Harry's Love Story

Harry's Love Story
Sabtu dan Minggu



Happy Reading


***


"Aku tidak pulang besok sampai hari minggu..." ucapku pada Hailey melalui ponsel.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku ingin bersenang-senang.."


Untuk sejenak, ada jeda keheningan di sana.


"Bersama Max?"


Aku menggeleng, "Tidak... Max masih di Seattle. Aku pergi dengan teman.."


"Kemana?"


"Hail.. Aku hanya pergi ke pusat perbelanjaan atau semacamnya. Aku ingin menjernihkan pikiran. Pergilah juga dengan Will..."


"Baiklah.."


Aku menunggu sejenak, aku tau Hailey selalu ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Tidak ada lagi?" aku bertanya lagi.


"Tidak. Nikmati waktumu. Bye."


"Bye..."


Aku menutup ponselku dan segera masuk ke dalam kamar, di mana Harry sudah menungguku. Untuk alasan yang tidak ku ketahui, aku merasa nyaman dengannya seolah aku sudah mengenalnya lama. Padahal kami baru bersama dua minggu. Dia melihatku dan tersenyum manis, lalu dia merentangkan tangannya padaku. Aku berlari kecil dan melompat ke dalam pelukannya yang hangat.


Lalu semua terjadi.


Sentuhannya. Ciumannnya. Mulutnya yang nakal. Bisikan sensualnnya. Kulitnya yang lembut dan keras. Wanginya.


Aku suka caranya menyentuh tubuhku. Aku suka saat dia mengerang namaku. Aku suka meremas rambutnya yang tebal.


Aku suka segala tentangnya.


Tapi...


Aku tidak mencintainya.


Karena aku tau jelas perbedaan cinta dan hanya perasaaan suka sesaat.


****


Harry POV


"Ini mobilmu?" ucap Emilya saat kami sampai di basement.


"Yeah..."


"Cool..."


Dia segera masuk dan aku juga, "Kau suka mobil vintage?"


"Yah.." aku menyalakan mobilku dan melajukan mobilku menuju jalan raya.


"Berapa banyak koleksi mobilmu?"


"Mobil jenis apa? Mobil tua, sport, atau..."


"Sial... Kau benar-benar bajjingan yang kaya. Kau mengoleksi banyak mobil rupanya..." dia bergerak memeriksa mobil


Aku terkejut saat dia mengumpat dan memakluminya.


"Ayahku suka mobil dan Kakakku juga. Mobil mereka juga mobilku. Dan begitu sebaliknya."


"Wih.. Aku penasaran apa pekerjaanmu.."


Aku meliriknya, "Kau mau tau?"


"Uhm.. Tentu."


"Okay, kau akan merasakan bagaimana pekerjaanku hingga aku bisa sekaya ini.."


Hari itu kami menghabiskan waktu bersama. Aku menunjukkan tempat bekerjaku, menunggangi kuda, bermain golf, dan makan siang di peternakan miliki keluargaku. Lalu mengizinkan dia memakai salah satu mobil sportku di sebuah sirkuit dan aku begitu terkejut bagaimana dia sangat lihai melakukan drift. Aku menepuk tanganku saat dia memberhentikan  mobilnya tepat di depanku. Dia keluar dan menjingkrak senang.


"Kau lihat bagaimana aku nge drify?!!" dia berteriak senang dan rasa senang itu menular padaku.


"Itu keren, kupikir kau tidak bisa mengendarai mobil..." aku melingkarkan lenganku di pinggangnya yang kecil..


"Uhm... Saat di Virginia dulu, aku pengendara yang handal. Kau tidak mau nge drift bareng?"


Aku menggeleng, "Tidak, cukup hari ini. Kita harus makan malam.."


"Kau membuatku makan banyak satu hari ini.." aku membuka pintu mobilku untuknya.


"Bagaimana mobil yang itu?"


"Akan kusuruh orang lain mengurusnya..."


Dia masuk dan aku pun masuk.


"Kali kita kemana?"


Aku melajukan mobil, "Kau tau Time Warner Center?"


Dia melihatku dengan mulut nganga, "No way! Kau tidak mungkin mengajakku ke sana?"


"Aku akan mengajakmu ke sana."


"Astaga.. Aku bahkan tidak berani membayangkan makan di restoran di sana..."


"Kau senang?"


"Kau bercanda menanyakan itu? Aku sangat sangat senang.. Bahkan kau mengajakku naik dan mengendarai mobil sport-mu." di segera merosot di bangku, "Hah.. Begini rasanya menjadi orang kaya..."


