangka itu Kenny.. Wanita sesempurna dia... Pantas dan wajar saja Harry begitu terobsesi pada wanita sesempurna Kenny.
"Apa kau tidak akan membiarkanku masuk?"
Lalu aku mendengar pengunci handle pintu yang di buka dari dalam. Aku segera melap wajahku dengan tanganku dan segera pintu terbuka. Aku melihat Harry yang telanjang dan tubuhnya basah dengan air.
"Em..." bisiknya. Suaranya begitu hancur. Dia mengelus wajahku dengan tangannya yang basah.
"I'm here..." bisikku dan segera memeluknya. Harry menaruh wajahnya di lekukan leherku, "Aku selalu di sini, Harry..."
Harry mengangkat wajahnya dan melihatku. Menatapku dengan tatapan sendunya.
"Kita harus mengeringkan badanmu, Harry..." ucapku memecah keheningan seraya menarik tubuhnya menjauhi kamar mandi dan dia menurut.
Aku segera mengambil handuk dan mengeringkan badan Harry. Lalu mengambil pakaian dan pakaian dalam untuknya. Dia memakainya dalam diam sedangkan aku melepaskan gulungan rambut, kalung, dan antingku. Setelah dia selesai, aku datang ke arahnya dan segera berdiri membelakanginya.
"Bisa kau buka kancingnya untukku?" aku menyisihkan rambut panjangku ke arah bahu kananku
Aku segera merasakan tangan Harry yang dingin menyentuh kulitku. Dia menarik kancing bajuku dengan kulit tangannya bersentuhan dengan kulit punggungku. Aku menggigit bibir bawahku seraya memain-mainkan jemariku. Secara mengejutkan, Harry mencium leher belekangku.
"Kau cantik, Em...."
"Trims...." bisikku dan Harry segera menggeser lengan bajuku sehingga jatuh dari bahuku meninggalkanku hanya dengan celana dalam. Dia segera memelukku dari belakang.
"Kau sangat wangi, Em..."
"Aku merindukanmu tubuhmu, Em...
"Aku menginginkanmu, Em...'
Aku menelan ludah... Dia sedikit bicara melantur.
"Tapi kau sudah berpakaian..."
"Kau bisa membukanya untukku..." bisiknya dan segera dia membalikkan badanku ke arahnya. Dia mencium bibirku dengan keras dan terburu-buru. Tangannya meremas bokongku dan aku segera melenguh. Mulutnya perlahan turun menuruni kulitku.
"Kulitmu sangat lembut..." bisiknya dan segera menggigit pucuk dadaku.
"Ahk!" aku berteriak penuh kenikmatan.
Harry meremas dadaku dan memanjakan hingga pucuknya memanjang. Kakiku bergetar sehingga aku menaruh tanganku di atas bahu Harry sebagai tumpuan.
"Ah.. Ah...." aku melenguh penuh kenikmatan saat lidah Harry memainkan pucuk dadaku.
Nikmat.
Ini terlalu nikmat.
"Kupikir dadamu semakin membesar, Em dan itu semua berkatku.." bisik Harry nakal seraya meremas dadaku dengan lembut, "Aku melakukan pekerjaanku dengan baik..."
Sial. ini terlalu nikmat. Bagaimana bisa mood-nya berubah secepat ini padahal beberapa saat yang lalu dia marah dan sedih. Sekarang? Dia berubah menjadi sangat liar. Harry mencium perutku dan aku tertawa kecil saat merasakan geli dari ciumannya.
"Geli yah?" bisik Harry dengan suara beratnya seraya melirikku dari bawah. Astaga. Tatapannya begitu panas.
"Harry...." bisikku, tak tau harus mengatakan apa.
Harry kembali turun seraya menurunkan pakaian dalamku perlahan dan..
"Ahk!!!" aku merasakan sengatan kenikmatan luar biasa saat Harry mencium milikku. Dia melebarkan kakiku dan tanganku bertumpu di bahu Harry. Aku memundurkan bokongku ke belakang saat Harry mencium rakus kewanitaanku.
Kakiku bergetar hebat. Seluruh tubuh bergetar hebat.
Harry menghisapnya.
"Harry!!! Ahk!! Ahk!!" Aku pusing. Pusing akan kenikmatan tiada tara ini.
Harry mencumbu kewanitaanku dan tangannya yang satu meremas dadaku. Aku memutar kepalaku saat rasa nikmat itu memenuhi seluruh tubuhku. Salah satu tanganku segera mendorong kepala Harry semakin masuk ke dalam diriku seraya meremas rambut Harry.
"Ahk!!' aku merasakan keterkejutan luar biasa saat titik yang belum pernah disentuh sebelumnya di cium oleh Harry. Astaga... Aku akan menghabiskan waktuku berteriak sepanjang malam ini.
"Harry... Harry..." eluhku saat kakiku mulai bergetar hebat, tanda pelepasanku akan segera datang.
Datang. Puncakku akan datang. Aku sudah memejamkan mata penuh kenikmatan dan...
