
Happy Reading
***
Emilya POV
'Dear my Dearest Emilya...
Saat kau membaca ini, mungkin Ibu tidak ada di sisimu lagi. Terimakasih untuk semua pengorbananmu, Emilya... Aku sangat bangga padama dan di saat yang bersamaan, aku merasa malu karena aku sudah gagal menjadi orangtua yang baik untukmu. Emilya, maafkan Ibu tidak bisa membelamu saat kau butuh, tidak bisa menguatkanmu saat kau jatuh, dan memberimu kehidupan yang layak. Aku tau kau membenciku karena aku memilih menyerah pada hidupku dan membiarkan anak-anakku terlantar, tapi aku ingin kau tau bahwa Ibu benar-benar mencintai dan menyayangimu, Putriku sayang..Sekarang, aku sudah pergi dan aku berharap kau memiliki hidup yang jauh lebih baik dari kehidupanku. Berbahagialah selalu, nak. Jika kau bahagia, aku akan tidur dengan tenang. Aku selalu mencintaimu, Nak...
Love
Barbara-Your Mom
Aku melihat setetes air mataku jatuh ke kertas itu dan air mata yang lain ikut berjatuhan, menganak sungai di pipiku. Aku segera melipat kertas itu dan memasukkannya dalam saku mantelku. Aku memejamkan mata seraya menutup mulutku dengan tangan, menahan diri untuk tidak menangis lagi.
Satu tanganku yang lain memegang nisan ibuku. Aku melihat gambarnya yang tertempel di dalam nisan dan seketika tangisku pecah. Dia tersenyum lebar dan itu adalah foto terakhirnya, foto sebelum operasi donor hati dilakukan. Aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak. Kenapa? Kenapa semenyakitkan ini? Padahal selama lima bulan ini aku baik-baik saja...
"Maaf... Maafkan aku, Ibu... Maafkan aku sudah membencimu....." isakku keras. Sakit. Begitu menyakitkan. Aku merasa bersalah... Begitu merasa bersalah.
Aku segera menarik napas dengan keras dan menghembuskannya perlahan, menahan diri untuk tidak menangis. Namun, aku tidak mampu. Aku hanya menangis lagi dan lagi.. Aku juga... Aku juga sudah gagal menjadi anak yang baik.
"Mom.." hisakku.
****
Aku duduk di taxi dalam perjalan pulang ke rumah. Hari sudah beranjak malam dan aku sudah menghabiskan hampir empat jam di pemakaman Ibuku. Aku hanya menangis terus hingga aku lelah. Lalu aku berbaring di atas rumput, menatap kosong langit hingga langit menggelap.
Saat aku hampir sampai di rumah, hujan perlahan turun dan semakin deras. Aku memberi ongkos taxiku dan segera menaruh mantelku ke atas kepalaku, lalu berlari dengan menuju rumahku. Aku menekan handle pintu yang tidak terkunci dan segera masuk.
Aku melepas sepatuku dan segera mendengar suara yang tidak asing padaku. Aku berjalan perlahan melintasi lorong menuju sumber suara seraya melepas mantelku yang basah. Aku melihat Will berdiri di anak tangga seraya melihat ke arah pintu dapur. Dia sudah memakai piyama tidurnya.
"Will..." ucapku dan dia segera sadar bahwa aku berdiri tidak jauh dari dia. Will segera berlari kembali ke atas dan aku mendengar detuman pintu yang ditutup keras.
Aku tidak tau apa yang kudengar ini karena hujan dan petir yang kuat. Aku berjalan ke depan pintu dapur yang terbuka dan melihat siapa yang berdiri di sana. Mantelku segera jatuh ke lantai karena aku begitu terkejut melihat sosok yang sudah lama tidak kulihat.
"Dad? Julia?"
"Kau tidak boleh ada di sini?!" teriak Julia.
"Julia... Dia itu Ayahmu..." sambung Hailey. Aku segera berjalan masuk seraya menatap mereka yang duduk di meja makan. Julia yang duduk menghadapku segera menyadari kehadiranku, mata kami beretemu.