Dia menyalakan musik dari radio mobilku dan menghubungkannya ke ponselnya. Lalu, lantunan piano milik Kenny terdengar. Aku meliriknya yang menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.


"Kau sering juga mendengar musiknya.."


"Aku suka musiknya, begitu menenangkan..."


"Kau ingin bertemu dengannya?"


"Apa?" dia melihatku lagi dan aku tersenyum sombong, "Dia mengenalmu?"


"Uhm.. Tidak perlu. Mendengar musiknya saja sudah lebih dari cukup untukku. Kau sudah memberi terlalu banyak..."


Aku tersenyum kecil dan senang bahwa dia menolaknya. Lagi pula, bagaimana aku bertemu dengan Kenny?


"Here we go...." ucapku saat aku sudah memarkirkan mobilku. Dan kami menghabiskan sisa hari itu dengan tawa dan canda. Lalu mengakhiri malam kami dengan malam yang panas dan penuh gairah.


***


Emilya POV


Aku bangun dengan senyum senang di mulutku dan menyipitkan mataku menyesuaikan cahaya matahari yang tidak terlalu terang. Aku menguap lebar seraya bangun dari tidurku. Aku memegang selimut di dadaku untuk menutupi tubuhku yang telanjang. Ah.. Semalam adalah hari terbaikku.


Aku melihat ke sana- ke mari dan tidak menemukan Harry. Lalu, mataku menatap interior kamar itu, ah.. Ini bukan di apartemen yang biasa kami gunakan. Ini Pent-house milik Harry. Gila. Dia bahkan punya Pent House, benar-benar kaya. Kamarnya jauh lebih besar dari apartemen itu, lalu ranjangnya juga besar. Ah.. Semua yang ada di sini benar-benar mewah.


"Sudah bangun?" aku melihat ke arah kanan dan melihat Harry keluar dari suatu ruangan yang kuyakini kamar mandi. Sebuah handuk putih melilit di pinggulnya dan air menetes dari rambutnya.


"Oh.. Wow...." komentarku.


"Wow?" dia tersenyum manis seraya berjalan ke arahku. Setiap langkahnya yang begitu anggun, gerakan ototnya membuat liurku menetes.


Dia merangkak naik ke tempat tidur dan wajahnya di arahkan padaku, "Tidurmu nyenyak?" bisiknya.


"Yah..."


"Aku sangat suka kau saat kau berteriak keras Ms.Teatons.." Ah.. Kupikir aku bisa gila, dia benar-benar seorang pemikat wanita.


"Kau mau mendengarnya lagi?" godaku dengan nada jenaka.


"Yah..." dia memiringkan kepalanya dan mencium bibirku dengan lembut. Aliran darahku segera berdesir dengan cepat menimbulkan semu merah pada seluruh tubuhku yang tiba-tiba menghangat. Jangtungku semakin cepat saat dia perlahan menyentuh kulitku. Ah.. Dia sangat wangi, aroma shampo dan sabun yang sangat.


Aku bangkit dan menyesuaikan tinggiku dengan dia sehingga selimut melorot dari tubuhku. Dia segera menjauh dariku saat kami mulai kehabisan napas. Dia melap bibirku dengan jempolnya. Ah. Kenapa dia begitu panas?


"Bibirmu bengkak.." ucap Harry dan tiba-tiba, dia menarik kedua kakiku dengan kedua tangannya mengarah ke dia.


"Whoa..." ucapku dan segera tertawa. Dia membuat kakiku menggantung di tempat tidur dan tiba-tiba lagi, tanpa peringatan dia memutar tubuhku sehingga wajahku mengarah tempat tidur.


"Harry... Kau tidak mungkin---..." bisikku tercekat.


"Aku akan bercinta sangat keras padamu Ms.Teatons..."bisiknya di telingaku, kulit punggungku bersentuhan dengan kulit dada dan perutnya. Aku menelan air ludahku dengan susah payah. Sial, aku pernah tau gaya seperti ini, tapi aku tidak percaya kan melakukannya, "Begitu keras hingaa kau kesusahan berjalan..." bisiknya lagi dan membuat seluruh tubuhku meremang.


Harry menampar pantatku sekali dan aku terkejut dengan sensasi itu, sakit tapi enak.. Tidak pernah ada yang melakukanku seintens ini, tidak pernah. Dia menarik perutku dan bokongku ke arahnya, aku merasakan kejantanannya yang menusukku. Ah.. Dia akan melakukannya..


