
Pandangan mereka berdua bertemu, Wang Fei sangat bahagia dan senang melihat ayahnya baik-baik saja.
Walaupun baru kurang dari 2 tahun Wang Fei terakhir melihat ayahnya, dia melihat kalau ayahnya semakin menua. Menurutnya ini pasti ada hubungannya dengan penyakit tenaga dalam yang tersumbat itu.
"Ayah! Aku pulang!" Wang Fei berlari menuju ayahnya dan langsung memeluknya.
"Aku sudah bertambah kuat, dan aku akan memasuki sekte Pedang abadi setelah ini, ayah." walaupun Wang Fei tidak memberitahu kekuatannya yang sesungguhnya, ayahnya memepercayainya kalau Wang Fei sudah lebih kuat dibanding dulu.
Wang Chou berpikir kalau Wang Fei telah menemukan teknik bela diri yang misterius karena dapat meninggikan tubuhnya dan memperkuat ototnya, namun semua itu adalah hasil dari kerja keras Wang Fei selama ini.
Saat Wang Chou menoleh kebelakang Wang Fei, dia melihat seorang anak perempuan yang cantik dan mengenakan sebuah gaun berwarna kuning. Wang Chou langsung mengerutkan kening saat melihat kearah Wang Fei.
"Fei'er, apakah kau sudah menemukan 'Calon'mu?" pertanyaan Wang Chou, membuat Wang Fei dan Li Yan tersedak nafasnya sendiri. Apa maksudnya 'Calon'?!
Melihat Li Yan memalingkan muka karena malu, Wang Fei langsung mengangkat alisnya.
"I... Itu..." Wang Fei ingin mengeluarkan kata-kata, tapi dia tak bisa mengeluarkannya dari mulutnya.
Melihat reaksi Wang Fei dan Li Yan yang malu-malu, membuat Wang Chou tertawa pelan.
"Baiklah kalau kau sudah memilihnya."
Walaupun Wang Chou tahu kalau Wang Fei tidak akan sembarangan memilih pasangan, dia tetap berkata seperti itu.
Mendengar perkataan ayahnya yang sudah melampaui batas membuat Wang Fei sedikit kesal. "Bu... Bukan seperti itu! Kami hanya bertemu saat aku melakukan perjalanan waktu itu."
"Hahaha! Fei'er ku sudah besar rupanya."
...
Saat malam tiba, Wang Chou membuatkan makanan untuk mereka bertiga. Wang Fei mulai menceritakan kisah perjalanannya kepada ayahnya. Namun untuk pembunuhan ratusan orang bandit itu tidak diceritakan olehnya.
Malam semakin larut, saat cahaya bulan bersinar terang, Wang Fei terlihat sedang mengamati desa pohon apel di puncak bukit didekat rumahnya.
"Meskipun aku sudah terbilang cukup kuat di daratan tengah, namun jika dibandingkan dengan daerah daratan timur, aku hanyalah sepotong sampah." Wang Fei menyadari, bahwa saar ini dia masih sangat lemah didunia ini, namun dengan tekadnya untuk memperbaiki jalan hidupnya, Wang Fei memiliki ambisi yang sangat kuat untuk berada di puncak.
Saat siang tiba, Wang Fei berniat untuk mengunjungi kepala desa pohon apel, Ji Tian.
Jalanan didesa itu cukup ramai saat ini, mungkin karena pengaruh perdagangan Toko Obat, desa ini menjadi lebih makmur. Namun saat ini Toko Obat sudah dimusnahkan oleh Wang Fei dan membuat mereka harus membangun bisnis mereka dari awal.
Tempat kepala desa tinggal merupakan sebuah rumah yang terlihat sederhana dan cukup besar, tapi jika sudah masuk kedalamnya terlihat barang-barang mewah disana.
"Sepertinya kepala desa juga mendapatkan pendapatan yang besar beberapa tahun ini?" saat melihat halamannya saja membuat Wang Fei mengetahui betapa luasnya lahan itu.
Saat melihat Wang Fei berjalan masuk ke rumah Ji Tian, para penjaga di dekat sana langsung mengenalinya.
"Selamat datang Tuan Muda."
Setelah berada di depan pintu, Wang Fei mengetuknya dengan keras.
"Ya, tunggu."
Terdengar suara Ji Tian dibalik pintu. Saat dia membuka pintu, dia sangat terkejut dengan keberadaan Wang Fei.
"Oh?! Hahaha! Kau sudah kembali nak Fei'er." Ji Tian tertawa keras saat mengetahui Wang Fei sudah kembali dari perjalanannya. Meskipun dia sudah mendengarnya dari orang-orang desa, dia masih sulit mempercayainya. Tapi saat ini, Wang Fei berada didepannya dan melihatnya dengan matanya sendiri.
Wang Fei menghela nafas pelan. "Hah... Ya, aku sudah kembali. Aku disini hanya ingin mengunjungimu." alasan Wang Fei pergi kerumah Ji Tian adalah, Wang Fei merasakan aura keberadaan yang kuat disana. Wang Fei berpikir, mungkin ada sesuatu seperti harta magis yang tersembunyi.
