God Heaven

God Heaven
Eps 95 - Kehidupan Yang Tersembunyi -



"Putri Tiang, bukankah berbahaya jika harus membawa orang asing seperti ini kedesa?"


"Diamlah, aku melihatnya dengan kemampuanku sendiri, orang ini sugguh tidak mempunyi niat buruk."


"... Aku percaya dengan kemampuanmu, tapi bagaimana jika kepala desa tahu tentang ini?"


Kelompok yang beranggotakan beberapa orang tersebut sedang membawa seorang dengan jubah berwarna hitam dikereta yang ditarik kelinci besar.


Dari ketiga orang yang ada, mereka sedang berdiskusi dengan serius tentang apa yang saat ini mereka lakukan. Tentunya itu membuat suasana diantara ketiganya semakin canggung.


"Aku tidak peduli dengan ayahku nanti, aku harus menyelamatkan orang ini terlebih dahulu..." perempuan yang di panggil Putri Tiang itu mendengus dingin dan memalingkan pandangannya kepada orang yang saat ini kehilangan kesadaraanya bersama sebuah pedang di kedua tangannya.


Wang Fei yang sebelumnya telah pingsan karena kehilangan terlalu banyak energi Ki didalam tubuhnya bahkan energi kehidupannya juga ikut terkuras, saat ini dibawa oleh sekelompok orang tak dikenal.


Walau kesadaraannya telah tertidur namun tetap saja didalam jiwanya saat ini masih terdapat Rubah Merah yang mengamati kondisi luar.


Rubah merah dapat melihat secara pasti tentang apa yang ada diluar meskipun dia saat ini berada dialam bawah sadar Wang Fei. Setelah Wang Fei kehilangan kesadarannya secara tak sengaja ini membuat Rubah Merah terbangun dari tidurnya. Dari awal membuka mata, Rubah Merah sudah dikejutkan dengan apa yang dia lihat. Melihat Wang Fei yang dalam keadaan sekarat dan disekelilingnya terdapat area yang ditutupi es beku, ini membuatnya gelisah sesaat setelah menyadari energi kehidupan Wang Fei melemah.


Dari lubuk hatinya Rubah Merah beranggapan kalau Wang Fei akan segera mati dan kesadarannya akan sepenuhnya menghilang dari dunia. Namun semua itu tak sesuai dengan apa yang dipikirkannya, Rubah Merah menemukan sepotong plat kayu besi yang tersimpan dicincin penyimpanan Wang Fei.


"Papan Kayu Besi ini sungguh tak biasa, saat aku disurga pun aku tidak pernah melihat benda seperti ini... Tapi yang lebih penting dari itu, mengapa didunia ini ada manusia?!"


Setelah dia bangun dari tidurnya tersebut, Rubah Merah segera mendapati pemandangan yang tak biasa. Meski dunia ini adalah dunia buatannya namun disini tidak memiliki manusia atau hal yang lain selain hewan dan tumbuhan.


"Apa yang terjadi selama aku tersegel di Paviliun Bintang Gelap? Mungkinkah ini sudah milyaran tahun berlalu?" gumam Rubah Merah sambil kembali memusatkan perhatiannya kepada rombongan yang membawa Wang Fei.


"Lupakan itu untuk sekarang, saat ini yang lebih penting aku harus membangunkan bocah tengik ini sesegera mungkin..."


....


Dalam beberapa waktu kelompok yang membawa Wang Fei itu telah sampai di desa mereka, dari depan terlihat kalau desa itu bernama desa Feli. Para penjaga desa berjaga dengan antusias saat melihat kereta yang ditarik hewan buas kelinci datang menghampiri desa.


Dua orang penjaga yang mengenakan pakaian kulit hewan kemudian menunduk setengah badan dan mengucap salam.


Putri Tiang hanya mengangguk pelan menanggapi hal tersebut, kereta yang dia tumpangi kembali melaju melewati jalanan desa yang tertutup alang-alang. Dalam wilayah desa tersebut tak banyak terdapat rumah maupun tempat tinggal yang lain, kebanyakan hanya ada tempat untuk bercocok tanam dan kandang hewan.


Di sepanjang perjalanan putri Tiang telah banyak disapa oleh para penduduk desa yang lain, mungkin karena hari yang masih terbilang terang membuat kereta serta wajahnya dapat dikenali oleh orang-orang desa.


Setelah keretanya berhenti disebuah bangunan yang cukup besar, seluruh penumpang yang ada didalamnya segera turun, Wang Fei yang masih terbaring lemah juga ikut diturunkan.


Dengan cepat kelompok tersebut segera memasuki bangunan didepan mereka dipimpin oleh Putri Tiang.


"Ayah, aku telah kembali..." kata putri Tiang sambil memberi salam kepada seorang pria paruh baya berpakaian kulit yang duduk diatas tahtanya. Ayahnya memang adalah kepala desa yang sangat berpengaruh, dikatakan kekuatan yang dimilikinya begitu besar, bahkan dia dapat memukul mundur puluhan prajurit yang menyerang desanya.


Pria paruh baya tersebut mengangguk pelan dan sempat melirik kearah dua orang pria yang membawa Wang Fei. "Baiklah, kau harus menceritakan tentang 4 desa yang akan menyerang kita padaku. Tapi, sebelum itu... Siapa pemuda yang bajunya bolong-bolong ini?" Pria paruh baya yang bernama Sheng Yu itu menunjuk kearah Wang Fei yang masih di tandu oleh dua orang.


"Ayah, dia adalah seorang petualang. Dia sangat kuat, namun dia saat ini sedang terluka, Jadi..."


"Seperti biasa, kau pasti akan membawanya kedesa kita dan akan merawatnya sampai sembuh. Hahh, kau memang seperti ibumu..."


Raut wajah Putri Tiang nampak kesal saat mendengar ayahnya berbicara demikian. "Sudahlah! Aku tak ingin mendengar ocehanmu itu lagi... Jadi bolehkah aku membawanya kedesa kita?"


Sheng Yu hanya bisa menggeleng pelan melihat anaknya tersebut. Dia kemudian menganggukan kepala lalu beranjak pergi kesebuah ruangan.


"Ingatlah, 3 hari nanti kita akan melakukan pembasmian didaerah rawa. Mungkin orang yang dibawamu bisa berguna disana?"


"Ayah! Dia saja masih belum siuman dan kau ingin dia ikut serta dalam pembasmian yang berbahaya itu? Haah... Sudahlah, aku mau keluar saja."


Putri Tiang kemudian segera keluar dengan diikuti oleh dua orang pria yang masih membawa Wang Fei.


Putri Tiang menaiki keretanya dan segera menuju kekediamannya, dia berniat untuk menyembuhkan Wang Fei dengan kekuatan yang dia miliki. Putri Tiang dipercaya oleh para penduduk desa memiliki kekuatan untuk membaca pikiran seseorang dan menyembuhkan seseorang!


...