Harry's Love Story

Harry's Love Story
Go Home



Happy Reading


***


Emilya POV


Aku bangun dengan keadaan luar biasa. Aku bangun dan segera meregangkan badanku lalu melihat sekitar bahwa Harry tidak ada di sana. Aku berdiri seraya menguap keras, memakai sendalku, dan berjalan keluar dari kamar. Sesaat setelah aku membuka pintu, aku mencium bau wangi yang menyenangkan.


Aku menuruni tangga dengan perasaan riang kemudian berjalan menuju dapur Harry. Aku melihat Harry berdiri memunggungiku yang sibuk memasak. Aku berjalan perlahan ke arahnya dan segera memeluknya dari belakang.


"Whoaa... Good morning, Ms.Teatons..." sapanya dengan suara ceria.


"Morning.." gumamku.


"Tidurmu hebat?"


"Sangat..."


"Dan kau tentu sudah lapar.." Harry melepas pelukanku darinya kemudian mendorong tubuhku untuk duduk di depan meja bar.


Aku duduk dalam diam dan menatap dia yang sibuk menata menu serapan untuk kami. Ada sup krim jagung, roti,pancake, dan jus jeruk.


"Aku lebih suka kopi.." ujarku pada Harry dan dia menggeleng.


"Kau bisa meminumnya setelah memakan ini semua.." dia duduk di depanku, "Selamat makan.."


"Selamat makan..." ucapku akhirnya kemudian meneguk air putih terlebih dahulu sebelum akhirnya mencicipi sup krim jagung tersebut, "Ini enak.." komentarku dan terus melanjut memakan sup tersebut.


"Aku senang jika kau suka..."


Aku menghabiskan supku, kemudian pancake ku, dan terakhir jusku.


"Kau tidak makan rotinya lagi?"


Aku menggeleng, "No.. Aku sudah kenyang.."


Aku menopang daguku dengan kedua tanganku dan menatap Harry, menunggu dia menyelesaikan makanannya.


"Jadi.." ucapku memeulai saat dia meneguk habis jus miliknya.


"Apa?" ucapnya setelah menaruh gelasnya kembali.


"Bagaimana kita mengatasi masalah kemarin, Harry..."


Dia mengangkat sebelah alisnya, "Ah.. Tentang Zoya?" aku mengganguk, "Aku sudah menyelesaikannya..." ucap Harry santai seraya mengumpulkan piring dan mangkok kami.


Hah?"


Aku segera berdiri dan membantu Harry membawa bekas pirinng ke kami ke wastafel.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanyaku lalu Harry menyalakan shower, "Biar aku yang melakukannya." aku mengambil spons dari tangannya dan mulai menggosok mangkok yang kotor.


"Okay.. Aku yang membilas.."


"Jadi, bagaimana bisa kau sudah menyelesaikannya?" tanyaku dengan menatap antara piring dan wajah Harry secara bergantian.


Dia menatapku, "Bukankah sudah jelas?"


Hah? Apa yang jelas?


"Aku lebih kaya. Lebih berkuasa. Dan lebih hebat dari dia, Emilya..." ucapnya menjelaskan padaku, jelas gemas dengan aku yang lama berpikir.


"Ah.. O-okay..." aku mengalihkan tatapan dari dia dan melanjutkan cucianku. Masih memproses informasi yang dia berikan.


"Kau tidak perlu takut selama aku ada di sini, Em..."


Aku menatapnya yang juga menatapku. Kemudian dia mendekatkan wajahnya kepadaku. Perlahan dan aku memejamkan mata di detik bibir Harry menempel di bibirku. Dia ******* bibir dengan lembut dan aku hanya bisa bisa menengadahkan kepalaku kepadanya.


"Um.Harry.." aku melepaskan ciuman itu saat menyadari tangan Harry memasuki kausku, "Kita masih mencuci piring..." ucapku seraya mengangkat kedua tanganku yang memegang spons dan berbusa.


"Itu bisa menunggu..." bisiknya seraya mematikan shower. Aku tersenyum tipis padanya dan segera menaruh kembali spons itu.


"Yah.. Itu bisa menunggu..."


Segera Harry mengangkat tubuhku, aku melingkarkan kakiku ke pinggulnya, dan tanganku yang berbusa di lehernya. Dia menciumku dengan lembut dan membawaku pergi dari dapur. Ini akan menjadi pagi yang panjang untuk kami berdua.


***


Harry POV


 


"Jadi kau harus pulang akhir pekan ini?" tanyaku saat kami makan siang bersama.


"Yah..." dia menganggguk dan memasukkan potongan steak ke mulutnya, begitu santai, "Urusanku dengan penerbit sudah selesai hari ini, aku hanya menunggu ISBN bukuku selama satu sampai dua bulan."


"Tidak bisakah kau tetap di sini?" aku ingin membuat suaraku tetap tenang, tapi nada memohon tetap ada di sana.


Dia menatapku dan segera menggeleng.


