Harry's Love Story

Harry's Love Story
The Last



Happy Reading


****


 


Harry POV


Aku segera keluar dari mobil dan berlari kencang menuju tempat mobil itu jatuh. Aku mendorong orang-orang yang berkerumun dengan kasar. Aku melepas jaketku dan hendak melompat, tapi segera di tahan oleh dua polisi. Sialan.


"Minggir!!" aku berteriak, "Sialan!! Minggir sialan!!!"


Aku segera memukul mereka berdua dan segera lepas.


"Sir.." ucap Liam, berusaha menahanku, tapi wajahku keras. Tidak bisa diganggu.


Aku melihat ke bawah, begitu tinggi dan begitu dalam. Emilya... Dia harus selamat apa pun yang terjadi. Tanpa berpikir panjang, aku segera melompat ke bawah untuk menyelamatkan Emilya, isteriku.


****


Emilya POV


Tubuhku terdorong kedepan mobil dan detik itu juga mobil jatuh ke dalam air. Tubuhku terbentur ke badan mobil dan rasanya seluruh tubuhku mati rasa.


"No!" wanita muda yang mencuriku berteriak kencang saat air perlahan masuk ke dalam mobil.


Lalu wanita yang lebih tua menoleh ke arahku. Aku segera membuka pintu, tapi terkunci.


"Keluar, Elena..." ucap wanita tua itu pada Elena, si wanita muda itu.


"Mom.. Ayo pergi.." ucap Elena dengan panik saat melihat mobil semakin tenggelam dan air semakin memenuhi mobil.


Aku berusaha membuka pintu, tapi tidak bisa. Secara mengejutkan wanita tua itu membuka pintunya hingga membuat semua air masuk.. Aku menarik napas dalam dan air segera memenuhi mobil. Gelap. Sangat gelap. Begitu dingin.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku segera memukul-mukul jendela, berusaha menyelamatkan diriku. Saat aku memukul jendela, aku merasakan perutku di pukul dengan keras. Aku segera membuka mulutku dan berusaha berteriak dalam air, tapi yang keluar hanyalah gelembung.


Tidak!! Sial!! Dia memukul perutku!


Perutku di pukul lagi, begitu kuat. Aku memegang perutku. Aku tidak bisa bernapas. Begitu menyakitkan. Aku menolak menyerah dan aku berenang, berusaha mencari jalan keluar. Aku memeriksa semua pintu mobil apakah ada yang terbuka, tapi semuanya tertutup.


Aku pusing. Aku tidak sanggup lagi. Aku memukul-mukul kaca dengan putus asa dan kegelapan dalam air semakin menelanku. Semua menggelap, benar-benar gelap. Aku mengambang. Menyerah. Aku menyerah. Aku akan berakhir. Aku benar-benar akan mati.


Beginikah akhirnya? Beginikah akhir kisah hidupku? Mengapa seperti ini? Mengapa setiap aku memulai langkah menuju kebahagian selalu berakhir tragis? Beginikah garis hidupku? Hidup dalam dunia yang selalu malang dan tidak beruntung


Anak-anakku... Aku hanya menggendong mereka sekali. Benar-benar sekali. Foto bersama mereka pun hanya sekali dan itu yang terakhir. Aku membayangkan wajah mungil mereka. Begitu manis. Begitu indah. Tak apa... Setidaknya aku bisa melahirkan mereka dengan sehat.


Harry?


Um... Pria tertampan dan terbaik dalam hidupku. Dia menjadi suami, teman, kekasih, mentor, keluarga, dan semuanya padaku. Dia adalah segalanya untukku. Aku bersyukur bisa mengenalnya di kehidupan ini dan berbagi kasih dengannya walau singkat. Aku berharap, jika aku memiliki kehidupan yang lain, aku akan bertemu dengannya dan anak-anak kami.


Dan inilah akhirnya. Good bye...