"Emilya.." ucapnya dan segera Ayahku menoleh ke arahku. Dia tesenyum lebar dan segera berdiri.
"Dad.." bisikku masih tidak percaya
Dad segera berjalan ke arahku, seolah hendak memelukku. Namun, Julia segera berjalan dan berdiri di antara kami berdua.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mencuci otaknya, huh?" teriak Julia lalu dia memutar tubuhnya ke arahku, "Kau harus mengusir dia pergi dari rumah ini, Em...."
Aku menatap Julia yang sudah kembali kepenampilannya semula, warna rambutnya di cat berwarna pirang terang dan terasa cocok untuk kulitnya. Delapan? Enam? Sudah berapa bulan aku tidak melihat dia? Namun, dia masih orang yang sama. Penipu.
"Aku tidak akan percaya ucapanmu..." ucapku dingin dan segera berjalan melewatinya, "Wellcome back, Dad..."
"Welcome?!!! Kau gila yah? Kau mengucapkan itu pada seorang penjahat?!! Pada pria yang memukulimu dulu?!!!"
Aku menatap Ayahku. Tubuhnya semakin kurus. Wajahnya tertutupi oleh jenggot yang lebat. Namun tatapannya sudah berbeda. Bukan bermata merah karena alkohol, tapi mata sendu yang menguning karena faktor kesehatan. Rambut pun sudah memutih. Dia menua.. Sangat tua.
"Dad..."
"Emilya..." dan segera ayahku memelukku dengan erat. Aku terkejut dan tidak tau harus melakukan apa. Aku menatap Hailey dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan. Aku hendak mengangkat tanganku untuk memeluk Ayah, tapi pelukan itu segera terlepas karena Julia menarik tubuhku menjauh darinya.
"Emilya... Dengarkan aku baik-baik.. Kau harus mengusir pria ini.."
"Kenapa? Kenapa aku harus mengusirnya?"
Dia memutar matanya dengan kesal, "Uh... Kau tidak mengerti juga yah... Dia menghilang selama sepuluh tahun lebih dan tiba-tiba kembali di keadaan seperti ini. Saat Ibu sudah pergi, saat kalian akan pindah tiba-tiba dia muncul.. Tidak bisakah kau menangkap sesuatu hal yang mencurigakan dari dia?"
"Kenapa aku harus mempercayaimu, Julia? Kau pun sama. Kau muncul setelah berbulan-bulan hilang.. Aku tau kau yang membuatku harus mengalami kecelakaan mobil saat itu.." air muka Julia berubah, "Kau mengubah penampilanmu sepertiku hanya untuk mengambil kesempatan terhindar dari masalahmu. Jadi, menurutmu kenapa aku harus memercayai penipu sepertimu?"
Dia diam dan hilang kata-kata. Hailey yang mendengarnya begitu terkejut.
"Kecelakaan?" ucap Ayahku, jelas tidak tau apa yang terjadi.
"Breengsek!" teriak Julia, "Yah.. Yah, aku melakukannya, okay? Lagi pula sudah berlalu dan kau sudah sehat sekarang..."
Aku membuka mulutku penuh ketidakpercayaan.
"Akan kubuktikan si sialan ini hanya ingin surat kepemilikan rumah dan tanah ini... Aku ya--" aku segera menampar wajah Julia dengan keras. Bunyi begitu nyaring membelah suara hujan yang deras.
Dia memegang bekas pipinya yang baru kutampar dan melihatku penuh ketidakpercayaan.
"Dia ayahmu..." ucapku penuh amarah, "Kau tak pantas memanggilnya begitu karena kau jauh lebih buruk dari apa pun yang di dunia ini..."
Kemudian, Julia berdiri di depanku hingga jarak wajah kami hanya beberapa inci.
"Yah.. Benar jika aku mengambil keuntungan dengan menirumu dan kau tau keuntungan terbesar untukku, Em?" dia mendekatkan kepalanya ke telingaku, "Harry bercinta denganku..." bisiknya pelan.