"Aku harap aku bisa, tapi apa yang akan kukatakan pada Bibi Debs, hailey, dan Will? Astaga... Terutama Will, dia benar-benar ingin aku pulang segera..."


Aku menarik napas.


"Kita bisa melakukan hubungan jarak jauh, kebanyakan orang bisa melaluinya..." ucapnya santai dengan senyum manisnya. Aku menatap sedikit noda saos steak di sudut bibir kirinya.


"Aku tidak cocok dengan hal semacam itu..." ucapku seraya mengelus sudut bibirnya dengan jempolku.


"Kau bahkan belum memulainya. Aku sudah ahli dalam hal seperti itu..."


Aku mengangkat sebelah alisku, "Ahli?"


Dia mengangkat bahunya, "You know... Aku dan Max..."


Ah.. Max. Di mana pria itu sekarang?


"Di mana dia sekarang?"


"Uhm.. Dia sudah menikah enam bulan lalu dan pindah ke Spanyol bersama istrinya karena dia harus bekerja di sana..."


Aku menghembuskan napasku. Aku lega mengetahui pria itu sudah jauh dari Emilya.


"Aku tidak bisa jika harus melakukan hubungan jarak jauh, Em..." aku kembali ke topik awal lalu memasukkan potongan daging ke mulutku.


"Why not? Kita harus mencobanya dulu..."


"Okay.."


Dia menatapku penuh keterkejutan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak.. Bukan apa-apa. Aku terkejut kau mengiyakannya dengan cepat.."


"Kau kecewa?"


Dia tertawa canggung dan kupingnya memerah.


"Kecewa? Jangan bercanda..." dia memutar matanya dengan jengkel.


"Kuharap kau tidak selingkuh saat aku tidak di sana..."


"Tentu saja tidak..."


Aku mengangkat bahuku, "Siapa yang tahu. Kau pernah melakukannya denganku saat masih bersama Max..."


"Dan kau juga melakukannya saat masih bersama Zoya..."


Aku tersenyum miring. Oh.. Lihat senyum tipis dan mulut pintarnya itu.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat nanti..." ucapku.


"Ke mana?"


"Beri aku petunjuk..." bisiknya.


Aku mengedipkan mataku.


"Tempat yang membuatmu berdebar kencang..." bisikky seraya mengelus tangannya yang berada di atas meja, "Mungkin kau akan sedikit kepanasan... Ah. Membuatmu gugup...." aku semakin memelankan suaraku saat melihat dia menggigit bibir bawahnya. Aku tersenyum miring dan tetap mengelus punggung tangannya.


"Coba kau tebak?"


Dia menatapku dengan tatapan dan senyum malu-malu. Kemudian melihat bibirnya menjadi garis sebelum akhirnya berdehem.


"Aku malu mengatakannya..." bisiknya.


"Kenapa? Tidak ada sesuatu yang membuatmu malu saat mengatakannya karena kita pergi ke rumah orangtuaku, Emilya..." ucapku akhirnya dan dia membuka mulutnya sedikit, jelas terkejut dengan yang kukatakan.


"A--Apa?"


Aku tersenyum, "Aku tau kau akan sedikit gugup jika bertemu keluargaku nanti hingga membuatmu panas dan jantungmu berdebar, tapi tak apa.. Aku akan selalu di dekatmu.."


"Ah.." Emilya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian menarik tangannya dari sentuhanku dan mengipas dirinya sendiri dengan kedua tangannya.


"Memangnya kau berpikir kita ke mana?"


Dia menatapku dan tertawa canggung, menolak menjawab.


"Uh... udaranya tiba-tiba panas. Kau sudah siapa makan? Aku masih ada urusan setelah ini..."


Aku tersenyum kecil padanya. Senang membuatnya teransang dan tersipu. Aku mengangkat tanganku kepada seorang pelayan.


"Tolong berikan tagihannya.."


****


Emilya POV


Aku menatap diriku di cermin di ruang ganti milik Harry. Aku mengenakan gaun berwarna navy sebetis berkain katun dengan leher berbentuk V, stoking hitam, dan rambutku kusanggul sedemikian rupa. Aku menggeleng kepalaku.


"Lebih baik kulepas.." bisikku pada diriku sendiri seraya melepas sanggul rambutku. Sial. Kenapa aku merasa tampak jelek hari ini. Aku akhirnya mengikat setengah rambutku.


Well.. masih saja nampak aneh. Akhirnya aku menkucir kuda rambutku.


"Ini jauh lebih baik..." Tidak membuatku kekanak-kanakan dan tidak membuatku tampak tua.


"Kau sudah siap?" aku segera menoleh ke kiri belakang saat mendengar Harry. Dia mengenakan celana katun hitam, kemeja putih, dan jaket kulit berwarna hitam.


"Aku sedikit gugup..." aku memejamkan mata, "Sial, Harry.. kenapa kita harus bertemu orangtuamu hari ini. Kau bahkan baru putus dengan Zoya dan sekarang kau membawaku..."