****


Harry POV


Tekanan air membuatku tidak bisa menyelam lebih jauh. Aku pun mulai kehilangan napasku. Namun, aku menolak menyerah. Aku terus menyelam walau tekanan air mendorongku untuk naik. Aku tidak bisa menyerah. Emilya... Emilya masih ada di sana. Sendirian di sana dalam air yang gelap dan dingin. Begitu mematikan


Oh my.. Kuharap Emilya bisa bertahan walau kecil kemungkinannya. Aku terus menyelam dan memakasakan tubuhku. Aku bisa mersakan rasa sakit di lenganku, tapi aku menahannya. Aku menyelan terus hingga akhirnya aku melihat sedan putih itu yang semakin tenggelam. Aku menggerakkan kakiku semakin masuk ke dalam, berusaha mengejar mobil yang semakin jauh itu.


Aku menggeleng kepala saat rasa pusing menghantamku. Aku butuh udara. Benar-benar butuh. Namun, jika aku menyerah sekarang dan naik ke permukaan maka Emilya tidak mungkin bisa selamat. Pada akhirnya, aku terus menggerakkan tubuhku semakin dalam. Terus dan terus hingga aku meraih mobil itu.


Aku melihat hanya ada satu bayangan di dalam sana dan aku yakin itu Emilya. Aku membuka pintu mobil, tapi itu terkunci. Aku pindah ke pintu yang lain, tapi semua tertutup. Sial. Aku memukul kaca, tapi aku tidak memiliki tenaga lagi. Aku butuh udara. Benar-benar butuh.


Aku segera mengambil posisi dengan memegang sisi-sisi mobil dan kedua kakiku berada di atas kaca pintu mobil. Aku mengerahkan semua tenagaku kemudian aku melompat dan menendang kaca itu dengan sekuat tenaga hingga akhirnya kaca itu pecah.


Aku bisa merasakan tekanan tadi membuat kakiku lemas, tapi aku menahannya. Aku menendang serpihan kaca lain hingga Emilya bisa lewat dengan aman. Setelahnya, aku menarik tubuh Emilya yang tidak berdaya. Aku berteriak dalam air hingga gelempung keluar saat merasakan sakit di lenganku. Sial. Itu karena bekas lukaku yang belum pulih.


Aku berusaha naik, tapi beban tubuhku dan Emilya terlalu berat hingga tubuhku kami tidak bisa naik. Aku terus bergerak, tapi aku tidak mampu. Lukaku terasa perih, dadaku memanas karena tidak adanya oksigen, dan kepalaku benar-benar pusing. Aku tidak mampu


Namun, aku melihat beberapa cahaya perlahan mendekat ke arah kami. Akhirnya. Akhirnya, tim penyelamat datang... Aku memegang Emilya dengan kuat dan mempertahankan diri kami tidak tenggelam semakin jauh. Perlahan, aku merasakan semuanya gelap.


****


Aku segera terbatuk dan mengeluarkan air dari dalam mulutku. Aku melihat seseorang berompi orange khas damkar berdiri di atasku, jelas dia baru menekan-nekan dadaku. Aku menatapnya dengan linglung, lalu aku segera ingat dengan Emilya.


"Dia sadar! Dia sadar!" teriaknya seraya kembali berdiri.


"Em..." ucapku parau.


"Sir..." Liam muncul dan aku merasakan tubuhku di angkat menggunakan tandu.


"Em..." ucapku lagi.


Aku menoleh ke samping dan melihat Emilya di angkat menggunakan tandu. Aku melihat darah memenuhi bajunya. Aku merasakan kengerian saat melihat tanggannya tergantung begitu saja. Tidak berdaya. Aku segera bergerak, hendak turun dari tandu. Namun, aku tidak mampu. Benar-benar tidak bisa. Pada akhirnya, aku terjatuh ke atas aspal dan kehilangan kesadaranku lagi.


****


"Dia baik-baik saja sekarang...."


Aku medengar suara Cassie dalam tidurku.


"Pergilah makan. Aku akan menjaga mereka..."


Itu suara Ayah.


"Kita bisa memesan makanan pesan antar..."


Itu suara Ibu.


Aku membuka mataku perlahan dan mengedip-edipkannya, berusaha menyesuaikan cahaya lampu.


"Uhm..." erangku pelan saat aku menggerakkan bahuku yang terasa sakit.


