Harry's Love Story

Harry's Love Story
Tragedy



Happy Reading


****


Harry POV


"Em...." gumamku


Aku tersadar saat merasakan sisi lain ranjang kosong. Aku menepuk-nepuk sisi ranjang tersebut dan segera membuka mata. Aku tidak menemukan Emilya di sana. Aku melihat ke sisi lain dan melihat langit mendung. Aku tidak yakin jam berapa sekarang.


Aku segera bangkit untuk duduk dan menguap keras. Aku mengucek mata seraya bergerak untuk memakai sendalku lalu melihat jam dinding masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku berjalan keluar dari kamar dan saat di anak tangga, aku mencium bau masakan di hidungku. Aku segera tersenyum dan mempercepat langkahku menuju dapur.


Setelah di sana, aku melihat Emilya yang memunggungiku sedang memasak seraya bersenandung kecil dan menggoyang-goyangkan badannya. Jelas dia tengah mendengar musik. Aku tersenyum kecil. Segar rasanya melihat pemandangan seperti ini di pagi hari yang mendung.


Aku berdehem sekali dan dia tidak mendengarnya.


"Em...." dia tetap tidak mendengar.


Akhirnya aku berjalan ke arahnya seraya memanggil namanya sekali lagi, tapi dia tetap tidak mendengarnya. Aku akhirnya berdiri di belakangnya dan dia tetap tidak menyadari keberadaanku. Aku menunduk ke arah telinganya dan mengambil salah satu earphonenya.


"Sedang masak apa?" bisikku.


Dan...


"AH!!!" Emilya berteriak kecang. Sangat kencang dan dengan agresif dia segera melemparkan kepalanya ke belakang hingga mengenai hidungku.Aku langsung kehilangan keseimbanganku hingga membuatku terjatuh di lantai.


"Ah..." erangku pelan seraya menutup hidungku yang terasa sangat sakit. Sial. Dia memukulku terlampau keras. Aku menatap Emilya yang sedang menatapku dengan tatapn terkejut. Dia menutup mulutnya penuh keterkejutan.


"Harry..." bisiknya, "HARRY! KAU BERDARAH!!" teriak Emilya dan detik itu aku melihat jemariku yang dipenuhi darah.


"Sial..." umpatku pelan.


 


****


"Kau sudah tau aku mudah terkejut, tapi kau tetap mengendap-endap seperti itu dan mengejutkanku..." omel Emilya seraya memakan serapannya. Aku memutar mata. Dia sudah mengatakan hal yang sama sejak tadi.


Pendarahan hidungku sudah berhenti, tapi aku menyumpal tisu di salah satu lubangnya. Di sinilah aku sekarang, duduk di meja makan dengan Emilya yang mengomel di depanku. Aku menyendokkan potongan pancake ke mulutku seraya menatap Emilya.


"Maafkan aku..." ucapku setelah menelan makanan, "Aku tidak menyangka kau akan menyundul..."


"Itu karena insting mempertahankan diri..." Emilya menghembuskan napasnya, "Untung tidak sampai mematahkan tulang hidungmu..."


"Jika patah pun, aku masih tampan..." candaku dan dia memutar mata jengkel, "Omong-omong, terimakasih atas serapannya...."


"Uhm..." gumamnya, "Harry..."


Aku menatapnya, "Yah?"


"Jadi wanita yang kau maksud selama ini adalah Kenny?"


Aku terdiam sebentar lalu aku meneguk kopi milikku.


"Yah. Bagaimana kau menyadarinya?"


Lihat, dia jelas bisa membaca gerak-gerikku dengan baik.


"Insting..."


Aku mengangguk kecil.


"Aku tidak menyangka wanita itu adalah Kenny. Pasti ada kisah menarik di antara kalian bertiga."


Kami bertiga? Maksudnya Aku, Kenny, dan Scout? Kisah kami tidaklah terlalu menarik.