"Aku butuh restu.." bisiknya pelan dan misterius.


"Apa? Kau mengaatakan apa?


"Ayo... Ibu akan sangat senang bertemu denganmu..."


"Tunggu.. Apa aku sudah kelihatan sopan..."


"Kau nampak sangat sangat sopan, Ms. Teatons.." ucapya dan aku segera tersenyum.


"Okay.. Mari pergi.." aku segera mengambil mantelku dan berjalan ke arah Harry dan segera bergegas pergi ke kediaman orangtua Harry.


****


Kami sudah makan malam bersama orangtua Harry dan Cassie. Mereka benar-benar menyambutku dengan baik. Ibunya tidak henti-hentinya berkata bahwa dia begitu bersyukur melihatku lagi. Aku hanya bisa tersenyum karena aku tidak tahu harus mengatakan apa.


Mereka juga tidak menyinggung apa pun soal putusnya Harry dan Zoya. Mereka membicarakan topik-topik hangat seperti novelku yang akan terbit, celotehan Barbara(Ibu Harry) tentang Harry yang jarang mengunjungi mereka, dan banyak lagi topik ringan yang begitu menyenangkan.


"Mom.. Dad.." Harry segera berbicara saat kami sedang menikmati teh dan makanan penutup makan malam kami, "Kami permisi sebentar..."


"Tentu, Babe..." ucap Barbara dengan logat Spanyol-nya yang kental.


Babe= sayang.


Aku tersenyum manis kepada mereka bertiga sebelum akhirnya Harry menarik tanganku meninggalkan meja.


"Ada apa?" tanyaku saat kami sudah jauh dari ruang makan tersebut.


Kami berjalan di lorong rumahnya yang lebar yang menampilkan banyak lukisan. Harry tiba-tiba berhenti berjalan dan aku berhenti. Dia melepas genggaman tangannya dariku dan menoleh kepadaku.


"Menikahlah denganku..." ucapnya tanpa aba-aba dan aku yang tidak siap-siap dengan serangan mendadak itu hanya bisa menahan napas.


"Em.. Ayo menikah.." ulangnya dan aku segera tertawa.


Sialan.


Dia selalu mengejutkan.


Aku segera menegakkan badanku setelah aku tertawa dan menatapnya.


"Kau pasti bercanda..."


Jika itu lelucon, Harry jelas-jelas membuatku tertawa hebat tadi.


"Lelucon? Kau menganggapnya lelucon?" ucap Harry dengan suara serius.


Aku mentapnya serius.


"Serius.." gumamku. Aku menarik napas, "Harry.. Kita baru memulainya. Hanya seminggu. Seminggu." ucapku penuh penekanan.


"No.. Kita sudah lama memulainya, hanya saja terhenti sejenak..."


Aku melipat kedua tanganku di dadaku.


"Orangtuaku sudah memberi restu..."


Aku menggeleng kepala penuh tidak percaya kemudian mengusap wajahku.


"No, Harry..." Sial. Itu bahkan bukan lamaran, dia hanya berkata 'Ayo menikah.' Normalnya, seseorang akan berkata 'Will you marry me?'


"Emilya..." dia menaruh kedua tangannya di bahuku, "Aku hanya ingin memilikimu secara utuh, Em.. AKku mencintaimu melebihi apa pun.."


Aku melepas kedua tangannya dari bahuku.


"Kita tidak akan membahasnya lebih lanjut untuk hari ini, Harry." aku menaruh tangan kananku di dahi, tiba-tiba merasa pusing dan penat.


"Emilya..." ucap Harry denagn nada memohon.


"No, Harry. tidak sekarang.." aku berjalan meninggalkannya dan pergi kembali bergabung dengan keluarga Harry.


***


"Good bye..." bisikku seraya melepaskan pelukanku dari Harry.


Dia menatapku datar, "Orangtuaku dan Cassie menyampaikan salamnya padamu..."


"Sampaikan salamku juga..."


Sejak percakapan kami tiga hari lalu, keadaan kami sedikit canggung. Harry lebih sedikit berbicara dan menolak melakukan kontak sekssual denganku walau aku menginap di pent house miliknya.Itu menyakitiku, tapi aku paham. Aku menolaknya


"Hubungi aku setelah kau sampai, Em..."


"Okay..." bisikku dan segera membalikkan bandanku, lalu menarik koperku pergi.


Sial. Perpisahan kami akan seperti ini. Astaga. Kenapa aku ingin menangis. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Aku tidak boleh menangis. Aku menegakkan kepalaku dan berjalan dengan tegar.  Semua akan baik-baik saja bahkan saat aku di Texas nanti, bukan?


Tiba-tiba aku merasakan dua lengan yang memelukku dari belakang. Aku segera tau itu siapa. Harry. Dia memelukku dengan erat. Begitu hangat.


"I love you, Em... Always.." bisiknya dan entah mengapa aku merasa itu seperti ucapan perpisahan.


****


MrsFox