"Aku janji kau akan menyukainya dan membuatku berteriak sehingga seluruh kota ini mendengar teriakkanmu, Em..."


Dan...


"Haryy!"


"Oh my!" aku buru-buru menjauh dari Harry saat mendengar suara wanita yang memanggil Harry. Wajahku pasti pucat dan Harry juga sama terkejutnya. Sial, aku seperti ketahuan selingkuh. Adrenalin ini membuatku pusing tiba-tiba.


"Harry!" sekarang suara itu berganti. Ada dua suara wanita.


"Siapa?" aku bertanya pada Harry yang juga terkejut.


"Ah.. Sial, Ibu dan Kakakku..." dia melilitkan kembali handuknya.


"Aku telanjang, Harry. Astaga. Apa perlu aku sembunyi?" ucapku panik dan dia hanya menyisir rambutnya dengan jemarinya.


"Pakai bajumu. Mereka pasti tau kau ada di sini.."


"Bagaimana bisa mereka tau?" ucapku berbisik dengan putus asa. Sial, apa mereka akan menamparku karena tidur bersama putra bungsunya.


"Em.... baju kita berceceran di seluruh ruangan tamu.. Itu menjelaskan banyak hal..."


Dan bayangan kejadian kemarin menghantuiku, sial.


"Aku pakai apa?"


"Pakai bajuku...."


"Harry!!" dia di panggil lagi.


Harry segera menuju salah satu pintu dan masuk, aku bengong sejenak dan sadar saat Harry sudah memakai baju lengkap. Dia melempar satu set bajunya padaku.


"Braku? Pakaian dalam?"


"Kau mau memakai punyaku? Lagian aku tidak punya bra... Cepatlah.."


Dia segera pergi keluar dari kamar dan meninggalkanku sendiri di sana. Aku segera memakai kaos Harry dan celananya yang benar-benar kebesaran untukku. Aku meenggulung celana itu. Lalu aku menggulung dan menata rambutku seadanya karena aku tidak menemukan sisir. Kaca pun aku tidak tahu di mana.


Aku menarik napas sekali sebelum akhhirnya membuka pintu kamar. Aku berjalan menuruni tangga dan melihat mereka tidak ada di ruang tamu. Yang kulihat adalah bajuku dan Harry yang berceceran. Gila! Mereka pasti melihat ini. Aku segera berlari kecil ke sana dan menyembunyikan pakaian dalamku yang berada di lantai.


"Mom..." itu suara Harry, "Jangan menyulitkannya..."


"Di mana wanita itu?" aku menatap mereka yang muncul dari ruangan lain, ada Harry di sana , Ibu dan kakaknya yang tampak luar biasa. Astaga, mereka bertiga seolah dari dunia lain dan mereka menatapku yang berasal dari dunia lain pula tengah mengumpulkan pakaian dalam


"Ah.."


"Itu dia.." ucap wanita muda itu yang kuyakini kakak Harry.


Aku menelan ludah dan tersenyum dengan senyumku paling manis, "Halo Mrs.Smith, halo Ms.Smith.." ucapkku canggung dan Harry menyisir rambutnya yang sama terkejutnya denganku.


"Dios mío, es tu novia?" ucap wanita tua dengan bahasa Spanyol dan logatnya yang begitu kental. Aku ingat bahwa Harry bercerita bahwa Ibunya berasal dari Spanyol.


*Oh Tuhan\, dia pacarmu?


Dia merentangkan tangannya ke arahku dan aku tersenyum canggung, aku tidak tau apa yang dia ucapkan tapi nampaknya Ibunya sangat senang. Mereka berjalan ke arahku dan aku meremas pakaian dalamku yang ku pegang, lalu aku memasukkan pakaian dalamku ke kantung celana. Oh my, rasanya aku ingin mati saja..


"Hai nona manis..." ucap kakaknya


"Ah Mom, Cassie...... jangan membuat dia tidak nyaman begitu..."


"¿Hiciste bebés con mi querido Harry, cariño?" ucap Ibunya seraya memegang lenganku. Apa yang dia ucapkan?


apa kau sudah membuat bayi bersama Harry kesayanganku, manis?


"Mom.." Harry berteriak kecil dan Kakaknya tersenyum kecil padaku.


"Tentu saja mereka sudah..." balas Kakak Harry.


***


MrsFox


Wkwk. Aku merasa aneh karena setiap up jadi ada adegen uwu"nya wkwk. Gpp lah, kalian juga pasti suka :v


Byee byee