"Oh my.. Harry sudah sadar.." ucap Cassie dengan nada girang.


Aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku dan aku akhirnya melihat wajah mereka bertiga. Wajah penuh syukur.


"Harry.. Astaga." Ibu terisak pelan dan segera memelukku


"Mom.." ucapku dengan seuara serak.


Ibu melepas pelukan dan segera mencium keningku lembut.


"Emilya? Di mana dia?" tanyaku dan senyum mereka bertiga merekah.


"Dia di sini, baik-baik saja...." ucap Cassie seraya merujuk ke samping kiriku. Aku menoleh dan melihat Emilya berbaring di ranjang lain tepat di sampingku.


"Kau dan dia tidak sadarkan diri selama dua hari, tapi Dokter mengatakan bahwa Emilya baik-baik saja..." ucap Ayah.


"Dan itu... Bayi-bayi kalian.." aku menoleh ke arah kananku dan melihat bayi-bayi kami tidur menghadapku dalam inkubator.


"Mereka berdua adalah jimat terhebat untuk kau dan Emilya, Harry.."


Aku menekan bibirku menjadi garis keras dan wajahku bergetar. Air mataku jatuh tanpa kuundnag. Aku terisak pelan. Aku begitu bersyukur. Benar-benar bersyukur bahwa kami semua baik-baik saja. Aku terisak lagi dan air mataku jatuh semakin banyak.


"Oh, Harry..." isak Cassie, "Jangan menangis, kau bisa membangunkan bayi-bayi itu..."


Aku menekan bibirku keras dan Ibu mengelus tanganku dengan lembut.


"It's okay, Harry... Menangislah.." ucap Mom lembut dan memelukku pelan dan aku menangis lagi dalam diam. Menikmati perasaan penuh kelegaan ini.


****


Emilya POV


"Mommy!!" ucap Tobias dan Beatrice secara bersamaan dengan suara riang saat mereka memasuki dapur bersama Harry. Mereka baru pulang sekolah.


"Hai, Kids..." ucapku seraya menuangkan saus fla ke atas puding coklet yang kubuat.


"Um.." Harry segera mencolek saus tersebut, "Yummy..."


"No.." ucapku pada Harry seraya memukul pelan tangannya, "Tidak boleh begitu..."


Harry memutar matanya dengan jengkel, "Yes, Mam.." ucapnya dengan nada malas dan aku tertawa kecil.


"Kalian mau?" ucapku pada kedua anakku.


"Yah, Mommy.."


Waktu benar-benar berjalan dengan cepat. Aku tidak menyangkan mereka sudah sebesar ini. Tobias dan Beatrice. Dua anak kembarku. Begitu pintar, aktiv, ceria, dan baik. Mereka baru saja masuk ke taman kanak-kanak hari ini dan nampaknya mereka bersenang-senang.


"Bagaimana hari pertama sekolah?" tanyaku seraya memotong puding itu.


"Aku.. Aku dan Beat bertemu banyak teman-teman baru lalu..." aku mendengar mereka berceloteh dengan ceria dan aku tersenyum bahagia. Mataku bertemu dengan Harry yang sedang memakan pudingnya dan dia mengedipkan sebelah matanya dengan menggoda. Aku tersenyum kecil. Dia selalu melakukan itu.


"Kids..." Cassie muncul ke dalam dapur.


"Aunty.." ucap Tobias dan Beatrice dengan ceria.


"Ayo ganti baju.. C'mon.."


Tobias dan Beatrice menghabiskan potongan terakhir puding mereka dan segera turun dari kursi. Mereka berlari kecil ke arah Cassie.


"Kau tidak mau?" ucapku merujuk pada puding yang kubuat.


"Trims, tapi nanti saja. Aku ingin mengganti baju anak-anak ini dulu.."


"Thank you, Cassie.." ucapku tulus dan Cassie mengedipkan mata padaku sebelum akhirnya pergi dari dapur bersama anak-anak. Ah.. Cassie benar-benar senang menghabiskan waktu bersama mereka.


