God Heaven

God Heaven
Eps 55 - Kesengsaraan Angin -



Xue Jian langsung merangkul Wang Fei dan menyandarkannya kesebuah pohon yang ada didekat sana.


"Mengerahkan lebih banyak energi memang bagus untuk membentuk sebuah pedang baru," kata Xue Jian. "Namun ketahuilah, kualitas lebih penting daripada kuantitas."


Senyum tipis nampak diwajah Wang Fei. "Guru memang hebat...!"


"Hmph, sudahlah. Sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu, sebentar lagi kesengsaraanku hampir tiba."


Wang Fei kemudian tertidur di bawah pohon yang rindang disertai dengan sepoian angin yang lembut. Suasana hati Xue Jian saat ini sangat gembira, memiliki seorang murid yang hebat adalah suatu kebanggaan baginya.


"Muridku, kita sepertinya memang harus berpisah pada saat ini... Aku memiliki beberapa hadiah untukmu, terimalah."


Xue Jian mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna putih dari tangannya. Dalam waktu bersamaan, dia juga mengeluarkan sebuah botol yang berisi pil.


"Ini adalah hadiahku untuk mu, kita mungkin tak dapat bertemu lagi, karena itu aku akan memberimu sebuah lencana batu giok milikku."


Lencana batu giok berwarna biru kehijauan muncul ditangan Xue Jian. Lencana yang terlihat begitu mahal itu tertulis sebuah nama diatasnya.


"XUE JIAN"


Lencana ini adalah sebuah kehormatan bagi Xue Jian. Pasalnya lencana ini adalah barang yang membuatnya memiliki kekuatan yang dahsyat, lencana pengenal yang diberikan oleh kaisar dunia.


"Tak perlu mencariku kembali muridku, kita akan bertemu kembali dikehidupan selanjutnya, aku percaya itu."


Xue Jian melangkah pergi, memandang muridnya yang sedang tertidur pulas membuatnya merasa seperti sedang memandang anugrah dari dewa. Dia sangat berat hati untuk meninggalkannya.


Dia sebenarnya sangat ingin melihat muridnya tersebut mencapai puncak dengan kekuatan yang dia ajarkan, namun surga berkehendak lain. Dia harus menurutinya tanpa boleh membantah sepatah kata pun.


Senyum hangat membuat wajah Xue Jian memerah dan meneteskan air mata. Selama dia hidup dalam pengasingan selama berabad-abad, baru kali ini dia merasakan kesedihan melanda hatinya.


Berbalik, lalu pergi. Xue Jian sama sekali tak ingin memperlihatkan dirinya yang sekarang didepan seorang murid yang dia banggakan. Harapan didalam hatinya hanya ingin agar Wang Fei dapat hidup dengan damai.


"Selamat tinggal, muridku..."


......


Alunan bambu yang tertiup oleh angin sangat berirama, dengan dipadukan dengan kicauan burung pada hari pagi menambah suasana menjadi tenang. Gemercik air sungai dan sinar matahari yang menembus pepohonan membuat binatang-binatang disekitarnya merasa aman tanpa bahaya.


Ditengah hutan lebat tersebut terdapat seorang pria tua dengan rambut berwarna putih kelabu. Duduk dalam posisi lotus sambil berkultivasi dibawah terik matahari yang menyengat kulit.


Xue Jian, telah mempersiapkan hari kesengsaraannya dengan sempurna. Dia bahkan memilih tempat yang berjarak 20.000 kilometer jauhnya dari tempat ia tinggal di gua.


Kesengsaraan surgawi sangat berpengaruh pada tempat yang dipilihnya, jika tempat kesengsaraan di huni para manusia maka itu pasti akan membunuh semua orang yang ada. Karena itulah Xue Jian memilih tempat yang tak pernah dikunjungi orang-orang.


Xue Jian kemudian berdiri tegak sambil menatap keatas langit.


"Kesengsaraan surgawi, aku siap."


Awan putih diatas langit kemudian berubah menjadi mendung. Angin kencang bertiup dari empat penjuru sekaligus, menargetkan Xue Jian yang tetap berdiri kokoh.