"Begitulah..." ucapku sedikit enggan. Aku benar-benar tidak terlalu senang dengan topik ini.


"Padahal aku ingin tanda tangannya, tapi kau langsung menarikku pulang." ucapnya dengan nada cerai, berusaha mencarikan udara yang tiba-tiba canggung


"Aku bisa memintanya untuk mengirimkan untukmu..."


"Ehm... Dia sepertinya wanita yang ramah..."


"Yah, dia wanita yang ramah..."  aku setuju akan itu.


Lalu, Emilya memegang tangan kananku yang berada di atas meja. Aku menatapnya yang tersenyum kecil padaku. Dia mengelusnya lembut.


"Aku akan menunggumu, Harry..." ucapnya, "Kuharap kau segera membuka hatimu untukku..."


Aku kehilangan kata-kata. Memang benar jika aku masih menyukai Kenny hingga detik ini. Jantungku masih berdetak kencang setiap melihat bahkan hanya dengan memikirkannya. Aku setengah yakin dan setengahnya tidak yakin bahwa aku akan bisa menerima Emilya sebelum genap tiga bulan ini.


Kau tau rasanya ketika sudah mencintai sesuatu selama bertahun-tahun dan bahkan masih menyanyanginya walau bukan milikmu lagi, rasanya begitu menyiksa dan tidak menyenangkan. Namun, inilah aku. Masih dalam bayang-bayang masa lalu. Aku menarik napas dan menghembuskannya pelan. Aku menggenggam tangan Emilya.


"Terimakasih, Em..." bisikku, "terimakasih sudah menungguku..."


Menungguku dalam ketidakpastian


Aku merasa nyaman di dekat Emilya. Senang jika dia senang. Sedih jika dia sedih. Aku memikirkannya dan mengkhawatirkannya jika tidak tau keberadaannnya. Tidak senang saat dia bersama pria lain dan aku suka cara dia berpikir. Aku salut dengan kerja kerasnya selama ini. Kupikir, aku menyukai banyak hal dari dia.


Namun, aku tidak yakin bahwa aku mencintainya.


****


Emilya POV


"Aku sedang di rumah sakit. Bisakah kau mengantar Will ke rumah sakit nanti?" ucap Hailey melalui ponsel kepadaku.


Aku berjalan di dapur rumahku dan membuka lemari pendingin dengan tanganku yang bebas.


"Kenapa kau rumah sakit?" tanyaku seraya menuangkan air mineral ke gelasku.


"Keadaan Ibu tidak cukup baik, Em.. Berkungjunglah."


Aku menaruh botol air ke atas meja dan berhenti sejenak.


"Separah apa kondisinya?"


"Ibu muntah darah dan menolak makan. Dokter terpaksa memasang selang infus lagi...."


Aku memijit kepalaku yang tiba-tiba nyeri. Astaga.


"Aku akan berkungjung setelah pulang bekerja nanti..." aku meneguk air minumku dan segera duduk.


"Bisakah kau membeli makan siang untukku dan Will nanti?"


"Uhm.. Tentu. Sudah yah?"


"Okay..."


Dan dengan itu sambungan ponsel kami pun terputus. Aku segera menaruh kedua tanganku di atas meja dan menumpukan kepalaku di atasnya. Kenapa keadaan seperti ini? Sial. Ingin rasanya aku berteriak pada ibu bahwa aku bekerja hingga muak rasanya bukan untuk melihatnya menyerah.


Ini dia... Ini dia kenapa aku tidak menyukai Ibuku. Lemah. Aku kembali masa-masa sulit kami saat Ayahku yang mulai suka kekerasan. Ibuku bahkan tidak berusaha membela dan menghentikan ayahku saat ayah memukuliku. Sial.... Aku benci kenangan itu.


Aku segera bangkit berdiri dan menarik napas. Menghembuskannya dengan pelan. Lalu mengulangi itu berulang kali hingga perasaanku tenang.Setelah merasa tenang, aku mengambil gelasku dan meneguk air yang tersisa hingga habis. Saat aku menaruh gelas di wastafel, aku mendengar suara ketukan di pintu rumahku.


