
Happy Reading
***
Aku masuk ke dalam kafe tempat aku dan Max bertemu. Aku mesuk ke dalam dan semakin dalam seraya mencari Max. Aku memasukkan tanganku ke saku jaket, hendak mengambil ponsel untuk memanggil Max tapi aku segera melihatnya yang berdiri dan melambai padaku.
Aku membuka setengah mulutku saat melihat penampilan Max. Astaga. Dia begitu berbeda dan sangat tampan karena dia tidak memakai kacamata, rambutnya di gunting dan di tata, serta outfitnya terasa berbeda dari biasanya. Dia mengenakan jaket parka warna hijau, sweater turtle neck warna hitam, dan celana jeans hitam. Oh my, dia begitu tinggi. Dia sangat manis
"Max.." bisikku dan berlari ke arahnya, lalu memeluknya dengan erat.
"Em..." dia mencium pucuk kepalaku dengan lembut dan memelukku dengan erat, "Aku merindukanmu, Em.."
Kami berpelukan untuk sesaat dan segera melepaskannya. Aku duduk di depannya dan memesan makanan kami. Aku tidak henti-hentinya memandang wajah Max, astaga. Kenapa dia begitu manis hingga membuatku ingin menangis. Dia priaku yang baik dan aku...
"Em.. Jangan melihatku terus. Kau membuatku gugup. Apa penampilanku baruku aneh?"
Aku menggeleng dan tersenyum kecil, "Kau begitu manis..."
Dia menunduk tersipu. Jika dia sedang tersipu, di situlah aku sadar bahwa aku jauh lebih tua tiga tahun dari dia.
"Trims. Aku melakukannya untuk membuatmu terkesan."
Aku segera menggenggam tangannya yang berada di atas meja, "Bagaimana pun dirimu, aku tidak hentinya terkesan padamu Max.."
Dia mengangkat tangan kananku dan mencium telapaknya, "Trims, Em..."
"Kau tidak pakai kaca mata lagi?"
"Aku melakukan operasi lasik dan penglihatanku kembali normal, tapi aku masih memakai kaca mataku setiap aku belajar dan saat-saat terpenting...."
"Kau terlihat oke tanpa kacamata, mata birumu semakin jelas nampaknya..."
Bagian favoritku dari Max adalah mata birunya yang jernih dan kelihatan lugu.
"Jadi saat pakai kacamata dulu aku tidak oke?" ucapnya dengan suara jenaka
"Tetap oke kok.. Aku suka keduanya, tapi yang sekarang lebih segar... Bagaimana kabar orangtuamu?"
Lalu kami menghabiskan waktu berbicara dan menceritakan kegiatan kami akhir-akhir ini. Tapi aku tidak akan membicarakan soal Harry dan kontrak yang kulakukan untuknya. Satu bulan sudah hampir tergenapi sejak kontrak itu dan aku hanya perlu bersabar hingga tiga bulan berlalu.
Kami makan, bercanda, dan berjalan-jalan di alun-alun kota. Max menggenggam tangan kananku dan memasukkannya dalam saku jaketnya. Aku bersandar pada bahunya. Begitu nyaman seraya melihat ramainya kota dengan hiasan natal yang tampak meriah. Lalu, aku merasakan jari manis tanganku yang berada di saku Max dimasuki oleh benda. Kami berhenti berjalan dan aku melihat Max yang menoleh ke arah lain.
"Uhm.. Itu.." suaranya gugup dan tangannya menggaruk belakang lehernya. Aku menarik tanganku keluar dan melihat cincin melingkari jari manisku.
"Max.." suaraku tercekat dan merasakan mataku memanas.
"Itu.. Uhm.. Aku sejak dulu ingin memiliki barang couple denganmu dan selalu ingin memberimu barang seperti ini.. Kuharap kau suka.."
Aku menggigit bibir bawahku dan menahan diri tidak menangis. Astaga, aku tidak tahu harus apa sekarang. Yang kulakukan adalah menarik leher Max menunduk ke arahku dan mencium bibirnya dengan lembut, tidak mempedulikan orang yang lalu lalang.
Kumohon, maafkan aku Max. Hanya tiga bulan. Aku ingin tiga bulan ini berlalu dengan cepat dan menebus dosaku pada Max dengan kesetianku.
"I love you, Max.." bisikku saat bibir kami terpisah, "Aku mencintaimu.. Sungguh.." aku memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalaku pada dadanya.
"Aku juga, Em. Selalu..."
****
"Will... Will..." aku memanggil nama Will dari bawah seraya mengikat sepatuku. Aku segera mendengar hentakan kaki dari lantai atas dan di tangga kami yang berderit keras.
Aku berdiri dan memutar tubuhku, melihat Will dengan piyama tidur supermannya dan ponsel baru miliknya di tangan kanan. Aku menyuruh Hailey membeli dia ponsel karena dia berhak mendapatkan itu saat aku tahu bahwa dia memperoleh nilai tertinggi di kelasnya untuk kesekian kalinya. Aku yakin dia akan menggunakan benda itu dengan baik. Will duduk di anak tangga ketiga seraya menyandarkan tubuhnya di pegangan tangga.
"Aku harus pergi belanja sebentar karena stok makanan kita habis kau bisa menjaga rumah selama aku pergi?"
"Di mana Mom?"
"Uhm, baiklah..."
"Kau menginginkan sesuatu? Akan kubelikan..." ucapku hangat
"Boleh?"
Dan aku mengangguk kecil
"Belikan aku camilan manis.."
