God Heaven

God Heaven
Eps 94 - Hutan Dewa Kabut (7) -



Serangan yang dihasilkan Wang Fei membuat seisi gua bergetar hebat, walaupun batu didalam gua itu sangat kuat, namun itu tetap hancur akibat serangan darinya. Dalam ratusan serangan yang telah terarah pada serigala itu membuatnya terhempas kebelakang sejauh ratusan meter.


Meskipun efek dari serangan tersebut sangat kuat, nyatanya hal tersebut tak membuat serigala itu kesakitan. Wang Fei sadar serangannya itu hanya sia-sia, namun menurutnya mungkin dalam beberapa serangan lagi saja mungkin makhluk tersebut dapat dia kalahkan.


Keduanya telah memasuki kedalam gua semakin jauh, mulai dari 500 meter dari luar gua terdapat beberapa bongkahan batu yang bersinar terang, ini membuat seisi gua dapat terlihat dengan jelas.


Setelah serigala tersebut dihajar habis-habisan oleh Wang Fei kondisi tubuhnya begitu memprihatinkan. Seluruh tulang yang ada ditubuhnya hancur dan remuk bagai bubur. Tapi raut wajahnya tak menunjukan sedikitpun kesakitan, bahkan dia masih bisa menggeram dengan lemah.


"Serigala yang merepotkan, apakah ini saja kemampuanmu? Heh! Lemah..."


Wang Fei mungkin merasa dirinya sudah menang, tapi nyatanya saat ini dia khawatir karena menyadari hawa keberadaan dari serigala tersebut masih utuh. Biasanya makhluk hidup yang akan mati hawa keberadaannya perlahan-lahan akan memudar seiring berjalannya waktu, namun hal itu tak terjadi pada serigala tersebut.


"Graahhh!!"


Serigala itu kembali bangkit dan menyerang Wang Fei secara mendadak, Wang Fei masih sempat menghindar namun masih mendapat goresan dari cakar serigala tersebut. Wang Fei melotot dan tak percaya tentang apa yang dia lihat saat ini.


"Apa?! Bukankah dia sudah terluka begitu parah? Mengapa sudah sembuh dalam sekejab?!"


Saat ini Wang Fei dalam posisi yang tak menguntungkan, serigala dihadapannya telah pulih namun energi Ki diseluruh tubuhnya hampir habis. Sangat mustahil untuk berhadapan dengan serigala itu dalam waktu yang lama.


"Ini buruk... Untuk sementara mungkin aku akan kabur terlebih dahulu." Wang Fei berencana untuk mengecoh serigala tersebut sebelum dia melarikan diri. Wang Fei segera bergerak kedepan dengan cepat dan melakukan manuver memutari tubuh serigala itu. Serangan demi serangan di lontarkan oleh serigala tersebut kepada Wang Fei, namun semua itu dapat dia hindari tanpa kesulitan.


Sebelumnya Wang Fei juga menyadari kalau serigala yang dihadapinya akan membutuhkan waktu untuk bergerak setelah membuat serangan mematikan. Karena itulah Wang Fei ingin memancing serigala tersebut agar dia menggunakan palunya untuk menyerang.


Rencana Wang Fei ternyata sangat sesuai dengan ekspetasinya, serigala tersebut kemudian mengeluarkan palu hitamnya dari kekosongan dan mengayunkannya kedepan bagai gunung.


Gelombang udara dapat terasa saat serangan tersebut terarah pada Wang Fei, dalam jarak yang begitu dekat sebenarnya sangat mustahil untuk menghindari serangan tersebut. Tapi Wang Fei memilih untuk meminimalisir kerusakan yang diakibatkan daripada menghindar, karena walau menghindar pun mungkin sudah tak sempat.


Pukulan palu itu mengenai bahu kiri Wang Fei dan membuatnya terlempar kebelakang sejauh puluhan meter. Serigala yang berhasil mendaratkan serangan tersebut kini terdiam ditempat. Saat ini dia sedang mengisi kembali energi yang telah hilang.


"Aku tau kalau serigala mempunyai kemampuan regenerasi yang luar biasa, tapi ini sungguh di luar nalar..." Wang Fei yang masih berlutut ditanah tersebut berusaha untuk mengalirkan energi Ki miliknya ke bahu kirinya untuk menetralisir rasa sakit. Wang Fei segera bangkit dan menuju keluar gua untuk menghindari serigala yang begitu kuat itu.


Wang Fei melesat bagai cahaya dikegelapan, dirinya saat ini sudah sampai diambang pingsan akibat penggunaan energi Ki yang berlebihan, ditambah lagi sebelumnya dia juga telah mebelan pil kehidupan untuk meningkatkan kekuatannya secara instan. Ini sungguh membebani tubuh fisik dan keadaan mentalnya.


Sudah sampai diluar gua namun serigala yang sebelumnya berhadapan dengannya tidak lagi mengejar, Wang Fei hanya bisa menghela nafas panjang sambil memegangi bahu kirinya yang masih terasa sakit.


"Ughh... Sepertinya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi..." ucap Wang Fei lirih dan berjalan dengan membungkuk. Dilihat darimanapun Wang Fei jelas terlihat sedang dalam kondisi yang lemah.


"Tapi setidaknya aku ingin mencari sumber air untuku minum... Didalam cincin penyimpananku, stok air sudah kuhabiskan... Sial!"


Perlahan pandangan Wang Fei berkunang-kunang, dia merasakan sakit yang melanda kepalanya. "Ugghh!! Kumohon bertahanlah sebentar lagi...!"


Wang Fei kemudian menaiki sebuah bukit kecil didekatnya untuk memeriksa keadaan sekitar, walau saat ini dia sudah sangat lemah, tapi dia masih bisa mempertahankan pikirannya untuk tetap sadar.


Dari kejauhan Wang Fei dapat melihat lekukan-lekukan kayu serta rumput liar yang panjang, itu lebih mirip dengan bangunan atau rumah dimata Wang Fei. Tapi dia tidak memikirkannya lebih lanjut karena mengira itu hanyalah halusinasinya saja.


"Hah... Aku sudah tidak kuat... Dasar rubah tua sialan, mengapa dia belum bangun disaat seperti ini?" nafas Wang Fei terputus-putus dan kakinya juga sudah tak dapat menopang tubuhnya lagi.


"Kuharap tak ada hewan buas disini..."


Wang Fei kehilangan kesadarannya dengan sebuah pedang icedragon ditangannya, dia sempat-sempatnya untuk mengeluarkan pedang tersebut untuk melindunginya dari serangan hewan buas yang mungkin datang padanya.


Meskipun tindakannya tersebut tak menjamin hasil yang diharapkan, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup saat ini.


....