Sekarang, tinggallah aku dan Harry di sini. Aku menatapnya.


"Jadi, bagaimana?" tanyaku.


"Apanya?" dia berdiri dan berjalan ke arahku.


Aku bersandar di meja.


"Aku tau kau tidak berangkat kerja hari ini dan mengawasi Beatrice dan Tobias...." ucapku seraya melipat kedua tanganku. Aku tau itu karena sekretarisnya mengatakan bahwa Harry tidak datang ke kantor.


Oh.. Harry benar-benar sangat posesif terhadap anak-anak kami. Dia bahkan berpikir ingin melakukan home schooling pada Beatrice dan Tobias, tapi aku tau itu tidak baik. Mereka berdua perlu bertemua dan berinteraksi dengan orang-orang baru


Dia mengangkat bahunya, "Apa yang kau bicarakan?" ucapnya pelan pura-pura tidak tahu seraya mensejejarkan tubuhnya ke arahku.


"Kau jelas tahu apa yang kumaksud..."


"Aku ingin menghisap bibirmu yang cerewet itu, Em..." ucapnya dengan suara barittonnya yang berat.


Aku memiringkan kepalaku, "Ada anak-anak dan Cassie di sini..." bisikku pelan.


"Hanya sebentar..." Harry mengurungku di antara kedua tangannya kemudian dia memiringkan dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku memejamkan mataku dan bibir kami bersentuhan. Harry ******* bibirku lembut dan tanganku segera menggantung di lehernya.


"Uhm..." erangku pelan saat dia meremas bokongku. Kepala kami beradu ke kanan-kiri dan ciuman itu semakin dalam. Harry menghisap bibir bawahku dan aku melenguh penuh kenikmatan. Aku meremas rambutnya yang tebal, merasakan kenikmatan.


"Whoa..." suara Cassie mengejutkanku dan Harry hingga kami akhirnya melepas ciuman kami. Wajahku memerah saat melihat Cassie ada di dapur. Sial. Memalukan sekali.


"Cassie.." ucap Harry dengan nada sedikit kesal.


"Ups.. Sorry. Emilya menawarkan puding tadi dan aku datang mengambilnya...." Cassie berjalan ke arah kami dan mengambil sepotong puding. Aku benar-benar malu.


"Oh my.." ucapku pelan saat mataku bertemu dengan mata Cassie.


"Kalian bisa ke kamar atau tempat lain yang lebih privasi. Aku akan menjaga anak-anak.." ucap Cassie seraya membawa pudingnya, "Bye, guys.. Carilah tempat lebih sepi..."


Aku segera bersandar di tubuh Harry setelah Cassie pergi.


"Oh my.... Sudah kukatakan ada Cassie dan anak-anak." omelku pada Harry seraya memukul dadanya.


"It's okay..."


Aku cemberut.


"Jadi kau mau kalau kita ke kamar, sekarang?" ucap Harry dengan nada nakal dan aku tertawa kecil. Harry mengarahkan tangan kanannya ke arahku, "Ayo?"


Aku menggenggam tangannya tersebut, "Yah..."


***


Inilah hidupku. Menikmati waktu bersama orang-orang yang kucintai sepenuh hatiku. Jiwa ragaku. Selama empat tahun pernikahan kami, aku tidak bisa mengatakan bahwa semua selalu berjalan baik. Kadang kala ada masalah, perselisahan, dan amarah. Namun, aku dan Harry selalu bisa mengatasinya. Semuanya karena cinta dan kasih sayang.


Aku ingat saat Elena dan Elmira mencuriku sekitar empat tahun yang lalu. Kupikir aku akan amti saat itu, tapi Harry tetap menolongku dan tidak menyerah untuk menarikku keluar dari dalam air. Elena dan Elmira, mereka berdua, entah ini kebetulan atau tidak, tapi mereka berdua benar-benar berhubungan erat dengan kehidupanku.


Elmira adalah kekasih gelap Ayahku dan Elena sendiri adalah puteri Elmira yang tak lain adalah partner Harry dulu. Mereka jelas membenciku karena berpikir aku adalah sumber kemalangan mereka. Mereka berusaha mencelakaiku, tapi aku benar-benar beruntung karena aku selamat.