Aku berjalan ke arah pintu, lalu mengintip dari lobang kecil yang berada di pintu. Betapa terkejutnya aku melihat Julia ada di sana. Sialan. Dia benar-benar mengubah penampilannya. Selalu ada saja sesuatu yang membuatku emosi. Persetan dengan dia. Aku tidak akan membuka pintu.


"Emilya.. Aku tau kau di sana..." ucap Julia saat aku akan melangkah pergi, "Aku hanya ingin mengambil bajuku. Aku akan angkat kaki dari rumah sialan ini..."


"Waktumu 10 menit..." ucapku datar.


"Hah... Aku juga tidak sudi berlama-lama di tempat ini..." Julia segera masuk dan berjalan melewatiku.


Aku mencium bau alkohol dan rokok yang begitu pekat dari tubuhnya. Si sialan ini. Aku menutup pintu lalu mengambil tongkat baseball yang berada di balik pintu. Kemudian aku mengikuti Julia yang berjalan menuju tangga. Aku melihat rambutnya yang dikucir kuda. Sial. Aku merasa jengkel melihat penampilannya. Aku seperti bercermin dengan diri sendiri saat melihatnya tadi.


Dia berhenti berjalan dan aku pun berhenti, "Apa kau perlu mengikutiku dengan tongkat baseball itu?" ucapnya.


"Bagiku kau adalah orang asing..." ucapku datar.


Dia kembali berjalan, "Lagian, tidak ada sesuatu yang bisa di rampok di sini..."


Kami menaiki tangga.


"Terakhir kali kau merampok sesuatu dari sini...Jika kau macam-macam, aku tidak akan ragu memukul kepalamu hingga hancur..."


"Terserah padamu, Teatons..." ucapnya dengan nada malas yang menyebalkan


Julia segera membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci dan segera masuk ke dalam kamarnya. Aku menunggu dan bersandar di kusen pintu seraya menatap dia dan kamarnya. Kamarnya di penuhi tempelan gambar-gambar bergaya punk dan hal-hal aneh lainnya. Tidak teratur dan seperti gayanya, punk.


Julia mengambil tas yang berada di atas lemari dan mulai mengisi bajunya. Aku mengamati kegiatannya dan tidak henti-hentinya merasa kesal karena melihat dia. Dia jelas ingin meniruku.


"Kenapa mengubah penampilan?" tanyaku.


"Bukan urusanmu..."


"Apa kau mencoba meniruku?"


Dia berhenti memasukkan bajunya dan segera menatapku.


"Meniru? Kau bercanda? Memangnya hanya kau satu-satunya wanita yang bercambut seperti itu di daratan ini?"


"Kau dari dulu tidak suka di samakan denganku..."


"Sial... Bisakah kau diam? Aku tidak akan peduli dengan apa pun yang kau katakan jadi diamlah..."


Julia memasukkan beberapa pakaian terakhir sebelum akhirnya menutup tas itu. Dia menyandang tas itu di bahu kanannya dan berjalan ke arahku. Aku segera berdiri menghalangi jalan. Dia berdiri di depanku. Aku benar-benar seperti bercermin sekarang.


"Sekarang kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi, Emilya Teatons, bahkan aku tidak sudi bersaudara denganmu. Tidak pernah. Jadi mari kita bersikap seolah tidak mengenal satu sama lain. Sampaikan salamku pada kakakmu dan Ibumu yang nyaris meregang nyawa itu. Selamat tinggal, pecundang...."


Dia berjalan melewatiku seraya menabrakkan bahunya ke bahuku dengan keras. Aku menatap kepergiannya hingga hilang di balik dinding. Aku menarik napas dan membuangnya dengan marah. Aku segera melempar tongkat baseball di tangannku ke lantai. Aku menyisir rambutku dengan frustasi. Sial! Aku benar-benar berharap dia segera mati.