"Tidak semudah itu, sayang..." Harry segera menjauhkan bibirnya dari milikku dan berdiri. Dia menatapku dalam seraya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, "Kita akan mencapai puncak bersama-sama..." bisiknya
"Harry...." ucapku putus asa.. Sial. Pelepasanku. Asataga. Aku bisa frustasi karena ini.
Lalu Harry mencium bibirku dengan lembut dan aku merasakan rasa aneh dari mulutnya. Dia menjauhkan mulutnya dariku.
"Kau merasakannya? Itu adalah rasamu, Em... Begitu nikmat.."
Aku memerah. Astaga. Bagaimana bisa dia se-vulgar ini?
"Enak.. Rasamu sangat enak, Em...."
Harry menatapku dengan tatapannya yang dalam dan lembut. Tanpa aba-aba, Harry segera mendorong tubuhku ke atas tempat tidur, bahkan aku tidak sempat berteriak. Wajahku terarah ke atas ranjang dan aku menoleh ke belakang untuk melihat Harry.
"Aku akan sangat keras, Em..." Harry menurunkan celananya dan dia segera menarik bokongku ke arahnya sehingga aku harus bertumpu dengan tanganku. Membuka kakiku agar lebih lebar. Menampar bokongku dan miliknya segera memenuhiku dari belakang.
"Ah..." eluh Harry dengan suara beratnya. Dia menggulung rambut panjang dengan salah satu tangannya dan dia mulai mendorong.
"Ah. Ah. Ah." erangku di setiap dorongannya.
"Em..." geram Harry dan dia mendorong lagi.
Aku memejamkan mata saat milik Harry memenuhi punyaku. Penuh dan nikmat.
"Kau. Terlampau. Nikmat. Emilya." ucap Harry terpatah-patah di setiap dorongannya.
Kepalaku bergerak mengikuti iringan gerakan harry. Harry mengencangkan tangannya di rambuttku yang membantunya mendorong tubuhku semakin masuk ke dalam miliknya. Satu tangannya menampar bokongku. Keringat membanjiri tubuhku. Panas. Decitan itu memenuhi pendengaranku.
Tanganku bergetar dan akhirnya aku tumbang, tidak mampu menahan berat tubuhku. Harry tetap mendorong dengan wajahku menempel di ranjang. Ranjang bergerak dengan gerakan Harry yang kasar dan kuat. Kakiku bergetar.
"Datanglah... Datanglah padaku, Em...." geram Harry
"AHK!!" aku menjerit ketika Harry mendorong kuat hingga pelepasan itu datang. Puncakku yang luar biasa.
"EMILYA!!" Harry berteriak saat puncaknya datang dan aku segera rubuh di tempat tidur dengan kakiku menggantung di atas tempat tidur.
Aku memejamkan mataku. Itu terlampau nikmat dan luar biasa melelahkan. Tidak menunggu beberapa lama, Aku merasakan tubuhku di angkat dan di baringkan di atas tempat tidur. Harry bergabung denganku di tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuh kami. Dia memelukku dalam lengannya.
"Bagaimana bisa aku bisa telanjang dan kau tetap berpakaian lengkap?" bisikku.
Harry mengelus punggungku dengan lembut.
"Karena aku bisa..."
Aku terkekeh akan ucapannya, "Yah. Kau memang pria serba bisa...."
Aku menguap..
"Tidurlah..." bisik Harry
"Ehm..." gumamku.
Aku memejamkan mata.
"Apakah wanita yang kau maksud selama ini adalah Kenny?" tanyaku dalam tidurku.
Ada jeda keheningan di sana. Aku tau dia akan menjawab ya. Namun, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.
"Yah..." bisik Harry.
Aku tersenyum kecil. Sudah kuduga.
"Apakah aku bisa masuk ke dalam hatimu jika yang berada di hatimu adalah wanita sesempurna Kenny Sharp?"
"Berusahalah untukku, Em...." bisik Harry seraya mengecup pucuk kepalaku, "Karena aku juga berusaha untukmu..."
"Yah..."
Perlahan dan perlahan, kegelapan datang dan membawaku masuk ke dalam dunia mimpi.
"Selamat tidur, Em..." suara Harry terdengar dalam dunia mimpiku.
****
MRSFOX
Semoga kalian enjoy walau cerita ini kurang greget karena menurutku lebih greget kisah Kenny sama Scout sih. Walau pun terlalu dibumbui banyak adegan dewasa, semoga kalian enjoy" ajah yah dan gak mudah bosan. Dan aku mohon-mohon banget dukungan kalian melalui like,vote, koment, dan love karean itu menjadi modalku untuk semangat berkarya terus. Apalagi koment kalian yang bisa jadi moodbooster aku. Oh iyah, aku tau kok pasti ada yang dibawah umur baca ini, tapi bijak" yah gaiss. Jadilah pembaca yang bijak dan baik. Okay,Makasih banyak gais. Bye" See yahhhhh