Segera tubuhku menegang. Aku mengepalkan tanganku seraya menatap senyum licik di wajahnya. Aku tau dia hanya ingin membuatku marah. Memprovokasiku.
"Kau tau itu karena apa, Em? Karena kau terlalu polos dan bodoh.. Kau jauh dari kata baik. Kau hanya mudah di perdaya. Membiarkan orang seperti dia memperdayamu..." tangan Julia menunjuk Ayahku.
Aku menatap Hailey, bingung dengan keadaan ini. Aku tau dia tidak di pihak mana pun. Hailey tidak pernah bisa membuat keputusan. Membiarkanku membuat segala keputusan untuknya. Dia hanya mengalir seperti air. Yang terjadi-terjadilah.
"Aku tidak peduli padamu.. Aku hanya peduli Will..."
"Jangan bertingkah seolah kau peduli pada Will!" teriakku keras.
"Hidupmu menyedihkan dan semakin menyedihkan karena kau membiarkan manusia kotor ini masuk ke dalam rumah ini..."
"Diam!" aku melayangkan tanganku pada wajah Julia, tapi dia menahan tanganku.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku sedikit pun, sialan... Hidupmu sudah menyedihkan.. Seharusnya aku tidak memanggil ambulance waktu itu dan membiarkanmu mati saja..."
"Julia..." ucap Ayahku berusaha untuk melerai.
"Diam!!" teriak Julia seraya menepis tanganku, "Kau tau apa yang di ucapkan Harry malam itu? Dia mencintaiku... Pria yang malang karena dia tidak bisa membedakan yang mana Emilya yang asli..."
"Diam..." geramku penuh amarah.
"Dan kau tau kenapa dia belum mengunjungimu hingga hari ini?" dia memiringkan kepalanya dan tersenyum licik, "Aku menjalin hubungan dengannya, tanpa kontrak..." bisiknya
"Brengsek..." umpatku, aku ingin memukul Julia. Namun, aku tidak bisa. Aku hanya menatap wajahnya yang licik.
"Dan kau, pak tua... Di mana kau sembunyikan tas besarmu itu?" Julia menepuk tangannya sekali, "Ah... Di kamar Will, bukan?"
"Julia.. Itu hanya tasku yang berisi baju.." ucap Ayah dengan nada yang tenang.
"Tercium seperti kebohongan untukku..."
Sedetik kemudian, Julia berlari keluar dari dapur dan pergi menaiki tangga.
"Julia!" teriak ayahku dan segera menyusul Julia.
Aku hanya terdiam di sana. Lelah dan bingung. Lalu mataku bertemu dengan mata Hailey.
"Apa yang kau lihat, sialan?" ucapku marah dan dia segera mengalihkan tatapan dariku.
"Kau tidak pernah membelaku..." ucapku penuh amarah, "Kau tidak pernah bertanggung jawab.. Kau ingat alkohol ayah yang hilang dulu?" Hailey langsung menoleh ke arahku, sadar dengan kisah yang kumaksud. Itu terjadi sekitar 13 tahun yang lalu, saat aku masih berumur 13 tahun dan dia berusia 16 tahun.
"Aku tau kau yang membuatnya pecah, tapi membiarkan Jul--"
"Emilya! Mom!!" teriakkan Will segera memotong ucapanku dan segera alaram peringatan berdering keras di kepalaku.
"Will..." bisikku dan segera berlari menuju atas dan menuju kamar Will.
Aku segera menutup mulutku dengan tangan penuh keterkejutan melihat Ayah menodong senapan ke kepala Will. Dia menahan Will dalam tangannya. Wajahnya memerah dan basah karena air mata. Lalu mataku melihat Julia yang berada di dekat ranjang dengan tas besar yang terbuka dan itu berisi berbagai macam senjata.
"I'm dying, man....." ucap Ayahku dengan nada bergetar, "Aku sekarat...."
Aku sekarat
"Dad.." ucapku dan segera dia menembakkan sebuah peluru ke sembarangan arah.
"Ahh!" Will berteriak keras.
"Diam!" teriaknya, "Atau aku menembak anak kecil ini..."