Beberapa waktu kemudian, Xue Jian membentuk sebilah pedang energi untuk menangkis angin yang datang padanya.


Kesengsaraan surgawi memiliki 4 ujian yang harus dilewati, diantaranya Kesengsaraan Angin, Kesengsaraan Api, Kesengsaraan Petir dan yang terakhir adalah Kesengsaraan Hati Iblis.


Diantara 4 ujian kesengsaraan, Kesengsaraan Hati Iblis adalah hal yang paling sulit dilalui.


Kesengsaraan Hati Iblis dimaksudkan untuk membersihkan dosa didalam tubuh dan jiwa seorang immortal. Semua itu dilakukan karena seorang True God yang agung tak diperbolehkan memiliki dosa sedikitpun. Karena itu akan merusak jiwa dan raganya sendiri dikemudian hari.


Meskipun Xue Jian sedang melalui kesengsaraan angin, dia tetap memikirkan tentang apa yang akan dihadapinya saat melakukan kesengsaraan Hati Iblis.


Angin yang bertiup semakin kencang, menghempaskan semua yang ada ketika disapu olehnya.


Xue Jian tetap tenang saat angin tersebut mengarah kepadanya. Tanpa perlawanan, Xue Jian menahan terpaan angin tersebut menggunakan tubuhnya.


Setelah satu tiupan angin pertama selesai, datang lagi tiupan angin yang kedua.


"9 set kesengsaraan angin akan kulalui dengan mudah." gumam Xue Jian.


Angin yang datang semakin bertambah kencang, menghancurkan semua yang dilaluinya. Semua objek didalam hutan berterbangan keatas langit, menyebabkan bunyi gemuruh yang memekakan telinga bergema di seluruh daratan.


BOMM!


Angin tersebut menghempaskan tubuh Xue Jian tanpa ampun, terlihat kalau Xue Jian mundur beberapa langkah karena tekanan yang diberikan cukup besar.


Set kedua telah dilalui.


Dalam set ketiga ini Xue Jian tak lagi berani tidak menggunakan senjatanya. Mungkin jika dari awal Xue Jian menangkisnya menggunakan pedang energi, set kedua tidak akan membuatnya gentar. Namun menghemat energi adalah hal yang terpenting baginya.


Rumble...


Sekali lagi terdengar bunyi gemuruh dari 4 penjuru, dari kejauhan terlihat debu mengepul dan bergejolak menuju kearah Xue Jian.


Set ketiga kesengsaraan angin telah datang dan mengarah pada Xue Jian.


Setelah tersisa beberapa puluh meter lagi, Xue Jian mengayunkan pedang energi miliknya. Dengan mudah, dia membelah terpaan angin tersebut seperti membelah udara yang kosong.


Set keempat.


Set kelima.


Set keenam.


Set ketujuh.


Set kedelapan.


Semua set dilalui Xue Jian dengan mudah walau ada sedikit halangan. Tidak lama kemudian terlihat pusaran angin topan yang menyapu daratan menuju kearah Xue Jian.


Angin topan tersebut mengahancurkan apa saja yang dilaluinya.


Gunung yang besar didekat sana hancur lebur ketika angin topan tersebut mendekat dengan kecepatan yang menakjubkan.


Saat angin topan itu mengarah padanya, Xue Jian mengambil posisi bertahan lalu menebaskan pedangnya kearah angin yopan tersebut.


Srings!!


Ilusi harimau putih nampak dari atas langit ketika tebasan pedang Xue Jian mengalir dan menuju kearah Angin topan yang menuju kearahnya itu.


BOOMM!!


Ledakan keras terjadi begitu keduanya berbenturan diatas udara. Ledakan tersebut mengakibatkan tanah dibawahnya menghasilkan kubangan yang sangat besar dan dalam.


Namun angin topan tersebut masih tetap bisa maju kearah Xue Jian.


Xue Jian kemudian melepaskan serangan pedang beruntun pada angin topan tersebut sampai akhirnya angin topan tersebut tak dapat menahan serangan darinya.


BOOMMM!!


Ledakaan keras kembali terdengar begitu angin topan tersebut menghilang tanpa bekas.


Kesengsaraan Angin telah berakhir!


..........