***


"Semaunya $35" aku memberi beberapa uang lembar dan segera mengambil kantong makanan tersebut.


"Ayo..." ucapku pada Will seraya menggenggam tangan kanannya. Kami keluar dari restoran itu dan berjalan di trotoar yang cukup ramai. Ini waktunya jam makan siang dan wajar jika ramai.


"Bagaimana dengan sekolahku besok?" tanya Will seraya menengadah menatapku.


"Aku sudah membawa buku pelajaranmu dan bajumu..." ucapku. Kami berhenti di penyeberangan dan menunggu lampu jalan berganti. Aku merasakan pegal karena aku menyandang tas Will di bahu kanan yang kuakui cukup berat untuk anak SD, lalu tas berisi bajunya dan Hailey di bahu satunya, tangan kananku memegang tangan Will, dan tangan kiriku memegang kantung makanan tadi.


Aku menggigit bibirku. Kuharap aku tidak terlambat menuju toko kaset nanti. Lampu segera berubah dan tanda untuk berjalan akhirnya menyala. Aku hendak menarik tangan Will, tapi aku hentikan ketika aku melihat dia menatap toko roti yang tidak jauh dari kami. Yah, aku mencium wangi roti sejak tadi. Aroma yang menggoda.


"Kau mau?" tanyaku dan dia segera melihatku.


"No..." ucapnya dan segera menarik tanganku untuk menyebrang, tapi aku berhenti dan menarik tangannya menuju toko roti.


"Belilah roti, permen, dan susu yang kau sukai..." ucapku seraya memasuki toko roti. Bunyi lonceng segera terdengar saat kami membuka pintu.


"Kau tidak harus membelinya untukku, Em..." ucapnya


"Will.. Dengarkan aku. Belilah dan jangan merasa tidak enakan. Kau anak baik dan kau berhak mendapatkannya. Lagian, kau tidak mendapatkan itu secara cuma-cuma... Kau harus menjaga Mom dan juga Nana(nenek) saat aku tidak ada. Okay?" ucapku lembut seraya mengelus rambutnya.


Dia tersenyum, "Baiklah..."


Will dan aku membeli beberapa roti dengan berbagai macam rasa, permen, dan juga satu kotak susu coklat dengan ukuran cukup besar. Aku berharap Hailey tidak akan marah karena aku membeli anaknya terlalu banyak makanan bergula. Akhirnya, aku terpaksa memakai taxi menuju rumah sakit karena bawaanku yang banyak. Aku jelas menghabiskan banyak uang untuk hari ini.


"Aku pergi.." ucapku setelah Hailey menerima semua barang bawaan dan Will.


"Secepat itu? Kau tidak ingin melihat ibu dulu?" tanyanya.


"Aku sudah terlambat bekerja. Aku akan datang nanti malam. Bye..."


"Bye..." ucap Hailey dan Will.


Aku segera berjongkok di depan Will dan segera mengecup pipinya.


"Jagalah Mom dan Nana, okay?" bisikku dan dia mengangguk dengan mantap. Secara mengejutkan, Will memeluk leherku. Aku membeku sejenak sebelum akhirnya memeluk dia. Aku merasakan ketenangan dan kehangatan saat berada di pelukan anak berusia delapan tahun ini.


"Jangan lupa istirahat, Em..." bisiknya, "Aku menyayangimu, Bibi..."


Hatiku hangat dan kupikir aku ingin menangis. Aku sengaja menyuruh Will memanggilku dengan nama karena aku tidak senang di panggil Bibi. Terasa aneh. Namun, untuk kali ini aku benar-benar menyukainya.


"Aku juga..." aku segera bangkit dan melambaikan tangan kepada mereka berdua. Aku berlari kecil dan merasakan semangat baru lahir dalam diriku. Astaga. Will... Betapa beruntungnya keluargaku mendapat anak kecil sebaik dan semanis Will. Dia salah satu alasanku yang membuatku semangat melakukan aktivitasku.