"Okay. Ingat, jangan buka untuk orang yang tidka di kenal. Bahkan untuk Julia juga."
"Julia juga?"
"Yah. Aku pergi, jangan lupa kunci pintunya. Bye.."
"Bye..."
Aku segera keluar dari rumah dan sedikit kesal karena aku harus melewati rumah George. Aku segera menyebrang, menghindar agar tidak melewati rumah George dari dekat. Aku berjalan melewati rumah George yang tampak kacau, banyak sampah gelas merah styrofoam dan kekacauan lainnya.
Aku melihat George duduk di kursi santai di teras rumahnya, dia hanya memakai jeans sehingga memamerkan tubuhnya yang penuh tato dan kupikir aku melihat tato di atas kepalanya yang botak. Dia mengangkat botol alkoholnya untukku dan aku segera mengalihkan pandangan darinya. Yang penting, aku tidak melihat julia di sana.
Aku memasuki gang kecil dan segera teringat sesuatu. Ah... Setelah pertemuanku kemarin dan Max, kami segera berpisah karena dia memliki urusan penting dan harus segera pulang hari ini. Tapi, dia berjanji akan datang ke rumahku pagi ini untuk berkunjung sebelum pulang. Aku lupa memberitahu Will.
Aku ingin menghubunginya tapi aku mengurungkan niat dan segera mengetikkan pesan untuknya. Aku ingin mengirimi dia foto Max, tapi aku tidak punya foto terbarunya. Uh... Kenapa kami tidak foto bersama kemarin? Aku terpaksa mengirimi Will foto lama Max saat menggunakan kaca mata dengan gaya rambut yang lama
***
'Will, temanku mungkin akan datang ke rumah nanti bukakan pintu untuknya dan berikan dia minum teh atau apa padanya. Ini fotonya tapi ini foto lama. Intinya dia tidak pakai kaca mata, rambutnya kecoklatan, tampan, dan tinggi, dan namanya Max.. Sopanlah padanya, okay Will?'
Will membaca pesan dari Emilya dan memperhatikan gambar itu. Tidak beberapa lama kemudian, ada yang yang mengetuk pintu mereka. Will segera turun dari sofa dan berlari menuju jendela dekat pintu. Dia mengintip dari balik gorden.
"Tidak memakai kaca mata, tampan, lalu..." Will mulai membandingan pria di depn dengan ciri-ciri yang dikirimkan oleh Emilya, akan tetapi wajahnya tidak terlalu mirip. Mungkin karena dia tidak memakai kaca mata. Itulah yang dipikirkan oleh Will. Dia segera berjalan ke arah pintu dan membuka kunci untuk pria tersebut.
"Halo..." ucap Will ramah seraya menengadahkan kepalanya kepada pria tersebut.
***
Harry POV
Aku turun dari mobilku seraya melihat rumah di depanku ini dan memastikan nomor rumahnya dengan alamatku. Aku menuju rumah Emilya sesuai dengan alamat yang dia tuliskan di kontrak, sial.. Aku tidak bisa menahan diriku untuk segera menemuinya dan menuntut penjelasan darinya.
(HANYA GAMBAR ILUSTRASI PAKAIAN DAN WAJAH.TIDAK MEMBAWA ANJING)
Aku memasukkan tanganku ke saku mantelku dan memperhatikan daerah perumahan ini. Semua rumah memiliki bentuk sama dan bergaya American style yang sangat pekat. Dan tempat ini merupakan perumahan kumuh New York. Aku berjalan di jalan kecil yang langsung mengarah ke teras. Aku naik tiga buah anak tangga ke teras. Aku melihat kotak pos yang menempel di dinding.
'Teatons'
Itulah yang tertulis di depan kotak tersebut. Aku mengetuk pintu tersebut dan tidak ada sahutan di sana. Aku mengetuk lagi dan mendengar langkah kaki dari dalam, tapi tidka membuka pintu untukku. Aku mengetuk lagi dan menunggu dengan sabar.
Dan kesabaranku membuahkan hasil baik, aku mendengar gemerincing kunci dari dalam rumah dan sesaat kemudian pintu terbuka.
"Halo..." aku menundukkan kepalaku untuk melihat anak kecil berambut pirang dan bermata biru kehijauan. Dia menatapku dengan tatapan penasarannya, "Kediaman Keluarga Teatons. Silakan masuk." ucapnya sopan dengan suara anak-anaknya. Siapa dia? Anak Emilya? Siapa?
"Halo..."
Aku heran karena dia membukakan pintu untukku. Apakah aku masuk saja? Padahal dia tidak mengenalku. Akan tetapi dia membukakan pintu seolah sudah menunggu kedatanganku. Aku memutar mata, terserah. Toh, aku bukanlah orang jahat dan Emilya mengenalku. Aku sedikit menundukkan kepalaku karena pintunya tidak cukup tinggi untuk kulewati.
Dan di sinilah aku, di rumah Emilya Teatons
***
MrsFox
Yaps.. Apakah Max dan Harry bakalan ketemu di rumah ini gais? wkwkw tunggu kelanjutannya. Mungkin yang like memang dikit, tapi kiranya yang sedikit ini tetaplah setia hingga novel ini selesai. Intinya aku gk bakal stop novel ini karena like, koment, vote-nya dikit yah. Tapi kuharap kalian tetap mendukungku denagn like, vote, dan koment kalian. Lop yuh gais. Big love untuk kalian semua yang selalu setia dari novel BOF sampai ke novel HLS