"Silahkan masuk Fei'er. Aku akan membuatkanmu teh segera."
Wang Fei duduk di kursi ruangan Ji Tian. Awalnya dia hanya ingin berniat memastikan hal apa yang ada disini saja, tapi dia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Ji Tian darinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Ji Tian menghampiri Wang Fei dengan membawa 2 cangkir teh panas ditangannya.
Terlihat kalau Ji Tian saat ini sedang begitu senang, mungkin karena dia kedatangan tamu yang memiliki bakat tinggi dan bisa masuk ke sekte Pedang Abadi?
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu kesini, tapi biarkan aku sedikit menjamumu." saat Ji Tian dan Wang Fei berbicara cukup lama. Wang Fei merasa kalau pembicaraan ini hanya untuk mengulur waktu saja.
"Kepala desa, maaf karena memertanyakan ini padamu, tapi..." raut wajah Wang Fei semakin serius. "Apa aku boleh bertanya kenapa desa ini dinamakan Pohon Apel? Kalau dinamakan begitu, pasti ada satu pohon apel yang sangat tua didesa ini, kan?" pertanyaan Wang Fei membuat Ji Tian sangat terkejut.
Pada kehidupan sebelumnya, Wang Fei mengetahui kalau desa Pohon Apel memiliki 1 pohon apel yang telah berusia ribuan tahun, namun karena penyerangan hewan buas waktu itu, pohon apel tersebut hilang tanpa menyisakan akarnya sedikitpun. Hal itu menjadi pertanyaan besar bagi Wang Fei, apakah sebenarnya kegunaan dari Pohon Apel itu. Tapi saat ini, dia tidak tahu keberadaan pohon apel tersebut karena dulu dia hanya mendengar cerita orang-orang saja.
Ji Tian semakin diam cukup lama sampai akhirnya membuka mulut. "Tapi... Pertanyaan itu... Baiklah, aku akan menjawabnya." Ji Tian tidak ingin seorang pun tahu kenapa desa ini dinamai begitu, tapi karena tidak punya pilihan lain Ji Tian memberitahu Wang Fei cerita yang sebenarnya.
Ji Tian mulai mengambil nafas dalam-dalam lalu menceritakannya kepada Wang Fei. "Semuanya berawal dari 1.500 tahun yang lalu. Pada awalnya desa ini bernama, desa Cloud. Namun, leluhur desa ini menemukan sebuah bibit pohon apel yang misterius, dia lalu menanamnya. Hal yang tak terduga terjadi setelah 2 tahun kemudian. Pohon Apel itu ternyata menghasilkan buah yang dapat memperkuat organ dalam manusia! Hal ini dapat menjadi sasaran para kultivator bela diri seluruh dunia. Khasiat dari buah itu dikabarkan sangat bagus dan memiliki efek tambahan yang menakjubakan. Tapi sayang, hanya leluhur desa ini saja yang mengetahui cara penggunaannya."
"Itulah sebabnya kenapa desa ini dinamakan desa Pohon Apel. Saat ini pun keberadaan pohon apel itu masih disembunyikan, namun hanya aku satu-satunya yang mengetahui lokasi Pohon Apel yang legendaris itu." Cerita Ji Tian membuat Wang Fei mengingat sesuatu pada peristiwa kehidupannya sebelumnya.
Wang Fei pernah mendengar bahwa ada sekelompok orang yang memiliki kekuatan tubuh diluar nalar manusia, bahkan dapat dikatakan hampir mendekati kekuatan tubuh dewa. Rumor mengatakan kalau mereka mengonsumsi apel yang dipetik dari dunia lain, apel itu disebut Apel Surgawi. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri di dunia ini. Banyak para Immortal mulai mencari keberadaan Apel Surgawi yang melegenda itu.
"Sepertinya aku mulai mengerti salah satu penyebab terjadinya perang besar yang akan datang." sambil mengelus dagunya Wang Fei langsung menanyakan keberadaan Pohon Apel tersebut.
"Kalau kepala desa menyerahkan pohon apel itu kepadaku, aku jamin bahwa tidak akan ada seorang pun yang dapat mencurinya." kata-kata Wang Fei memang membuat Ji Tian merasa senang karena dia telah menjaga pohon apel itu selama hidupnya, dan saat ini dia akan digantikan oleh Wang Fei. Namun jauh didalah hatinya, dia masih tidak merasa tenang kalau menyerahkannya kepada Wang Fei.
Wang Fei menyadari kalau Ji Tian tidak terlalu percaya dengan kemampuannya saat ini untuk menjaga Pohon Apel. Wang Fei berniat untuk membongkar kekuatan aslinya didepan Ji Tian.
"Kalau kepala desa masih meragukanku, akan kuberitahu kalau aku sekarang sangatlah kuat." setelah Wang Fei menyelesaikan kata-katanya, dia langsung melepaskan aura membunuh yang besar keseluruh ruangan.
"A... Apa yang terjadi...?!!" Ji Tian merasa sesak nafas karena tekanan yang diberikan Wang Fei. Namun saat ini Wang Fei belum mengeluarkan 5% dari kekuatannya yang sebenarnya, tapi itu sudah mengancam nyawa Ji Tian.
...........