Aku menatap mata ayahku dan menyadari bahwa dia tidak berubah. Dia masih ayah yang sama seperti dulu. Jahat dan penuh amarah. Namun, ini jauh lebih buruk. Julia benar dan aku salah. Aku terlalu naif. Aku tidak baik, tapi aku mudah dibodohi.
"Kau, masukkan semua senjataku dan kancing..." ucapnya pada Julia seraya mengarahkan senapan itu ke arah Julia.
"Dan kau.. Berikan aku surat tanah dan rumah ini.." ucapnya ke arahku.
"Berikan aku Will dulu.." ucapku dan menatap mereka secara bergantian.
"Kau pikir aku bodoh? Berikan aku suratnya atau kepala bocah ini kubuat hancur berkepinggkeping?!!!"
"Em..." hisak Will dan demi apa pun, aku rela menggantikan posisiku dengan Will saat ini juga.
"Okay... Okay..." ucaapku dengan nada pelan, "Aku akan mengambilnya...." aku melirik Julia yang memberiku isyarat untuk mengalihkan perhatiannya, "Aku menyimpannya di kamar ini..."
"Kalau begitu ambilkan!!!"
"Okay.. Okay.." aku berjalan menuju lemari dengan tatapan Ayah tetap menuju padaku sehingga membuat dia membelakangi Julia.
Aku membuka lemari perlahan dan sedetik kemudian aku mendengar pukulan keras.
"Ahk!!" teriak ayahku penuh kesakitan seraya memegangi kedua kepalanya dengan kedua tangannya.
"Will..." teriakku dan segera Will berlari ke arahku. Julia berlari ke arah kami untuk segera ke luar dari kamar.
DORR
Suara tembakan terdengar dan detik itu juga, Julia mendorong tubuh kami berdua ke lantai. Aku memeluk tubuh Will hingga tubuh kami terjatuh di lantai. Kemudian, aku melihat tubuh Julia jatuh ke atas kami dan aku mengeratkan pelukanku pada Will.
"Darah..." bisik Will dan aku tidak tau darah siapa itu.
*****
13 Tahun Yang Lalu
Emilya kecil menuruni tangga seraya memeluk boneka beruangnya yang kecil menuju kamar mandi. Kamar mandi di kamar atas tidak pernah di renovasi membuat Emilya harus turun ke kamar mandi bawah untuk buang air kecil. Emilya membuka kamar mandi lalu mengangkat gaun tidurnya. Kemudian dia duduk di toilet.
"Aku lapar..." ucap Emilya pada beruangnya, "Aku berharap sepertimu, beruang.. Tidak perlu makan.."
Emilya turun dari toilet seraya menarik kembali celana dalamnya setelah selesai buang air kecil. Dia keluar dari kamar mandi dan berjalan di lorong menuju tangga. Saat dia melewati dapur, dia mendengar sesuatu yang pecah. Emilya berhenti di pintu dapur dan melihat kakaknya ada di sana, sedang membuka kulkas. Mata mereka bertemu.
"Hailey.." ucap Emilya dengan suara khas anak-anaknya. Lalu dia menatap pecahan kaca berwarna putih. Minuman berharga Ayah. Emilya tidak tau air macam apa itu hingga membuat ayahnya begitu menyukai air aneh itu. Terakhir, Emilya pernah mencoba itu dengan saudara kembarnya secara diam-diam dan rasanya benar-benar pahit.
"Kau memecahkannya..." ucap Emilya dan segera Emilya berlari menelusuri lorong, kemudian melangkahkan kakinya di anak tangga dengan susah payah karena pergelangan kakiknya yang pendek. Jika dia berada di sana, Ayah pasti akan memukulnya.
Saat dia sudah sampai di ujung tangga, dia melihat Julia.
"Mau ke mana?"
"Kencing..." ucap Julia dengan mata setengah tertutup. Dia menguap keras dan berjalan menuruni tangga.
"Jangan..." ucap Emilya seraya memegang salah satu tangan Julia.