Elmira dan Elena sudah di tahan di penjara karena kejahatan yang mereka lakukan dan aku benar-benar bersyukur akan itu. Aku tidak bisa hidup tenang dengan mereka berdua berkeliaran di luar sana yang mungkin saja mencelakai keluargaku. Namun, semuanya benar-benar berakhir.


Di sinilah aku sekarnag, hidup dengan damai bersama keluarga kecilku


Aku benar-benar beruntung menjadi pendamping hidup Harry. Menikmati waktu sebagai Ibu dan isterinya lalu saat sore menjelang malam, aku akan duduk di depan laptopku dan menulis cerita sembari menunggu Harry pulang ke dalam pelukanku. My love, my man.


Aku menatap pria yang duduk di sampingku. Kami sedang melakukan piknik kecil di halaman rumah kami seraya melihat Beatrice dan Tobias bermain. Menikmati cahaya sore bersama. Aku menaruh buku yang kubaca ke atas pahaku lalu mengecup lembut pipi Harry. Dia menatapku dan aku menatapnya penuh haru.


"Kenapa?" tanyanya lembut seraya menyelipkan anak rambutku ke balik telingaku


Aku segera memeluknya, "Tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu..."


Harry segera merangkul tubuhku lembut. Begitu hangat dan menenangkan. Sampai saat ini, aku masih berpikir bahwa semua ini tidak nyata dan aku takut bahwa semua ini hanyalah mimpi. Namun, setiap aku bangun dari tidurku dan melihat Harry ada di sampingku, itu menyakinkanku bahwa semua ini nyata.


Harry, Beatrice, dan Tobias adalah bagian terbaik dalam hidupku. Aku benar-benar beruntung Harry memilihku sebagai pendampingnya dari sekian banyaknya wanita di dunia ini. Aku bersyukur bisa menjadi ibu dari kedua buah hati kami.


Aku ingat saat pertama kali bertemu dia di club. Kami bertatapan tanpa sengaja dan aku benar-benar penasaran dengan dia karena dia begitu memesona, misterius, dan tatapan sendunya memikat hatiku. Andai saat itu Julia tidak membuat masalah, mungkin aku tidak akan berakhir di club itu sebagai wanita penghibur yang mana artinya aku tidak akan bertemu dengan Harry. Namun, seseorang berkata padaku, jika jodoh pasti bertemu.


Yah. Itu benar apa adanya. Setelah banyak masalah yang kami tempuh. Setelah banyaknya air mata, amarah, dan kesedihan pada akhirnya kami bersama dan menikmati hidup hingga nanti usia menua dan rambut memutih. Aku akan selalu ada untuknya, selamanya.


"I love you..." bisik Harry saat dia mencium pipiku lembut.


"I love you too..."


"Forever and always..."


"Forever and always...."


Yah.. Selalu dan selamanya.. Cinta kami akan abadi. Selamanya


THE END


***


MrsFox.


Finally... Akhirnya cerita ini selesai. Silakan tunggu epilog gais. Hehe. Aku tidak tau jika ini mengharukan atau tidak, tapi jujur setiap menyelesaikan cerita ada perasaaaaan kosong di hati aku sendiri. Ada rasa ganjil seolah berkata 'Yah.. Udah pisah ajah sama mereka..' Gitu juga perasaanku saat menyelesaikan cerita Scout dan Kenny dulu, benar-benar sedih gk nyangka ajah udah tamat gitu, karena aku menganggap mereka nyata dan mereka itu belahan hati dan imajinasiku juga. Sekarang ajah masih suka baca cerita Scout dan Kenny, diulang" dan berpikir buat season 2 ajah gk yah? But, aku pikir sampai ini ajah. Biarkan mereka bahagia walau pasangan itu hanya ada dalam imajinasiku. :') Silahkan tunggu epilog cerita ini gais dan silakan cek cerita baru aku (Aku bingung kenapa covernya gitu.) Terimakasih untuk kalian semua yg selalu setia. Thankyou. Lop yuh