Setelah dari rumah sakit, aku menuju toko kaset dan mulai bekerja. Aku terlambat sepuluh menit dan mereka bertiga memaklumiku. Seperti biasa toko ramai dan banyak pengunjung. Aku benar-benar sibuk dan aku senang akan itu. Dave seperti biasa tidak henti-hentinya menggodaku dan kupikir suatu saat kesabaranku akan habis segera.


Waktu berganti dengan cepat hingga akhirnya kami menutup toko. Aku pulang lebih awal dari mereka bertiga dan aku bersyukur akan kebaikan mereka, kecuali Dave tentunya. Aku berjalan di trotoar yang sepi seraya membuka ponselku untuk memanggil Harry. Aku harus mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa datang ke tempatnya dan tidak seperti biasanya dia tidak datang menjemputku.


Aku menelpon dan Harry tidak mengangkatnya.


Aku menelpon lagi dan tidak diangkat juga.


Tidak beberapa lama kemudian, aku mendapatkan pesan dari Harry. Aku segera membukanya.


"Maafkan aku, Em. Aku tidak bisa bicara sekarang karena aku dalam rapat penting saat ini. Pulanglah sendiri untuk malam ini. Aku akan pulang sedikit terlambat."


Aku berhenti di di pinggir jalan dan menunggu saat untuk menyebrang. Uh.. Malam ini benar-benar dingin dan salju turun perlahan. Aku merapatkan syalku dan menutupi setengah wajahku untuk mencari kehangatan. Aku hendak membalas pesan Harry dan mengatakan tidak bisa datang ke tempatnya, tapi nomor ponsel Max segera muncul di layar ponselku.


Dia memanggilku? Apa apa? Kenapa? Jelas ini membuatku sedikit syok dan jantungku berdetak kencang. Aku mengangkat kepalaku dan menatap ke depan seraya menerima panggilan dari Max. Dalam gelap degan pencahayaan lampu jalan, aku melihat Max yang berdiri di seberang jalan. Dia pun melihatku. Dia tersenyum dan segera berlari ke arahku.


"Max..." ucapku melalui ponsel.


"Em..." ucapnya dan..


BRAK..


Suara hantaman keras terdengar dan kejadian itu terjadi begitu cepat. Aku melihat tubuh Max terlempar jauh oleh sebuah mobil sedan. Tubuh Max terguling di jalan yang  di tutupi salju. Seluruh bulu kudukku naik dan darah seolah berhenti mengalir di tubuhku. Tubuhku membeku dan berusaha memproses apa yang terjadi. Suara dengungan memenuhi telingaku. Aku tidak bisa mendengar apa pun. Tubuhku bergetar hebat.


Max.......


"MAX!" teriakku setelah sadar dengan apa yang terjadi dan aku segera menjatuhkan ponselku. Aku berlari dengan cepat ke arah Max yang terbaring tidak berdaya di aspal. Aku kehilangan kata-kata saat melihat salju yang berubah warna menjadi merah.


"MAX!!!" teriakku lagi dan aku terjatuh ke aspal. Bingung. Aku tidak tau. Tidak tau harus berbuat apa. Semua darah yang kental ini. Wajah Max yang berlumuran darah. Lalu beberapa orang mulai datang mengelilingi kami.


"911... 911... Panggil 911.. KUMOHON!!" aku berteriak histeris dan mulai menangis.


"Max.. Max.. Kumohon bertahan.. Kumohon.." aku menangis kencang, "Kumohon, Max..."


 


***


MRSFOX


Sad ending atau happy ending? kalian suka mana? Enakan sad ending ya kan... Gimana kelanjutan cerita ini? Kuharap chap yang ini udah cukup panjang yah. Jangan lupa dukungan kalian semua berupa like,komen,love, dan vote. Thankqqq semua. Lop yuh so much gaiss...