"Kau takut? Sudah ku bilang tidak ada hantu..." ucap Julia jengkel seraya melepas tangan Emilya. Kemudian Julia pergi ke bawah. Emilya menunggu di ujung tangga seraya memeluk bonekanya. Dia menunggu dan...
"Siapa yang memecahkan Alkoholku?!!" teriakan Ayah terdengar keras malam itu. Emilya segera berlari dengan panik menuju kamar dan membenamkan dirinya di bawah selimut.
"Kau bukan?!! Dasar anak sialan!!" Emilya menutup telinganya, tidak mau mendengar suara mengerikan ayahnya.
"Dad! Bukan.. Bukan aku!!"
Suara teriakan Julia terdengar bersamaan dengan pukulan. Seluruh tubuh Emilya bergetar, bergetar keras. Dia memeluk bonekanya dan mulai bernyanyi. Lagu ceria yang pernah di ajarkan nenek padanya sewaktu di pertanian dulu.
"Langit akan bersinarr... Matahari akan bersinar.." Emilya bernyanyi dengan nada bergetar, menghibur dirinya dengan lagu itu, "Burung bernyanyi ceria..."
"AH!! Bukan aku!! Bukan!!" teriakan itu memenuhi rumah, "Stop! Stop, Dad!!"
"Beraninya kau berbohong!!"
"Pohon-pohon bernyanyi....." Emilya menguatkan suara nyanyiannya tapi teriakan itu tetap terdengar.
Emilya menangis dan tidak tahan lagi mendengar itu. Dia segera bangkit dari tempat tidur dengan tetap memeluk bonekanya menuju kamar Ibunya. Dia menekan handle pintu yang tidak tertutup. Bunyi derit engsel pintu yang tidak pernah diberi oli terdengar begitu mengerikan. Kamar begitu gelap dan hanya diterangi lampu dari lorong. Emilya tidak bisa menyalakan lampu karena tingginya tidak cukup untuk meraih tombol lampu.
"Mom..." ucap Emilya, "Mom..." isak Emilya.
Emilya berjalan menuju Ibunya yang tidur di atas ranjang, hendak membangunkannya.
"Mom... Dad memukul Julia..."
"Pergilah tidur, Emilya..." ucap Ibunya dengan suara serak yang lelah.
"Tapi, Julia..."
"Biarkan saja..."
Emilya kecil selalu berfantasi bahwa orangtuanya adalah Pangeran dan Putri di sebuah kerajaan yang akan selalu melindungi Hailey, Emilya, dan Julia. Julia selalu berfantasi bahwa orangtuanya adalah super hero yang akan selalu menyelamatkan mereka dari bahaya.
Namun, hari ini... Semua fantasi itu runtuh.
"Stop, Dad!!" teriakan Julia terdengar lagi.
"Pergilah tidur dan tutup kamarnya..."
Emilya mematuhi Ibunya dan segera berjalan perlahan menuruni tangga. Dia sudah berada di ujung tangga dan dia berjalan perlahan menuju dapur. Dia mengintip dari balik dinding dan tatapannya segera bertemu dengan Julia. Julia meringkuk dengan wajah babak belur. Air seninya membasahi lantai dan baju Julia. Emilya segera merasakan kengerian melihat semua itu.
Tatapan penuh kebencian. Itulah tatapan Julia, tapi Emilya tidak sadar pada saat itu apa arti tatapan Julia. Kemudian Emilya melihat Hailey yang bersembunyi di bawah meja kabinet. Julia sudah tidak di pukuli lagi, tapi Ayah duduk di kursi, membelakangi Emilya.
"Dasar anak-anak sialan..." ucap Ayahnya dengan nada marah.
Sejak itu dan mulai detik itu, Julia menganggap Emilya yang memecahkan botol alkohol itu dan menanamkan rasa benci pada saudara kembarnya itu.
****
MrsFox
Em so sorry gais baru update. :') AKu ujian kuliah soalnya. Wkwkw. Maapkan banget yah. Ini juga udah curi-curi waktu. Maaf gk ada muncul Harry dan fokus masalah keluarga Emilya. So sorry bgt. Jangan lupa dukungan kalian yah. Lop yuh gaiss